Tampilkan postingan dengan label #resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #resensi. Tampilkan semua postingan

In #resensi

Tak Apa Jika Hanya menjadi Orang Biasa.

Novelis Andrea Hirata menerbitkan buku kesepuluhnya, yang berjudul “Orang-Orang Biasa”. Sejak awal ia tertenteng di book-shelf Togamas Best-Sellers Mei lalu ia telah menarik hati. Pikirku, siapa yang ingin menjadi orang biasa di dunia yang serba ada? Bukankah manusia memiliki kecenderungan ingin diingat, berperan, dan mengaktualisasikan diri mereka dengan menjadi orang yang tidak biasa-biasa saja?

Lamat-lamat aku baca halaman belakangan dengan seksama. Bertema pendidikan. Aku memang menyukai hal-hal bertema pendidikan dan perkembangan pribadi seseorang, itu juga yang menjadi salah satu alasan aku mengambil jurusan Psikologi. Setiap manusia sebenarnya memiliki keahlian dan bisa berkembang, namun tidak semua orang mengusahakan, menemui dan mengenali kesempatan yang ada.

Lajur setiap kita berbeda. Ada yang mulus seperti jalan tol, dalam hidup sejak dini ia mengerti apa yang mau dilakukannya dan ketika dewasa berhasil menjadikan ekspetasi masa kecilnya sesuai kenyataan masa sekarang, ada beberapa juga yang melakukan trial-error untuk mengerti sebenarnya apa yang paling sesuai dengan dirinya, kita semua punya jalannya masing-masing.

             Novel ini menceritakan mengenai perjalanan sepuluh sekawanan yang menimba ilmu di sebuah sekolah pedalaman. Selama ini citra anak-anak sekolah pedalaman yang semangat dan brilian namun memiliki sedikit kesempatan untuk bisa lanjut ke jenjang lebih jauh selalu dibesitkan kedalam pemikiran pembaca, tapi agak berbeda dengan ini.

Ia menjelaskan realita mengenai anak-anak desa yang susah menerima pelajaran dan hidupnya sudah disibukkan oleh pelajaran bertahan hidup dibandingkan pelajaran di kelas yang disampaikan bapak ibu guru. Sudut pandang dalam cerita dibagi menjadi dua, pertama dari Debut dan 10 sekawananya, dan sudut pandang kedua dari Sersan dan asistennya. Iyap, didalam novel ini juga akan ada cerita aksinya dengan imajinasi yang tidak terkira karena humornya.

           Dengan kesepuluh tokoh yang memiliki keunikan, keanehan, dan kelucuannya masing-masing dalam memecahkan masalah-masalah bertahan hidup mampu membuat kita memaknai arti pendidikan dari prespektif berbeda. Awal-awal memang pasti sedikit bingung menghafal kesepuluh tokoh, tapi di pertengahan dengan kekhasannya masing-masing membuat tampak jelas.

     Sampai pada klimaks cerita, juga sama, tidak terduga-duga. Disini hal yang membuat novel – yang sewaktu di awal membaca sedikit merasa ‘kok gini ya Novel Andre Hirata’– isinya humor doang gini, mana makna dibaliknya? menyesal karena terlalu cepat menyimpulkan. Kekuranganku memang benar, kurang sabar. Bahkan baca novel aja buru-buru ingin ada pelajaran apa dibaliknya, ngga nyantai banget deh.

                Novel ini membuat kita percaya, kalau kesuksesan tak melulu soal mendapatkan apa yang diharapkan, bertahan dan tetap melakukan hal yang benar juga kesuksesan ditengah kehidupan serba banyak mau dan godaan.

"Mereka yang ingin belajar tak bisa diusir."

 

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #resensi

We are all not a Little Women anymore.

“We cannot change anything, unless we accept it.” – Carl Jung

Being a woman isn't a failure no matter what kind of woman you want to be. Whats make you happy, go for it.

Beberapa waktu lalu aku baru saja menonton film Little Women (2019), sebuah film yang diadaptasi dari novel klasik Amerika di tahun 1898. Novel ini ditulis oleh seorang perempuan bernama Louisa May Alcots. Dan setelah menonton film ini aku melakukan banyak riset soal latar belakang penulis karena tertarik dengan cerita yang ternyata juga diadaptasi dari kisah hidupnya sendiri.

Film yang memiliki alur maju mundur ini mungkin awalnya akan sedikit membuat kebingungan audience yang belum pernah menonton adaptasi dari film-film sebelumnya atau sekedar membaca sinopsis cerita, karena film Little Women telah diadaptasi untuk keempat kalinya. Diawali dengan karakter utamanya, Jo March yang memasuki sebuah ruang direksi penerbitan buku di New York, adegan yang menurutku cukup menguras adrenalin, selain karena backsound, latar tempat yang membuat kita serasa diajak kembali ke tahun 80an, tahun peristiwa dimulai dan berusainya perang antara Amerika dengan Spanyol.

Adegan selanjutnya adalah dimana Amy, anak perempuan terakhir dari keempat bersaudara keluarga March yang tengah melanjutkan studi melukisnya ke Eropa bersama bibinya dan bertemu dengan Laurie, sahabat masa kecil keluarga mereka. Sejak awal tokoh yang banyak di sorot dalam keluarga March adalah Jo dan Amy karena sibling rivalry dua saudara ini tergambar jelas.

Tokoh lainnya yang tidak kalah penting dan yang menjadi puncak klimaks dari film ini, Beth, tokoh yang sedari awal kita tahu akan meninggal namun memberi banyak pelajaran. Kalau ditinjau dari seluruh March bersaudara, karakter Beth yang paling pemalu dan tenang. Selain itu keinginannya atas hidup juga tidak se-ambisius dan idealis Jo atau Amy. Bagi Beth, saling memiliki satu sama lain sudah cukup membuatnya bisa mensyukuri keluarganya. Aku pribadi menyukai karakternya yang selalu menjadi dopamine disaat semua saudaranya sedang gaduh gelisah karena kenyataan yang tidak sesuai ekpetasi.

Kali ini aku mau sedikit mengutarakan perasaan kurang puas terhadap penulis script yang hanya memberi bagian karakter anak pertama, Meg tidak sebanyak karakter lainnya. Meg datang di scene pertamanya dalam film ketika dia ingin membeli kain namun tak mampu membayar biaya menjahit karena terlalu mahal untuk memenuhi seluruh kebutuhan keluarga kecilnya. Meg sebagai anak pertama dalam cerita ini digambarkan telah memiliki keluarga sederhana dengan tiga orang anak.

Sejak kecil, mereka berempat selalu melakukan seluruh kegiatan bersama-sama, seperti tipikal cerita klasik, mereka beranjak dewasa dan harus melanjutkan jalan hidup masing-masing. Tokoh utama dalam cerita ini, seperti menjadi bom waktu meledak, ketika ia mulau merasa harus beradaptasi dengan banyak realita dalam hidupnya. Meg menikah, Amy ke Eropa, dan Beth yang akhirnya meninggal, membawanya jatuh ke dalam Quarter Life Crisis.

Unfinished bussiness, ambition untuk menjadi seorang penulis dan merubah dunia, dan impian masa kecilnya lainnya yang Jo rasa belum berhasil ia wujudkan membuatnya susah menerima perubahan signifikan secepat itu. Beberapa pengamat film lain juga mengatakan Jo mengalami Methesiopobhia atau Fear of Change yang artinya Jo memiliki ketakutan irasional akan perubahan yang memang seharusnya terjadi dalam kehidupan. Seperti kematian keluarga dan perceraian. Namun tidak menurutku, Jo tidak sampai mengalami mental illness, dia hanya mengalami Quarter Life Crisis dan mampu merubah stressnya menjadi Eustress, sebuah stress yang di coping dengan baik dan menjadikannya lebih baik, karena dari kecemasan akan banyaknya perubahan dalam hidupnya, ia berhasil menemukan dirinya dan akhirnya berdamai dengan keadaan.


Di masa Louisa May Alcot memang prespektif mengenai kesetaraan gender masih sangat berjangka. Perempuan tidak akan pernah memiliki properti mereka sendiri setelah menikah. Perempuan yang terlalu kuat dianggap membahayakan dan akan merebut kekuasaan laki-laki, bahkan konstruk sosial mengenai perempuan hanya cocok dengan sesatu yang berhubungan dengan hal romantis dan percintaan juga masih tergambar jelas di scene dimana Jo memberikan Novelnya untuk penerbit, dan dengan jelas ia mengatakan bahwa akhir cerita novel Jo harus dengan tokoh utama wanitanya entah meninggal atau menikah. Dan buku ini bahkan sampai tahun 2020 masih tetap menjadi referensi buku cerita berbagai kalangan di institusi pendidikan literasi Amerika, selain di filmkan, menjadi series dan masuk kedalam cerita bersuara di berbagai platform, mereka juga membuat museum yang bertepatan dengan rumah asli keluarga May Alcot, yang juga menjadi lokasi syuting Little Women (2019).

Tetapi yang paling aku suka dari adaptasi film Little Woman versi 2019 ini adalah screen-writer dan produser yang sejak awal menitikberatkan pesan dari film ini lebih kepada proses perkembangan karakter March bersaudara dan proses terbitnya buku Little Women sendiri, dibandingkan ending tokoh Jo akan menikah atau tidak.

Film ini tidak hanya menjelaskan kondisi psikologis, politis, dan sosial pada zaman itu tetapi juga menjelaskan mengenai pentingnya bagi perempuan untuk saling menghargai dan mendukung satu sama lain dalam hal kebahagiaan seperti apa yang mereka pilih.

Ada perempuan seperti Meg, ia ingin menjalani hari-hari penuh syukur bersama orang yang dicintainya.

Ada perempuan seperti Beth, menurutnya hidup cukup dengan saling memiliki satu sama lain dalam komunitas terkecil, yaitu keluarganya.

Ada perempuan seperti Amy, sejak kecil sudah menyadari bahwa ia adalah perempuan di era dimana konstruk sosial mengharuskan berbagai tuntutan yang kadang tidak dapat ia pilih sendiri selain mengikuti dan melakukan sebaik yang ia bisa.

Lalu ada juga perempuan seperti Jo. Perempuan berkemauan kuat, ambisius, dominan, yang bisa merubah hal-hal yang bagi sebagian orang dizamannya tidak mungkin dilakukan, tapi ia bisa. Jo membuktikan, perempuan layak memiliki dan memperjuangkan apa yang dianggapnya benar. Kesetaraan pendidikan, hak, dan akses untuk mencapainya.

Tidak ada yang salah dari menjadi seorang perempuan seperti apa yang kita pilih. Yang salah adalah ketika perempuan satu dengan lainnya tidak saling mendukung dan malah menyalahkan. Bukankah harusnya kita sesama perempuan saling menguatkan?

 

Dan ini beberapa quotes yang aku sukai dari tiap karakter dalam film Little Women.

 “I’m just a woman. And as a woman, I have no way to make money, not enough to earn a living and support my family. Even if I had my own money, which I don’t, it would belong to my husband the minute we were married. If we had children they would belong to him, not me. They would be his property. So don’t sit there and tell me that marriage isn’t an economic proposition, because it is.” — Amy March



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #resensi

Menjadi Resilience dari Filosofi Teras.

Nobody's going to do your life for you. You've to do it yourself. Whether you're rich or poor, out of money or ranking it in beneficiary of ridicolous fortune or terrible injustice, and you've to do it no matter what is hard or nonsense no matter what unjust, sad, sucky things have been fallen you. Self-pity is a dead-end road. You make the choice to drive down it. It's up to you to decide to stay parked there or to turn around and drive out." - unknown

Tulisan ini pertama kali aku baca di salah satu akun instagram yang aku juga sekarang lupa apa namanya. Tetapi yang jelas dia sudah nangkring di depan mejaku sejak bulan Mei lalu. Beberapa kali dalam sehari memang ku baca, kadang bisa memberi power kadang ya sekedar pajangan aja. Kadang membuat self-awareness meningkat, kadang juga dia cuma jadi hal yang aku anggap formalitas.

Sampai hari ini akhirnya niatan untuk menyelesaikan apa yang ingin aku tulis sejak setahun lalu, menulis review buku "Filosofi Teras". Sebuah buku yang aku anggap menjadi obat tersendiri saat aku merasa gamang pada tahun lalu, seusai revisian skripsi dan tentunya bingung arah mana yang harus aku kejar, kompas mana yang paling cocok, atau sorotan lampu mana yang menunjukkan ke arah yang tepat. Kalau aku menilai dari semua buku self-impovement yang aku baca dia memasuki nilai 8/10.

Pertama, yang membuat buku ini punya nilai tinggi menurutku, mungkin karena aku kurang banyak baca buku sejenis ini, wkwkw. Rekomin dong, buat temen-temen yang suka baca buku self-improvement yang menurut kalian buku yang seru dan worth it dan bisa nambah sudut pandang dan prespektif baru, hehehe.

Enggak, beneran buku ini bagus kok, oke aku mulai serius nulis reviewnya ya. 

  • Bahasa Penulisan

Entah mengapa, aku suka jenis buku yang bahasa penulisannya seperti bercerita, dan buku ini seperti itu. Karena menurut aku, ketika suatu buku didalamnya tidak hanya memuat teori, tetapi juga kisah hidup penulis, dan latar belakang mengapa sebuah karya buku ini ditelurkan akan membuat pembaca dan penulis memiliki ikatan emosional tersendiri. Rasanya seperti menulis dan bercerita dengan sahabat pena yang belum pernah kita temui. Bahasa yang digunakan juga tidak terlalu formal, tapi juga tidak terlalu lebay. Pas, legit, dan renyah.

  • Bedasarkan Riset dan Wawancara

Penyataan/kesimpulan teori tanpa data riset dan wawancara sama persis seperti janji manis gebetanmu tapi ngga ada realisasinya. Alias, ngomong doang, hehehe. Makanya penting banget sebuah kesimpulan yang diawali dari adanya proses analisis dan fenomena yang terjadi diiringi data hasil riset dan wawancara dari ahlinya. Sebuah teori nggak akan disebut sains kalau belum ada bukti risetnya kan, palingan ya jadi pseudosains.

  • Integrasi dari banyak ilmu 

Awalnya, sewaktu baca judulnya, berat banget nih. Belajar Filosofi, seberat novel Dunia Sophie ngga ya ini. Mumet ngga ya. Dan pikiran-pikiran soal belajar filsafat yang rumit itu berkelebat di kepalaku yang suka hal-hal yang simple dan lucu ini. Tapi waktu baca review di Google dari orang-orang, sepertinya ini layak di coba sebelum di takutin. Selama baca, aku ngga merasa bosen sama sekali. Cara penulis mengaitkan pengalaman pribadinya, fenomena yang terjadi, hasil riset dan wawancara, dan ilmu-ilmu lain yang saling berkaitan sangat mudah di lahap bulat-bulat sama otak. Aku pernah baca quotes juga, sepandai-pandainya orang, adalah ia yang pandai memahamkan orang lain dengan cara yang paling sederhana. Henry Manampiring memang bapak anak satu yang jenius~

  • I do (still) judgje book by its cover

Sebagai makhluk visual, hal menarik lainnya yang aku suka dari buku ini adalah covernya yang berwarna kuning dan tosca. Dalam Ilmu Psikologi warna ini melambangkan warna yang optimis, ceria, dan semangat. Selain itu, gambar ilustrasi tampilan seorang pria tua yunani dengan gulungan kertas di hadapan dua pemuda berbaju modern sambil menyeruput es boba dan menyuguhkan kepada bapak tua minuman kekinian itu menyiratkan bahwa dua insan dalam Quarter Life Crisis ini diberi arahan oleh bapak pemilik teori Filosofi Teras tersebut.

Buku ini bagus buat temen-temen yang mau mendalami teori Well-being dan Resilience di Psikologi, sedang mengalami Quarter Life Crisis, atau sekedar mencari bahan bacaan bagus untuk asupan gizi ke pola pikir baru. Paling enak baca buku ini juga di perjalanan menuju sesuatu. Supaya lebih tabah, sabar, dan bahagia menikmati setiap proses masing-masing dari kita. 


Have a good day! [cc]

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #resensi

Naruse Jun, Melanie Klein, dan Posttraumatic Stress Disorder

Bunga-bunga kembali bermekaran, seperti januari lalu. Jalanan masih sama, berisik, tapi tetap menarik untuk dinikmati. Daun-daun jatuh dari pohonnya, terhempas kendaraan-kendaraan tinggi dan menyisakan rerontokan yang cantik berhamburan, menepis kaca helm.

Hari berjalan seperti biasa. Bangun di waktu yang dini, mempersiapkan apa-apa yang dibutuhkan untuk bertahan hidup. Makanan dan Doa. Ia sibuk di dalam dapur sederhana bernuansa coklat putih untuk memasak sayur mayur. Dan Kamu, mempersiapkan tabungan untuk hari penetapan. Apa sebenarnya yang dicari?
***
Hari Minggu itu, perempuan dengan banyak imaji kembali membuka laptop biru, menatap layar monitor dan memutar Film berjudul "Anthem of the Heart", sambil berdecak dalam hatinya yang sedang kalut tak karuan, ia mengatakan,"baiklah, mari kita mulai perjalanan ini,"
***
Film yang dirilis pada 19 September 2015 oleh Studio Ghibli dengan durasi kurang lebih dua jam itu menceritakan mengenai perjalanan hidup seorang gadis kecil yang ceria, suka bercerita, dan berimajinasi, Naruse Jun, yang mendadak kehilangan segala keceriaan dan suara nungilnya akibat beberapa peristiwa traumatis dan berdampak dalam masa remajanya.
***
Jun, gadis manis -meski hanya animasi yah, tapi bener wajahnya manis- berlarian dan bersorak-sorai mendatangi sang Ibu, menceritakan hal yang magis baginya. Ia baru saja mendatangi sebuah istana. Istana itu adalah tempat ia akan menemukan pangerannya suatu saat kelak. Tapi, hari itu, ia melihat ayahnya keluar dari sana, bersama seorang perempuan yang tidak pernah ia temui.

 "Ibu, hari ini aku melihat Ayah, keluar dari istana, Ia seperti seorang pangeran dan sedang bersama seorang puteri, tetapi bukan Ibu, kalau begitu, berarti Ibu jadi Ibu Penyihirnya saja ya, eh tapi, penyihir yang baik," celotehnya tanpa spasi.

"Kamu ini ya selalu mengatakan semuanya, bukannya sudah Ibu bilang, lebih baik kamu makan ini saja dan diam," balas Ibunya dengan segudang tanda tanya sembari mengunyah makanan yang disodorkan ibunya, yang juga sedang disiapkan untuk bekal si Ayah.

Selang beberapa hari dari kejadian tersebut, sang Ayah mengemas dan memesan truk untuk memindahkan barang-barangnya. Naruse menghampirinya dan bertanya, apa yang sedang terjadi, apakah ayah dan ibu bertengkar, tidak bisakah ia membantu mereka berbaikan.

Ayahnya hanya tersenyum dan berkata,

"Kamu ini ya, memang tidak bisa diam, selalu berbicara, kamu tahu, kamu yang menyebabkan semua ini terjadi," lalu berlalu pergi meninggalkan rumah itu.

Jun menangis hanya ditemani angin bukit dan anak tangga tak bertepi, apa yang ia lakukan, sampai membuat semuanya menjadi seperti ini. Ia sendiri juga tidak ingin hal tersebut terjadi. "PLUK" tetiba ada suara telur menggelinding disebelahnya dan menjadi seorang pangeran. Pangeran yang mengatakan semua ini terjadi karena kata-kata yang keluar dari bibirnya. Dan terhitung hari itu, pangeran mengunci mulut Jun, sehingga Jun tidak bisa berbicara kembali.

Selang beberapa tahun, Naruse Jun akhirnya mengeluarkan kata pertamanya semenjak kutukan pangeran itu.
"Tidak," katanya, yang lebih mirip dengan berteriak gagap dibandingkan berbicara.

Hal ini terjadi ketika ia ditunjuk oleh guru kelas sebagai komite yang mengurus kegiatan penggalangan dana. Cerita baru akhirnya dimulai, Naruse Jun bersama teman-temanya melewati, mengumpulkan kepingan-kepingan diri dan bersemai. Memberikan sebuah pertunjukkan, menciptakan karya sastra berupa drama musikal. Pembuatan musik, lirik dan alur cerita, semua dilakukan bersama.

Tokoh dalam cerita ini juga banyak didukung oleh ketiga teman Naruse Jun lainnya yang juga bertugas sebagai komite penggalangan dana.

Tokoh pertama ada Sakagami Takumi, tokoh laki-laki yang mampu memainkan dan membuat musik, memiliki kisah sama seperti Naruse, broken home. Pria ini yang membuat Naruse Jun jatuh hati, karena ia merasa menemukan pangerannya.

Tokoh Kedua, Nitou Natsuki, perempuan tak bercelah, sempurna, yang baik hati, dan menjadi teman perempuan pertama yang dimiliki oleh Jun

Tokoh Ketiga, Daiki Tasaki, seorang pria tsundere -karakter yang cuek-cuek tapi perhatian eaaa- yang tangannya sedang dalam masa pemulihan, namun masih harus mengurus club football di sekolahnya sebagai seorang senior.

Dinamika persahabatan, ketertarikan, keluarga, dan pendidikan sangat digambarkan dalam film ini. Menurut saya, film ini tidak bukan film teenager romance, namun lebih pada masalah psikologis, khususnya masalah Posttraumatic Stress Disorder pada anak-anak. 
***
Apa itu Posttraumatic Stress Disorder?
Salah satu gangguan psikologis yang dimasukkan sebagai diagnosis dalam DSM-III, mencakup respons ekstrem terhadap suatu stressor berat, termasuk meningkatnya kecemasan, penghindaran stimuli yang diasosiasikan dengan trauma, dan tumpulnya respons emosionali. Gangguan klinis pada anak-anak yang mengalami PTSD menurut DSM, bisa berupa gangguan tidur dengan mimpi buruk, bisa juga perubahan perilaku seperti anak yang semula periang menjadi pendiam dan menarik diri, beberapa juga kehilangan keterampilan perkembangan yang sudah dikuasai, seperti berbicara atau menggunakan toilet (Davidson, 2004).

Personalities, apa itu?
Dalam film ini saya hanya akan berfokus pada karakter Naruse Jun, yang mana merupakan karakter yang mengalami psikopatologis. Menurut teori Melanie Klein (1946) kepribadian terbentuk pada empat sampai enam bulan pertama. Bayi membawa predisposisi untuk mengurangi pengalaman kecemasan yang dihasilkan oleh dorongan insting hidup dan mati.

Posisi
Bayi secara konstan terlibat dalam konflik mendasar antara insting hidup dan mati, antara baik dan buruk, cinta dan benci, serta mencipta dan merusak. Dalam posisi ini dibagi kembali menjadi paranoid-schizoid dan posisi depresif. Singkatnya, dalam teori Melanie Klein ini, anak-anak biasanya mengembangkan white and black thingking atau splitting, dimana hanya bisa menilai sesuatu sangat baik dan sangat buruk. Naruse Jun, merasa kedua orang tuanya adalah figur yang sangat baik, penyayang, dan tidak akan pernah salah. Dan orang tua-nya berpisah karena perkataannya yang menyakiti orang-orang. Sejak saat itulah, Naruse merasa semua yang akan dikatakannya akan menyakiti orang lain, ia tidak bisa berbicara dan mengalami gangguan psikosomatis (seperti perutnya nyeri dan kram ketika berusaha berbicara).

Disini juga, Naruse Jun menempatkan diri dalam posisi Paranoid-Schizoid, sebuah posisi perasaan ambivalen, seperti yang ditegaskan Ogden (1990) yang menyatakan, mereka mungkin menjadikan diri mereka sebagai objek yang pasif kerimbang sebagai subjek aktif. tanpa disadari ini menyebabkan perasaan paranoid yang tidak disadari terhadap orang lain, yang kemudian melihat orang tersebut yang sempurna sementara memandang dirinya kosong dan tidak bermakna.
***
Di hari ia mengatakan tidak di depan kelas kala itu, perutnya sangat sakit, ia hanya bisa berlari, menjauhi ruang kelas. Beberapa waktu selang kejadian, ia menemui guru di ruang klub musik dan melihat Takumi Sakagami sedang bernyanyi lagu mengenai telur -yang ia ciptakan sendiri- dan merasa hatinya sedang ditelisik oleh Sakagami, perlahan, telur yang dulu rapat dan mengunci bibirnya itu, retak.

Naruse Jun menjadi lebih membuka diri sebab merasa memiliki seseorang yang bisa mengertinya.  Takumi menjadi sosok yang sempurna dimatanya. Ia baik, perhatian, mengerti dirinya. Ia mulai menceritakan mengapa ia mengalami gangguan bicara tersebut lewat sebuah pesan teks. Lalu Takumi, yang juga pernah mendengarnya -secara tidak sengaja- menyanyikan lagu telur yang ia buat.

Takumi kemudian menyela,
"hey, kenapa kita harus bicara lewat teks, padahal bersebelahan?"
"perutku sakit setiap kali aku berbicara."
"bagaimana kalau kamu menyanyi, sewaktu itu kamu bisa bernyanyi kan?"

Naruse Jun, pulang dengan langkah tergesa, mendadak perutnya kembali sakit, namun kali ini karena nerves sih. ahahahahaha. Dasar yha orang jatu cynta.

Long short story.
Mereka membuat sebuah drama musikal bedasarkan naskah yang ditulis oleh Naruse Jun. Ia akan menyampaikan apa yang ingin ia katakan kepada Ibu -utamanya- lewat sebuah nyanyian. Dengan melodi yang dibuat oleh Takumi Sakagami.

Perasaan Naruse terpecah belah, saat mengetahui ternyata selama ini Takumi tidak memiliki perasaan lebih, ia hanya teman. Takumi baik, karena mengerti Naruse juga orang yang baik dan layak mendapatkan teman. Ia kemudian menolak menyanyi di acara penggalangan dana. Suasana menjadi chaos, Takumi pergi mencarinya. Sepeda itu sepi, hanya angin yang mengikuti alur kayuhan Takumi. Ia berhenti di sebuah bangunan kosong. Istana masa kecil Naruse. Dan tentu, ia menemukannya disana. Takumi mendekatinya, Naruse mengusirnya sembari menangis, tetapi Takumi terus mencoba mengatakan, bahwa semua orang menantinya.

"Sekarang Bahkan ketika aku bernyanyi perutku akan sakit, Ini semua karena kamu! Ketika aku berkata-kata, ini akan menyakitimu, kamu akan membenciku" katanya.

Takumi terus meminta Naruse berbicara, "Katakan apapun yang ingin kamu sampaikan, aku tidak akan tersakiti olehnya, Naruse".

Iya mengatakan semuanya, semua yang ia rasakan pada Takumi.

"Kamu Jahat sekali! Takumi. Sangat jahat, brengsek, palsu, untuk apa terlihat baik dan perhatian kepadaku. Nitou juga begitu, mengapa dia sok-sok an menjadi temanku. Mengapa membuatku berada di posisi ini. kalian semua jahat!", 

Takumi hanya tersenyum, "apakah ada lagi, ungkapkan semuanya, aku tidak akan tersakiti oleh kata-katamu,"
"kamu tidak tersakiti oleh kata-kataku?"


"tentu tidak, ayo, kamu hanya mengatakan apa yang kamu rasakan, aku mengerti perasaanmu, tidak apa-apa, Naruse. Kamu hanya menjadi dirimu, dan tidak ada yang salah dari itu,"

Naruse diam sejenak, dan masih duduk termenung, sedikit menyadarkan dirinya lalu berucap, "Sakagami Takumi, Sakagami Takumi, Sakagami Takumi. Aku menyukaimu,". 

Takumi tersenyum, dan berkata "Terima kasih ya, tapi aku menyukai perempuan lain,"
"Iya aku tau,"

Naruse menyelesaikan bagiannya dengan baik. Baik selama di Istana kecilnya itu bersama Sakagami Takumi maupun ketika kembali ke panggung dan menyanyikan bagiannya.

Akhirnya, Naruse menyadari, selama ini telur dan pangeran yang mengutuknya supaya tidak bisa berbicara tidak ada. Selama ini hanyalah dia yang membuat semua itu, dan khayalan-khayalan lainnya. Ia mengalami splitting thinking dan menciptakan karakter itu sebagai bentuk mekanisme pertahanan diri 'Identifikasi Proyektif' dimana proses mengurangi kecemasan dengan memisahkan bagian diri mereka yang tidak diterimanya. Hasil pemisahan ini kemudia diproyeksikan menjadi objek lain, dan objek lain itu berupa telur yang menjadi seorang pangeran dan mengunci bibirnya (Klein, 1946).

Hal-hal yang bisa dipelajari dari film ini utamanya adalah Self Acceptance. Bahwa tidak semua yang dikatakan orang lain itu memang benar, bahwa tidak selamanya, mereka yang kita anggap baik, akan selalu baik dan apa-apa yang kita anggap buruk, akan menjadi hal yang buruk untuk kita. Kehidupan ini penuh berbagai warna, tidak hanya hitam dan putih.
Manusia tetaplah manusia, yang juga bisa salah. Ibu Naruse, yang diproyeksikan oleh Naruse sebagai ibu yang sempurna dan baik, juga tidak selalu dapat menjadi Ibu yang baik. Bahwa Naruse harus menyadari, apa-apa yang membuat Ayah dan Ibunya dahulu berpisah adalah kata-katanya itu salah. Itu bukan kesalahan Naruse Jun. Nilai moral lain dalam cerita animasi ini juga menekankan pada pentingnya komunikasi yang tepat dan efektif dalam kehidupan kita.

Satu perkataan judging dari orang yang kita sayang dapat begitu menyakitkan. Dan tentunya dapat membuat pengalaman traumatis tersendiri. Let's spread good word and love more.

"Don't tell people to disappear like it's nothing! Words can hurt people! You can't ever take them back! Even if you regret it, you can never take them back!" (Naruse Jun, 2015)

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #resensi

Kisah Pemuda dan Penyu Merah


Beberapa waktu lalu, aku menuntaskan film-film yang selama ini menumpuk di dalam otak. Memang sebagai orang yang mencintai dunia fiksi, suka menghayal, dan mengagumi betapa indahnya ciptaan sang Maha Kasih, menonton film merupakan pelarian terbaik dari segala macam keresahan. Nama folder film dalam laptop lenovo biru berusia 6 tahunku saja, ku beri headline, "Belajar dari Cerita Fiksi".

Ayahku yang selalu mengatakan untuk berhenti berkhayal terus-menerus -karena menurut beliau, nonton filmku keterlaluan seringnya sehingga melupakan tugas-tugas duniawi lain- memang bisa dibilang akut, hehe. Selama liburan aku bisa berjam-jam duduk di depan laptop hanya untuk menonton drama korea, atau film-film berbagai genre atau video youtube dan dokumenter lainnya. Secinta itu memang dengan aktivitas (yang katanya) mengkhayal. Tapi, semenjak aku menjadi mahasiswa -yang membuat intensitas berkhayalku sedikit berkurang, karena harus menjalani kehidupan nyata- itu, semakin menyadari juga, bahwa menonton film bukan 'hanya' perkara menghibur diri. Di dalamnya aku menemui banyak dimensi. Aku berkenalan dengan mimpi-mimpi, harapan, motivasi, sudut pandang lain dan nilai kehidupan bagi tokoh. Bagiku, aktivitas ini sama dengan kamu yang (mungkin juga) mencintai aktivitas membaca buku, kita terinspirasi, tau, dan lebih kaya dari mereka. Bedanya, aku ini makhluk auditori, yang lebih menyukai sesuatu yang ada suaranya, hehe. Dan sampai detik kesepersekian ini pun, ketika belajar, membaca buku, membersihkan barang-barang ataupun melakukan aktivitas menulis, seperti sekarang (wajib hukumnya) diiringi alunan musik.

Dalam tulisan kali ini, aku akan bercerita mengenai sebuah film yang sedikit berbeda dari yang banyak aku tonton. Animasi garapan Ghibli Studio dengan naskah hasil kolaborasi dengan sineas film pendek asal Belanda, Michael Dudok de Wit, ini berhasil mengubah sudut pandangku mengenai cara komunikasi. Nyata-nya komunikasi non verbal tidak kalah kaya.

"The Red Turtle", sebuah film yang menekankan visual storytelling tanpa komunikasi verbal, suasana dilukiskan lewat cantiknya alunan alam, semacam dentuman deburan ombak, suara kicau burung, dan sesekali teriak keputusasaan manusia yang memekak lantang "aaaakk,", animasi film garapan Ghibli, seperti biasa, selalu mengagumkan, bak melihat lukisan media cat air yang bergerak-gerak dan didampingi dengan lanskap alam detil, tentu menjadi daya tarik visual yang eyegasm.

Kisah dimulai ketika seorang Pemuda yang terdampar disuatu pulau tak berpenghuni (manusia), bersusah payah menyelamatkan diri dengan keluar dari pulau berpopulasi kepiting, burung, penyu, dan hamparan pohon bambu, tersebut. Dalam percobaan pertama yang penuh gairah, ia merencanakan pamit dengan membuat sebuah kayak dari rakitan pohon bambu, namun berakhir gagal, hal itu terulang, bahkan sampai percobaan ketiga, dengan arsitektur kayak yang lebih kuat dan profesional, berhiaskan layar besar dari dedaunan. Short story, ia menyadari, karena eksistensi seekor penyu berwarna merah, ia (selalu) gagal hengkang dari pulau kecil itu. Berenang dengan susah payah ke tepian pantai, dan bertatap muka lagi dengan penyu tersebut, tentu membuatnya, spontan, membalik tempurungnya. Karena Ghibli selalu memberi jahitan fantasi, penyu itupun kini menjadi seorang wanita yang menemani si Pemuda sepanjang film berlangsung. Pemuda yang awalnya ingin segera pergi dari pulau, mendadak memiliki rumah dan menjalani kehidupan seperti selayaknya manusia berbahagia. memiliki seorang anak dan hidup dengan nyaman. Sampai pada saban hari terjadi beberapa peristiwa pada mayoritas takdir insan, ada bencana alam, ada perpisahan, dan ada kematian. Dinamika kehidupan.

Film ini mengajarkan bagaimana cara kita melakukan apa yang kita inginkan, memulai dari apa yang ada, dan untuk mencintai apa yang telah dimiliki, di waktu yang tepat. Dalam kesunyian, ia mampu merepresentasikan pesan besar. Dari perasaan keterpurukan akan ada harapan, dari ketiadaan ada keberadaan, dan dari kehampaan terbesit kehangatan. Hidup tidak akan pernah sepenuhnya hitam atau putih, akan ada abu-abu, jingga, merah, ungu, kuning, hijau, biru, nila, dan warna-warna lainnya. Maka, nikmati selagi masih ada, sayangi sewaktu dibutuhkan, dan hadapi dikala menyerang. Mari tetap bisa menatap kehidupan dari berbagai perspektif. Jangan terlalu cepat menyimpulkan, mungkin semua itu belum berakhir

Tetap penuh harap, penuh asa, dan keyakinan. Kelak, semua keresahanmu akan dijawab, di waktu yang tepat. -cc

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #resensi #thechorus

Peraih Mimpi di Tengah Diskriminasi

“Ketika harapan yang selama ini kita kira akan pupus di persimpangan, ketika cita-cita yang selama ini kita bayang menghilang melayang-layang, dan ketika kita menyangka semua telah sampai pada akhir, disitulah sebenarnya arti kata ‘ilmu yang bermanfaat’ menjadi nyata. Sama seperti kisah film The Chorus, dimana cita-cita seorang guru, yang dulunya ingin menjadi seorang kondektur handal, akhirnya –malah mendapatkan lebih, menjadi seorang pelatih kondektur handal,”

The Chorus

Film yang berasal dari negara Perancis ini mengambil alur flashback. Scene pertama yang ditayangkan dalam film The Chorus adalah potret landscape dari banyaknya penghargaan seorang dirigen musik klasik yang bernama Pierre Morhange, yang kemudian disusul dengan datangnya orang asing yang mengaku sebagai salah satu sahabatnya di asrama masa kecilnya, Fond de l'Étang. Sebuah asrama yang hanya berisikan laki-laki yang -dianggap- bermasalah bagi orang-orang sekitar.
Di awal cerita kita akan diajak kembali ke masa 1949, masa dimana Pieree Morhange untuk pertama kalinya bertemu dengan sosok yang mengubahnya menjadi orang yang seperti saat ini. Ia bernama Clément Mathieu, kepala asrama baru yang juga merangkap sebagai seorang guru. Sebelum menjadi seorang guru, Mathieu dulunya adalah seorang musisi dan karena beberapa alasan, Mr. Mathieu sudah tidak ingin mengorek-orek masalalunya, terutama masalah musik.
Di hari pertama masuk ke asrama, Mr. Mathieu sudah disuguhi beberapa contoh sikap para murid yang -bisa dibilang- usil, seperti kelakuan jebakan kaca di ruang kebun milik Chabery, seorang penjaga asrama, sampai diambil tas kerjanya di hari pertama kerjanya.
Namun, Mr. Mathieu memiliki cara mendidik yang berbeda dengan kebisaan sekolah ini mendidik. Ia memiliki cara tersendiri untuk mengatasi mereka, bukan dengan aksi-reaksi yang diterapkan oleh Mr. Rachin –Kepala Sekolah- yang memiliki tipe cara mendidik semacam terapi behavioral milik B.F Skinner atau Pavlov.
Mr. Mathieu lebih lebih menerapkan sistem pendidikan karakter yang dicetuskan Noddings, seperti yang ada didalam scene pertengahan dimana Morhpange memberi jebakan di kebun Chabert, sampai membuatnya harus menjalani perawatan dari dokter agar matanya tidak cedera, malah diselamatkan oleh Mr. Mathieu dengan tidak melaporkannya pada Mr.Rachin. dan lagi si bijak Mathieu memilih menyelamatkannya, namun dengan tegas juga tetap meminta pertanggung jawaban atas sikap Morphange dengan menyuruhnya merawat Chabert sampai sembuh.
Perlahan tapi pasti, metode pembelajaran karakter ini terus diterapkannya, sampai akhirnya cita-citanya menjadi seorang kondekturpun tercapai. Mathieu merangkul mereka, memberikan contoh mengenai pembelajaran yang tegas dan bersahabat dalam waktu bersamaan, ia yang dari dulu ingin karyanya dimainkan, akhirnya berhasil membuat paduan suaranya sendiri dengan para murid-murid -yang dianggap bermasalah itu-.
Bahkan, semenjak hadirnya Mr. Mathieu mereka menjadi anak-anak lebih bisa diatur. Morphange yang awalnya dicap sebagai anak berwajah polos namun paling bandel, ternyata memiliki bakat terpendam dalam dunia tarik suara, dan akhirnya menjadi penyanyi solo di paduan suara Fond de l'Étang. Itulah titik awal dalam kehidupan Morphange yang dapat membawanya seperti sekarang.
Di Akhir cerita, film ini menampilkan scene dimana seorang guru yang begitu berjasa bagi muridnya ternyata meninggal tanpa ketenaran apapun. Berita kematiannya bahkan tidak banyak didengar oleh murid-muridnya sendiri. Dan Kabar duka itulah yang disampaikan Pepinot –salah satu sahabatnya di asrama, ia datang dengan membawa semua kenangan yang telah lama tak terngiang.
Opini
Film yang di adaptasi dari film tahun 1945 berjudul A Cage of Nightingales (La Cage aux Rossignols) ini mengajarkan bagaiamana pentingnya peran sekolah, pendidik dan keluarga dalam proses belajar seorang anak. Di dunia ini tidak akan pernah ada anak yang disebut sebagai anak ‘nakal’. Semua anak itu sama, yang mereka butuhkan adalah kasih sayang dan pengertian. Ketika kita dapat mengerti alasan dibalik perilakunya, maka sejujurnya tidak ada anak yang berniat ingin menyakiti atau melukai orang lain.
Film yang berhasil masuk Academy Awards ke-77 dan dinominasikan untuk Best Foreign Language Film dan Best Original Song ini juga mengajarkan bagaimana kenakalan tidak selamanya harus diberi hukuman fisik, bagaimana pengenalan potensi anak-anak didik sangat penting bagi setiap guru yang memang pantas disebut sebagai seorang guru.
Seperti halnya Mr. Mathieu yang tidak pernah bercita-cita sebagai seorang guru, namun sangat berdedikasi ketika menjadi seorang yang biasa kita sebut dengan Guru, yang tidak hanya mendidik tetapi juga memberikan pelajaran-pelajaran kehidupan sesungguhnya. Sesosok guru yang mendidik dengan kelembutan dan ketegasan dalam saat yang bersamaan. [cc]

















Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

Diberdayakan oleh Blogger.