Tampilkan postingan dengan label #life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #life. Tampilkan semua postingan

In #life #opinion

Awal & Akhir, berlawan namun beriringan.

Awal dan Akhir. 

Dua kalimat bertolak belakang tapi saling berkaitan. Tanpa ada awal, tidak akan ada akhir, begitupun sebaliknya, akhir dari sesuatu adalah awal yang baru. 

mungkin, hal ini bisa di sebut keseimbangan, seperti badai dan pelangi, hujan dan panas, sedih dan senang, tanpa ada hal yang berlainan, kita tidak bisa menikmati hal lainnya secara nyata. 

Ketika kita merasa sedih, tentunya, hal-hal membahagiakan kecil akan lebih bisa disyukuri. Hari yang melelahkan, diganti dengan sapaan hangat teman kantor yang menanyakan harimu. Sambutan hangat dari keluarga, atau malah sebaliknya. Hari yang memusingkan di rumah, disambut tawa ceria suasana kantor.  


Banyak yang aku harapkan bisa aku kerjakan sesuai ekspetasi, selesaikan, ataupun taklukkan. Tapi pada akhirnya, menyadari sebelum dirasa mampu oleh orang lain bukanlah kegagalan. Kadang, ada waktunya kamu untuk berhenti mencoba, dan kembali memutar kembali semua hal yang diperjuangkan selama ini. Pekerjaan dan dedikasi adalah salah satunya. 

Sejak kuliah aku berprinsip menyelesaikan dengan sebaik-baiknya hal yang sudah kumulai. Menyelesaikan dengan sempurna masa jabatan di organisasi, meski terasa melelahkan tanpa adanya mentor kanan-kiri. Melakukan yang terbaik dalam hal yang sedang di tekuni, mulai dari tugas akhir kuliah, pekerjaan part-time dengan dosen, sampai pekerjaan pertama seusai kuliah dengan sedikit dramanya. Semua selalu kuusahakan diakhiri dengan baik dan ditutup semanis saat ia dibuka.

Tidak terkecuali pekerjaanku saat ini. Tidak sedikit aku merefleksikan diri dan merenungi setiap kali mendapat teguran kecil maupun keras, beberapa waktu aku merasa benar-benar tidak bisa diharapkan, meskipun sudah mengulik dengan mendetail. Ada waktu dimana, akhirnya hati merasa cukup tenang, ketika di peringati atau hal-hal kecil lainnya. Tapi selepas kejadian pada suatu hari di akhir bulan Januari, tahun 2023. Akhirnya aku mengerti, ada kalanya kita berhenti mencoba, berhenti mendebat, berhenti menjelaskan. Kadang memang ada orang-orang tidak mau mendengar penjelasan karena ia hanya ingin melampiaskan. 

Hari-hari sebelumnya, sudah cukup melelahkan, aku berusaha untuk tetap bisa stabil ditengah tekanan yang memang akan selalu ada. Hari itu cukup membuatku akhirnya tidak bisa menahan lagi semuanya, dan harus kembali memikirkan masalah "selesai" setelah 5 bulan berhasil kembali merasa lebih lega. 

akhirnya, pada akhir bulan 2023 ini, aku yakin, aku harus selesai dengan lingkungan tidak sesuai ini. Aku sudah berhenti mencoba dan berusaha. Pada akhirnya, ada hal-hal yang memang tidak bisa selalu di upayakan. Mengambil langkah mundur, untuk bisa berlari lebih jauh di tempat yang lainnya.

Karena akhir adalah permulaan lainnya yang baru.

cheer up! :)  

Aku berterima kasih atas semua pelajaran, kenangan, dan pengalaman selama bekerja di sana, tidak ada yang tidak aku syukuri. Teman yang baik, tempat belajar yang kompleks dan suka-duka yang menyertai. 

Masa belajarku sudah harusnya berakhir sebelum semakin tidak baik. 

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #life #opinion #selftalk

Sebulan Setelah Hari Pernikahan.


Sebulan, lebih tiga hari, aku melangsungkan hari itu. Hari dimana beberapa perasaan terjadi bersamaan. Senang, Haru, Tidak sabar dinanti, Gugup. Hari dimana aku akan membutuhkan ridhonya atas segala pertimbangan dalam pengambilan keputusan-keputusan. Hari dimana kami menjalani ibadah terpanjang dimulai. Hari pernikahanku dengan pria berkacamata, sedikit berjanggut dan berkumis asal bumi sunda. 

***

Aku bertemu dengannya di tempat yang sejak kecil selalu ku idam-idamkan menjadi tempat tinggal masa depan yang juga menjadi tempat rantauan pertamaku setelah lulus kuliah. 

Kalau diingat-ingat lagi, jujur, pertama kali bertemu, sebenarnya tidak terlalu berkesan. Sikapnya yang cukup terbuka, membuat perisai sinyal siagaku menyala. Sampai akhirnya aku menyadari, dia memang cukup pandai membuka pembicaraan yang menyenangkan. Bukan karena sedang tebar pesona. Tapi, memang sedang bersikap ramah dan sopan kepada semuanya. Mungkin awalnya aku terlalu mawas diri, hingga merasa dia sedang mencari perhatian ya.

Sebelum bertemu dengannya, aku cukup mudah beralih perhatian satu ke lainnya, terutama ketika bertemu orang yang memang seru diajak berbicara hal-hal yang aku senangi atau aku ingin tahu lebih. Anehnya, orang ini bisa membuatku selalu fokus pada satu titik, yang mana itu adalah dia. Entah karena daya tariknya yang mengingatkanku pada paket komplit, selalu mampu membuatku tersenyum saat didekatnya, karena selera humor kami sama. Intinya, orang ini memang tidak bisa diabaikan dengan mudah. 

Hal-hal diantara kami terjadi begitu saja. Kami bahkan sebenarnya tidak banyak berkata-kata, selain saat pulang di mesin checklog dan bertegur sapa di siang hari saat mau makan siang. Dan saat itu aku merasa nyaman dengan diriku sendiri. Tapi saat didekatnya aku juga tidak merasa keberatan. Aku nyaman bersamanya. Dia membuatku merasa seperti dirumah, saat aku bahkan sedang jauh dari rumah.

Dia memperhatikan hal-hal kecil yang aku hindari dan aku sukai. Mendengarkan cerita dengan seksama, dan mampu memberi respon yang aku butuhkan. Tidak terlalu mengekang dan bisa memberikan afirmasi sesuai porsinya. Tidak terlihat merayu atau persuasif, dan tetap objektif. 

***

Konsep pernikahan yang kami harapkan memang simple-intimate. Awalnya. Dan akhirnya berakhir sederhana yang cukup ramai lancar, seperti jalan tol. Hahaha. 

Semua kecemasan yang aku bayangkan ternyata tidak terjadi seburuk yang di kepala. Acara pernikahan kecil-kecilan kami berjalan on-track. Dan hari itu menjadi hari paling membahagiakan selama 25 tahun berjalanku. Siapa yang menyangka, Sisi yang merencanakan segalanya dalam kehidupan termasuk target menikah di umur 26, menikah setahun lebih awal. Dan keputusan ini terjadi karena kalau bukan dia, karena siapa lagi. Hidup memang lucu, penuh perubahan-perubahan yang tidak kita sadari, seiring bertemu dengan orang-orang yang memberikan dampak pada diri kita.

Cita-cita yang dahulunya mau aku usahakan sendiri, ternyata sama Allah dikasih teman yang akan selalu mendampingi. Hal-hal yang membuatku kembali berani bermimpi dan mengusahakannya. Ada dia menyertai. 

Hal-hal yang dulu aku anggap masalah besar dalam kepala, sekarang menjadi hal yang dengan cukup percaya diri aku yakini bisa tangani. Hal-hal yang dahulu tak terbanyangkan bisa menjadi penguat, ternyata memang menguatkan, menenangkan, dan memberi banyak harapan, karena sekarang kami menjadi satu kesatuan yang diamini olehNya dalam ikatan suci. 

Percaya, kalau orangnya sudah tepat. Kedepannya akan saling menguatkan. 



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #intrapersonal #life

Ketidakpastian Adalah Kepastian.

Bermula dari hari menuju kelulusan tahun lalu di bulan September. Banyak ketidakpastian yang saya rasakan. Harus kemana setelah lulus, apa pilihan karir yang sesuai dengan kepribadian, bagaimana dan dari mana harus memulai merangkai apa yang ingin saya dapatkan, apakah saya harus idealis atau realistis, dan masih banyak pertanyaan yang muncul di benak seorang calon sarjana psikologi, bahkan seorang yang sudah belajar ilmu psikologi masih gamang dengan apa yang ingin dipilih dan dilakukan oleh dirinya sendiri.

“Pendidikan formal benar-benar cuma sebagai jembatan tak sampai setengah jalan menuju apa yang saya inginkan”, itu yang terbesit saat pada benak saya waktu itu. Saya kira perjalanan setelah studi S1 akan lebih jelas, dan tergambar. Nyatanya tidak, justeru semakin banyak dan berkali-kali lipat ketidak pastian yang saya rasakan. Sewaktu kuliah mungkin ketidak pastian itu berwujud nyata dan tampak, kapan dosen pembimbing bisa dihubungi dan memberi waktu untuk saya berkonsultasi, kapan surat izin saya bisa masuk ke rumah sakit untuk penelitian, atau kapan saya bisa disidang dan kapan orang tua bisa merasakan feedback investasi pendidikan yang mereka berikan untuk saya.

Sewaktu  duduk di ruang kelas, ujian hanya diberlakukan persemester atau tengah semester. Setelah lulus yang seperti orang naif anggap ingin terbebas dari jeratan ujian nyatanya justeru berkebalikan. Setiap hari adalah hari ujian. Ujian bertahan hidup mandiri entah secara emosional, finansial, spiritual dan hal lainnya yang lebih holistik. Kecarut marutan polemik eksternal, yang mungkin mutlak tidak dapat kita rubah tanpa adanya kekuasaan dan modal finansial, sampai yang paling penting, kegelisahan yang ada dalam diri setiap individu masing-masing.

Sekarang bahkan negara sedang hampir mengalami resesi, apabila ibu Sri Mulyani gagal menyelematkan semester ini dari minus daya beli masyarakat yang menurun akibat pandemi covid. Banyak rencana yang dilakukan agar Indonesia tetap bisa bertahan dan tidak resesi, sama halnya banyak rakyat korban pemecatan sepihak, pelaku bisnis rumahan dan rakyat yang mengandalkan upah harian yang berusaha sekuat mereka untuk bertahan hidup. Semua ketidak pastian ini adalah hal yang pasti. Tidak ada yang tahu seperti apa kedepannya.

                Tapi hebatnya manusia didesain oleh yang maha kuasa memiliki organ penting yang bernama otak. Dalam psikologi, otak manusia ini juga selalu menjadi topik utama dalam setiap pembahasannya, mulai dari kepribadian, kognitif, perkembangan, sampai abnormalitas. Manusia didesain mampu beradaptasi. Orang yang adaptif dengan perubahan dan ketidakpastian adalah orang yang mampu bertahan.

                Berkat kemampuan adapatasi ini, mereka menemukan ide yang menggerakkan, menemukan cara, menemukan jalan, dan menemukan harapan. Tanpa harapan, kita semua tidak akan bertahan. “Sesungguhnya Allah maha mendengar” adalah mantra untuk tetap bertahan pada ketidakpastian yang saya selalu ingat belakangan.  

                Harapan bisa datang dari hal yang sederhana. Dari orang terdekat yang selalu ada, aktivitas yang kita sukai, lagu dan film favorit, cuaca yang bersahabat, buku yang mengajak kita berkelana, sampai orang yang kita temui dipersimpangan jalan tetap semangat mencari sekeping pundi-pundi lembaran berwarna warni, alat barter yang biasa kita sebut, uang.

                Merangkai apa yang ingin dan akan dilakukan di saat ini dan kedepan memang menjadi bahan pembicaraan yang tidak akan pernah ada selesainya. Setiap hari adalah hari belajar. Belajar mengenali diri sendiri, mengenali orang sekeliling, bahkan sampai alam. Hari ini semua tampak baik-baik, sapa yang mengira setelah terdampak covid di penjuru bumi, saudara kita di Masamba, Sulawesi Selatan harus ditimpa lagi yang lebih dari alam mereka, Banjir Bandang pada 13 Juli lalu. Makin-makin saya lebih bingung, sebenernya apa yang selama ini saya khawatirkan? Apa yang kurang? Bahkan sepertinya ngga pantes-lah, buat mengeluh, selama masih diberi kesehatan, tempat tinggal, teman-teman yang selalu ada, dan sekumpulan hal-hal lain yang saya sukai.

                Ketika ketidakpastian yang melanda dalam dirimu, aku harap kamu segera menyadarinya, bahwa tidak hanya kamu yang merasa seperti itu. Temukan apa yang membuatmu mempunyai harapan baru. Salah satu caranya bisa dengan kembali menguak hal yang membuat perasaanmu nyaman. Bertemu orang-orang yang mengingatkanmu untuk tetap berjuang, dan kembali bergerak kemana kamu ingin pergi. Mulailah. [cc]

“Siapapun kamu, apapun bisa kamu lakukan, atau kamu harapkan, wujudkan, impikan, dan mulailah. Keberanian punya kejeniusan, kekuatan dan keajaiban.” – Johan Wolfgang Van Goethte, Novelis Jerman, abad ke-19.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #life #selftalk

THE FAULT IN OUR STARS

The first thing I've learned about living in this Stars (re: earth) was from my momma and papa.

My Momma said that you must have a dream to stay alive in here.

so, I write my dreams in my thought, first. then try to write it down on a paper when I started learn alphabet.
My Papa said that you must be grateful for what you already have, some people not as lucky as I am.

So, I always try to remember it in my memory. But, sorry not to say sorry, my brain has a lack skills when it comes to memory. Hahaha. So here I am. Be a person with million dreams but actually and really most of the time I've in my life, I spent on murmur, disapointed, feelin' bad about myself and of course always never feel enough, literarry about anything that happen in my life. oh, how sucks u r Si. can u just stop being so selfish and arrogant, said her to me, one day.

and, I just reply with a hate smile.
but now, she become more mature to love herself and learn about The Right Thing in Her Own Stars

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #life

Another Day of Spring

Bola biru seharga seratus enam puluh lima ribu rupiah itu aku ambil dari atas meja kerja kamar
Berada di sudut, dibawah kipas angin, dengan debu-debu yang menemaninya
Dengan hati-hati, kupeluknya
-
Hari itu hari Sabtu, tanggal 31 Maret 2018.
"Kapan terakhir kali aku melihatnya," tanyaku dalam benak
Berapa tahun yang lalu ya?
Sampai akhirnya aku tersadar
Waktu yang selama ini kuanggap tak sebentar itu
Ternyata sesingkat aku menghabiskan eskrim kesukaanku
Ternyata secepat aku berlari menuju sepeda motor kakakku
Ternyata seringkas aku membersihkan kotak bekal makan siangku
-
Aku membersihkannya dengan salah satu molekul kimia
Yang sudah tak asing
H2O sebutannya
Mulai terlihat jelas nama-nama
Sering aku lihat di saluran favoritku
Atau di buku-buku bacaan wajib kuliahku
Rusia, Irlandia, Belanda, Yordania, Saudi Arabia, Afrika, Korea, Malaysia, Indonesia, Australia, dan berakhir di Amerika
Spring and it's beauty
Mungkin karena aku belum pernah melihat bunga-bunga bermekaran secara serempak di satu musim yang membuatku selalu excited dan have high expectation. They said everything starts from your hopes and dreams. So I once dream about it.
To see them with my own eyes. Aamiin.

From Japan to Holland
Cita-cita saya ke Jepang beberapa tahun terakhir tiba-tiba berpindah ke Belanda seketika, saat melihat dibukanya program KKN Internasional UIN Surabaya tahun 2018 ini. Ah sejujurnya, di awal saya pun ndak berani 'nyoba' karena persyaratannya (yang memang rasanya saya-pun tidak memenuhi kualifikasi) tetapi pada akhirnya, diberanikan saja mencoba. Setiap ragu dan gundah, selalu saja ada orang-orang baik dibalik layar yang terus menyemangati. Keinginan mencoba ini diperkuat oleh Deri, laki-laki yang sekelas dengan saya di jurusan Psikologi sejak semester pertama, actually saya mau berterima kasih sama doi yang dengan baik hati bertanya "Kamu nggak daftar ta, Si?" yang akhirnya membuat saya mengunjungi International Office UIN Surabaya di hari akhir pendaftaran, eh ternyata pendaftarannya diperpanjang. Setelah dapat restu dari orang tua, semangat saya semakin kuat. Orang Tua memang selalu menjadi Motivasi terbesar, Best support system tercanggih, dan penawar obat kegelisahan termanjur.

Apalah Saya Tanpa Mereka.

Kali itu saya benar-benar merasa Allah membuka jalan untuk mencobanya. And yes! there is an art of tryin'

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #intrapersonal #life #selftalk

Are You Okay?


"Beberapa orang memandangmu sepele, meremehkanmu, merendahkanmu, kurang menghargaimu, dan kurang-kurang lainnya. Tapi, Beberapa orang yang lain juga percaya kamu, mengakui kelebihanmu, mengerti hatimu, dan akan selalu mendukungmu. Percayalah Allah SWT sudah mengatur semuanya, beberapa orang dihadirkan untuk membangun kita menjadi lebih kuat, beberapa orang datang untuk membantu kita bangkit, dan beberapa orang menetap dalam kehidupan untuk menjadi bagian dari diri kita"
Perasaanku terhadap diriku
Bagaimana caranya agar aku selalu menyukai diriku sendiri sebanyak aku menyukai orang yang aku sukai?
Bagaimana caranya agar aku dapat menjadi sepenuhnya aku versi dewasa seperti yang aku bayangkan ketika masih anak-anak?Bagaimana caranya aku bisa bersyukur dapat terlahir sebagai aku?

Intimacy VS Isolated
Akhir-akhir ini, aku sedang memasuki tahap perkembangan dewasa awal, tahap dimana perasaan intimacy semakin dibutuhkan, namun perasaan terisolasi juga sering datang. Ternyata benar yang dikatakan Erik Erikson dalam teori Perkembangan Psikoseksual, bahwa di rentang usia 20-30 an, manusia cenderung ingin mendapatkan perasaan hangat yang lebih banyak dari biasanya, bukan hanya perasaan cinta dan kasih sayang dari internal keluarga, tapi juga cinta kasih dari ruang lingkup sosial yang lebih luas, perasaan cinta dari ruang lingkup persahabatan; yang "lebih akrab", "lebih nyaman", "lebih dekat", dan lebih-lebih lainnya. Namun, untuk mencapai hubungan tersebut, tentu tidak semudah ketika masa kecil, dimana letak geografis rumah yang berdekatan mampu menjadikan hubungan lebih akrab, atau pertemuan yang intens membuat kita otomatis merasakan kedekatan atau hal-hal lain yang dulunya sering kita anggap sebagai alasan terjalinnya sebuah persahabatan, lebih dari itu -setidaknya, aku berharap lebih dari itu- berharap hadirnya seorang teman yang bisa mengerti, mendengar, mengingatkan dan menghibur disaat kita sedang down, mengetahui perubahan-perubahan suasana hati bahkan saat aku sedang berusaha menyembunyikannya. Sempat juga datang masa  dimana aku ingin pergi ke tempat yang tidak ada seorang pun mengenalku. Lalu, aku memulai semua yang baru disana. Entahlah, semakin dewasa, aku rasa menjalin kedekatan dengan seseorang semakin banyak standart operation procedurenya, sampai pada akhirnya, kalau bukan diri sendiri yang mampu mengatasi berbagai goncangan, terpaan, dan badai dalam diri ini. siapa lagi? 

"Apa tujuan hidupmu?,"
Pertanyaan ini dilontarkan oleh Sintang, salah satu teman komunitasku beberapa hari lalu ketika kami sedang berkumpul. Aku menjawab sekenanya, bahwa aku ingin lebih bersyukur, dengan melihat, belajar dan mencoba menjadi bagian dari orang-orang kurang beruntung di pedalaman, aku merasa, aku bisa lebih banyak bersyukur dengan melakukan itu. Kecenderungan membanding-bandingkan diriku dengan orang lain -entah mengapa- semakin lama, semakin besar. Semakin luas lingkup sosialku justeru -di satu titik- menjadikanku lebih minder (kurang percaya diri). Lalu, tiba giliran salah seorang yang lain, menjawab pertanyaan tersebut. Perempuan berbadan semampai, berambut sebahu, dengan celana hitam dan baju bergaris horizontal mengatakan pendapatnya mengenai apa tujuan hidup terbesarnya, singkat, padat, jelas, "Belajar dan Bahagia,"

Belajar dan Bahagia
Perempuan yang dulunya ingin menjadi seorang polwan namun berakhir dengan duduk di bangku S1 Jurusan Psikologi UNAIR ini memang memiliki Self concept yang beda dan tentunya jauh lebih baik dari milikku sendiri. Sejauh ini, aku sering bertemu orang-orang yang sepaham denganku apalagi di usia yang masih dua puluhan . Jujur, aku juga sudah mengaguminya sejak kali pertama kami bertemu, Ia selalu mengusahakan datang ditengah kesibukannya, janjian sesuai jadwal yang ditentukan, dan ada banyak hal-hal lain yang sudah aku ambil pelajaran dari berteman dengan sosok dengan nama depan yang sama, -untung nama panggilan kami berbeda- Desy Putri Pertiwi, biasa panggilan Tiwi, Tiwi berkata hal yang lucu juga waktu itu, "apa cuma aku ya yang punya pikiran berbeda? aku nggak pernah si bandingin diriku sama orang lain, karena aku tau juga meskipun dia punya keahlian ini-itu, belum tentu dia memiliki keahlian yang aku atau kamu punya," kurang lebih begitu. Batinku cuma bilang, woah self awareness (kesadaran diri) nya udah mateng banget ya Tiwi ini, Keren. 

Conscious mind VS Unconscious mind
Istilah diatas sering kali dibahas dalam kelas "apapun" di jurusan Psikologi. Conscious mind adalah alam sadar yang kita miliki, seperti kemampuan membaca, kemampuan menghitung, dan kemampuan-kemampuan lain yang bisa kita pelajari selama kita mau belajar. dan Unconscious mind adalah kebalikannya, disini tempat tersimpannya memori -biasanya- sedih akan masuk ke alam ini, karena ya namanya juga sedih, kita pasti berusaha tidak mengingatnya, dan meskipun kita tidak ingin mengingatnya, ia masih tersimpan rapih dalam otak kita. Iya, "mereka" bersembunyi disini, hehe.

Teori-teori yang aku pelajari semua masuk ke Conscious mindku, lalu caraku mengambil keputusan, caraku berpikir dan hal-hal refleks lainnya datang dari unconscious mind. Maka jangan heran ya kalau ada anak Psikologi yang kurang "psikologi" (me as example) atau banyak anak yang tidak mempelajari psikologi  justeru lebih baik problem solving atau emotional intellegence nya. Semua ini bisa dipelajari tanpa harus mengenyam pendidikan S1 Psikologi kok, dan bahkan secara tidak sadar kita semua telah mempelajarinya sejak dari hari pertama lahir dimuka bumi.

Ini juga sudah tercantum di surat Ar-Rahman dan diulang berkali-kali "saking pentingnya"


 "Maka, nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan?"
Bahwa mindset membandingkan diri sendiri dengan orang lain adalah hal yang salah, dan tidak baik. Bahwa setiap orang memiliki ceritanya sendiri, memiliki perjalanannya sendiri, dan semua akan manis pada waktunya, selama kita berhenti "membandingkan". Allah sudah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya makhluk (dilengkapi otak buat berpikir, mata untuk melihat, dan hati untuk merasakan)
Tapi lagi-lagi, teori sekedar teori, bacaan sekedar dibaca, inilah representasi sadar tapi tidak menyadari, dan ketika sedang dilanda kalut, otak sudah tidak mau diajak kompromi atau berpikir lagi, maunya cuma terhanyut sendiri dalam kesedihan tak berujung dan anehnya kita sendiri juga yang menjadi penyebab kesedihan itu.
Aneh tapi nyata.
Manusia.
Sepertinya mempelajari ilmu tentang perilaku manusia (Psikologi) dalam kurung waktu 4 tahun di bangku universitas-pun tidak akan cukup untuk memahami manusia, orang kadang aku aja masih gatau tentang diri sendiri, boro-boro mau memahami tentang manusia lain.

Diri Ideal VS Diri Nyata
Dalam teori Psikologi Kepribadian Eksistensialisme milik Carl Rogers juga dijelaskan mengenai dua hal ini,

Diri Ideal ialah gambaran diri yang ingin kita capai, dan diri Nyata ialah bagaimana kita melihat diri sendiri saat itu juga. lalu, Bagaimana aku menilai diriku di mataku? Bagaimana kamu menilai diri kamu dimata masing-masing kamu? Kalau aku pribadi, aku sering berubah-ubah dalam menilai diriku, disatu titik pernah merasa begitu mengenal baik diri dan bersyukur, disatu titik juga pernah merasa, aku bukanlah sesuatu yang berarti. standart aja. Menurutku, karena aku orang yang juga cenderung ekstrovert dan menjadikanku begitu terpengaruh dengan penilaian orang lain, atau kadang juga merasa marah - marah sendiri dengan diri kalau sering tidak sesuai ekspetasi, apakah kamu juga pernah merasakan hal yang aku rasakan?

Mungkin kamu merasakan apa yang aku rasa atau kamu tidak merasakan yang aku rasakan. Tidak apa, manusia memang unik, dan tidak sama. Dan kembali lagi pada tujuan awal menulis di blog pribadiku ini ialah untuk intopeksi dan berbagi, barangkali ada diantara kamu yang dengan senang hati membaca curhatanku ini setidaknya bisa mendapat penguatan, dan dukungan dari tulisanku ini. Keep Calm, u're not alone.

Diri Nyata ini merupakan apa yang secara objektif ada dalam diri, seperti contoh, rambut hitam, pipi tembem, kulit cokelat, aku suka makan es grim, dan hal-hal lain yang memang merupakan bagian dari diri kita, dan diamini oleh orang-orang sekitar kita.

Kesenjangan antara Diri Nyata dan Diri Ideal ini adalah penyebab kita merasa cemas, khawatir, atau kalau bahasa teorinya Carl Rogers adalah Incongruen, keadaan diamana perasaan tidak menyukai diri sendiri karena pengalaman yang didapatkan tidak mampu membuat kita aktualisasi diri, dan hal inipun sering aku lewati, ketika apa yang aku bayangkan mengenai diriku -yang ingin juga bisa setara dengan orang-orang dilingkunganku- ingin aktif, atraktif, solutif, imajinatif, inspiratif dan tif tif lainnya, setelah di lapangan, nyatanya nol besar. Apa yang aku ekspetasikan mengenai diriku sama sekali tidak sesuai, dan kesenjangan itu terjadi. Menjadikan orang-orang lain sebagai parameterku, menginginkan menjadi seperti si dia, si itu, si ini, dan si - si lainnya. 

Sampai akhirnya, otak bisa diajak bersahabat lagi, dan yang aku inginkan adalah menjadi si Sisi. Bukan Si lainnya. Sampai pada akhirnya, mengerti apa yang dimaksud dengan istilah "bercermin" dimana ketika kita bercermin, kita tidak akan melihat orang lain selain diri sendiri. Sama seperti dalam kehidupan, sudah seharusnya kita tidak membandingkan diri dengan yang lain. Karena setiap orang pasti memiliki porsi mereka masing-masing, tinggal bagaimana kita terus belajar dan bahagia menjadi diri sendiri. Terus berusaha yang terbaik dan menjadi lebih baik dari diri sebelumnya, yang pastinya terus bersyukur masih diberi banyak limpahan rezeki (entah berupa materi, teman sejati, lingkungan yang supportif, dan masih banyak lagi) bahkan ketika aku masih sering kurang pandai mengucap kata Alhamdulilah di sela-sela fajar dini hari atau senja ketika adzan maghrib mengudara menentramkan hati.

Atau bahkan sekedar mengucap terimakasih pada kamu yang masih mau membaca curhatan ini sampai selesai. sekali lagi, Terimakasih :)

Surat Cinta Untukmu
Tenanglah, kamu tidak sendiri, aku juga merasakan hal yang sama denganmu, tapi sekali lagi, kita harus percaya proses, percaya Allah tidak tidur, terus lakukan hal yang kamu sukai selama itu positif, menulislah, melukislah, menyanyilah, menarilah, cobalah melakukan semua dengan hatimu, fokus! Aku yakin karyamu nanti pasti disambut banyak orang baik, sampai suatu saat kamu menyadari bahwa alam sedang berkonspirasi menyambut hangat kehadiranmu dimuka bumi [cc]


Referensi
https://www.verywellmind.com/the-conscious-and-unconscious-mind-2795946
http://psikologi.net/struktur-kepribadian-menurut-carl-rogers/
http://www.psikologiku.com/intimacy-vs-isolation-keintiman-vs-isolasi/
https://nadjaneruda.wordpress.com/2015/03/21/teori-kepribadian-sehat-menurut-carl-rogers/

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #life

Antara Aku dan Festival Lentera Terbang

Malam tahun baru kemarin, aku nikmati dengan menatap layar laptopku dan mulai memikirkan apa-apa saja yang sudah aku alami selama setahun terakhir, tapi lagi lagi suara semarak kembang api diluar tidak bisa menghentikanku untuk barang sebentar menengok langit diluar. Aku melihat sesuatu yang agak beda tahun ini. Ada Lentera terbang di langitku. Memang tidak banyak, bahkan lentera itu bisa dihitung dengan jari, tapi parasnya mampu mengalihkan pandanganku dari sekedar kembang api yang jauh lebih meriah, riuh dan tentunya lebih besar. Cahaya kecil di langit itu tidak berhenti membuatku terpana.


New year and It's Euforia
setelah ia menghilang, beberapa saat kemudian aku membayangkan dapat melihat dan ikut dalam sebuah Festival Lentera seperti dalam Film Disney Tangled. 
It's Really Gonna be a Great Experience. 

Cara Menerbangkan Lampion
Karena aku benar-benar ingin mencoba menjadi salah satu partisipan festival ini, aku browsinglah bagaimana cara kerja hiasan langit cantik ini. Ternyata hal tersebut mirip dengan cara kerja balon udara. Ada api di tengah-tengah lampion yang sudah di bentuk persegi agak silinder (pada bisa banyangin kan ya? mhehehe) ketika api menyala, uap api di dalam lampion akan memanaskan udara dan menurunkan kerapatannya, membuat lampion tersebut bisa terbang di udara.

Bicara soal lentera atau biasa disebut masyarakat cina dengan Sky Latern, biasa disebut orang Thailand dengan  KhumLoi, atau suka juga di namain orang Brazil dengan Festas Juninas ini, ternyata menyimpan sejuta cerita dan sejarahnya masing-masing. Aku akan bercerita singkat mengenai masing-masing sejarahnya dari hadis riset ala kadarnya. Nanti kalau udah lihat beneran, akan aku tanya ke sumber langsungnya kok gais. ehehe

Taiwan/China
Di Taiwan festival ini di adakan di PingXi District. Dulunya di zaman perang, melambungkan lentera digunakan untuk meminta bala bantuan ketika musuh menyerang. Di kertas lentera ditulis kalimat-kalimat memohon bantuan

Thailand
Festival ini diadakan masyarakat Thailand selama Yi Peng atau Bulan Purnama ke Dua dari Kalender Lanna dan bulan ke 12 Kalender Lunar. Hal ini disimbolkan sebagai kekhawatiran dan kengambangan masalah para manusia.

Brazil dan Amerika Latin
Festival ini diadakan ketika liburan musim dingin dan biasanya dihadiri para sejoli anak muda dan keluarga-keluarga.

Indonesia
Festival ini juga ada loh di Indonesia, Jogja lebih tepatnya. Festival ini diadakan untuk memperingati hari Waisak.

India
Di Bengal dan India Utara, orang-orang Budha merayakan Probaroma Purnima yang mengartikan melepas 3 bulan pelepasan masa peminjaman mereka, dan juga merupaka festival terbesar kedua orang Budha setelah Diwali.

Konklusi
Dari semua hal yang sudah aku kumpulkan mengenai festival lentera di langit , sebenarnya sama, yaitu mengacu pada rasa kebersyukuran. Dari Indonesia sendiri, ada perayaan Hari Waisak, dari India ada ungkapan kebersyukuran setelah melewati masa peminjaman 3 bulan, di Brazil mungkin bisa dibilang bersyukur juga karena sudah memasuki masa liburan musim dingin dan di China maupun di Thailand melambangkan cara masyarakat untuk menghargai sejarah dan mebudayakan tradisi manusia terdahulu.  Manusia memang sudah seharusnya mengkungkapkan rasa syukur mereka dalam berbagai bentuk ekspresi. Intinya satu, tanda berterima kasih.

Duniaku
Begitu pun dengan aku.
Banyak hal yang sudah terlewati di tahun 2017, banyak hal yang mulanya hanya aku harapkan dalam mimpi dan tertulis acak adut di kertas catatan pribadi sebagai goals, yang sekarang, beberapa sudah dicoret karena Allah mengabulkannya. Dari semua perasaan bersyukur, manusia memang makhluk yang tidak akan pernah lelah meminta lebih. Masih saja ada fase-fase juga dimana aku merasa down dan kurang pantas mendapat semuanya. Inferior. Minder. Ragu-ragu. Nggak yakin. dan semua istilah yang bisa menggambarkan betapa merasa kecilnya aku di duniaku sendiri.

Lihat Instagram temen-temen yang sudah melalang buana keliling negeri dongeng, melihat prestasi teman-teman di kampus yang jauh lebih mapan, atau sekedar melihat mereka dengan lingkar pergaulan yang tampak akrab dan hangat. Perasaan kesepian kerap menghampiri, tanpa tahu malu. Memang, tidak sedikit juga orang yang menganggap aku lebih wow dari mereka. Secara serampangan memuja-muji aku, membuat aku semakin merasa jatuh kedalam duniaku, membuat aku semakin terbebani dengan segala kata-kata manis mereka terhadapku, membuatku semakin takut menjadi aku yang sesungguhnya. Aku perlahan menyadari bahwa semakin jauh aku dengan diriku sendiri. Aku semakin takut mengecewakan orang lain, semakin takut menjatuhkan ekspetasi mereka padaku, semakin takut menjadi apa yang mereka tidak suka.
Aku Takut.

Kalau di psikologi, mungkin ini sama dengan teori dalam kesalahan pola berpikir milik  Albert Ellis dalam Cognitive Behavior Therapy, orang-orang dengan kesalahan pola pikir seperti ini yang biasanya membuat overthinking

Overthinking
Aku juga jadi sempat kehilangan minat menulis, baca novel, berkumpul bersama orang-orang, bahkan aku kehilangan kepercayaan diri yang sudah susah payah aku bangun selama dua tahun terakhir. Bulan November dan Desember ini, merupakan bulan yang bukan aku banget. Mungkin orang-orang melihatnya biasa aja, Mungkin aku memang masih bisa terlihat begitu, tapi hati seseorang siapa yang tahu? Pada akhirnya we are all just keep everything inside ourself. Dan Perasaan down yang paling terasa, terjadi ketika aku terpilih menjadi Pimpinan Umum (PU) salah satu UKM yang aku ikuti.

Aku Bisa apa?
"Aku bisa apa ya, kok bisa sampai jadi ketua?," adalah kalimat pertama yang terlintas di dalam hatiku, seorang Sisi yang masih less control, be a leader? seriously? Selama seminggu setelah diangkat, aku menjadi lebih sering melamun, sendiri, dan tidur (pastinya). lost interst in almost everything I usually have fun. Sampai aku harus menaikkan mood dengan lihat drama, bahkan setelah lihat perasaanku tetap masih ada yang menganjal, aku memutuskan untuk makan makanan favoritku, dan hal itu malah makin memperparah keadaan, kesal karena aku makin gendut, sampai akhirnya aku memaksakan diri untuk bertemu teman-teman komunitas (karena perasaan gak jelasku yang membuatku nggak mood) syukurnya bertemu mereka berhasil menaikkan moodku, meskipun setelah pulang, masih saja aku jadi kepikiran gimana aku bisa bagi waktu buat kuliah, komunitas, dan UKM, padahal aku juga pingin coba banyak hal lain di semester depan. how could I Focus all mater things at the same time? Lagi-lagi aku stuck. Takut tidak maksimal dan mengecewakan 

Someone to Talk to
Sampai akhirnya jumat (29/12) kemarin, aku bertemu salah satu orang teman sekelasku saat SMA, yang dengan baik hatinya menjadi someone to talk to ku. Sejauh ini memang sudah beberapa orang mencoba menyemangati aku, bilang kalau kamu itu bisa kok, tapi tetap aku masih ga yakin dan feel gulity. Rifky, yang juga anak Pers Mahasiswa di kampusnya, dengan bijaknya memberiku banyak bayangan dan gambaran umum soal dunia per-PU-an. Yang bahkan, kalau di kampus dia, orang pada berebut jadi PU, sedangkan disini, kita malah emoh emoh.

Dari situ aku belajar, ternyata apa yang membuat kita takut akan amanah dan peran baru bukan karena apa-apanya, tetapi karena masih belum paham jobdesk dab tentunya perasaan ketakutan akan tidak mampu dirinya. Mungkin Rifky juga menjadi orang pertama yang akhirnya menyadarkanku bahwa "yes, u really gonna make it, Si". Ya, memang aku saat ini 'pun' sebenarnya, aku masih gamang dan ngambang. Tapi setidaknya dia berusaha mengembalikan beberapa persen kepercayaan diriku.

Mungkin dia juga yang mengingatkanku lagi, kalau setiap orang itu sedang dalam proses belajarnya, "orang-orang pasti akan lebih mengerti kamu, seiring berjalannya waktu. Mereka enggak akan sejudgemental itu sama kamu kok. Sekalipun iya, toh mereka tidak pernah benar-benar tahu posisi dan usaha kamu sebagaimana,", Menyadarkanku kalau nggak perlu lah takut sama pendapat orang bagaiamana, selama kita sudah berusaha membuktikannya secara lisan dan tindakan. Its really more than enough..

Kuncinya utamanya cuma satu, diri sendiri. kalau sedang dirundung feeling blue mungkin kita memang butuh waktu untuk menerimanya, cuma tetep kudu tau, sampai kapan mau lari dari masalah dan meratap terus.

Jangan menyimpan itu dalam kepala sendiri, sometimes we just need someone to talk to, that someone can break your own mental block, your own destructive mindset and that someone who can tell u that's everything gonna be okay. U can do It!


Read More

Share Tweet Pin It +1

2 Comments

In #life

Menulis Sebuah Essai

(NB: sebelumnya, maaf kalau essai ini bukan seperti essai yang kalian pahami, hehehe. karena essay disini maksudnya, opini penulis)
Tulisan ini saya berikan untuk kalian yang sering merasa tidak bisa apa-apa, selalu salah, dan tidak puas atas semua yang telah di miliki selama ini. Percayalah, kalian itu tidak sendiri, karena aku pun begitu, mungkin malah-lebih banyak 'stupidity'' yang sudah aku lakukan. relax, u r not alone gais


Dalam kehidupan seorang anak bungsu, dan sebagai pemeran utama dalam kehidupanku sendiri, aku punya banyak kebodohan yang telah terlewati. Mungkin kalau –hal ini dibukukukan juga bisa, saking banyaknya. Mungkin ada salah satu kisah saya yang sampai saat ini masih ‘saya syukuri karena pernah terjadi’, Sama seperti kutipan dalam novel Tentang Kamu milik Tere Liye yang berkata ‘aku tidak pernah sedih semua itu telah berakhir, aku bersyukur bahwa semua itu pernah terjadi,’ kurang lebih begitu. eheh


Dan
Selamat membaca, sekali lagi terimakasih sudah meluangkan waktu membaca kata demi kata yang sudah memenuhi otakku selama beberapa hari terakhir.

Sampai berjumpa di depan ruang tempat semesta akan mempertemukan kita, semoga asa ikut mengamini setiap doa-doa kamu, iya kamu, yang lagi baca tulisan ini. #eaa 
Let’s go~
-
Sisi yang masih sering galau dan mengeluh mengenai hal-hal menarik yang tidak segera menjadi nyata, kini mulai mengerti, Bahwa sebenarnya hidup bukan mengenai membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Bahwa sebenarnya hidup ini mengenai bagaimana kita menjadi lebih baik dari diri sendiri. Kini mulai memahami, bahwa setiap orang punya ceritanya masing-masing. Kini mulai menyadari masih banyak hal yang belum dilalui untuk menjadi lebih baik dari versi terbaik diri sendiri.
Aktivitas – aktivitas monoton yang menjadi makanan sehari-hari selalu bisa membuatku bertahan di zona nyaman,
Zona yang masih terlalu malas untuk menatap kedepan, melihat bintang-bintang yang ternyata sudah mulai berjatuhan diambil oleh banyak orang, menjadi rebutan. Aku, iya aku nyatanya, masih tetap berdiam diri tanpa mau berlarian berebutan ikut mengambil bintang-bintang itu, Sisi di usia perkembangannya yang seharusnya punya tujuan dan manfaat dalam hidupnya – sama seperti di pendahuluan makalah-makalah yang selama ini aku kumpulkan kala menjadi tugas kuliah, ternyata masih belum menemukan semuanya, lantas mana bisa aku membahas mengenai hidupku lebih jelas, seperti yang sering dikuliahkan dalam kelas matakuliah psikologi apapun itu.
‘Hidup itu harus bertujuan, kalau kamu ga punya tujuan, hasilnya gini gajelas mau dibawa kemana dirimu sendiri’
‘Hidup jadi setengah-setengah. Nggak maksimal. Ragu-ragu. Dan itu salah satu sifat yang disukai setan’
Masih banyak lagi ceramah-ceramah motivasi di kelas psikologi UIN Sunan Ampel kampusku yang kusayangi, dan aku selalu berterimakasih atas semua wejangan dari para dosen berdedikasi yang tidak bosan-bosannya menjadi salah satu orang yang membuatku menyadari. Selama dua puluh tahun ini apakah aku sudah bermanfaat setidak-tidaknya buat diri sendiri?
Membuatku jadi berpikir, kalau bukan aku yang menyayangi diri sendiri, lantas mau siapa lagi, kalau bukan aku yang mulai berdiri, berlari, mengejari mimpi-mimpi sewaktu masih di usia dini. Lantas mau siapa lagi?
Mungkin sama seperti dalam cara menjawab di soal-soal matematika jaman SMP sampai SMA, dimana setiap soal diawali dengan Pertanyaan, Diketahui, dan Jawaban. Kini saatnya aku menjawab satu persatu pertanyaan dalam diri sendiri.
~
Inilah jawabannya.
Dan semoga jawaban ala kadarnya ini bisa membantu kamu dalam menemukan jawaban atas segala pertanyaan yang berputar-putar mengelilingi alam sadar dan alam bawah sadar.
POIN PERTAMA
TUJUAN
Perlahan-lahan aku mulai mendapatkan tujuan itu; tujuan kuliahku, tujuan hobiku, tujuan mencari apa arti menjadi diriku.
Aku –tentunya- ingin menerapkan apa yang sudah didapatkan saat kelas. Aku ingin menjadi seorang mahasiswa psikologi yang sesuai brandingnya. Yang pandai berkomunikasi dengan siapa saja, yang peduli, yang suka anak-anak, suka bersosialisasi, mengayomi, menjadi tempat yang nyaman bagi siapapun yang sedang dirundung sedih hati, pendengar yang setia menanti dan mampu membantu mereka yang sedang mencari dirinya sendiri.
Aku merupakan seorang yang sangat menyukai belajar hal – hal baru, suka perubahan, dan selalu bersemangat akan hal itu.
Akupun memulai dari hal termudah –menurutku- kala itu, menjadi seorang guru. Aku memang berhasil mendapat pengalaman itu, dengan menjadi seorang terapis anak berkebutuhan khusus selama beberapa  minggu. Sayang tidak bertahan lama. Aku diberhentikan sepihak karena ada beberapa kesalahanku yang menurut sebagian orang fatal – walaupun menurut pemilik biro jasa terapisku itu bukanlah sesuatu yang fatal-

Kacamata
Mungkin juga banyak yang tahu, kalau kacamata netral sepeda motor, jaman sekarang sudah menjadi hal yang biasa digunakan. Selain sebagai penghalang debu, kacamata itu bisa menjadi asesoris pemercantik kaum pemuda-pemudi masa kini.
Setelah belajar menjadi terapis selama kurang lebih 4 kali dengan salah satu kakak tingkatku di kampus, yang kebetulan juga mengajar di biro yang sama. Akhirnya aku mendapatkan muridku sendiri.
Saat itu aku sedang memasuki semester empat, awal tahun 2017.
Jadwal mengajarku jam sepuluh sampai setengah dua belas setiap hari selasa dan kamis. Aku mengajar seperti biasa, datang lebih awal, menyiapkan beberapa permainan untuk disajikan dan ya, aku merasa semua berjalan baik. Aku kuliah seperti biasa. Dan mengerjakan tugas juga dengan kadang perasaan sedikit ‘keteteran’ karena ternyata mengajar tidak semudah itu. Meskipun bisa dibilang level autisme Adik Joshua –nama murid pertamaku- ini termasuk autis ringan, tetapi, tetap saja, mengajar tidak semudah itu. Ternyata benar kata orang, menjadi seorang guru bukanlah hal yang biasa, itu luar biasa hebatnya. Karena ia menjadi salah satu faktor sukses tidaknya seorang anak dalam kehidupannya.
Aku memang tidak patah semangat, justeru makin tertantang. Aku semakin ingin mencoba banyak trial-error baru dalam hidupku. Adik Joshua juga begitu, baru pertemuan kedua, dia dengan mudahnya mengerti apa-apa yang aku instruksikan. Cuma kadang ia bosan, jadi aku mengalihkan dengan permainan-permainan. Akhirnya tak jarang juga ia mengambil beberapa barang milikku yang ada di dalam tas, dan dipakainya lah.
Mulai dari kacamata mainan, masker untuk naik sepeda motor, sampai idcard wartawanku. Lucu memang. Dan aku akhirnya mengabadikannya dalam sebuah foto.
Saking aku suka dan lucunya, aku jadikan Profil Picture Whatsappku. Dan beberapa hari kemudian, singkatnya aku sudah digantikan oleh pengajar yang baru.
Setelah komunikasi dengan Bu Susan, pemilik Lembaga Jasa Terapis itu, akhirnya aku belajar beberapa hal.Ternyata hal-hal kecil yang selama ini aku sepelekan sebenarnya merupakan hal penting. Ternyata, Bu Susan, orangtua dari Adik Joshua minta aku diganti pengajarnya karena tau Adik Joshua suka memakai barang-barangku. Dan ia tau tentunya dari foto profil yang aku pasang sendiri.
Iya, kalau dipikir – pikir ga salah juga orangtuanya khawatir, anaknya pakai masker aku. Wajar sekali malah. Takutnya tertular penyakitku – meskipun aku juga ga lagi sakit, tapi itu hal yang wajar. Kedua, pakai kacamata netralku. Sebenarnya otak manusia memang lebih cenderungnya berfikir ke arah yang negatif. Cemas. Gelisah. Iya, si Ibu lagi-lagi menpresepsi itu kacamataku nanti bisa buat anaknya jadi sakit mata.
Dan, memang kita hidup di dunia ini dengan banyak karakteristik manusia, ada beberapa orang yang bisa mengkomunikasikannya dengan baik. Dan ada yang tidak. Si Ibu ini salah satunya.
Karena aku sudah menyadari kesalahanku, maka aku minta maaflah ke beliau, tapi lagi-lagi orang itu banyak tipe. Pesanku tidak pernah dibalasnya lagi. Niatanku mungkin memang baik, tapi Bu Susan pun sampai melarangku terlalu menyalahkan diriku sendiri juga.
“jangan terlalu ngemis-ngemis mbak, yang butuh itu ga Cuma kamu, dia loh juga butuh kamu sebagai gurunya, udah gapapa dijadikan pengalaman dulu aja ya,” hiburnya.
Aku cuma ingin hubungan kita *cie kitaa* berakhir dengan baik-baik. Tapi tidak semua orang menyambut niat baik oranglain.
Bu Susan berpesan kepadaku kalau - kalau dunia kerja memang begitu, banyak tipe dan model orang, “sudah tidak usah terlalu dipikirkan, kamu buat salah ga fatal-fatal banget Cuma emang ada beberapa orang tua yang begitu. Yang penting diambil hikmahnya aja mbak,”

Si Bungsu yang Cengeng  lembut hatinya
Entah kenapa saat aku ke rumah Bu Susan waktu itu, aku tiba-tiba menangis. Aku merasa selama ini aku belum bisa bermanfaat buat orang lain. Padahal aku mahasiswi jurusan psikologi, hal se-sensitif ini harusnya aku sadari, kenapa aku begitu tidak peka. Aku sedih. Dan entah mengapa aku merasa Bu Susan mengerti penyesalanku itu. Dan mencoba menghiburku.
Tapi jujur ya, aku masih sedih selama beberapa hari. Aku masih suka menyalahkan diriku sendiri yang ga peka, semaunya sendiri, dan kurang telaten. Aku merasa nilai-nilaiku yang bisa dibilang lumayan di atas kertas itu, cuma nilai formalitas. Nyatanya aku masih nol saat dilapangan.
Dan Mungkin disini adalah titik bersyukurnya aku menjadi mahasiswi psikologi. Setiap hari ada saja hal-hal baik dan postif yang disampaikan oleh dosen-dosenku ini, yang akhirnya selalu membuat aku ‘think positively again’.
Bertepatan dengan materi psikologi positiv di Psikologi Klinis, Bu Zaki, menjadi salah satu orang yang membuatku kembali semangat, beliau bilang, “setiap orang itu dalam proses belajar, sangat wajar orang melakukan kesalahan. Itu adalah proses. Kita sudah seharusnya se-pemaaf itu dengan diri sendiri. Memaafkan diri sendiri itu proses pertama menuju hal baik lainnya,”
Maka untuk itu ‘maafkanlah diri kalian sendiri’ untuk segala kegagalan, kebodohan, kecerobohan, dan hal-hal menyakitkan lainnya yang sudah dilewati jangan dijadikan penyesalan tapi jadikan pelajaran. Katanya pengalaman adalah guru terbaik.
Yes! It’s it. Mulailah otakku menerima hal-hal yang bodoh yang aku lakukan tanpa melibatkan otak. Aku mulai belajar menerima dan memaafkan diri sendiri, semudah aku menerima dan memaafkan orang lain. Ya masa sama diri sendiri aja nggak sayang kan ya. Gitu mau disayang sama orang lain. Ini namanya self-appriciate dan sangat dianjurkan buat kesehatan mental juga. Lagi-lagi aku belajar semua ini dari bangku kuliah.
Dan hal kedua yang disampaikan beliau adalah, ‘jangan lupa bersyukur. Bersyukur itu kuncinya. Kunci semua penyakit jiwa,’.
 Kalau dipikir-pikir lagi, memang benar, orang yang kurang bersyukur itu orang yang gampang depresi. Sebenarnya semua sudah digariskan dan diatur, yang perlu kita lakukan sebagai manusia ya Cuma berdoa, berusaha, dan paling penting ‘yakin’. Gagal tidaknya, semua pasti ada kisah manisnya sendiri. Itulah hidup.
Dinamikanya.
Dan cerita-ceritanya,
Lagi-lagi Allah membuktikannya kepadaku.
Dibalik semua kegagalan-kegagalan yang aku sesali selama dua puluh tahunku menjadi seorang Deasy Meirendah Chikita, tinggal dan hidup di raganya. Kegagalan masuk SMP pilihanku, SMA pilihanku, bahkan Universitas pun – semua tidak ada yang sesuai dengan yang aku harapkan.
Ternyata Allah memberikan cerita yang jauh lebih indah dari yang aku inginkan.
Cerita-cerita yang membuatku semakin baik semakin harinya. Semakin yakin kalau semua hal yang kita pasrahkan setelah usaha sebaik mungkin, Pasti ada jalannya.
Seperti kebanyakan qoutes di caption-caption instagram kids jaman now “There is a Will, there is a Way”

POIN KEDUA
YAKIN
Seperti biasa, aku suka ngomel-ngomel, mengkritisi, dan tidak puas akan banyak hal dalam hidupku, dan ternyata itulah yang membuat hidup seperti dalam penjara, dam nyatanya itu semua dibuat sendiri oleh pikiranku. The power of mindset.
Ayahku selalu mengatakan jangan menilai sesuatu diawal, lihat dulu sampai selesai keseluruhan ceritanya, baru kamu bisa menilai.
Ternyata pepatah ‘hidup nurut sama orangtua, dijamin enak’ itu benar. Kalau dipikir-pikir secara logika, mana ada orangtua yang ingin menjerumuskan anaknya. Semua pasti ingin anaknya menjadi baik.
Lagi-lagi perkataan ayahku terbukti, dari semua hal yang aku anggap ‘gagal’ itu, selalu membukakan banyak pintu kejalan lain yang lebih seru! Ternyata hal yang selama ini aku anggap gagal justeru memberikan keberhasilan lain diluar dugaan.
Bu Khotim salah satu dosenku di semester empat lalu dan sekarang juga sih ini juga sering mengatakan bahwa ketika kita menyerahkan semua pada Allah dan yakin semua yang diberikan pasti yang terbaik buat kita. Bahkan Allah akan memberikan lebih dari yang kita ekspetasikan.
Akhirnya karena asupan motivasi yang begitu banyaknya dari lingkungaku, yang semakin meyakinkanku bahwa gagal itu kata lain dari keberhasilan versi Allah, bukan versi kita.

 “Boleh jadi, kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah yang paling mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah:216)

Yakin adalah kuncinya. Yakin semua sudah disiapkan sama Allah, yakin kalau sesuatu yang lebih baik sedang menanti, yakin bahwa tidak ada usaha yang sia-sia.
Yakin aja semua itu sudah ada jalannya masing-masing.
Rezeki nggak mungkin salah upeti, semua orang memiliki waktunya sendiri.
Kapan bisa mulai menuai atau kapan bisa mulai menikmati, atau bahkan ternyata semua ini baru saja terlewati tanpa disadari. Hidup itu serba ‘mungkin’ dan situlah serunya. Ketidak pastian yang membuat hidup jauh lebih bermakna. Yakin saja semua itu ada cerita drama manis nan melankolis yang siap jadi rempah-rempah gurih perjalanan ini.
Aku bersyukur aku pernah mengajar anak abk dulu, akhirnya aku jadi tau kelemahan-kelemahanku dan bisa mulai mencoba mengatasinya. Menyadari berarti memperbaiki, bukan?
 Aku bersyukur dulu tidak masuk sekolah – sekolah impianku. Ternyata di sekolah yang aku anggap baik itu juga tidak sebaik itu.
Aku bersyukur sering melakukan kesalahan-kesalahan kecil yang suka membuatku menangis, hal itu membuatku sadar menangis tidak akan pernah menyelesaikan masalah, Cuma meringankan perasaan, di teori psikologi ada nih dimana emang seseorang memiliki tipe penyelesaian masalahnya masing-masing. Ada yang focus emotion dimana ia mengembalikan mood dulu baru bisa berpikir, namun ada juga yang focus solution yang mana bisa langsung mencari jalan keluar. Dan ternyata tipeku yang focus emotion.
Dari situ akhirnya aku tau cara menanggulangi diriku sendiri ketika sedang kecewa. Dengan itu aku tau caranya bersahabat dengan diriku sendiri, dan menerima semua kekurangan dan kelebihan yang aku miliki.
Seandainya dulu aku terpilih di jurusan pertama pilihanku, dan ga jadi masuk jurusan Psikologi, mungkin aku nggak akan menyadari banyak hal dalam diriku sendiri.
Karena psikologi juga aku jadi semakin sering mengeksplore diriku sendiri. Akhir-akhir ini ada banyak hal yang mulai kusadari, salah satunya menyadari kalau aku ini suka berada diantara anak-anak, bermain bersama mereka, dan belajar banyak hal dari mereka. Hal ini membuka hal-hal baru yang akan aku jadikan hobi! Belajar langsung dari lapangan ditambah pemanisnya; anak-anak. Sungguh hal ini membuatku ketagihan. Betapa tidak, anak-anak yang selama ini tidak tahu apa-apa justeru mereka yang lebih tau banyak hal dari kita.
Mereka tahu caranya berdiri lagi ketika terjatuh tanpa mengeluh, mereka tahu caranya belajar setiap hari tanpa lelah, mereka bertanya semua hal yang tidak mereka ketahui tanpa malu, mereka tahu banyak hal didunia ini bisa terjadi tanpa takut gagal. Karena jika gagal mereka akan mencoba lagi dan lagi sampai berhasil.
Itulah yang aku sukai berada diantara anak-anak, kepolosan mereka, keluguan mereka dan keyakinan mereka akan diri sendiri. Aku suka semua itu.
Mungkin sebagian dari kalian ada yang kurang setuju dengan statementku, kalau anak-anak punya daya juang tinggi. Mungkin  kalian juga merasa ada beberapa anak yang patah semangat setelah sekali kalah dalam pertandingan, atau terlalu malu untuk bertanya atau terlalu penakut untuk unjunk diri. Semua itu bukan kesalahan mereka, lingkungan orang dewasa lah yang membuat mereka menjadi seperti itu.
Apabila hal-hal itu bisa teratasi dengan cepat dan tepat. Anak-anak pasti adalah seorang pembelajar ulung. Dia akan langsung menerima informasi yang diperolenya. Jadi bagaimana kita bersikap itu nanti akan ditiru olehnya. Maka mungkin sudah seharusnya kita mengenali dan menyadari diri sendiri, agar adik-adik disekitar kita mendapat informasi yang baik baik juga. 
Dengan baiknya Allah memberikan keajaibannya lagi.
Aku mendapat kesempatan menjadi salah satu volunteer pengajar di komunitas Seribu Guru Surabaya. Senangnya, dua hobiku dipadukan menjadi satu paduan yang serasi. Aku suka mengajar anak-anak dan aku suka jalan-jalan. Di komunitas ini aku dapat keduanya. Mengajar dan jalan-jalan. Nama programnya aja udah Teaching and Travelling.
Singkat cerita aku ikut acara TnT ke 15 waktu itu. Aku mengajar kelas 2 SMP di SMPN PGRI Tondomulo, Kecamatan Bunten, Kabupaten Bojonegoro. Diluar ekpetasi. Semua hal merupakan hal yang sungguh baru aku alami. Perjalanan sembilan jam dengan keterguncangan ala-ala naik kapal ditambah debu pasir kapur yang beterbangan seperti salju putih di musim dingin jepang, perjalanan kaki dibawah langit berbintang seribu, karena di desa ini masih minim listrik sampai terdampar di tengah hutan sewaktu pulang, aku mengalami semuanya di TnT waktu itu.
Pengalaman mengajar adik-adik yang tak terlupakan.
Beberapa kesalahan aku juga lewati di pengalaman mengajar ini, seperti materi yang terlampau jauh dari kemampuan adik-adik membuat mereka kurang memahami materinya. Aku belajar hal baru lagi disini, batinku dalam hati. Meskipun materiku ini dibilang terlalu berat dan jauh dengan mereka yang notabenenya masih baru berinisiatif sekolah tiga tahun terakhir tanpa dijemput oleh guru-guru sekolahan. Mereka sama sekali tidak menganggap hal yang aku dan Mbak Anna berikan waktu itu adalah sebuah pelajaran yang susah, mereka menganggap ini adalah permainan.
Perasaan bersalahku kini kembali sedikit terobati, dengan persiapan materi yang cukup matang selama kurang lebih dua minggu. Aku merasa sedikit bisa menolerir kesalahanku kali ini, tidak seperti yang diawal. Dimana aku benar-benar menyalahkan diriku.
Tapi memang hal ini memiliki efek nagih dan membuka kesadaranku lagi. Selama ini hal sederhana pun belum bisa aku berikan ke adik-adik. Untuk apa mencari nilai sebaik itu kalau tidak ada amalannya. Sekali lagi hal ini membuatku jauh lebih aware dan care sama diri sendiri maupun lingkungan.
Semakin banyak hal lain yang ingin aku bisa lakukan supaya ilmuku ga Cuma konsumsi pribadi, supaya ilmuku ada manfaatnya atau setidaknya supaya ada kepuasan tersendiri atas apa yang sudah aku lakukan selama dua puluh tahun terakhir.
Dan ‘perasaan’ itu hadir ketika aku dapat berbagi.

POIN KETIGA
BERBAGI

Kata berbagi ini selalu menjadi kata-kata terindah selama beberapa minggu terakhir dalam hidupku. Dulu aku tidak seberapa tau betapa besar dampak berbagi bagi hidup seseorang. Dulu aku rasa, aku cukup melakukan semuanya yang terbaik untuk diriku sendiri. Dulu aku rasa kebahagiaan itu didapat hanya karena prestasi yang aku raih sendiri, hasil usaha sendiri, dan karena diri sendiri.
Tapi aku sekarang tahu, ternyata kebahagiaan itu didapat dari orang lain. Ternyata didapat dari arti berbagi. Semakin kita berbagi semakin bertambah pula kebahagiaan yang aku rasakan selama ini.
Ternyata kebahagiaan bisa datang dari hal-hal sesederhana ini. Dari melihat senyuman mereka. Melihat semangat mereka. Atau bahkan hanya mendengarkan canda tawa mereka.
Berbagi ternyata seindah itu.
Dulu aku selalu bertanya – tanya pada diriku sendiri kenapa banyak orang yang mau merepotkan diri dengan mengurusi karang taruna rt mereka, atau sibuk menjalani kegiatan sebagai seorang remaja masjid, atau ikut kegiatan-kegiatan sosial disaat kita bisa bermain-main. Ternyata ini, ternyata seperti itu rasanya! Bikin nagih! Mungkin bagi yang tinggal di perumahan seperti aku, kurang merasakan hawa jiwa muda para panitia karang tarunanya – ya karena memang seperti Off gitu kan ya dibandingkan orang-orang yang tinggal di perkampungan, yang masih guyub, masih akrab, dan gotong royongnya juga masih erat. Atau mungkin karena teknologi yang menjamur semakin membuat orang-orang betah berlama-lama didalam rumah mereka, menatap layar handphone, atau sekedar ketawa ketiwi lihat drama korea kesayangan kita.
Ah, itu aku banget~ lebih milih baper-baper didalam kamar, nontonin Oppa-Oppa yang meluncurkan jurus seribu nya untuk baperin pemeran utama cewek. Duh! Emang racun banget ya drama itu wkwkw.
Menurutku juga waktu itu investasi masa depan. Kalau sekarang ga disibukkan dengan banyak cari pengalaman, banyak berbagi, banyak kesana kemari, mau gimana coba kedepannya saya. Wkwkwk. Ngambang banget kan?
Yah dari pada wasting time begitu, agaknya saya mulai sadar, dan menghargai waktu dengan lebih selektif memilih kegiatan yang menyibukkan.
Karena pada dasarnya manusia memang kalau tidak disibukkan dengan hal-hal baik, ya dia bakal disibukkan dengan hal-hal foya-foya tadi. Jadi sepertinya, dari pada aku lihat drama di layar laptop. Kenapa aku tidak menjalani drama kehidupan saya sendiri yang jauh lebih faedah pastinya. Wkwkwkw
Semangat berbagi~ mungkin menulis adalah salah satu saranaku dalam berbagi, berbagi perasaan, pemikiran, dan kebahagiaan. Ya mungkin juga nggak dibaca para pembaca sampai selesai sih. Tapi buat kamu yang berhasil – dan betah baca sampai selesai, sincerely from me, thankyou.
Aku berharap nantinya kita bisa saling berbagi juga^^ -cc






( -cc ) Penulis merupakan Mahasiswi Psikologi UIN Sunan Ampel Surabaya
Masih semester lima
Masih umur duapuluh
Masih tinggal sama orangtua
Dan
Sama seperti kalian semua,
Masih sama-sama belajar.


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #life

cap·tion: Semacam sekumpulan kalimat pemanis sepucuk foto

"Season Change. The Flower will blossom and you will become a better 'You'" @reveriehippie

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #life #selftalk #traveling #volunteer

Aku Jatuh Hati

Tiang Bendera tegak berdiri bersama Bendera Merah Putih Indonesia di SDN Tondomulo 3, Desa Tondomulo, Kecamatan Kedungadem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Indonesia
Liburan semester empat-ku memang terbilang panjang, sekitar dua bulan dua minggu. Dan beberapa hal sudah aku lakukan untuk mengisi kekosongan hariku -hari bukan hati loh yah heheh-. Bisa dibilang lebih sering diluar rumah juga, nggak  melulu dirumah nontonin Oppa-Oppa. Sebuah liburan yang terbilang lumayan produktif lah -dibandingkan yang dulu-dulu maksudnya- entah jalan-jalan karena ngetest intelegensi bersama beberapa lembaga psikologi, jalan-jalan di gedung prodi buat bantu akreditasi fakultas tipis-tipis, sampai menghabiskan waktu tiga hari di Bojonegoro bersama orang-orang yang akan aku ceritakan dibawah ini, untuk cerita selengkapnya. silahkan dibaca sampai habis. selamat membaca, semoga terhibur :)



12.00 WIB
Jum’at 25 Agustus 2017
Hari Baik!
Hari jumat saat itu jauh lebih spesial dari hari jumat biasanya, meski memang hari jumat sudah menjadi hari spesial bagi sebagian orang (Red orang muslim) selain karena hari jumat dianggap sebagai hari baik, hari jumat juga menjadi hari dimana orang-orang berbondong-bondong melaksanakan ibadah sholat jum’at.
Hari jumat 25 agustus kemarin, aku berangkat ke Desa Tundomula, Dusun Bunten, Kecamatan Kedungadem di Bojonegoro. Dalam rangka apa kesana? Dalam rangka kemaslahatan umat manusia. hehe. Iya, yang pasti bukan dalam rangka travelling biasa, karena sudah pasti tidak diberi restu dari orang tua seperti yang sudah aku ceritakan di beberapa curhatan cerita di Blogku sebelumnya.
Jadi Aku mengikuti acara rutinan sebuah komunitas 1000 Guru Surabaya. Kenapa ada surabaya nya? Iya karena dibagi domisili-domisili. Singkat cerita 1000guru dibuat oleh Jemi Ngadiono, seseorang yang memiliki hobi travelling dan fotografi, awalnya founder ingin berkontribusi lebih ketika jalan-jalan di destinasi travelling dengan mengajar anak-anak sekitar. Ia merealisasikan dengan membuat sebuah akun di sosial media dengan memberitakan keadaan realita pendidikan di pedalaman pelosok negeri, namun kini berkembang dengan melakukan aksi sosial nyata dengan turun langsung membantu pendidikan anak-anak pedalaman negeri. Dimulai dengan tiga orang teman hingga akhirnya sekarang menjadi sebuah komunitas dengan jumlah total 35 region. Surabaya salah satunya, yang sudah berdiri sejak tiga tahun silam. (selengkapnya bisa cek di https://seribuguru.org)
Meeting Point
Indonesia memang tidak terlepas dari kata molor. Sesuai dugaanku, mungkin kita baru berangkat pukul 14.00 WIB, dan memang kita tidak bisa berangkat sesuai jadwal karena ada beberapa kendala yang salah duanya dari Tim dan Volunteer, jadi sama-sama faktor penyebab telat sih pada dasarnya. Hehehe
Kak Lambert ­–kenapa namanya aku garis miring in, karena namanya bule banget wkwk- yang jadi salah seorang volunteer medis masih ada tugas negara di rumah sakit tempatnya jadi co-as. Selain itu, dari tim seribu guru sendiri juga masih ada beberapa barang logistik yang belum dikirm bapak gosend. Alhasil kita baru meluncur sekitar pukul 16.00 WIB, mundur 4 jam dari yang dijadwalkan.
Tapi perjalanan juga tidak terlalu terasa –bagiku– karena sesungguhnya aku selalu menikmati sebuah perjalanan dan betah mengalaminya juga. Di Truk TNI temen-temen tim dan volunteer TnT15 saling mendekatkan diri dengan bermain sebuah permainan –yang sumpah aku baru pertama kali denger, entah aku terlampau kudet apa gimana ya-  tapi aku memang baru belajar permainan-permainan itu sama mereka.
Jadi ada beberapa permainan logika macam tes TPA buat masuk Universitas gitu, jadi pertanyaan dan jawabannya ada logika tersendiri dan tidak dijawab secara harfiah. Misal nih ya, permainan Bumi Itu Bulat. Apabila ada angka yang ada lingkarannya itu merupakan jumlah hasil pertambahannya. 10+1 jadi ya hasilnya 1. Bulatnya yang diitung. Ada ‘Around The World’, ‘Tepuk nyamuk’, ‘Observasi Lingkungan’, ‘Sastra Matematika’, ‘Dunia Digital’, apa lagi yah, saking banyaknya sampai bingung. Dan intinya waktu pulang ada beberapa permainan yang masih menyisakan sebuah misteri –oke aku mau searching setelah tulisan ini kelar-
Tapi sungguh, waktu mereka semua tertidur di dalam mobil –truk TNI sih lebih tepatnya- aku masih betah ngobrol sama kak Almira yang anak Psikologi Ubaya (mau lulus dan kita doakan bersama-sama supaya segera naik ke pelaminan juga) dan Kak Rani (mahasiswa yang satu jurusan sama Soe Hoe Gie Cuma bedanya dia kuliah di UNAIR, penyuka puisi-puisi karya Sapardi, juga musakalisasi puisi-nya Ira, mau lulus juga, doakan ya) entah kenapa batraiku ga abis-abis. Mungkin hormon oksitosin, serotonin sama adrenalin teralalu tinggi.
Sepanjang perjalanan semua terasa lancar – lancar aja. Sampai tibalah kita di tempat kepala dusun Bunten, dan ini merupakan akses terakhir sebelum kita memulai memasuki another side of the world, di dramatisir biar seru! Hahaha. Dan jam sudah menunjukkan pukul 23.00, dan kita masih istirahat agak lama karena –yang aku juga kurang tahu kenapa- sepertinya menunggu kepala dusunnya.
Yasudah daripada nganggur. Duduklah aku dengan kakak-kakak volunteer lainnya, menatap bintang-bintang yang sangat nampak 3D kerlap kerlipnya, itu terjadi karena sedikitnya polusi udara disini. Kita sharing-sharing soal sistem pendidikan di masing-masing instansi atau pengalam tempat kerja kakak-kakak yang sudah menjadi pengara berlisensi resmi alias Guru dengan gelar S.Pd. Selama kurang lebih setengah jam istirahat, kita bisa lanjut perjalanan.
Selamat datang di wahana terheboh 2017
 Ditemani dentuman suara mesin khas truk – truk TNI, tumbuhan-tumbuhan liar yang melambai-lambai minta bersalaman lewat jendela dan salju-salju yang putih yang sayangnya salju kali ini bukan dari langit melainkan dari tanah dan bebatuan kapur yang menyatu dan beterbangan di antara kita, akibat gesekan kuat dari ban truk dan tanah dan lampu putih remang-remang yang menyilaukan mata. Ini adalah perjalanan paling seru selama 20 tahun hidupku, ya mungkin memang karena aku belum pernah travelling kemana-mana juga ya. hehe Jadi agak norak sih emang.
Jadi kami (aku dan temen-temen 1000guru lainnya lah pastinya) berada di tengah-tengah hutan selama kurang lebih selama tiga jam.
Dikoyak, digoncang, dilempar, diombang-ambingkan oleh alam, di tengah malam sabtu yang bertabur bintang (sayang ga bisa lihat bintangnya soalnya truknya ga ada jendela kebuka kayak di mobil-mobil ala film hollywood itu sih :’)
Di kondisi seperti ini (bisa dibayangkan sendiri kan ya, gimana serunya naik wahana semacam ini selama tiga jam di tengah hutan pula) manusia memang memiliki berbagai cara untuk merespon stimulus yang diterimanya. Ada salah seorang teman saya, dia volunteer dari Poltekes (politeknik kesehatan), Tiwi Namanya. Dia adalah perempuan paling tangguh selama perjalanan 7 jam terakhir. Kenapa paling tangguh? Dia sanggup tidur dengan pulas diatas bangku besinya dengan kondisi terguncang seperti itu. Bisa dibayangkan, bagaimana sistem tubuhnya menjaganya agar tidak terganggu oleh distraksi apapun yang diberikan oleh lingkungan kepadanya. Hehehehe. Ka Tiwi saya salut dengan kamu! Wkwkw
Sementara saya dan salah seorang Volunteer cantik asal Universitas Ciputra, kak Aida namanya, sibuk memantau apa yang sedang terjadi didepan, lewat jendela kecil dibalik kursi pengemudi. Karena dia jurusan arsitektur interior, yang pasti punya kecerdasan spasial yang bagus, dan akhirnya sikap wartawanku muncul, “Da kira-kira ini berapa meter ya lebar jalanannya, kok kayaknya truk nya maksa press banget lewat jalanannya?”,”ini mungkin sekitar 3 meter, 2,5 meter lah paling kecil,”.
“Jadi bener deh, jalanannya sempit banget, keren dah bapak TNI nya yang nyupir bisa lewat jalan sekecil ini,” batinku. Saking serunya jalanan dengan polisi tidur alami dari bebatuan kapur -yang tidak sempat ku hitung berapa karena saking banyak goncangan yang diciptakannya- mampu menggeser beberapa barang-barang didalam truk, untungnya ga sampe nge-geser otak gitu ya. Tempat duduk ditengah-tengah juga sudah ngga karuan bentuknya dikarena tergeserkan oleh guncangan-guncangan hidup –bukan hidup sih, guncangan karena batu kapur tadi maksudnya- dan manusia-manusia berbehel sepertiku juga terkena imbasnya. Jadi permukaan dalam mulutku dengan na’asnya harus beradu dengan besi-besi asing yang menempel di gigiku. oleh-olehnya adalah sariawan. Nice. Setelah perjalanan penuh intrik ditengah hutan malam-malam. Akhirnya kami sampai juga, tapi belum sampai lokasi.
12.35 WIB     
Sabtu,  26 Agustus 2017
Penantian di bawah MilkyWay Bojonegoro
“Akhirnya aku keluar juga dari wahana truk TNI yang super seru itu,” kataku lega dalam hati. Iya, kami sudah –hampir- tiba di lokasi sekolah. Tapi harus jalan 1000langkah anlene dahulu. Yang membuat perjalanan ini semakin indah adalah, kita bisa melihat banyak sekali bintang dilangit dan dengan sangat jelas. Pemandangan yang jarang ada di Surabaya. Saat aku tanya perkiraan jarak untuk berjalan, Kak Rani bilang kalau kami harus jalan sekitar 2 Km. Tidak seberapa jauh juga, kalkulasi dalam otakku saat itu. Dan dengan semangat aku menjadi orang pertama yang mengikuti mas-mas nya yang memandu dibarengi Kak Rani. Mungkin terlampau, entah semangat atau pingin cepet-cepet istirahat. aku jatuh terpeleset ketika melewati tanah bercampur serbuk kapur. Itupun dua kali. Aku mencoba menutupi rasa maluku dengan bilang ke Kak Rani kalau aku memang sudah sering terpeleset begini semenjak kecil, jadi emang udah biasa –tapi emang asli dari dulu sering banget kepeleset, jatuh dan sejenisnya sih, mungkin karena sifat ceroboh dan nggak sabaranku–
Dengan tetap percaya diri (PD), aku melangkah maju tegap melanjutkan rangkaian pengalaman baru yang selalu kunanti – nanti sejak kecil –menjelajahi tempat baru dan belajar darinya-.
Sejak kecil emang sudah punya banyak ekpetasi besar di kehidupan masa depanku. Dasar sisi si tukang ngayal, hehehe. Salah satu kutipan dari novel favoritku, Paper Town, juga pernah membahas masalah ini, ”Membayangkan memang tak sempurna. Namun membayangkan menjadi orang lain, atau dunia menjadi sesuatu yang lain, adalah satu-satunya cara untuk memahami,” (Paper towns, pg.344). jadi aku semakin hobi berangan-angan deh ya, selama masih gratis, dan itu juga jadi penyemangat tersendiri J
Dan yey jam 01.00 WIB aku dan Kak Rani orang pertama yang sampai di rumah pak kepala desa. Eheheh. Makan, cuci tangan, cuci kaki, dan cuci wajah, adalah prosesi sakral sebelum tidur yang mempengaruhi kualitas tidur seseorang. Dan semua sudah aku lakukan sebelum tidur. Alhasil nyenyaklah tidur singkatku di malam pertama di dalam ruang kelas SDN Tundomulo.
04.30 WIB
Pagi Hari yang kelewat Cerah
Alarm mulai bersautan dibalik tas satu ke tas lainnya dan empunya ternyata masih pada terlelap nyaman diatas tikar, dibalik jaket masing-masing. Termasuk aku, yang sudah dibangunkan alarm selama kurang lebih setengah jam yang akhirnya sadar juga kalau sudah saatnya hidup kembali.
Tau lirik lagu anak-anak “bangun tidur kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi?”
Oke, kali ini lagu itu tidak sesuai realita. Ya, meskipun dirumah juga aku ga langsung mandi sih. Tapi intinya, disana air memang agak susah, jam air bisa keluar dari kran cuma sembilan jam, dari jam 7 sampai jam 4 sore. Itupun alirannya kecil. Sempet mikir juga, padahal di gunung tapi kok susah air ya. Terus tersadar lagi, ohiya sih ini kan gunung kapur ya bukan gunung biasya.
Pada pukul enam pagi sebagian besar dari kami sudah ada di dalam kelas buat besih-bersih diri dan pindah basecame, dari kelas ke ruang guru.
Sebelum itu pastinya, kita sudah isi energi dulu lah ya. Beda sama kemarin, hari ini makan kita langsung pakai daun pisang, udah kerasa pedesaannya banget kan. Mungkin selain hemat piring cucian, juga meminimalisir makanan sisa, soalnya kalau ga habis bisa di geser gitu ya, terus dimakan sama kakak-kakak yang cowok.
Pagi itu ada yang seru juga selain selembar daun pisang, yaitu Adik Tya –salah satu murid SD Tundomulo- yang awalnya ngaku kelas tiga sekolah dasar, padahal ya masih kelas satu. Dasar anak-anak selalu pingin ditambah-tambahin. Hehe
Jadi ceritanya dia datangnya sebelum jam bel berbunyi dan ikut makan bareng teman-teman Segur (red 1000 guru), iya biasa aja ya padahal cuma makan bareng. Nah, bukan disitu serunya. Jadi menu makan kami disini memang back to nature banget. Banyak sayur-sayuran baru yang aku coba disini, dan semuanya enak. Sungguh, ini bukan pencitraan. Ok, kembali ke Tya, jadi pas lagi makan, dia makan sama Kak Almira. Si Tya ini ga seberapa suka lauk pauk daging. Tidak seperti kebanyakan anak-anak kecil yang susah makan sayur, justeru dia suka makan timun, ditambah sambal sebagai penyedap rasa, meski di akhir harus ditutup dengan cerita kepedesan juga sih, hehehe. Lucunya lagi dia bilang timun dengan sebutan kriuk kriuk yang biasanya kita anggap itu sebagai kerupuk. Bagi Tya itu maksudnya minta timun.
Ternyata Indonesia belum Merdeka
Hari ini rundown dimulai pukul delapan dan diawali dengan apel pagi yang dipimpin langsung oleh bapak kepala sekolah SDN Tondomulo 3. Ia menertibkan barisan para murid dengan bahasa ngalor dan ngidul (red, Kanan dan kiri). Pantas saja ketika kakak-kakak menginstruksikan arah dengan bahasa kanan kiri, pada kebingungan semua.
Lalu acara dilanjut dengan cara mencuci tangan yang benar. Yang dipandu oleh ibu - ibu dokter cantik Kak Ega dan Kak Ani di halaman sekolah kala itu. Adik-adik semangat mengikutinya. Dan masih berlanjut dengan agenda sikat gigi pagi. Dan Bu Dokter Gigi  Ummu kali ini yang memberi intruksi. Setelah semua acara di pagi hari yang cerah ini selesai -kira-kira sampai jam sepuluh siang- barulah volunteer yang telah dibagi menjadi tim-tim mulai melaksanakan tugasnya.
Aku satu tim dengan Kak Ana. Sekilas cerita mengenai Kak Ana ya, ia sudah menjadi guru di SMP Al-Falah Tropodo selama 14 tahun. sosoknya yang keibuan namun penuh rasa semangat sempat membuatku tidak menyangka usianya kini sudah menginjak tiga puluh delapan tahun, ia juga sudah memiliki satu orang anak yang sekarang duduk dibangku kelas tiga smp. Aku merasa sangat beruntung menjadi partnernya Kak Anna, selain ia orang yang sudah bisa menguasai lingkungan, pembawaan ngemong nya juga dapet.
Mungkin sekitar jam setengah sepuluh pagi kami baru memasuki sebuah ruang kelas dengan tulisan “SMP PGRI Tondomulo”. Sebuah kelas sederhana dengan dinding yang terbuat dari gedeg (bambu yang di anyam) berwarna hijau tosca, didalamnya hanya berisikan 6 bangku dan 6 pasang kursi. Dengan satu buah jendela tanpa kelambu, Cahaya-cahaya siang Bojonegoro berdesakan ingin masuk ke dalam ruang kelas kaca buram jendela dan celah dinding dinding gedeg.
Jujur, sejak kecil aku jarang sekali travelling –mungkin bisa dibilang tidak pernah- kalaupun iya, aku selalu cuma sekedar pergi ke tempat-tempat wisata mainstream bersama keluarga. Dan ini adalah pengalam pertamaku mengajar di sekolah pedalaman begini. Di tempat yang biasanya Cuma aku lihat lewat layar kaca.
Ternyata sekolah macam laksar pelangi itu ada di tanah jawa, pikirku.
Dulu ketika menjadi guru anak berkebutuhan khusus juga rata-rata dari keluarga berada. Ya, mungkin benar, pendidikan yang tidak merata masih menjadi PR besar negara ini. Indonesia memang terlalu besar untuk diurus atau terlalu banyak yang kurang peduli dengan lingkungannya? Entahlah. Sejauh ini aku mungkin masih terlalu dini kalau aku yang menyimpulkan semuanya.
Masih banyak hal yang belum aku ketahui, bahkan tentang diriku sendiri. Apalagi tentang Indonesia, sebuah negara yang sebegini besarnya.
Materi yang akan diberikan kepada adik-adik bertemakan ‘keanekaragaman alam’ dan ‘Kemerdekaan Indonesia’. Memang #TnT15 kali ini mengusung tema kemerdekaan karena masih berada di bulan agustus.
Untuk tema keanekaragaman hayati dipilih karena Kabupaten Bojonegoro yang terkenal akan hasil minyak buminya yang berlimpah. Tapi kenyataan memang kadang tidak adil, meski kabupaten ini kaya hasil minyaknya, buktinya anak-anak di Desa Tondomulo masih belum bisa mendapat pendidikan yang layak.
Proses belajar dimulai ketika Kak Ana menyapa mereka dengan ceria. “Assalamualaikum adek-adek,” sapanya. Setelah menyapa Kak Ana dan aku memperkenalkan diri dan bertanya nama mereka. Oh iya. Bukan cuma nama tapi juga cita-cita mereka. Kami mengajar 4 orang murid yang hebat dengan cita-cita dua guru dan dua lainnya bercita-cita menjadi Polwan (polisi wanita).
Perkenalkan Murid-Murid Kami yang Hebat
Murid pertama bernama, Anis. Dia gadis dengan tubuh yang proporsional, kulit kuning langsat dengan seragam dan kerudung coklat, yang membuatnya telihat seamkin manis dan sedap dipandang. Perempuan yang lahir dari keluarga petani ini memiliki cita-cita menjadi seorang polwan. Dia termasuk murid yang sedikit pemalu.
Murid kedua kami memperkenalkan diri sebagai Novi. Kulit sawo matang, gigi putih dan senyum ikhlas terulas dari bibirnya, cerah menyemangati kami kala itu. Dia adalah murid yang terlihat paling mengikuti tren kekinian. Selain menjadi satu-satunya murid yang sudah mempunyai handphone. Novi sendiri juga sempat menggodaku dengan memanggil Mbak Prili, sepertinya dia mengikuti serial ‘Boy’ di televisi. Tak hanya itu, aku sering juga memperingatinya untuk fokus pada materi dan meletakkan hpnya. Sama seperti Anis, Novi juga lahir dari pasangan seorang petani di Desa Tondomulo dengan cita – cita menjadi seorang polwan.
Murid ketiga kami adalah laki-laki satu-satunya di kelas delapan. Aris namanya. Mungkin karena laki-laki satu-satunya, dia menjadi murid yang paling pendiam. Tingginya yang masih kalah dengan teman-teman perempuan seusianya, menandakan dia belum memasuki masa pubertas. Rumah Aris tidak terlalu jauh dari sekolah, cukup berjalan sekitar 10 menit di jalan setapak di atas sekolah. Selain itu, ia juga dari keluarga petani dan tinggal bersama orangtua dan neneknya, cita-cita Aris berbeda dengan dua teman perempuan lainnya, ia ingin menjadi seorang guru.
Murid terakhir ini merupakan murid perempuan dengan kulit sawo matang dan tinggi badan kira-kira 150cm. Dan memiliki nama panjang yang paling pendek, Pera. Karena Saat aku tanya siapa nama panjangnya, ”Cuma Pera, kak,” jawabnya. Ia terlihat sangat berwibawa dan sopan. Saat ditanya nama saja, ia menyebutkan nama dengan diakhiri seulas senyuman manis dengan tidak memperlihatkan giginya. Ia juga memiliki seorang adik yang  masih SD, dan sekolah di SDN Tondomulo 3 juga. Pera bercita-cita menjadi seorang guru. Dan sama seperti anak-anak lainnya, orangtua Pera bekerja sebagai petani.
Setelah perkenalan kami di dalam ruang kelas, aku dan Mbak Ana segera  mengajak mereka keluar kelas. Karena tidak kondusif kalau satu ruang ada dua jenjang pendidikan. Iya. Kelas delapan memang biasanya berbagi ruang kelas dengan teman-teman kelas sembilan.
Kak Nanda, salah satu tim yang juga sebagai ketua panitia dengan sedikit terburu-buru menyiapkan tikar sederhana untuk sarana pembelajaran kelas kami di depan ruang kelas tadi, oiya papan tulis dan kapur juga diambilnya yang entah dari mana.
Dan pembelajaran dimulai dari materi milik Kak Ana. Ia menyampaikan materi keanekaragaman alam indonesia dengan memberikan beberapa foto hewan-hewan yang ada di Indonesia. Sebelumnya, Kak Ana juga memberi beberapa pertanyaan untuk memancing keaktifan mereka. Ada banyak hal diluar perkiraanku. Ternyata masih banyak hal yang belum mereka pelajari. Ibukota propinsi jawa timur misalnya, ketika ditanyai oleh Kak Ana mereka tidak bisa menjawab. Ketika menunjukkan pulau-pulau di Indonesia pun, mereka juga tidak ada yang tahu. Akhirnya kelas dimulai dengan mengenalkan pulau-pulau di Indonesia dahulu lalu dilanjutkan dengan mengenalkan hewan-hewan yang menjadi khas masing-masing daerah. Lagi-lagi hal ini terjadi diluar ekpetasiku, ternyata hewan-hewan juga banyak yang belum mereka kenali. Orang utan, burung cenderawasih, harimau sumatera dan beberapa hewan dan peta Indonesia yang dibawa kak Ana lewat foto itu membuat mereka akhirnya mengenali beberapa kehidupan diluar desa mereka.
Mungkin teori time flies when u enjoy it itu benar. Tidak terasa kakak-kakak panitia mengingatkan waktu kurang 45 menit lagi sebelum jam istirahat.
Akhirnya terjadilah perpindahan materi keanekaragaman alam indonesia dengan materiku, Kemerdekaan Indonesia. Karena waktu untuk membuat materi ini cukup lama (harus menempel dan mencocokan dulu) maka mulailah saya dengan segala kertas-kertas yang ada di tas mengajar khusus.
 Aku memulainya dengan pertanyaan pertama. Apasih proklamasi itu?. Mata mereka saling bertemu, tapi tidak ada yang berani menatap mataku. Mereka hanya menunduk. Lalu aku sadar, mereka baru mendengar kata proklamasi untuk pertama kalinya.
Aku dengan keterbatasan ilmu dan pengalaman mulai cemas dan kewalahan.
Aku memang sengaja mengambil materi ‘Sejarah Proklamasi Kemerderkaan Indonesia’ karena sebelumnya aku melihat kurikulum anak tingkat SMP kelas delapan sudah belajar sampai mana. Dan iya, itu adalah kurikulum yang ditetapkan pemerintah untuk anak-anak SMP dengan fasilitas sekolah serba lengkap. Bagaimana bisa aku menyamakan kurikulum yang aku cari di internet dengan kenyataan langsung di desa pedalaman seperti SMP PGRI Tondomulo.
 Aku memang kurang pertimbangan, harusnya kan sudah tahu kalau pendidikan di kota dan didesa tidak bisa disamakan. Lagi-lagi, kurikulum dari pemerintah ini hanya sekedar formalitas bagi pendidikan-pendidikan di daerah yang serba terbatas.
Pertanyaan yang paling dasar seperti kapan hari kemerdekaan Indonesia saja mereka tidak ada yang bisa menjawab. Sungguh, itu semua benar. Indonesiaku nyatanya masih belum merdeka, setidak-tidaknya di mata mereka.
Lihat saja, anak-anak disini tidak tahu apa itu proklamasi, siapa presiden pertama Republik Indonesia, dan ada apa di tanggal 17 Agustus 1945.
Senangnya jadi partner Kak Ana, ia yang selalu bertindak yang dengan sigap ketika tau kecemasanku waktu itu. Entah membantu intermeso ngajak mereka ngobrol bahasa jawa, sampai tiba-tiba mengeluarkan jajanan buat reward mereka.
Sempat agak pesimis, YaAllah sepertinya terlalu jauh materi ini buat mereka. Tapi mau ga mau materi ini tetap berlanjut. Maka mulailah aku bercerita kronologis proklamasi kemerdekaan Indonesia. Lalu tugas mereka mengurutkan dan menempelkannya rentetat kronologisnya di kertas manila. Sempat kebingungan juga waktu mencocokkan antara tulisan dan gambar, jadi kak Ana dengan sangat-sangat perhatiannya membantu mereka menemukan potongan-potongan cerita.
Aku meminta mereka membaca dengan keras agar semua bisa mendengar ceritanya. Meski awalnya mereka terlihat kurang semangat, tapi setelah diberi reward oreo dan permen milkita setelah selesai membaca bagiannya, mereka langsung berebut menjadi seorang pembaca cerita. Hehehehe.
Tapi terlepas dari semua itu, mereka memang memiliki semangat belajar yang tinggi. Terbukti dari usaha mereka buat membaca satu demi satu kalimat yang tertulis diatas kertas dan dengan bahasa yang –mungkin begitu- asing ditelinga mereka –karena bahasanya wikipedia sekali-.
Sebagian masih membaca dengan terbata-bata dan membaca dengan pelan.
Ohiya, aku mau cerita mengenai Pera, perempuan yang paling tinggi itu. Dia sangat jenius, hampir setiap diberi pertanyaan olehku atau oleh Kak Ana dia adalah orang pertama yang menjawab. Dia juga selalu yang ter-semangat ketika diminta membacac cerita meski belum ada rewardnya ketika di awal-awal itu.  
Sesi terakhir dalam proses belajar ini adalah heart to heart. Sesi ini semacam sesi wawancara dan observasi ya kalau di kuliahku. hehe. Ya semacam PDKTnya gitu. Kita bertanya-tanya mengenai cita-cita mereka, kenapa mereka memilih cita-cita itu, dan memotivasi mereka supaya semangat belajar terus.
 Banyak hal yang aku dapat disini. Salah satunya, aku jadi tahu ternyata rata-rata dari mereka adalah keluarga petani yang setiap harinya harus menempuh jarak beberapa meter dengan berjalan kaki di bukit-bukit kapur dengan berbagai medan, belum lagi kalau musim hujan. Aktifitas mereka sehari-hari di rumah selain bermain tentunya membantu orangtua, Aris salah satunya. Tugasnya dirumah adalah mencari kayu.
 Akses air disanapun sangat susah, dan sudah dipastikan tugas menimba air merupakan kegiatan sehari-hari anak-anak di Desa ini.
Banyak hal yang aku pelajari dari tempat ini, desa ini, murid-murid disini dan masyarakatnya juga.
Setelah sesi belajar mengajar sudah selesai, lanjutlah sesi minum susu bersama dan menempelkan bintang harapan (bufalo berbentuk bintang yang sudah diberi nama dan cita-cita).
Semua anak berkumpul di kelas yang sudah diberi tempat untuk menempel bintang mereka masing-masing. Riuh keceriaan terdengar dari segala penjuru ruang dan waktu. Aku yang tidak menjadi anak-anak saja bisa merasakan euforia mereka.
Betapa bahagianya melihat senyuman senyuman terjejer rapi di depan kelas. Mereka  diminta maju kedepan, memberi salam, memperkenalkan diri, dan memprokalmirkan cita-cita mereka. Diselingi canda tawa dari kakak-kakak volunteer dan tim yang meneriaki kata ‘Aamiin’ setiap kali mereka selesai mengatakan cita-cita mereka. Sungguh pemandangan terindah yang pernah aku selama duapuluh tahun terakhir.
Untungnya pemandangan indahku ini tidak segera berakhir, karena pada pukul dua siang nanti mereka akan kembali untuk mengikuti lomba-lomba Agustusan yang sudah disiapkan kakak-kakak. Hehehe.
Sewaktu mereka pulang kerumah masing-masing. Aku, dan beberapa kakak-kakak mengantarkan sembako ke rumah beberapa siswa yang salah satunya adalah muridku sendiri, Aris. Jadi, sewaktu itu Aris yang langsung menuntun kami menuju rumahnya. Saat sampai aku cuma bisa bertemu dengan neneknya, sepertinya orangtua Aris masih ada di sawah.
Baby Shark ala Seribu Guru Surabaya
Adik-adik ini terlewat semangat. Mereka sudah ada di sekolah setengah jam sebelum acara dimulai. Dan perlombaan bisa dimulai ketika semua murid sudah berkumpul di halaman sekolah. Aku lupa ada berapa lomba, sepertinya tiga. Lomba pertama memindahkan karet dengan sedotan, lomba kedua lomba menggiring bola dengan kayu yang diikatkan ke pinggang lima anak (ya bisa dibayangin kan yha), terus yang paling seru adalah lomba terakhir, lomba rebutan kursi sambil nyanyi, hehehe.
Disini ada kisah mencengangkan, kisah seorang anak SD yang menyanyi Indonesia Raya diiringi tangan dengan gerakan baby shark, usut punya usut ternyata dia habis diajari ngedance sambil menyanyi lagu baby shark yang sedang viral itu sama kakak-kakak Segur. Sampai kebawa gitu pas nyanyi lagu lainnya ya. Sungguh, ekspresi wajah polosnya sambil menjentikan ibu jari dan telunjuk ala-ala baby shark, wajah konsentrasinya buat fokus ke kursi, ditambah semangat menyanyi lagu Indonesia Raya-nya sungguh memesona semua mata.
Pertandingan Paling Kompetitif Sepanjang Masa
Jam sudah menunjukkan pukul 15:30 WIB. Beberapa warga desa mulai berdatangan untuk memeriksa-kan kesehatan mereka di fasilitas kesehatan gratis yang menjadi agenda terakhir Segur Surabaya. Anak-anak mulai berlarian kesana-kemari, sibuk dengan permainan mereka sendiri. Sebagian ada yang pulang, sebagian lagi ada yang memilih menetap.
Lagi-lagi aku dibuat terpukau oleh mereka. Melihat beberapa anak Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang sedang asik bermain bola, akhirnya aku dan Kak Aida memilih bergabung bersama mereka. Aku satu tim sama Kak Aida dan melawan mereka adek-adek PAUD ku yang unyu. Ya jelaslah, menang terus aku sama Kak Aida. Hehe. Namun semua berubah saat berdatangan beberapa anak dari tingkat SD yang menantang aku dan Kak Aida, padahal Kak Almira sudah bergabung dengan tim perempuan tangguh kami.
Tapi skill dan usia emang tidak bisa membohongi, lalu entah bagaimana ceritanya kakak-kakak seribu guru yang pada jago-jago bermain bola -yang awalnya cuma bagian tim penggembira dan dokumentasi- menjadi bagian dari tim ‘mereka’. Dan terjadilah, permainan bola yang awalnya cuma buat happy happy menggelabui anak-anak PAUD, berubah menjadi kompetisi besar bak sedang jadi anggota timnas yang membawa nama baik Negara Indonesia.
Yang jelas aku, Kak Almira dan Kak Aida mengaku kalah. Daripada badan pada njarem semua karena ngga pernah olahraga, yakan?
Hari semakin sore, tim medis sudah mulai menyalakan senter dan penerangan tambahan lainnya buat proses check up warga desa yang masih panjang. Karena –sepertinya- lampunya belum bisa dinyalakan.
Malam Minggu bersama Mereka
Hari semakin sore dan segala rangkaian kegiatan hari ini diakhiri dengan baik.
Menjadi malam minggu terbaik bahkan.
Kenapa?
Pertama karena malam minggunya nggak dirumah,
kedua karena malam minggunya berfaedah,
ketiga karena bersama orang-orang tercinta.
Malam minggu kala itu, diagendakan acara heart to heart, tapi bukan heart to heartnya adek-adek yah. Ini heart to heartnya sesama tim dan volunteer #TnT15. Atau yang tertulis di jadwal adalah sharing session.
Ada beberapa hal yang aku rasa bukan aku saja yang merasakan hal itu, yang ternyata pengajar yang lain juga begitu. Salah satunya, masalah transfer materi ke adek-adek.
 Karena diawal sudah aku cerita, bahwa aku merasa mereka kurang dapat memberikan apa yang mau sampaikan. Yang ternyata terkendala oleh ‘bahasa’. Sebagai mahasiswi yang belajar ilmu psikologi dan termasuk rajin belajar juga -gila pede banget ini hehe- ternyata belajar di buku sama di terjun lapangan itu proses belajar yang sangat beda jauh.
Saat di Sharing session, malam minggu bersama Seribu Guru, semua mengatakan ada beberapa hal diluar dugaan mereka. Seperti kasus adik yang bernama Yanto. Jadi, dia ini ternyata baru bisa menulis namanya saja, padahal sudah kelas empat. Ada cerita lain lagi dari kelas dua SD, aku lupa namanya siapa, tapi Si Adek ini di pegang sama Kak Siana dan Kak Lucy. Sejak awal dia memang sudah terlihat berbeda dan guru-guru sudah menjelaskan kepada kami bahwa dia adalah murid dengan kebutuhan khusus. Katanya, karena terlalu banyak mengonsumsi obat, yang aku sendiri juga kurang tau obat semacam apa, apa vitamin, obat batuk, obat tidur atau apa. Yang jelas Si Adek ini jadi agak dalam berkomunikasi.
Bicara soal komunikasi. Salah satu tantangan proses belajar dan mengajar hari ini adalah komunikasi. Hal ini sudah dijelaskan oleh Mbak Ana , mengenai bagaimana caranya memberikan informasi menggunakan bahasa mereka, bahasa yang sesuai tingkat pendidikan mereka.
Dan iya, Jujur, aku sebagai mahasiswi yang sedang belajar ilmu psikologi di bangku kuliah, merasa selama ini apa yang aku pelajari di dalam kelas cuma sebatas ‘tahu’, sebenarnya aku belum ‘mengerti’ apapun. Memang benar kata ayahku, belajar itu tidak hanya sebatas dua dimensi, harus tiga dimensi. Dan dengan turun langsung ke masalah adalah  proses pembelajaran terbaik. Bukan sekedar teori dari textbook.
Walaupun aku sudah lulus matakuliah Psikologi Pendidikan, Psikologi Lintas Budaya, Psikologi Kepribadian, Dan Psikologi Perkembangan, lantas aku bisa menghadapi semua yang ada di hadapanku saat itu.
Bahkan untuk menyederhanakan bahasa agar bisa dimengerti adik-adik saja, aku belum bisa. Bahasa jawa halus apalagi, padahal tinggal di jawa selama duapuluh tahun.
Sungguh semua ini menyadarkanku betapa pentingnya bahasa, kepedulian, dan rasa ingin tahu untuk selalu diasah. Dunia memang begitu, ia tidak akan ada habisnya untuk dipelajari, dan tempat belajar yang real itu bukan diatas kertas tapi di lapangan. Langsung, live.
Kemana saja ilmu pengetahuan yang aku pelajari selama 12 tahun terakhir, eh 14 sih, ditambah dua tahun kuliah:’)
Banyak hal yang tersesali salah satubya karena dulu tidak pernah sungguh-sungguh mempelajari bahasa jawa. Ternyata bahasa menjadi hal yang sangat penting buat menyampaikan informasi -iyalah si, plis deh ya- tapi dulu aku ngga sampai sejauh itu pemikirannya.
Padahal ini juga sudah pernah dibahas di kelas Psikologi Lintas Budaya, kalau kita mau memberi informasi cara pertama ya lewat bahasa. Dan komunikasiku sama adek-adek, aku rasa kurang, karena kurang bonding. Kenapa? Karena aku masih menggunakan bahasa indonesia yang aku biasa pakai sehari-hari. Dan itu membuat gep antara aku dengan mereka, jadi –mungkin- mereka merasa berbeda denganku. Mungkin kalau aku pakai bahasa jawa seperti kepala sekolahnya tadi –waktu apel pagi-  materi yang aku kasih bisa jadi lebih lebih ngena gitu.
Meskipun banyak kekurangan yang aku sadari di hari Sabtu itu, aku juga dapat banyak ilmu baru. Jadi belajar banyak hal baru. Jadi lebih mengerti duniaku yang baru.
Opini Anak Indonesia Tentang Negaranya
Indonesia yang katanya sudah merdeka 72 tahun ini, masih punya banyak PR. Bahkan, kata temen-temen juga, mereka –warga desa- baru tahu kalau bendera indonesia itu Merah-Putih.
Berkaca dari seragam sekolah yang kemeja atasnya putih dan bawahannya merah. Mereka mengira bendera indonesia ini putih merah.
Ini masih di tanah jawa padahal. Dan disini, listrik dan air menjadi hal yang langka, untungnya pemerintah sudah menyumbang listrik dengan tenaga surya, jadi bisa dibilang lumayan lah. Untuk air, masih kurang karena baru bisa diakses pada waktu tujuh pagi sampai empat sore saja.
Untuk pendidikan juga sudah lumayan, meski guru-guru disini terpaksa mengarang borang agar memenuhi standart pendidikan pemerintah. Setidak-tidaknya para murid sudah mau berangkat ke sekolah dibanding dulu, dimana guru masih harus menjemput ke rumah para murid.
Ternyata selama Indonesia belum merdeka sepenuhnya. Dari segi pendidikan sudah terlihat jelas. Pendidikan layak memang hanya untuk warga kota. Warga di Desa Tundomulo seperti ini hanya bisa mengupayakan sebisa mereka, agar anak-anak tetap bisa semangat berangkat sekolah. Agar anak-anak sadar juga betapa pentingnya pendidikan untuk mereka. Dan dari semua sisi ‘begitu’, tentunya Indonesia juga masih punya banyak sisi positif. Terbukti dengan semakin banyak komunitas – komunitas peduli sesama yang dibangun langsung oleh anak-anak generasi milenial, seperti Seribu Guru ini. Ternyata masih banyak yang mau peduli terhadap generasi-generasi selanjutnya di negara Indonesia.
Tuhan memang maha adil, kita semua hidup diciptakan untuk saling mengambil pengalaman satu sama lain, saling mempelajari satu sama lain, dan saling berguna bagi satu sama lain.
Dari semua cerita yang sudah aku ceritakan, ada beberapa hal yang sangat menyentuh aku pribadi, sebagai orang yang terlahir di tengah-tengah kota, fasilitas lengkap, dunia serasa sedekat nadi, dan akses informasi yang begitu cepatnya, yaitu mereka masih bisa bersyukur dengan segala keterbatasan yang mereka miliki.
Bahkan adik-adik didikku -yang aku rasa, aku tidak optimal memberi materi pada mereka- menuliskan perasaan berterima kasihnya karena sudah diajari dan diberi ilmu bermanfaat, sudah diajak bermain, dan mendoakan supaya aku sehat selalu.
Senang sekali rasanya, ternyata proses belajar yang kami sediakan untuk adik-adik tadi dianggap bermain, yang artinya dia menikmatinya, seperti sedang bermain, dan memang seharusnya proses belajar yang baik itu ketika sedang belajar tapi terasa seperti bermain. Ini jelas bukan kataku loh, hehehe. Kata teori Psikologi yang aku lupa materi apa juga katanya bapak fisika ter-hitz sepanjang masa, Einstein.
Minggu, 27 Agustus 2017
Demi Masa, Demi Waktu
Dan sampailah kita dipenghujung serangkaian cerita indah #TnT15. Hari itu acaranya sungguh Cuma menghabiskan waktu bersama.
Bersama angin, bersama awan, bersama mentari pagi dan dinginnya cuaca pagi, bersama dia -eh bersama mereka maksudnya-, sampai bersama gemericik air yang semakin menipis.
Alhasil selama tiga hari, aku cuma sempat mandi sekali, untung dalam islam itu ada sholat lima waktu yang bisa membuat wajah tetap cerah bersinar. Kami mulai  berpamitan dengan ibu kepala desa, yang selama tiga terakhir sudah menyiapkan makanan yang begitu enak untuk kami santap, bener sambelnya enak cuma pedes banget -karena aku emang ga suka pedes sih-, dengan nasi jagungnya yang gurih, kerupuk khas yang tiada duanya, dan yang paling aku suka dengan makanan disini adalah kita makan langsung dari daun pisang.
Selain itu juga makanannya selalu pakai sayur, sangat sehat memang hidup dalam desa.
Berpamitan dengan jajaran penting di Desa Tundomulo dan adik-adikku yang sampai mengejar garnisun (Red Truk TNI) kami selama beberapa meter. Pahadal debu pasir itu begitu banyak seperti membentuk sebuah kerajaan. Mengepul di udara dan dibawah terik matahari.
Untuk mencapai tempat travelling kita harus melewati dua kecamatan lagi, ditambah ada kendala didalam hutan yang menyebabkan kita harus piknik ‘sebentar’ didalam hutan. Dalam perjalanan ada sebuah permainan paling bagus untuk kill the time dan mengakrabkan kita. Werewolf. Kalian harus coba, saat perjalanan, di dalam truk TNI, bersama-sama main ini. Dijamin nggak menyesal.
Sampai di lokasi travelling. Anginya memang begitu banyak. Sesuai nama nya, Negeri Atas Angin. Beberapa foto kebersamaan berhasil ditangkap layar kameranya Kak Mas’ud, Kak Fajar, Kak Yadi, Kak Widha, dan Kak Ima, mereka adalah orang-orang berjasa selama kegiatan kemarin. Karena tanpa mereka gada yang dokumentasiin kita woy. hehehe. Ya mungkin dokumentasi foto selfie-selfie ala perempuan yang sangat banyak tapi yang di upload cuma satu. hehe
Ohiya, memang bener deh hari minggu ini waktunya dihabiskan buat bersama terus. Acara kesasar masih berlangsung, jadi kita sudah mulai turun dari lokasi wisata saat adzan maghrib berkumandang. Karena kelelahan, jelas kan? Semua orang terlelap di kursinya masing-masing. Dan ketika bangun sampailah kita di Caruban, Madiun. Lah, kok bisa sampai sini, batinku. Dan setelah melakukan wawancara dengan beberapa jajaran penting. Didapatkanlah hasil kita mampir makan dulu disini karena ternyata salah jalan. Hehehehe.
Yasudah memang agendanya hari ini menghabiskan waktu bersama toh. Sampailah kita di depan KFC A. Yani, meeting point hari jumat kemarin pada pukul 02:00 WIB dini hari. Perempuan memang gaboleh pulang malam-malam, jadi langsung dini hari aja. Hehehe. Cerita indah selama tiga hari itu ahkhirnya aku lanjutkan di mimpi ku yang singkat, karena harus bangun lagi jam lima pagi buat melaksanakan ibadah pagi.
Sampai bertemu di petualangan selanjutnya ya! Terimakasih buat keceriaanya yang mengalahkan segala perasaan lelahnya.



Salam rindu,
Kakak Sisi yang kelewat bahagia selama tiga hari itu.




Epilog by cc
Bertemu dengan orang-orang satu passion memang menyenangkan, bertemu dengan kalian salah satunya. Sering-sering ketemu ya, jangan lupa main WereWolf pas reuni TnT nanti.

Lokasi Travelling, Negeri Atas Angin, yang anginnya kenceng bener

Menunggu keberangkatan, TnT15 yang memang sebagian besar perempuan ini sedang asik berselfie

Minum susu Frisian Flag dulu, biar makin semangat

Piknik singkat di tengah hutan

okey, kita selfie dulu sebelum sampai di Truk TNI. Otw dari Sekolah ke lokasi parkir Truk TNI

Kakak-Kakak dibalik layar TnT15

SELFIE di lokasi travelling

dari kiri : Kak Dwi anak UPN yang masih semester tiga tapi udah aktif ikut acara beginian, Kak Ega, Dokter asal Solo yang suka ikut acara TnT di berbagai region, Kak Lucy Mahasiswa ITS semester 5 yang juga suka menulis

Bu Dokter Ani yang cantik sekali

selfie dulu sebelum makan


halo adek-adek ku

ini waktu materi sejarah proklamasi kemerdekaan

dari kiri: Bu dokter gigi Ummu, Kak Debby yang sudah jadi Guru, Kak Ana yang gaul, dan sisi



itu yang belakang kak Lambert, terus samping kanannya kak Riski mahasiswa Umsida semester 3, yang kacamataan depan kak Nida, seorang guru





jalan menuju sekolah


ini enak sekali





Ruang kelas SMP PGRI Tondomulo

prosesi menempel bintang harapan

persiapan lomba buat adek-adek

matahari terbenam di depan sekolah SDN Tondomulo 3, sabtu 26 agustus 2017

beberapa saat setelah selesai perlombaan


Kak Almira dengan rival main sepak bola, anak PAUD



komplek sekolahan yang terdiri dari PAUD, SDN Tondomulo 3, dan SMP PGRI Tondomulo

Kelas untuk PAUD


NEGERI ATAS ANGIN

Matahari terbenam di lokasi travelling


piknik tipis-tips di tengah hutan


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

Diberdayakan oleh Blogger.