Tampilkan postingan dengan label #intrapersonal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #intrapersonal. Tampilkan semua postingan

In #intrapersonal #life

Ketidakpastian Adalah Kepastian.

Bermula dari hari menuju kelulusan tahun lalu di bulan September. Banyak ketidakpastian yang saya rasakan. Harus kemana setelah lulus, apa pilihan karir yang sesuai dengan kepribadian, bagaimana dan dari mana harus memulai merangkai apa yang ingin saya dapatkan, apakah saya harus idealis atau realistis, dan masih banyak pertanyaan yang muncul di benak seorang calon sarjana psikologi, bahkan seorang yang sudah belajar ilmu psikologi masih gamang dengan apa yang ingin dipilih dan dilakukan oleh dirinya sendiri.

“Pendidikan formal benar-benar cuma sebagai jembatan tak sampai setengah jalan menuju apa yang saya inginkan”, itu yang terbesit saat pada benak saya waktu itu. Saya kira perjalanan setelah studi S1 akan lebih jelas, dan tergambar. Nyatanya tidak, justeru semakin banyak dan berkali-kali lipat ketidak pastian yang saya rasakan. Sewaktu kuliah mungkin ketidak pastian itu berwujud nyata dan tampak, kapan dosen pembimbing bisa dihubungi dan memberi waktu untuk saya berkonsultasi, kapan surat izin saya bisa masuk ke rumah sakit untuk penelitian, atau kapan saya bisa disidang dan kapan orang tua bisa merasakan feedback investasi pendidikan yang mereka berikan untuk saya.

Sewaktu  duduk di ruang kelas, ujian hanya diberlakukan persemester atau tengah semester. Setelah lulus yang seperti orang naif anggap ingin terbebas dari jeratan ujian nyatanya justeru berkebalikan. Setiap hari adalah hari ujian. Ujian bertahan hidup mandiri entah secara emosional, finansial, spiritual dan hal lainnya yang lebih holistik. Kecarut marutan polemik eksternal, yang mungkin mutlak tidak dapat kita rubah tanpa adanya kekuasaan dan modal finansial, sampai yang paling penting, kegelisahan yang ada dalam diri setiap individu masing-masing.

Sekarang bahkan negara sedang hampir mengalami resesi, apabila ibu Sri Mulyani gagal menyelematkan semester ini dari minus daya beli masyarakat yang menurun akibat pandemi covid. Banyak rencana yang dilakukan agar Indonesia tetap bisa bertahan dan tidak resesi, sama halnya banyak rakyat korban pemecatan sepihak, pelaku bisnis rumahan dan rakyat yang mengandalkan upah harian yang berusaha sekuat mereka untuk bertahan hidup. Semua ketidak pastian ini adalah hal yang pasti. Tidak ada yang tahu seperti apa kedepannya.

                Tapi hebatnya manusia didesain oleh yang maha kuasa memiliki organ penting yang bernama otak. Dalam psikologi, otak manusia ini juga selalu menjadi topik utama dalam setiap pembahasannya, mulai dari kepribadian, kognitif, perkembangan, sampai abnormalitas. Manusia didesain mampu beradaptasi. Orang yang adaptif dengan perubahan dan ketidakpastian adalah orang yang mampu bertahan.

                Berkat kemampuan adapatasi ini, mereka menemukan ide yang menggerakkan, menemukan cara, menemukan jalan, dan menemukan harapan. Tanpa harapan, kita semua tidak akan bertahan. “Sesungguhnya Allah maha mendengar” adalah mantra untuk tetap bertahan pada ketidakpastian yang saya selalu ingat belakangan.  

                Harapan bisa datang dari hal yang sederhana. Dari orang terdekat yang selalu ada, aktivitas yang kita sukai, lagu dan film favorit, cuaca yang bersahabat, buku yang mengajak kita berkelana, sampai orang yang kita temui dipersimpangan jalan tetap semangat mencari sekeping pundi-pundi lembaran berwarna warni, alat barter yang biasa kita sebut, uang.

                Merangkai apa yang ingin dan akan dilakukan di saat ini dan kedepan memang menjadi bahan pembicaraan yang tidak akan pernah ada selesainya. Setiap hari adalah hari belajar. Belajar mengenali diri sendiri, mengenali orang sekeliling, bahkan sampai alam. Hari ini semua tampak baik-baik, sapa yang mengira setelah terdampak covid di penjuru bumi, saudara kita di Masamba, Sulawesi Selatan harus ditimpa lagi yang lebih dari alam mereka, Banjir Bandang pada 13 Juli lalu. Makin-makin saya lebih bingung, sebenernya apa yang selama ini saya khawatirkan? Apa yang kurang? Bahkan sepertinya ngga pantes-lah, buat mengeluh, selama masih diberi kesehatan, tempat tinggal, teman-teman yang selalu ada, dan sekumpulan hal-hal lain yang saya sukai.

                Ketika ketidakpastian yang melanda dalam dirimu, aku harap kamu segera menyadarinya, bahwa tidak hanya kamu yang merasa seperti itu. Temukan apa yang membuatmu mempunyai harapan baru. Salah satu caranya bisa dengan kembali menguak hal yang membuat perasaanmu nyaman. Bertemu orang-orang yang mengingatkanmu untuk tetap berjuang, dan kembali bergerak kemana kamu ingin pergi. Mulailah. [cc]

“Siapapun kamu, apapun bisa kamu lakukan, atau kamu harapkan, wujudkan, impikan, dan mulailah. Keberanian punya kejeniusan, kekuatan dan keajaiban.” – Johan Wolfgang Van Goethte, Novelis Jerman, abad ke-19.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #intrapersonal #life #selftalk

Are You Okay?


"Beberapa orang memandangmu sepele, meremehkanmu, merendahkanmu, kurang menghargaimu, dan kurang-kurang lainnya. Tapi, Beberapa orang yang lain juga percaya kamu, mengakui kelebihanmu, mengerti hatimu, dan akan selalu mendukungmu. Percayalah Allah SWT sudah mengatur semuanya, beberapa orang dihadirkan untuk membangun kita menjadi lebih kuat, beberapa orang datang untuk membantu kita bangkit, dan beberapa orang menetap dalam kehidupan untuk menjadi bagian dari diri kita"
Perasaanku terhadap diriku
Bagaimana caranya agar aku selalu menyukai diriku sendiri sebanyak aku menyukai orang yang aku sukai?
Bagaimana caranya agar aku dapat menjadi sepenuhnya aku versi dewasa seperti yang aku bayangkan ketika masih anak-anak?Bagaimana caranya aku bisa bersyukur dapat terlahir sebagai aku?

Intimacy VS Isolated
Akhir-akhir ini, aku sedang memasuki tahap perkembangan dewasa awal, tahap dimana perasaan intimacy semakin dibutuhkan, namun perasaan terisolasi juga sering datang. Ternyata benar yang dikatakan Erik Erikson dalam teori Perkembangan Psikoseksual, bahwa di rentang usia 20-30 an, manusia cenderung ingin mendapatkan perasaan hangat yang lebih banyak dari biasanya, bukan hanya perasaan cinta dan kasih sayang dari internal keluarga, tapi juga cinta kasih dari ruang lingkup sosial yang lebih luas, perasaan cinta dari ruang lingkup persahabatan; yang "lebih akrab", "lebih nyaman", "lebih dekat", dan lebih-lebih lainnya. Namun, untuk mencapai hubungan tersebut, tentu tidak semudah ketika masa kecil, dimana letak geografis rumah yang berdekatan mampu menjadikan hubungan lebih akrab, atau pertemuan yang intens membuat kita otomatis merasakan kedekatan atau hal-hal lain yang dulunya sering kita anggap sebagai alasan terjalinnya sebuah persahabatan, lebih dari itu -setidaknya, aku berharap lebih dari itu- berharap hadirnya seorang teman yang bisa mengerti, mendengar, mengingatkan dan menghibur disaat kita sedang down, mengetahui perubahan-perubahan suasana hati bahkan saat aku sedang berusaha menyembunyikannya. Sempat juga datang masa  dimana aku ingin pergi ke tempat yang tidak ada seorang pun mengenalku. Lalu, aku memulai semua yang baru disana. Entahlah, semakin dewasa, aku rasa menjalin kedekatan dengan seseorang semakin banyak standart operation procedurenya, sampai pada akhirnya, kalau bukan diri sendiri yang mampu mengatasi berbagai goncangan, terpaan, dan badai dalam diri ini. siapa lagi? 

"Apa tujuan hidupmu?,"
Pertanyaan ini dilontarkan oleh Sintang, salah satu teman komunitasku beberapa hari lalu ketika kami sedang berkumpul. Aku menjawab sekenanya, bahwa aku ingin lebih bersyukur, dengan melihat, belajar dan mencoba menjadi bagian dari orang-orang kurang beruntung di pedalaman, aku merasa, aku bisa lebih banyak bersyukur dengan melakukan itu. Kecenderungan membanding-bandingkan diriku dengan orang lain -entah mengapa- semakin lama, semakin besar. Semakin luas lingkup sosialku justeru -di satu titik- menjadikanku lebih minder (kurang percaya diri). Lalu, tiba giliran salah seorang yang lain, menjawab pertanyaan tersebut. Perempuan berbadan semampai, berambut sebahu, dengan celana hitam dan baju bergaris horizontal mengatakan pendapatnya mengenai apa tujuan hidup terbesarnya, singkat, padat, jelas, "Belajar dan Bahagia,"

Belajar dan Bahagia
Perempuan yang dulunya ingin menjadi seorang polwan namun berakhir dengan duduk di bangku S1 Jurusan Psikologi UNAIR ini memang memiliki Self concept yang beda dan tentunya jauh lebih baik dari milikku sendiri. Sejauh ini, aku sering bertemu orang-orang yang sepaham denganku apalagi di usia yang masih dua puluhan . Jujur, aku juga sudah mengaguminya sejak kali pertama kami bertemu, Ia selalu mengusahakan datang ditengah kesibukannya, janjian sesuai jadwal yang ditentukan, dan ada banyak hal-hal lain yang sudah aku ambil pelajaran dari berteman dengan sosok dengan nama depan yang sama, -untung nama panggilan kami berbeda- Desy Putri Pertiwi, biasa panggilan Tiwi, Tiwi berkata hal yang lucu juga waktu itu, "apa cuma aku ya yang punya pikiran berbeda? aku nggak pernah si bandingin diriku sama orang lain, karena aku tau juga meskipun dia punya keahlian ini-itu, belum tentu dia memiliki keahlian yang aku atau kamu punya," kurang lebih begitu. Batinku cuma bilang, woah self awareness (kesadaran diri) nya udah mateng banget ya Tiwi ini, Keren. 

Conscious mind VS Unconscious mind
Istilah diatas sering kali dibahas dalam kelas "apapun" di jurusan Psikologi. Conscious mind adalah alam sadar yang kita miliki, seperti kemampuan membaca, kemampuan menghitung, dan kemampuan-kemampuan lain yang bisa kita pelajari selama kita mau belajar. dan Unconscious mind adalah kebalikannya, disini tempat tersimpannya memori -biasanya- sedih akan masuk ke alam ini, karena ya namanya juga sedih, kita pasti berusaha tidak mengingatnya, dan meskipun kita tidak ingin mengingatnya, ia masih tersimpan rapih dalam otak kita. Iya, "mereka" bersembunyi disini, hehe.

Teori-teori yang aku pelajari semua masuk ke Conscious mindku, lalu caraku mengambil keputusan, caraku berpikir dan hal-hal refleks lainnya datang dari unconscious mind. Maka jangan heran ya kalau ada anak Psikologi yang kurang "psikologi" (me as example) atau banyak anak yang tidak mempelajari psikologi  justeru lebih baik problem solving atau emotional intellegence nya. Semua ini bisa dipelajari tanpa harus mengenyam pendidikan S1 Psikologi kok, dan bahkan secara tidak sadar kita semua telah mempelajarinya sejak dari hari pertama lahir dimuka bumi.

Ini juga sudah tercantum di surat Ar-Rahman dan diulang berkali-kali "saking pentingnya"


 "Maka, nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan?"
Bahwa mindset membandingkan diri sendiri dengan orang lain adalah hal yang salah, dan tidak baik. Bahwa setiap orang memiliki ceritanya sendiri, memiliki perjalanannya sendiri, dan semua akan manis pada waktunya, selama kita berhenti "membandingkan". Allah sudah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya makhluk (dilengkapi otak buat berpikir, mata untuk melihat, dan hati untuk merasakan)
Tapi lagi-lagi, teori sekedar teori, bacaan sekedar dibaca, inilah representasi sadar tapi tidak menyadari, dan ketika sedang dilanda kalut, otak sudah tidak mau diajak kompromi atau berpikir lagi, maunya cuma terhanyut sendiri dalam kesedihan tak berujung dan anehnya kita sendiri juga yang menjadi penyebab kesedihan itu.
Aneh tapi nyata.
Manusia.
Sepertinya mempelajari ilmu tentang perilaku manusia (Psikologi) dalam kurung waktu 4 tahun di bangku universitas-pun tidak akan cukup untuk memahami manusia, orang kadang aku aja masih gatau tentang diri sendiri, boro-boro mau memahami tentang manusia lain.

Diri Ideal VS Diri Nyata
Dalam teori Psikologi Kepribadian Eksistensialisme milik Carl Rogers juga dijelaskan mengenai dua hal ini,

Diri Ideal ialah gambaran diri yang ingin kita capai, dan diri Nyata ialah bagaimana kita melihat diri sendiri saat itu juga. lalu, Bagaimana aku menilai diriku di mataku? Bagaimana kamu menilai diri kamu dimata masing-masing kamu? Kalau aku pribadi, aku sering berubah-ubah dalam menilai diriku, disatu titik pernah merasa begitu mengenal baik diri dan bersyukur, disatu titik juga pernah merasa, aku bukanlah sesuatu yang berarti. standart aja. Menurutku, karena aku orang yang juga cenderung ekstrovert dan menjadikanku begitu terpengaruh dengan penilaian orang lain, atau kadang juga merasa marah - marah sendiri dengan diri kalau sering tidak sesuai ekspetasi, apakah kamu juga pernah merasakan hal yang aku rasakan?

Mungkin kamu merasakan apa yang aku rasa atau kamu tidak merasakan yang aku rasakan. Tidak apa, manusia memang unik, dan tidak sama. Dan kembali lagi pada tujuan awal menulis di blog pribadiku ini ialah untuk intopeksi dan berbagi, barangkali ada diantara kamu yang dengan senang hati membaca curhatanku ini setidaknya bisa mendapat penguatan, dan dukungan dari tulisanku ini. Keep Calm, u're not alone.

Diri Nyata ini merupakan apa yang secara objektif ada dalam diri, seperti contoh, rambut hitam, pipi tembem, kulit cokelat, aku suka makan es grim, dan hal-hal lain yang memang merupakan bagian dari diri kita, dan diamini oleh orang-orang sekitar kita.

Kesenjangan antara Diri Nyata dan Diri Ideal ini adalah penyebab kita merasa cemas, khawatir, atau kalau bahasa teorinya Carl Rogers adalah Incongruen, keadaan diamana perasaan tidak menyukai diri sendiri karena pengalaman yang didapatkan tidak mampu membuat kita aktualisasi diri, dan hal inipun sering aku lewati, ketika apa yang aku bayangkan mengenai diriku -yang ingin juga bisa setara dengan orang-orang dilingkunganku- ingin aktif, atraktif, solutif, imajinatif, inspiratif dan tif tif lainnya, setelah di lapangan, nyatanya nol besar. Apa yang aku ekspetasikan mengenai diriku sama sekali tidak sesuai, dan kesenjangan itu terjadi. Menjadikan orang-orang lain sebagai parameterku, menginginkan menjadi seperti si dia, si itu, si ini, dan si - si lainnya. 

Sampai akhirnya, otak bisa diajak bersahabat lagi, dan yang aku inginkan adalah menjadi si Sisi. Bukan Si lainnya. Sampai pada akhirnya, mengerti apa yang dimaksud dengan istilah "bercermin" dimana ketika kita bercermin, kita tidak akan melihat orang lain selain diri sendiri. Sama seperti dalam kehidupan, sudah seharusnya kita tidak membandingkan diri dengan yang lain. Karena setiap orang pasti memiliki porsi mereka masing-masing, tinggal bagaimana kita terus belajar dan bahagia menjadi diri sendiri. Terus berusaha yang terbaik dan menjadi lebih baik dari diri sebelumnya, yang pastinya terus bersyukur masih diberi banyak limpahan rezeki (entah berupa materi, teman sejati, lingkungan yang supportif, dan masih banyak lagi) bahkan ketika aku masih sering kurang pandai mengucap kata Alhamdulilah di sela-sela fajar dini hari atau senja ketika adzan maghrib mengudara menentramkan hati.

Atau bahkan sekedar mengucap terimakasih pada kamu yang masih mau membaca curhatan ini sampai selesai. sekali lagi, Terimakasih :)

Surat Cinta Untukmu
Tenanglah, kamu tidak sendiri, aku juga merasakan hal yang sama denganmu, tapi sekali lagi, kita harus percaya proses, percaya Allah tidak tidur, terus lakukan hal yang kamu sukai selama itu positif, menulislah, melukislah, menyanyilah, menarilah, cobalah melakukan semua dengan hatimu, fokus! Aku yakin karyamu nanti pasti disambut banyak orang baik, sampai suatu saat kamu menyadari bahwa alam sedang berkonspirasi menyambut hangat kehadiranmu dimuka bumi [cc]


Referensi
https://www.verywellmind.com/the-conscious-and-unconscious-mind-2795946
http://psikologi.net/struktur-kepribadian-menurut-carl-rogers/
http://www.psikologiku.com/intimacy-vs-isolation-keintiman-vs-isolasi/
https://nadjaneruda.wordpress.com/2015/03/21/teori-kepribadian-sehat-menurut-carl-rogers/

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #intrapersonal #life #selftalk #tementemen

Tulisan nggak penting tapi penting sih


Manusia memang lucu, sebenarnya perasaan yang ditampakkannya bukan perasaannya. Sebenarnya ia tidak pernah bermaksud menyakiti, tapi terkadang cara penyampaiannya terlihat seperti menyayat hati.
Manusia memang unik, niat hati orangtua ingin menasehati tapi si anak malah merasa tersakiti
Niat hati si anak Cuma ingin didengar tapi lagi-lagi orangtua menggunakan cara yang membuat si anak merasa sedang dianggap susah diajari.
Aku nggak tahu entah apa emang aku dasaranya seperti ini, atau orangtuaku yang cara penyampaiannya seperti itu. Setiap kali berdebat mengenai perizinan -bepergian terutama-, aku selalu merasa dilarang. Iya, aku tahu terkadang atau mungkin memang selalu ya -hahaha aku intinya gatau ini emang sudah watakku atau gimana ya aku selalu merasa pingin aja pergi kemanapun- aku mau dan ingin cari pengalaman baru atau aku memang hobi jalan-jalan dan ngobrol sama orang hehehe.
Jadi ceritanya sejak kecil aku selalu ingin bisa kemanapun dengan direstui orangtua tentunya karena dalam islam diajarkan begitu, tapi memang terlampau agak ketat syarat yang diberikan orangtua ku, pertama harus dengan dosen/guru atau apapun itu yang jelas harus ada penanggung jawabnya. Kedua dilarang bermalam kecuali ada proposalnya - ya ndak proposal juga sih- yang pasti acara yang jelas ada manfaatnya, ketiga apa lagi ya, oiya orangtua selalu berpesan kalau jangan dilupain sholatnya, karena kalau dalam kondisi bahagia gitu kan manusia sering lupa diri ya hehehe.
Di usiaku yang sudah menginjak kepala dua ini pastinya aku ingin mencoba lebih banyak hal baru dalam hidupku. ya, jelas. Aku pingin bisa kesana kemari semauku sendiri. Dan setiap berdebat dengan orangtuaku selalu diakhiri dengan –aku yang- menangis, aku juga gatau kenapa.
Aku sudah kuliah di jurusan psikologi sekarang, dan aku iya mengerti alasan-alasan orangtuaku memberlakukan peraturan seketat itu, atas dasar apa, dan iya, aku sudah paham apa yang dikhawatirkan orangtuaku. Tapi lagi-lagi, aku juga tidak mengerti kenapa sifatku satu ini sudah diubah. Mungkin karena sudah menjadi watakku yang ekspresif dan  berfikir dengan spontan yah.
Seperti yang aku ceritakan diatas mengenai diriku yang mudah menangis. Aku mungkin butuh waktu buat mencerna semua yang dikatakan oranglain kepadaku.
Sama halnya seperti kasusku yang terbaru ini, aku hampir jadi kerumah salah satu sahabatku di bangku kuliah ini, namanya Ay, dan niatnya mau pergi dengan si Ummu yang tinggal di madura. Awalnya sih, orangtuaku bilang nggak papa berangkat aja. Akhirnya rencana bisa dilanjutkan batinku.
Aku mencari nama “UmmekQ” dalam list kontak WhatsApp-ku untuk menjalankan misi kami. Dan memang selalu begini, ketika aku sangka semuanya akan berjalan mulus, justeru disitulah letak ketidak beresannya.
Ummu tidak diberi izin pergi ke rumah Ay. Bukan, bukan ini letak ketidakberesannya.
Tapi mulai disini.
Oke, aku memutuskan untuk menghubungi Sukron salah seorang teman kami yang tinggal didekat rumah Ay. Dan, iya karena sudah memastikan Ay sudah ada dirumah pada hari senin tanggal 10 Juli itu, aku bersikukuh akan tetap berangkat naik kereta api meskipun sendiri. Dan, pastinya waktu itu aku berpamitan dengan orangtua ku. Tiba-tiba orangtua ku tidak memberi izin dengan alasan aku sendirian, tidak ada teman yang menemani. Oh fine. Pikirku, ada sukron yang nanti akan menemani kok. Ibu ku sudah to the point kalau tidak setuju dengan rencanaku ini. Tapi ayahku. Ayahku ini sebenarnyalah yang paling tidak setuju, tapi ia selalu berputar-putar dahulu. Menyangkut pautkan berbagai macam hal. Aku sudah faham aku nggak diizinkan so why you can tell it on point? Dan terus berkata-kata berbagai macam teori yang sudah sangat aku pahami sendiri.
It hurts me.
Kadang kita ini Cuma ingin didengar. Sesusah itu ya mendengarkan? Aku tau aku memang salah masih menyangkal dan sering berdebat dengan orangtuaku padahal aku sudah berulang kali mengatakan ingin berubah. Ingin menjadi anak yang berbakti. Menjadi anak yang selalu mengerti dan menjadi anak yang bisa selalu menyenangkan hati. Juga sudah merasa menjadi anak yang bukan seperti dulu lagi. Nyatanya masih begini. Sepertinya dalam lima tahun terakhir aku masih belum banyak berubah. Entahlah. Sering self-talk tapi memang self-talk itu butuh ruang sendiri. Tidak bisa sambil mendengarkan celotehan dari orang selain didalam kepala kita sendiri.
Manusia memang egois. Mereka mendengar bukan untuk mengerti, mereka mendengar untuk membalas. Akhirnya setelah bergejolak dalam diri sambil mendengar sang ayah yang selalu saja menasehati padahal aku ya sudah mengerti (aku Cuma butuh waktu buat self-talk sebentar, aku tidak sepandai itu memang dalam mengatur emosi padahal sudah belajar ilmu psikologi)
Ternyata benar peribahasa itu. Lidah tak bertulang. Memang mengatakan jauh lebih gampang daripada mempraktekan. Aku memang butuh waktu untuk mencerna, jadi bisa tolong tinggalkan aku sendiri untuk berpikir sejenak. Butuh waktu sekitar sejam untuk mencerna semua yang sudah aku perdebatkan dengan ayahku. Dan aku menyesal. Seperti biasanya. Aku menyesal untuk selalu mengatakan apa yang ada di fikiranku tanpa memikirkannya dulu ketika sedang cemas.
Iya. Memang Aku cemas. Aku takut mengecewakan Ay di ulangtahun nya yang ke-20 tahun ini. Aku belum pernah bisa memberikan apa-apa ke dia. Setidaknya dengan aku silaturahmi dan bertemu dengan keluarganya, aku bisa menghargai persahabatan kita di kuliah ini.
Tapi dimana-mana seorang sahabat pasti bisa mengerti kondisi ini. Dan orangtua memang harus diatas segalanya. Seperti yang dibilang oleh Bu Khotim, salah seorang dosen mata kuliah Psikologi Pendidikanku yang selalu berpesan bahwa berbakti pada kedua orangtua itu hukumnya wajib, dan patuh hanyalah sebagian kecil dari berbakti.
Untuk Ay, sahabatku yang sempat tidak akrab disemester tiga karena tragedi waktu itu heheh. Kamu tau kan aku selalu ingat kamu, maafin aku belum bisa beri apa-apa buat kamu, tapi setidaknya aku pingin beri dampak postif buat Ay, ada ndak ay? Hehehe. Kalau ndak ada setidaknya aku bisa buat kamu ketawa kan :p
 Terimakasih untuk segala momen baik sampai momen paling mengejutkan –kamu sampai tercengang ndak bisa teriak, dan aku sampai nangis di kantor polisi di umurku yang ke-19 tahun- sumpah aku merasa Ilfeel dengan diriku sendiri Ay kalau ingat-ingat hahaha. Sebagai teman, kalau Sisi ada salah atau nyebelin kamu harus apa ay? Apa ngediemin? Bukan salah, yang bener harus kamu sampaikan atau setidaknya ungkapkan dengan bahasa tubuh. Mungkin dulu sewaktu kita sempat ndak dekat di semester tiga itu sama seperti teori diatas wkwkwkw.
Kita sama-sama butuh waktu untuk saling mengenali perasaan kita masing-masing. Untuk saling mengerti diri sendiri dulu, sampai akhirnya pada semester empat hadirlah satu anak madura ini yang bisa buat –aku dan kamu- akrab lagi. Wkwkw.
Dan iya, menerut aku bener juga teori itu. Kalau memang jodoh pasti akan bersama wkwkw. meski ada peseteruan dulu diantara kita. Bukankah itu yang membuat kita bisa saling mengenal satu sama lain ya Ay. Mulai sekarang kalau ada masalah itu di hadapi bukan dihindari. Jadi harus saling memberi kritik dan menyadari. Jangan menyimpulkan sendiri. Harus saling jalin komunikasi ya rek.
 Terimakasih Ummu, kamu sudah menjadi orang yang mempersatukan kita kembali, sudah menjadi pelengkap Ayu yang sungkanan ( dulu semoga bisa ngamuk ke kita deh dia, kek pas ngamuk ke adeknya di Video Psikodiag itulo Mek xp ) sisi yang sok manis padahal ya sering defensif rasionalitas (Red, batin) wkwkw.
 Makasi kamu sudah menjadi orang yang apa adanya dan akhirnya menyadarkanku kalau sebenernya temen yang tulus ada disamping kita yang bener-bener temen kita itu mereka yang mau menerima kita apa adanya (nggak judgemental) tapi juga tidak membiarkan kita seperti ‘itu’ terus. Tapi sebaliknya, jadi saling mengingatkan dan menjadi lebih baik bersama yah.
Terimakasih loh. Sudah mau mengerti aku dan menjadi salah satu orang yang mengisi cerita masa mudaku. Ayo semangat tahun depan kita lulus oyyy! Solihah Ku, semangat! :)
[cc]


Read More

Share Tweet Pin It +1

2 Comments

Diberdayakan oleh Blogger.