Tampilkan postingan dengan label #opinion. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #opinion. Tampilkan semua postingan

In #life #opinion

Awal & Akhir, berlawan namun beriringan.

Awal dan Akhir. 

Dua kalimat bertolak belakang tapi saling berkaitan. Tanpa ada awal, tidak akan ada akhir, begitupun sebaliknya, akhir dari sesuatu adalah awal yang baru. 

mungkin, hal ini bisa di sebut keseimbangan, seperti badai dan pelangi, hujan dan panas, sedih dan senang, tanpa ada hal yang berlainan, kita tidak bisa menikmati hal lainnya secara nyata. 

Ketika kita merasa sedih, tentunya, hal-hal membahagiakan kecil akan lebih bisa disyukuri. Hari yang melelahkan, diganti dengan sapaan hangat teman kantor yang menanyakan harimu. Sambutan hangat dari keluarga, atau malah sebaliknya. Hari yang memusingkan di rumah, disambut tawa ceria suasana kantor.  


Banyak yang aku harapkan bisa aku kerjakan sesuai ekspetasi, selesaikan, ataupun taklukkan. Tapi pada akhirnya, menyadari sebelum dirasa mampu oleh orang lain bukanlah kegagalan. Kadang, ada waktunya kamu untuk berhenti mencoba, dan kembali memutar kembali semua hal yang diperjuangkan selama ini. Pekerjaan dan dedikasi adalah salah satunya. 

Sejak kuliah aku berprinsip menyelesaikan dengan sebaik-baiknya hal yang sudah kumulai. Menyelesaikan dengan sempurna masa jabatan di organisasi, meski terasa melelahkan tanpa adanya mentor kanan-kiri. Melakukan yang terbaik dalam hal yang sedang di tekuni, mulai dari tugas akhir kuliah, pekerjaan part-time dengan dosen, sampai pekerjaan pertama seusai kuliah dengan sedikit dramanya. Semua selalu kuusahakan diakhiri dengan baik dan ditutup semanis saat ia dibuka.

Tidak terkecuali pekerjaanku saat ini. Tidak sedikit aku merefleksikan diri dan merenungi setiap kali mendapat teguran kecil maupun keras, beberapa waktu aku merasa benar-benar tidak bisa diharapkan, meskipun sudah mengulik dengan mendetail. Ada waktu dimana, akhirnya hati merasa cukup tenang, ketika di peringati atau hal-hal kecil lainnya. Tapi selepas kejadian pada suatu hari di akhir bulan Januari, tahun 2023. Akhirnya aku mengerti, ada kalanya kita berhenti mencoba, berhenti mendebat, berhenti menjelaskan. Kadang memang ada orang-orang tidak mau mendengar penjelasan karena ia hanya ingin melampiaskan. 

Hari-hari sebelumnya, sudah cukup melelahkan, aku berusaha untuk tetap bisa stabil ditengah tekanan yang memang akan selalu ada. Hari itu cukup membuatku akhirnya tidak bisa menahan lagi semuanya, dan harus kembali memikirkan masalah "selesai" setelah 5 bulan berhasil kembali merasa lebih lega. 

akhirnya, pada akhir bulan 2023 ini, aku yakin, aku harus selesai dengan lingkungan tidak sesuai ini. Aku sudah berhenti mencoba dan berusaha. Pada akhirnya, ada hal-hal yang memang tidak bisa selalu di upayakan. Mengambil langkah mundur, untuk bisa berlari lebih jauh di tempat yang lainnya.

Karena akhir adalah permulaan lainnya yang baru.

cheer up! :)  

Aku berterima kasih atas semua pelajaran, kenangan, dan pengalaman selama bekerja di sana, tidak ada yang tidak aku syukuri. Teman yang baik, tempat belajar yang kompleks dan suka-duka yang menyertai. 

Masa belajarku sudah harusnya berakhir sebelum semakin tidak baik. 

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #life #opinion #selftalk

Sebulan Setelah Hari Pernikahan.


Sebulan, lebih tiga hari, aku melangsungkan hari itu. Hari dimana beberapa perasaan terjadi bersamaan. Senang, Haru, Tidak sabar dinanti, Gugup. Hari dimana aku akan membutuhkan ridhonya atas segala pertimbangan dalam pengambilan keputusan-keputusan. Hari dimana kami menjalani ibadah terpanjang dimulai. Hari pernikahanku dengan pria berkacamata, sedikit berjanggut dan berkumis asal bumi sunda. 

***

Aku bertemu dengannya di tempat yang sejak kecil selalu ku idam-idamkan menjadi tempat tinggal masa depan yang juga menjadi tempat rantauan pertamaku setelah lulus kuliah. 

Kalau diingat-ingat lagi, jujur, pertama kali bertemu, sebenarnya tidak terlalu berkesan. Sikapnya yang cukup terbuka, membuat perisai sinyal siagaku menyala. Sampai akhirnya aku menyadari, dia memang cukup pandai membuka pembicaraan yang menyenangkan. Bukan karena sedang tebar pesona. Tapi, memang sedang bersikap ramah dan sopan kepada semuanya. Mungkin awalnya aku terlalu mawas diri, hingga merasa dia sedang mencari perhatian ya.

Sebelum bertemu dengannya, aku cukup mudah beralih perhatian satu ke lainnya, terutama ketika bertemu orang yang memang seru diajak berbicara hal-hal yang aku senangi atau aku ingin tahu lebih. Anehnya, orang ini bisa membuatku selalu fokus pada satu titik, yang mana itu adalah dia. Entah karena daya tariknya yang mengingatkanku pada paket komplit, selalu mampu membuatku tersenyum saat didekatnya, karena selera humor kami sama. Intinya, orang ini memang tidak bisa diabaikan dengan mudah. 

Hal-hal diantara kami terjadi begitu saja. Kami bahkan sebenarnya tidak banyak berkata-kata, selain saat pulang di mesin checklog dan bertegur sapa di siang hari saat mau makan siang. Dan saat itu aku merasa nyaman dengan diriku sendiri. Tapi saat didekatnya aku juga tidak merasa keberatan. Aku nyaman bersamanya. Dia membuatku merasa seperti dirumah, saat aku bahkan sedang jauh dari rumah.

Dia memperhatikan hal-hal kecil yang aku hindari dan aku sukai. Mendengarkan cerita dengan seksama, dan mampu memberi respon yang aku butuhkan. Tidak terlalu mengekang dan bisa memberikan afirmasi sesuai porsinya. Tidak terlihat merayu atau persuasif, dan tetap objektif. 

***

Konsep pernikahan yang kami harapkan memang simple-intimate. Awalnya. Dan akhirnya berakhir sederhana yang cukup ramai lancar, seperti jalan tol. Hahaha. 

Semua kecemasan yang aku bayangkan ternyata tidak terjadi seburuk yang di kepala. Acara pernikahan kecil-kecilan kami berjalan on-track. Dan hari itu menjadi hari paling membahagiakan selama 25 tahun berjalanku. Siapa yang menyangka, Sisi yang merencanakan segalanya dalam kehidupan termasuk target menikah di umur 26, menikah setahun lebih awal. Dan keputusan ini terjadi karena kalau bukan dia, karena siapa lagi. Hidup memang lucu, penuh perubahan-perubahan yang tidak kita sadari, seiring bertemu dengan orang-orang yang memberikan dampak pada diri kita.

Cita-cita yang dahulunya mau aku usahakan sendiri, ternyata sama Allah dikasih teman yang akan selalu mendampingi. Hal-hal yang membuatku kembali berani bermimpi dan mengusahakannya. Ada dia menyertai. 

Hal-hal yang dulu aku anggap masalah besar dalam kepala, sekarang menjadi hal yang dengan cukup percaya diri aku yakini bisa tangani. Hal-hal yang dahulu tak terbanyangkan bisa menjadi penguat, ternyata memang menguatkan, menenangkan, dan memberi banyak harapan, karena sekarang kami menjadi satu kesatuan yang diamini olehNya dalam ikatan suci. 

Percaya, kalau orangnya sudah tepat. Kedepannya akan saling menguatkan. 



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #opinion #selftalk

Rebranding Me.

Hai. Kembali lagi sama aku, Sisi, di section ngobrol random malam-malam. Setelah berkelana di berbagai lini masa, ya karena sekarang masih pandemi, jadi berkelananya jangan kemana-mana selain di dunia maya yah! tapi aku menemukan banyak hal yang ngga kalah menarik dari dunia itu loh. Hari ini aku lagi-lagi terinspirasi oleh seorang seniman random yang muncul di beranda youtube-ku, namanya Kyuuwaii, Dia orang jepang yang suka bikin cover lagu. Hihi, gayanya yang beda dan unik membuat aku melihat beberapa video randomnya. Kyuuwaii punya hal yang ngga kebanyakan artis cover lain punya. Pertama aku suka sikap bebasnya dalam bergerak-gerak seperti cacing laut ketika ia bernyanyi, kadang hal itu mengingatkanku dengan diriku sendiri ketika menyanyi sambil ngedance random hanya untuk menikmati lagunya. Kedua alat musiknya dari bolpen dan perabotan rumah tangga yang lainnya, yang ternyata bisa ya menghasilkan musik yang bagus. He's such a brilliant dan tentunya out of the box. Hahaha. Selanjutnya tentu bagaimana caranya menjadi dirinya sendiri di setiap karyannya tanpa memikirkan pendapat orang lain. Aku rasa seni memang seharusnya sebebas itu tanpa ada beban ekspetasi apapun. Papin, ilustrator kesukaanku juga mengatakan tidak ada gambar yang jelek, sama halnya dengan seni lainnya, semua memiliki segmentasi, pasar dan peminatnya masing-masing. Bisa jadi hal sereceh itu lucu bagiku tapi aneh di kamu, ya sebenarnya semua kembali lagi ke selera. Kita tidak harus disukai semua orang. Cukup orang-orang yang memang menyukaimu yang kamu perlu perhatikan, dan orang-orang yang mencibirmu biarkan saja. Hidup memang berjalan begitu, sama halnya seperti udara yang bergerak karena angin yang berbeda. Indah bukan, hah? hahaha~

Oh iya sebenarnya tulisan ini juga bukan untuk siapa-siapa selain untuk jurnal pribadiku. Seniman yang sesungguhnya seniman adalah yang melakukan bukan untuk siapa-siapa selain menyenangkan dirinya sendiri, wkwkw. And I love to write about how I feel. Oh apakah aku menyebut diriku sendiri seniman? hahaha, iya dong, semua orang adalah seniman di kehidupan mereka masing-masing karena mereka menggambar apa yang ingin mereka gambar soal diri mereka di selembar kertas putih. Dan aku ingin memulai kembali mengenal diriku tanpa ekspetasi apapun. 

Who am I? I'm still learning to know myself better too actually. Let's be Friends again Si and start everything from the very beginning.

Aku adalah perempuan yang menyukai hal hal apa saja terutama yang berbau lingkungan, budaya, pendidikan, dan seni (mulai dari musik, drama, lukis, sampai tulis). Aku juga tipikal ENFJ kalau dalam teori MBTI Psikologi ya. Yep, ekstrover perasa intuitif dan menyukai hal-hal berjalan sesuai rencanaku sebenarnya. Tapi hidup terlalu singkat diisi oleh kekecewaan, so let it be what it should be. Beberapa kali ketika aku terlalu memaksakan aku harus seperti apa, justeru membuatku tidak leluasa mengenali dan berdamai dengan diriku sendiri. Jadi, hari ini, aku mau memulai semuanya lagi, dengan diriku sendiri. Aku akan menulis blog tanpa ada beban tanggung jawab moral karena sarjana Psikologi dan harus mengangkat tema-tema berbau psikologi, atau aku tidak akan memaksa diriku untuk menjadi terlihat keren di depan orang lain, aku hanya ingin menjadi diriku sendiri seperti apa yang membuatku merasa nyaman. Aku harap kamu juga bisa menerima dan menyayangi diri sendiri tanpa ekspetasi apapun. Cukup bernafas dan nikmati hal-hal yang masih bisa dinikmati sampai sejauh ini. Let's meet in another random talk! See ya.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #opinion #selftalk

Belajar dari YouTube: Karena Guru Bukan Cuma Di Bangku Sekolah.


YouTube.

Berkat pandemi aku banyak menghabiskan waktu di rumah. Hal yang belum pernah aku lakukan selama 23 tahun terakhir adalah bertahan di rumah tanpa memiliki kurikulum kesibukan. Sejak kecil kita sendiri semua tahu, orang tua dan negara (tepatnya di Indonesia) merencanakan pendidikan wajib belajar 12 tahun. Tentu saja, kita semua belajar di bangku formal tersebut. Pendidikan sebenarnya ada dua, formal dan informal. Bagi yang beragama muslim, pendidikan informal kita mungkin dengan masuk ke Taman Pendidikan Qur'an. Bagi kelas menengah agak keatas, biasanya ditambahi dengan kursus tambahan, entah kursus bahasa inggris, kursus musik atau kursus masih sama di bidang pendidikan formal. Pendidikan di Indonesia memaksa kita untuk memiliki kecerdasan di bidang formal. Mungkin juga tidak hanya di Indonesia, bahkan di negara maju seperti Jepang dan Korea sendiri masih memetingkan nilai sebagai tolak ukur berhasilnya seorang siswa dalam belajar. Aku bukan tipe anak yang cepat menerima pelajaran, terutama guru di sekolah negeri (di zamanku) belum memiliki cara mengajar yang beragam. Banyak hal masih disampaikan secara teori dan tekstual. Beberapa ada yang mengajar dengan semangat dan makin semangat lagi kalau ada siswanya yang belum paham dan berani bertanya. Tapi juiga tidak sedikit guru yang semakin jengkel lihat murid yang susah paham meski materi telah diulang beberapa kali. 

Semakin tinggi jenjang pendidikan, aku sendiri sepertinya mulai sedikit menyadari beberapa hal dari pendidikan Indonesia dan apa yang dicari sebenarnya dari pendidikan itu sendiri. Ternyata, pada akhirnya manusia di kejar target untuk mengisi pundi-pundi bank masing-masing. Menjadi msein-mesin pengumpul uang. Kalau begini harusnya dari awal sekolah di briefing dong, tujuan pendidikan bukan hanya selugu dan murni menuntut ilmu tapi juga bekerja di bidang yang banyak dibutuhkan industri bukan yang memang sekedar ingin kita pelajari. Pikirku sejenak. 

Dan, pada akhirnya aku yang memang banyak mempertanyakan hal-hal random memutuskan untuk memilih  mempelajari hal-hal yang abstrak, random dan menarik di bangku Kuliah, Psikologi. 

Selain mempertanyakan hal yang aneh, aku juga sering mengobservasi bagaimana kehidupan manusia lain dari internet. Karena masa pandemi, hidup benar-benar harus banyak yaudahlah ya-nya. Tapi untung di masa seperti ini sudah ada yang namanya teknologi media. Kita dapat saling melihat dan berkirim kabar kepada orang-orang yang jauh dan belum bisa kita jangkau. Dan media yang paling aku sukai sejauh ini adalah youtube. 

Kenapa Youtube? 

Pertama disana kita tidak cuma melihat foto, kedua disana juga kita tidak hanya melihat tulisan. Dua hal yang sering membuat manusia salah paham dalam berkomunikasi adalah karena hanya lewat tulisan atau hanya karena melihat gambar. Lewat YouTube informasi yang aku peroleh terasa lebih bisa di terima seutuhnya tanpa miskomunikasi. Disana kita bisa belajar apapun, mulai dari yang nggak penting, sampai yang paling penting. Dan kembali lagi ke preferensi masing-masing, seperti selera makan, atau tipe pasangan. Preferensiku di dunia youtube lebih ke Hewan, Musik, channel yang membahas isu sosial, budaya, pendidikan dan lingkungan.

Aku juga belum melakukan riset apapun soal kecerdasan tertentu apakah berkaitan dengan preferensi tertentu. Tapi aku merasa tenang ketika mendengar lagu kesukaan di hari hari yang tidak baik-baik saja. Atau aku merasa terhibur melihat hewan-hewan yang lugu, mencoba mempertahankan kehidupan mereka dengan tidak serakah dan mensyukuri. Atau merasa terenyuh melihat kebudayaan, karakter dan cara bertahan hidup manusia yang unik dan masing-masing. 

Kalau boleh berterima kasih sama para pemiliki konten. Mungkin aku mau menuliskannya di sini. Kepada Jonna Jinton, perempuan Swedia yang rela tinggal di hutan dengan tidak memiliki uang sama sekali saat pindah, tapi sekarang menjual puluhan karya lukisnya yang ia lukis menggunakan bahan-bahan yang ada di alam. Her 86m2, perempuan Vietnam yang membuat konten cara mendekor rumah dan berkebun dengan keluarga kecilnya. Kepada Nas Daily, yang dengan kekonsistenan membuat konten youtube 1 menit setiap hari sampai hari ke-1000 yang akhirnya membuka sendiri perusahaanya. Kepada Yebit, Renee Dominique, Izzie Naylor karena bernyanyi dengan cantik bersama gitar mereka. Kepada Sacha Stevenson atas humor dan pelajaran bahasa inggrisnya. Kepada Analisa dan GitaSav atas asupan berpikir kritis. Chanel jurnalis semacam Narasi, Mata Najwa, Dan belakangan aku menyukai konten Chanee Kalaweit sekeluarga atas kepedulian tinggi terhadap lingkungan dan satwa. Terima Kasih karena telah menjadi Guru yang baik untuk para penonton konten bagus kalian.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

Diberdayakan oleh Blogger.