Tampilkan postingan dengan label #selftalk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #selftalk. Tampilkan semua postingan

In #life #opinion #selftalk

Sebulan Setelah Hari Pernikahan.


Sebulan, lebih tiga hari, aku melangsungkan hari itu. Hari dimana beberapa perasaan terjadi bersamaan. Senang, Haru, Tidak sabar dinanti, Gugup. Hari dimana aku akan membutuhkan ridhonya atas segala pertimbangan dalam pengambilan keputusan-keputusan. Hari dimana kami menjalani ibadah terpanjang dimulai. Hari pernikahanku dengan pria berkacamata, sedikit berjanggut dan berkumis asal bumi sunda. 

***

Aku bertemu dengannya di tempat yang sejak kecil selalu ku idam-idamkan menjadi tempat tinggal masa depan yang juga menjadi tempat rantauan pertamaku setelah lulus kuliah. 

Kalau diingat-ingat lagi, jujur, pertama kali bertemu, sebenarnya tidak terlalu berkesan. Sikapnya yang cukup terbuka, membuat perisai sinyal siagaku menyala. Sampai akhirnya aku menyadari, dia memang cukup pandai membuka pembicaraan yang menyenangkan. Bukan karena sedang tebar pesona. Tapi, memang sedang bersikap ramah dan sopan kepada semuanya. Mungkin awalnya aku terlalu mawas diri, hingga merasa dia sedang mencari perhatian ya.

Sebelum bertemu dengannya, aku cukup mudah beralih perhatian satu ke lainnya, terutama ketika bertemu orang yang memang seru diajak berbicara hal-hal yang aku senangi atau aku ingin tahu lebih. Anehnya, orang ini bisa membuatku selalu fokus pada satu titik, yang mana itu adalah dia. Entah karena daya tariknya yang mengingatkanku pada paket komplit, selalu mampu membuatku tersenyum saat didekatnya, karena selera humor kami sama. Intinya, orang ini memang tidak bisa diabaikan dengan mudah. 

Hal-hal diantara kami terjadi begitu saja. Kami bahkan sebenarnya tidak banyak berkata-kata, selain saat pulang di mesin checklog dan bertegur sapa di siang hari saat mau makan siang. Dan saat itu aku merasa nyaman dengan diriku sendiri. Tapi saat didekatnya aku juga tidak merasa keberatan. Aku nyaman bersamanya. Dia membuatku merasa seperti dirumah, saat aku bahkan sedang jauh dari rumah.

Dia memperhatikan hal-hal kecil yang aku hindari dan aku sukai. Mendengarkan cerita dengan seksama, dan mampu memberi respon yang aku butuhkan. Tidak terlalu mengekang dan bisa memberikan afirmasi sesuai porsinya. Tidak terlihat merayu atau persuasif, dan tetap objektif. 

***

Konsep pernikahan yang kami harapkan memang simple-intimate. Awalnya. Dan akhirnya berakhir sederhana yang cukup ramai lancar, seperti jalan tol. Hahaha. 

Semua kecemasan yang aku bayangkan ternyata tidak terjadi seburuk yang di kepala. Acara pernikahan kecil-kecilan kami berjalan on-track. Dan hari itu menjadi hari paling membahagiakan selama 25 tahun berjalanku. Siapa yang menyangka, Sisi yang merencanakan segalanya dalam kehidupan termasuk target menikah di umur 26, menikah setahun lebih awal. Dan keputusan ini terjadi karena kalau bukan dia, karena siapa lagi. Hidup memang lucu, penuh perubahan-perubahan yang tidak kita sadari, seiring bertemu dengan orang-orang yang memberikan dampak pada diri kita.

Cita-cita yang dahulunya mau aku usahakan sendiri, ternyata sama Allah dikasih teman yang akan selalu mendampingi. Hal-hal yang membuatku kembali berani bermimpi dan mengusahakannya. Ada dia menyertai. 

Hal-hal yang dulu aku anggap masalah besar dalam kepala, sekarang menjadi hal yang dengan cukup percaya diri aku yakini bisa tangani. Hal-hal yang dahulu tak terbanyangkan bisa menjadi penguat, ternyata memang menguatkan, menenangkan, dan memberi banyak harapan, karena sekarang kami menjadi satu kesatuan yang diamini olehNya dalam ikatan suci. 

Percaya, kalau orangnya sudah tepat. Kedepannya akan saling menguatkan. 



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #opinion #selftalk

Rebranding Me.

Hai. Kembali lagi sama aku, Sisi, di section ngobrol random malam-malam. Setelah berkelana di berbagai lini masa, ya karena sekarang masih pandemi, jadi berkelananya jangan kemana-mana selain di dunia maya yah! tapi aku menemukan banyak hal yang ngga kalah menarik dari dunia itu loh. Hari ini aku lagi-lagi terinspirasi oleh seorang seniman random yang muncul di beranda youtube-ku, namanya Kyuuwaii, Dia orang jepang yang suka bikin cover lagu. Hihi, gayanya yang beda dan unik membuat aku melihat beberapa video randomnya. Kyuuwaii punya hal yang ngga kebanyakan artis cover lain punya. Pertama aku suka sikap bebasnya dalam bergerak-gerak seperti cacing laut ketika ia bernyanyi, kadang hal itu mengingatkanku dengan diriku sendiri ketika menyanyi sambil ngedance random hanya untuk menikmati lagunya. Kedua alat musiknya dari bolpen dan perabotan rumah tangga yang lainnya, yang ternyata bisa ya menghasilkan musik yang bagus. He's such a brilliant dan tentunya out of the box. Hahaha. Selanjutnya tentu bagaimana caranya menjadi dirinya sendiri di setiap karyannya tanpa memikirkan pendapat orang lain. Aku rasa seni memang seharusnya sebebas itu tanpa ada beban ekspetasi apapun. Papin, ilustrator kesukaanku juga mengatakan tidak ada gambar yang jelek, sama halnya dengan seni lainnya, semua memiliki segmentasi, pasar dan peminatnya masing-masing. Bisa jadi hal sereceh itu lucu bagiku tapi aneh di kamu, ya sebenarnya semua kembali lagi ke selera. Kita tidak harus disukai semua orang. Cukup orang-orang yang memang menyukaimu yang kamu perlu perhatikan, dan orang-orang yang mencibirmu biarkan saja. Hidup memang berjalan begitu, sama halnya seperti udara yang bergerak karena angin yang berbeda. Indah bukan, hah? hahaha~

Oh iya sebenarnya tulisan ini juga bukan untuk siapa-siapa selain untuk jurnal pribadiku. Seniman yang sesungguhnya seniman adalah yang melakukan bukan untuk siapa-siapa selain menyenangkan dirinya sendiri, wkwkw. And I love to write about how I feel. Oh apakah aku menyebut diriku sendiri seniman? hahaha, iya dong, semua orang adalah seniman di kehidupan mereka masing-masing karena mereka menggambar apa yang ingin mereka gambar soal diri mereka di selembar kertas putih. Dan aku ingin memulai kembali mengenal diriku tanpa ekspetasi apapun. 

Who am I? I'm still learning to know myself better too actually. Let's be Friends again Si and start everything from the very beginning.

Aku adalah perempuan yang menyukai hal hal apa saja terutama yang berbau lingkungan, budaya, pendidikan, dan seni (mulai dari musik, drama, lukis, sampai tulis). Aku juga tipikal ENFJ kalau dalam teori MBTI Psikologi ya. Yep, ekstrover perasa intuitif dan menyukai hal-hal berjalan sesuai rencanaku sebenarnya. Tapi hidup terlalu singkat diisi oleh kekecewaan, so let it be what it should be. Beberapa kali ketika aku terlalu memaksakan aku harus seperti apa, justeru membuatku tidak leluasa mengenali dan berdamai dengan diriku sendiri. Jadi, hari ini, aku mau memulai semuanya lagi, dengan diriku sendiri. Aku akan menulis blog tanpa ada beban tanggung jawab moral karena sarjana Psikologi dan harus mengangkat tema-tema berbau psikologi, atau aku tidak akan memaksa diriku untuk menjadi terlihat keren di depan orang lain, aku hanya ingin menjadi diriku sendiri seperti apa yang membuatku merasa nyaman. Aku harap kamu juga bisa menerima dan menyayangi diri sendiri tanpa ekspetasi apapun. Cukup bernafas dan nikmati hal-hal yang masih bisa dinikmati sampai sejauh ini. Let's meet in another random talk! See ya.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #opinion #selftalk

Belajar dari YouTube: Karena Guru Bukan Cuma Di Bangku Sekolah.


YouTube.

Berkat pandemi aku banyak menghabiskan waktu di rumah. Hal yang belum pernah aku lakukan selama 23 tahun terakhir adalah bertahan di rumah tanpa memiliki kurikulum kesibukan. Sejak kecil kita sendiri semua tahu, orang tua dan negara (tepatnya di Indonesia) merencanakan pendidikan wajib belajar 12 tahun. Tentu saja, kita semua belajar di bangku formal tersebut. Pendidikan sebenarnya ada dua, formal dan informal. Bagi yang beragama muslim, pendidikan informal kita mungkin dengan masuk ke Taman Pendidikan Qur'an. Bagi kelas menengah agak keatas, biasanya ditambahi dengan kursus tambahan, entah kursus bahasa inggris, kursus musik atau kursus masih sama di bidang pendidikan formal. Pendidikan di Indonesia memaksa kita untuk memiliki kecerdasan di bidang formal. Mungkin juga tidak hanya di Indonesia, bahkan di negara maju seperti Jepang dan Korea sendiri masih memetingkan nilai sebagai tolak ukur berhasilnya seorang siswa dalam belajar. Aku bukan tipe anak yang cepat menerima pelajaran, terutama guru di sekolah negeri (di zamanku) belum memiliki cara mengajar yang beragam. Banyak hal masih disampaikan secara teori dan tekstual. Beberapa ada yang mengajar dengan semangat dan makin semangat lagi kalau ada siswanya yang belum paham dan berani bertanya. Tapi juiga tidak sedikit guru yang semakin jengkel lihat murid yang susah paham meski materi telah diulang beberapa kali. 

Semakin tinggi jenjang pendidikan, aku sendiri sepertinya mulai sedikit menyadari beberapa hal dari pendidikan Indonesia dan apa yang dicari sebenarnya dari pendidikan itu sendiri. Ternyata, pada akhirnya manusia di kejar target untuk mengisi pundi-pundi bank masing-masing. Menjadi msein-mesin pengumpul uang. Kalau begini harusnya dari awal sekolah di briefing dong, tujuan pendidikan bukan hanya selugu dan murni menuntut ilmu tapi juga bekerja di bidang yang banyak dibutuhkan industri bukan yang memang sekedar ingin kita pelajari. Pikirku sejenak. 

Dan, pada akhirnya aku yang memang banyak mempertanyakan hal-hal random memutuskan untuk memilih  mempelajari hal-hal yang abstrak, random dan menarik di bangku Kuliah, Psikologi. 

Selain mempertanyakan hal yang aneh, aku juga sering mengobservasi bagaimana kehidupan manusia lain dari internet. Karena masa pandemi, hidup benar-benar harus banyak yaudahlah ya-nya. Tapi untung di masa seperti ini sudah ada yang namanya teknologi media. Kita dapat saling melihat dan berkirim kabar kepada orang-orang yang jauh dan belum bisa kita jangkau. Dan media yang paling aku sukai sejauh ini adalah youtube. 

Kenapa Youtube? 

Pertama disana kita tidak cuma melihat foto, kedua disana juga kita tidak hanya melihat tulisan. Dua hal yang sering membuat manusia salah paham dalam berkomunikasi adalah karena hanya lewat tulisan atau hanya karena melihat gambar. Lewat YouTube informasi yang aku peroleh terasa lebih bisa di terima seutuhnya tanpa miskomunikasi. Disana kita bisa belajar apapun, mulai dari yang nggak penting, sampai yang paling penting. Dan kembali lagi ke preferensi masing-masing, seperti selera makan, atau tipe pasangan. Preferensiku di dunia youtube lebih ke Hewan, Musik, channel yang membahas isu sosial, budaya, pendidikan dan lingkungan.

Aku juga belum melakukan riset apapun soal kecerdasan tertentu apakah berkaitan dengan preferensi tertentu. Tapi aku merasa tenang ketika mendengar lagu kesukaan di hari hari yang tidak baik-baik saja. Atau aku merasa terhibur melihat hewan-hewan yang lugu, mencoba mempertahankan kehidupan mereka dengan tidak serakah dan mensyukuri. Atau merasa terenyuh melihat kebudayaan, karakter dan cara bertahan hidup manusia yang unik dan masing-masing. 

Kalau boleh berterima kasih sama para pemiliki konten. Mungkin aku mau menuliskannya di sini. Kepada Jonna Jinton, perempuan Swedia yang rela tinggal di hutan dengan tidak memiliki uang sama sekali saat pindah, tapi sekarang menjual puluhan karya lukisnya yang ia lukis menggunakan bahan-bahan yang ada di alam. Her 86m2, perempuan Vietnam yang membuat konten cara mendekor rumah dan berkebun dengan keluarga kecilnya. Kepada Nas Daily, yang dengan kekonsistenan membuat konten youtube 1 menit setiap hari sampai hari ke-1000 yang akhirnya membuka sendiri perusahaanya. Kepada Yebit, Renee Dominique, Izzie Naylor karena bernyanyi dengan cantik bersama gitar mereka. Kepada Sacha Stevenson atas humor dan pelajaran bahasa inggrisnya. Kepada Analisa dan GitaSav atas asupan berpikir kritis. Chanel jurnalis semacam Narasi, Mata Najwa, Dan belakangan aku menyukai konten Chanee Kalaweit sekeluarga atas kepedulian tinggi terhadap lingkungan dan satwa. Terima Kasih karena telah menjadi Guru yang baik untuk para penonton konten bagus kalian.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #selftalk

Cara Melarikan Diri dari Dirimu Sendiri


Apa kamu juga sama sepertiku? Ingin melarikan dirimu sendiri? Jawabannya tentu ada. 
Menulis, menulislah, tulis hal-hal yang mengecewakanmu, hal-hal yang ada dalam pikiranmu, hal-hal yang setiap kamu mengingatnya membuat perasaanmu nyaman. Menulis membantu otakmu memetakan, mengerti, dan menerima dan tentunya ini bukan kataku, tapi penelitian psikologi yang sudah tervalidasi hasilnya. 

Dan ini cara coping stress yang ampuh bagiku, semoga kamu juga begitu. 

Sewaktu kecil, hal yang paling harapkan di masa depan adalah menjadi seorang yang bisa bekerja sembari explore banyak tempat baru dan bertemu berbagai macam orang. 
Mungkin efek dari Doraemon yang punya banyak hadiah dari kantong ajaibnya, aku kira kehidupan dunia masa depan semenyenangkan membayangkan hal itu. Atau bisa jadi juga karena siaran Wild Life yang seru dari National Geographic. Mempelajari Sains bagiku selalu menyenangkan. Mungkin juga berbeda di kamu, kalau masih ingat, apa cita-cita masa kecilmu yang kalau dibayangkan saat ini sepertinya lugu sekali? 

Senangnya lagi, sejak kecil orangtuaku sangat menyukai acara berita di televisi, maka sejak saat itu aku sudah selalu ikut-ikutan sok mengomentari politik dan pemerintah, padahal kata nenek "wes arek cilik ga usah ngerti urusan wong gede" -trans. udah anak kecil ngga usah ingin tahu urusan orang dewasa- kata-kata yang paling aku benci sewaktu itu. Karena tidak diizinkan bertanya dengan alasan yang menurutku tidak bisa aku diterima, "karena masih kecil".

Dan hal itu berakhir sejalan dengan usiaku yang bertambah, akhirnya perlahan bisa sedikit banyak mengerti beberapa hal dari bangku sekolah. Tempat aku bisa berimajinasi dan menemukan banyak hal baru, pertama aku rasakan di bangku Sekolah Dasar, Ruang Komputer, menyapa dunia internet dan sosial media 'Friendster', lalu di Perpustakaan, suka karena bisa baca ensiklopedia dengan gambar yang bagus-bagus. Hal itu berlanjut di Sekolah Menengah Pertama, aku suka sekali pelajaran Sejarah Dunia, Biologi sama TIK (bercampur Psikologi) disini Guru TIK-ku memperkenalkan alat tes kepribadian kepada kami di kelas 3 SMP.

Lalu memasuki masa Remaja, Masa Sekolah Atas mata pelajaran paling seru menurutku ada dua matpel di IPA, Biologi, Kimia, satu di IPS, Geografi dan satu di bahasa, Bahasa Jepang. Empat mata pelajaran ini membuat jiwa-jiwa eksplorku menjadi terpuaskan. Meski aku bukan tipe anak yang mudah menyerap informasi, tentu dengan senang hati aku memberikan effort lebih ketika mempelajari mata pelajaran itu. Aku sampai rela memberikan jawaban essay Kimiaku ke guru penjaga ujian karena memberi contekan ke temanku di seberang dan menulis ulang jawaban essay di kertas bekas lain, wkwkwkwkwk

Hal yang paling aku ingat dari pelajaran Biologi adalah, aku belajar paling niat di Biologi, tapi nilai di UNAS pelajaran itu juga paling jelek, wkwkwk. Lucu sekali hidup ini memang, tapi gapapa, meski begitu, aku tetap cinta biologi dan mau masuk jurusan Biologi di Kampus nanti dengan bangganya dan kekeh pada pilihan karena kecintaan terhadap alam ini.

Pagi-Siang-Malam aku belajar dan berharap bisa masuk jalur SBMPTN ke jurusan Biologi ITS, tapi sama seperti hasil lainnya, aku gagal masuk jurusan itu. Dan masuk jurusan kedua di Psikologi UIN Sunan Ampel, entah mengapa saat itu tapi juga tetap disyukurin aja, setidaknya aku tidak harus masuk sekolah swasta lagi untuk kedua kalinya.

Ternyata memang kadang rencana Tuhan lebih baik disyukuri saja. Kuliah Psikologi membuat banyak perubahan cara berpikir dan bertindakku. Setiap ada suatu timeline yang terjadi dalam rangakaian perjalanan, selalu aku coba mencocokkan dengan teori yang sudah dipelajari, atau kadang mencoba menjadi seorang paranormal mengenai kehidupan yang aku akan jalani kedepan apabila mengambil tindakan ini, atau mengambil langkah itu. Beberapa orang mungkin akan menganggap aku aneh atau apa, tapi meski kadang teori tidak selalu seperti kenyataan, setidaknya karena teori-teori itu aku selalu bisa berusaha memaknai setiap kejadian yang aku sedang jalani atau telah lalui.

Aku bersyukur sudah menyelesaikan studi psikologiku, bersyukur sempat mempelajari dunia jurnalistik, bersyukur sempat juga merasakan hiruk pikuk organisasi non-profit sampai profit. Mungkin sekarang saat yang tepat menentukan bidang yang sebenar-benarnya selalu berhasil membuat aku merasa hidup. 

Setiap kali aku menulis aku merasa hidup, meski sering juga setelah menulis dan membacanya ulang, merasa tulisan-tulisan ini kok gini banget, contohnya di Blog pribadiku sendiri. Tapi setidaknya aku senang, disini adalah tempat aku bisa menjadi diriku sendiri tanpa merasa dihakimi. 

Sejak kecil menulis selalu berhasil menjadi tempat pelarian yang baik. Dan sebenar-benarnya terapi menulis juga baik dan tidak memakan banyak biaya bagi manusia-manusia yang sedang berjuang melawan krisis mereka masing-masing.

You did well~ 

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #selftalk

Bersiap yang Terburuk, Berharap Terbaik.

Rumus ini bisa dipraktekan dalam segala lini kehidupan. Pada proses-proses jangka panjang maupun jangka pendek. Headline yang juga digunakan dalam Harian Kompas tepat pada Rabu, 2 September silam ini makin-makin mengingatkanku pada ketidakberdayaan manusia akan banyak hal. Dalam hidup memang banyak hal yang bisa kita khawatirkan, kita keluhkan, atau kita bandingkan. Beberapa terlihat telah menemukan apa yang dicarinya. Mengumpulkan pundi-pundi dinar, atau karya memoar. Mungkin bisa keduanya, atau salah satunya. Tidak apa, tetap semua orang sedang berjuang bertahan di masa yang kelihatannya sudah normal ini. Sesungguhnya, tidak ada yang benar-benar kembali seperti semula.

Pentingnya memiliki harapan. Bagiku, hidup tanpa harapan memang tidak terbayangkan, harapan perlu sekali dibangun, diciptakan, bahkan diasah. Kalau boleh jujur, harapan tidak perlu terlalu jauh. Bertahan dengan harapan terkecil tak apa. Harapan dapat mendengarkan kembali lagu kesukaan esok pagi, harapan bisa melihat bulan yang sama dari arah langit yang berbeda, atau dapat berlari-larian sama si Arkan di hari besok.

Belakangan memang riuh sekali, tetanggaku sebenarnya ada yang baru saja meninggal karena covid-19 tapi ditutupi keluarga, tak selang lama aku menghadiri pernikahan sahabat jaman sekolah tinggi dan nampaknya semua orang sudah sesantai itu dengan pandemi ini karena mereka berkerumun dengan sadar dan tanpa dipaksa, atau nenek keponakan yang baru saja sembuh dari sedikit demam karena kelelahan dan sepertinya rindu dengan Arkan. hmmm, benar-benar riuh sekali.

Bukankah menyederhanakan keinginan dan ekspetasi mampu membuat otak kita waras? Hari ini apa harapanmu?



 


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #selftalk

Akan tiba saatnya.

Akan ada saat dimana kamu menyadari, tidak ada yang pernah menyelamatkanmu dari gerumulan dirimu, dari dalamnya lautan pikiranmu, dari kecemasan kecemasan tak beralasan, kecuali dirimu. Maka selamatkanlah dirimu. Kamu yang harusnya paling bertanggung jawab atas dirimu. Berhentilah mengasihani dirimu sendiri Si:)
Dan mari lihat sisi opportunity, bukan masalah-masalahnya:)
Biasanya, lagu apa yang kamu dengarkan saat ingin berbicara dengan dirimu sendiri?
Kalau aku, suka instrumental di tengah malam sepi yang senyap. Suara air jatuh, atau duduk berjam-jam diatas sajadah sambil memeluk doa-doa.


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #selftalk

Menjadi Aku, Menjadi Kamu, Menjadi Kita.

Tulisan kali ini aku buat untuk memperingati bulan kelahiran Lembaga Pers Mahasiswa di fakultasku, tempat belajarku selama kurang lebih tiga tahun penuh. Aku ingin bercerita sedikit soal pengalaman berhargaku itu. Sekaligus mengenang hal-hal yang sudah aku lewati selama ini.

Menjadi Anak Pers.
Awal mula bergabung dengan Unit Kegiatan Khusus (UKK) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) sebab ingin kembali menggeluti dunia jurnalistik yang sempat aku cicipi di bangku sekolah menengah atas. Rasanya tentu begitu mengasyikan, bisa jalan sekaligus melakukan proses liputan sampai menulis sebuah artikel -meski dulu di SMA hanya menulis majalah yang terbit enam bulan sekali- kemudian dilanjutkan dengan menjadi penyiar radio setiap Hari Rabu dan Kamis. Sempat mengikuti sebuah kompetisi jurnalistik di salah satu universitas milik Kota Surabaya. Ketika itu, rasa meluap yang tertuang dalam pikiran, karena menemukan apa yang ingin dilakukan dalam kehidupanku kedepannya. Aku begitu bersemangat, sampai rasanya jantung mau lepas. 

Baik, mari kembali ke masa awal memilih masuk UKK Pers Mahasiswa. Di waktu yang telah ditentukan, sama, seperti aku versi remaja. Sebelum dan sampai pada akhir masa euforia, aku yang memahami apa-apa yang perbedaan jurnalistik dengan Lembaga Pers Mahasiswa, agaknya mendapat beberapa titik yang menjadi stressor tersendiri, ditengah-tengah padatnya jadwal pengerjaan tugas jurusan psikologi, mulai mencoba beradaptasi dengan kesibukan-kesibukan yang sama-sama minta diprioritaskan. Setiap seminggu sekali, buletin kami harus siap cetak -meski pada kenyataannya selalu saja ada waktu telat cetak-, kami juga dituntut untuk lebih peka terhadap kebijakan, isu yang sedang hangat, sampai hal-hal apa saja yang menarik dan dekat diantara kami. Jadwal untuk rapat tema selama dua minggu sekali juga sempat mendadak menjadi seminggu sekali karena adanya peleburan tim. Awal-awal menjadi maganger adalah saat-saat terberat menurutku. Di waktu itu, bahkan ayah ibuku beberapa kali memarahi karena sering pulang malam, ditambah afirmasi dari kakak-kakakku yang temakan strerotype perempuan tidak pantas pulang malam, padahal itu proses belajar dan mengembangkan diri, pikirku ketika itu. 

Menulis, wawancara, observasi, membuat outline, mentranskrip hasil wawancara, memotret, memilih foto yang sesuai angel, adalah hal yang umum di kamus baru seorang Sisi. Aku lebih sering berdiskusi, bertanya, dan tentunya mencari isu-isu baru untuk rapat tema selanjutnya. Aku tentu pernah mengeluh, bahkan kalau mau dibilang sering, ya bisa juga, hehe. Beberapa kali menulis di rubrik berita, dua kali menjadi pemred dan di beberapa kegiatan menjadi koordinator, meski juga ada waktu habis karena mencibir, disisi lain, aku terbiasa dan semakin menikmati itu. Aku suka ketika harus melakukan wawancara, menggebu ketika mengejar-ngejar narasumber, antusias ketika menuliskan dan merangkai kata-kata, yang juga dibarengi dengan tanda merah dan kuning di teks yang disetorkan kepada senior. Itu tandanya tulisan yang aku buat harus ditinjau ulang. Tapi tentu saja, bisa itu karena terbiasa bukan?
Pelan-pelan warna warni di layar monitor laptop semakin berkurang dan tulisanku bisa diterbitkan lebih cepat. Bahasa menjadi lebih luwes, angel berita lebih tepat, foto juga makin ciamik, kata senior, meski jujur, aku juga tau, itu masih jauh dari kata ideal dalam penulisan berita atau rubrik lainnya, tetapi, aku tetap senang karena itu artinya ada kemajuan sedikit demi sedikit. Aku bersyukur, sering mendapat coretan dari senior benar-benar membuat banyak perubahan dalam tulisan maupun cara berpikirku. Tak lupa, aku juga mau berterima kasih kepada teman-teman lainnya yang memberiku ruang lebih luas untukku belajar menulis dan berpikir. 

Membaca.
Di tahun kedua memasuki dunia ini, kegiatan turun lapangan jauh lebih sedikit, saat itu aku banyak mencoba kegiatan-kegiatan diluar kampus dan mengikuti pelatihan kepenulisan yang ada di Kota Pahlawan. Ingin mencoba sesuatu yang lebih baik, yang bisa membuatku belajar dan berkembang lebih banyak, gumamku. Selain mencoba hal baru, aku juga mulai menyukai aktivitas baru, yaitu membaca buku -selain yang ditugaskan oleh dosen loh ya, hehehe-. Buku pertama yang katanya harus dibaca para aktivis ialah milik Pram, dengan judul Bumi Manusia, aku mendapat rekomendasi itu dari salah seorang senior yang juga sama-sama menggeluti dunia ini. Jujur, aku sebenarnya bukan tipikal orang yang cepat dalam menganalisis tulisan, otakku perlu lebih banyak waktu dan ruang yang tenang untuk dapat menyerap dengan baik. Tapi, tentu, aktivitas membaca adalah hal yang harus aku coba biasakan, di masa-masa kuliah, masa merdeka-merdekanya mempelajari apapun yang mau kita pelajari, konon katanya. Aku menemukan ketenangan ketika itu dan menikmati waktu bersama buku-buku yang bisu, namun berisik begitu aku membacanya. Aku mencoba membaca novel sci-fi, macam Deception karya Dan Brown, juga novel soal rasisme, To Kill a Mockingbird karya Harper Lee. Hal-hal berbau kultur, manusia, dan teknologi begitu menggiurkan. Lagi-lagi aku mendapat banyak rekomendasi buku bagus juga karena lingkup pertemananku di dunia pers. Salah seorang teman yang juga anggota pers mahasiswa tingkat fakultas itu begitu pandai dan cinta buku. Tak jarang kami diskusi soal buku sampai hal-hal receh yang membuat tertawa.

Meningat-ingat masa kuliah, jadi rindu duduk di kelas, mendengarkan dosen menyampaikan pesan-pesan motivasi kehidupan, alih-alih membahas mata kuliah, kadang juga nyeleneh ke konseling pendidikan anak usia dini, konseling pra-nikah, hadeehhh kenapa lagi ini dosen-dosen psikologi doyan banget bahas masalah keluarga dan kehidupan. Eh tapi kadang lupa, psikologi memang membahas mengenai kehidupan dan, iya, semua itu bersinggungan dengan kehidupan. 

Pemimpin atau Pemimpi?
Banyak sekali hal-hal yang terjadi di tahun ini, dan tentunya banyak juga hal yang aku pelajari sebagai individu yang mendapatkan peran baru. Pemimpin. Jujur, di ruang lingkup terkecilku, keluarga, aku adalah anak terakhir yang sama dengan kebanyakan anak terakhir pada umumnya. Ceroboh atau kurang hati-hati, menerima banyak sekali perhatian, mudah cemas dan tentu saja masih sangat membutuhkan bantuan dalam pengambilan keputusan, oiya jangan lupa, ciri penting anak terakhir dalam teori kepribadian milik Adler, ambisi yang tidak realistis. hehehe. iya, aku seorang pemimpi ulung. Dalam fase ini, aku mengalami perasaan inferior berkepanjangan.Banyak hal yang kurang optimal karena perasaan inferiorku yang lebih dikedepankan dibandingkan diri realistisku.
Semakin dijalani, tentu banyak juga konflik yang terjadi, tetapi disitulah seninya. Bagaimana memanajemen konflik, tetap bertahan dan menyelesaikannya dengan rapi. Kata orang tua, jangan membenci masalah, kita tumbuh bersamanya, kita harus menghadapinya. Masalah dalam organisasi ini tidak tanggung-tanggung, mulai dari miss komunikasi dengan internal sendiri, dengan eksternal organisasi, sampai juga berurusan dengan pihak birokrasi. Tentu seorang pemimpin bukanlah siapa-siapa apalagi apa-apa tanpa timnya. Aku merasa sangat terbantu dengan adanya teman-teman pengurus yang selalu sigap dan tanggap dengan hal-hal genting. Selain support system dari para pengurus, bayi-bayi magangers juga tidak mau kalah semangat, mereka suportif dan memiliki semangat tinggi untuk belajar. mereka pun menjadi salah satu alasan aku tidak mau kalah semangat. Hari-hari itu memang pantas untuk dirindukan.

Aku dan Waktu yang Tak Berhenti Berubah.
Banyak hal yang berubah sejak keputusanku telah bulat untuk bergabung dan bertahan dalam organisasi ini. Terima kasih banyak kepada Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Alam Tara yang membuat mataku lebih menyala, hatiku lebih perasa, dan jiwaku lebih mengerti hal-hal yang dulunya kurang aku fahami. Memiliki pengalaman belajar bersama kalian adalah hal yang akan selalu aku kenang. Berkat organisasi ini aku juga tumbuh dan berkembang.

Menyadari, bahwa mungkin di dunia ini ada kalanya orang-orang terdekat mempertanyakan mimpi-mimpi, memandang sebelah mata, bahkan melarang untuk melakukannya lagi dan lagi. Tapi sekali lagi, ini adalah hidup diri masing-masing, selama itu baik , positiv dan membuat kita untuk tumbuh, terus lakukan. Tutup telinga, terus melangkah, jangan ragu, kita sudah cukup dewasa untuk dapat membuat keputusan yang benar dan sesuai apa yang diinginkan. Aku tahu, setiap saat tentu ada keraguan, ketidakpastian, lelah, kehilangan arah, dan perasaan ingin menyerah. Semua itu pasti wajar dan terlampau normal. Aku mengalaminya pun di titik waktu saat ini. Kadang merutuki keputusanku, dan merasa rendah diri, apakah yang aku perjuangkan saat ini sudah tepat dan benar?
Apakah aku berada di jalur yang sesuai dengan apa yang aku cita-citakan?
Apakah apa yang aku bela mati-matian ini akan membawaku kepada suatu yang baik nantinya?

Tentu, jangan khawatir, semua sudah diatur, tepat pada saatnya.
Tugas kita hanya terus percaya, bermimpi, dan tentu saja berdoa.
Aku menyadari, hal-hal baik yang terjadi kepadaku bukan karena sebanyak apa usaha yang sudah kulakukan,
Atau
Sebesar apa pengorbanan yang sudah diberikan,
Aku menyadari banyak orang baik diluar sana yang telah berjuang dan berusaha lebih keras dibandingkan yang telah aku kerjakan

Aku tau, segala sesuatu ini juga bergantung pada seyakin apa tuhan akan memberikannya kepada kita suatu saat nanti.
Dan tentu aku percaya, semua yang telah aku lewati selama masa kuliahku yang terhitung hampir genap empat tahun ini, akan membawa kepada mimpi-mimpiku selanjutnya.
Selamat bermimpi dan jangan lupa mengusahakannya.
Tenang kamu tidak sendiri.
Kita semua sama, sama-sama melewati hal-hal yang tidak pasti, sama-sama sedang mewujudkan apa-apa yang sekarang terlihat tidak mungkin, sama-sama berada dalam angan yang sama. Semangad ya untuk aku dan tentunya untuk kamu yang sudah rela memberikan waktu, energi dan kouta untuk membaca ini sampai selesai.


Salam Hangat,

-cc



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #selftalk

let's just enjoy this.

Sudah seminggu aku menjadi orang tanpa status yang jelas. Jujur, aku kesal menanti hasil check plagiarism proposal yang tidak kunjung keluar, aku kesal sudah tidak aktif dalam beberapa kegiatan kampus yang dulu selalu menemani, aku kesal tidak bisa bertemu orang-orang dan berbicara hal-hal tidak jelas. aku kesal merasa sendiri, bahkan orang yang ada didekat pun semua, sedang sibuk dengan perjalanan hidup mereka masing-masing.

kegiatanku selalu saja seputar bangun, mengurus si Milo dan Ciko, terkadang membantu ayah menjaga Arkan, dan -pastinya- membersihkan rumah. ehe. Beberapa kali menengok ke media sosial, aku semakin merasa tertekan melihat manusia-manusia yang sedang berlari mengejar apapun yang mereka cari. 

sering, aku ingat, kapan ya terakhir kali aku merasa se-santai-ini, sepertinya memang sudah sangat lama. Tapi, ke'ngangguran' ini ternyata berbuah manis juga. aku bisa mendekor ulang kamarku, aku bisa menjadi anak yang selalu hadir saat dipanggil ibu, ayahku, aku juga menjadi sering berkunjung ke youtube, buat sekedar melihat apa yang menarik disana. mulai dari video receh klarifikasi putus dari sepasang kekasih 'yang katanya couple goals' sampai video-video DIY buat hal-hal yang selama ini aku kira cuma bisa dibeli. ehe. 

ya, let's just relax and enjoy this, Si. 
perasaan kamu dulu sangat ingin menjalani hidup setenang sekarang, sempat kan dulu? saat lagi kacau-kacaunya. mungkin Allah memberikanmu waktu untuk istirahat sejenak demi menyusun kepingan dirimu untuk masa depan. 

kalau di kegiatan, selalu ada jeda ishoma kan? eheh. Ya mungkin ini ishoma mu:)
Dan kembali melihat apa-apa saja yang aku sukai. 
Mungkin bisa kembali diasah:)
Ya, thats for today. 
Just Relax, everythings gonna be okay. 
okay? :)


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #life #selftalk

THE FAULT IN OUR STARS

The first thing I've learned about living in this Stars (re: earth) was from my momma and papa.

My Momma said that you must have a dream to stay alive in here.

so, I write my dreams in my thought, first. then try to write it down on a paper when I started learn alphabet.
My Papa said that you must be grateful for what you already have, some people not as lucky as I am.

So, I always try to remember it in my memory. But, sorry not to say sorry, my brain has a lack skills when it comes to memory. Hahaha. So here I am. Be a person with million dreams but actually and really most of the time I've in my life, I spent on murmur, disapointed, feelin' bad about myself and of course always never feel enough, literarry about anything that happen in my life. oh, how sucks u r Si. can u just stop being so selfish and arrogant, said her to me, one day.

and, I just reply with a hate smile.
but now, she become more mature to love herself and learn about The Right Thing in Her Own Stars

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #selftalk

Jangan Takut Gelap.


Halo, Sisi. Bagaimana kabarmu hari ini? 

Aku tahu, mungkin hari ini kamu sudah merasakan berbagai perasaan yang beragam. Tidak hanya hari ini, belakangan, memang, banyak sekali yang terjadi dan hal-hal berubah secepat emosimu yang meloncat-loncat, secepat kereta api shinkansen yang kamu lihat di televisi sambil terkagum-kagum, secepat teman-teman sepermainanmu yang perlahan mulai merencanakan kehidupan mereka di usia peralihan menuju target-target perkembangan selanjutnya, dan secepat kamu berlari ketika masih anak-anak, memperebutkan juara perlombaan tujuh belasan itu.

Iya, aku sangat mengenalmu, kita sudah bersama selama 21 tahun lewat 9 bulan. Hahaha. Mana mungkin aku tidak mengenalmu? ya, meskipun kadang aku sendiri susah memahamimu. Tapi jangan kuatir, aku akan berusaha lebih keras untuk mengenalmu, dan akan berusaha sebaik mungkin untuk bersahabat denganmu. 

Di tanggal dua puluh lima Desember tahun dua ribu delapan belas, tepat pukul satu pagi lewat empat menit, diantara heningnya malam dengan alunan lagu dari Tasya Kamila. Aku hanya mau mengucapkan padamu, terima kasih sudah bertahan sejauh ini, terima kasih sudah mengemban amanah dan tanggung jawab dengan sungguh-sungguh, terima kasih sudah ada di saat senang dan sedih, terima kasih atas segala kebaikan dan senyum ceria yang selalu kamu berikan kepada orang-orang, terima kasih sudah selalu berprasangka baik pada siapapun, terima kasih karena sudah mencintai ayah ibumu setulus-tulusnya, terima kasih sudah mencoba memahami orang dengan segala pemikiran mereka, terima kasih sudah belajar mengerti dan mendengarkan, terima kasih sudah menangis ketika merasa sedih dan putus asa, terima kasih sudah mencoba dan terus mencoba, terima kasih sudah berusaha bangkit ketika terpuruk, terima kasih telah kembali mempercayai mimpi-mimpi, terima kasih karena mau belajar mengenal dirimu lebih baik, terima kasih sudah kembali, sekali lagi, aku mau mengucapkan terima kasih kepada mu, Si, I do luv yu.

Hal-hal yang selama ini membebanimu, lepaskan.
Hal-hal yang selama ini mengecewakanmu, relakan. 
Hal-hal yang selama ini meresahkanmu, hilangkan.
Hal-hal yang selama ini menekanmu, renggangkan.
Hal-hal yang selama ini membuatmu sedih, ikhlaskan.

Sebenarnya, Apa atau bahkan Siapa yang membuat hatimu begini?
Benar itu orang lain?
Bukan judgjement terhadap dirimu sendiri, dari dirimu sendiri, dan oleh dirimu sendiri?
Apa benar, selama mereka tidak mencintaimu?

atau sebenarnya, 
Kamu yang tidak bisa mencintai dirimu sendiri, menerima dirimu sendiri, memahami dirimu sendiri dan mencoba berdamai dengan semua itu?

Sisi, apakah kamu tahu?
Bahwa
Kamu selama ini selalu menyemangati teman-temanmu saat sedih, selama ini telah menerima mereka apa adanya, selama ini telah berprasangka baik pada mereka, selama ini selalu bisa membuat mereka kembali percaya dan yakin atas dirinya, selama ini selalu mendengarkan peluh mereka, selama ini selalu menyukai mereka, selama ini selalu meminta maaf, lalu baikan dengan mereka, selama ini selalu mengucapkan tolong saat butuh dibantu, dan selama ini selalu mengucap terima kasih ketika merasa bersyukur memiliki mereka. Kamu bisa melakukan semua itu untuk mereka.

Tapi, apa pernah kamu melakukannya untukku? 
Tempat yang kamu tinggali, satu-satunya orang yang selalu ada di sisimu full dua puluh empat jam nonstop, seseorang yang paling pertama mengerti arti senyum mengembang itu, seseorang yang paling pertama memahami air mata di pipi itu, seseorang yang selalu dan akan selalu menjadi pendukung setiamu. Kadang kamu masih suka lupa, YAH HHHH! (yauda gapapa namanya manusia pasti ya ada lupa-lupanya dikit) tapi aku gapapa kok, kamu lupain. ehehe. ya, tapi, tolonglah, mau sampai kapan kamu lupa?

Sisi, jangan lupa sayang aku juga ya. 
Terima aku. 
Maafkan kesalahan-kesalahan yang aku lakukan. 
Ucapkan terima kasih saat aku melakukan sesuatu untukmu. 
Ucapkan maaf apabila melakukan kesalahan.
Ucapkan tolong apabila tidak sanggup melakukannya sendiri.
Ekspresikan perasaan rapuh itu padaku, jangan sok kuat, kamu juga manusia, yang punya batasan.

Kamu juga manusia, yang butuh dibantu.
Kamu juga manusia, yang masih dalam proses.
Kamu juga manusia, sama seperti lainnya.

Dan yang paling penting adalah, aku akan selalu dan selalu menjadi orang yang paling setia buatmu. 
jangan kecewa apabila orang lain tidak seperti hal-hal yang kamu harapkan, sekali lagi, jangan.

Kamu melakukan itu untukku, bukan untuk mereka. 
Kamu melakukan untuk menjadi Sisi versi lebih baik dari sebelumnya, bukan untuk menyaingi siapapun.
Kamu melakukan itu untuk menjadi salah satu makhluk-Nya yang tidak pernah berhenti belajar.
Maka gantungkanlah itu semua pada dirimu dan untuk yang maha pemberi kebaikan.
karena di akhir hari, hal-hal yang mendamaikan hatimu akan datang dariku atas persetujuan-Nya.


Best Regards,




Deasy Meirendah Chikita, soon S. Psiur number one biggest fans

Read More

Share Tweet Pin It +1

10 Comments

In #selftalk

Best Support System itu Dirimu sendiri

Hai, my second life, lama kita tak bersua, sepertinya terlalu banyak hal yang saya dikerjakan sembari mengutuki menikmati hidup belakangan ini. Terakhir menulis mungkin sekitar 5 bulanan. Sungguh konsisten dan displin adalah hal yang mewah bukan?
Saat ini saya sedang memasuki usia akhir di bangku perkuliahan, memasuki fase krisis  -ah agaknya berlebihan kalau ku bilang krisis- setelah hibernasi menulis, finally, I met me again, in this crowded space between us, in this beautiful creepy place called world, or in this little thing called home, intinya saya merindukan dan menemukan kedaimaian dari menulis lagi. 

Dalam hiruk pikuk organisasi dan bimbingan skripsi, dalam keriwehan dengan segala peran dan tanggung jawab, saya merasa sepertinya dan alangkah baiknya apabila melipir ke tepian. Mencari diri dalam kesunyian diantara keramaian dan berimbaslah kepada topik skripsi "Kualitas Hidup", yha, selain karena banyak sekali jurnal quality of life dewasa ini di ranah internasional (yha, memang syarat buat skripsi itu harus cari 5 jurnal inter dengan rentang waktu max 10 tahun kan, saya ini pen cepet lulus jadi cari yang banyak aja, hehehe) ternyata saya sedang mempertanyakan kualitas hidup sendiri saya (pula) tanpa disadari~

Selain dirundung perasaan sedikit cemas, banyak rindunya dengan kehidupanku, ternyata saya dihadapkan dengan fenomena lagi oleh Allah, bahwa yha u r not alone. Semua di dunia ini bukanlah tentang aku dan aku, self-centered memanglah tidak baik, kawan. Perlahan tapi pasti, orang-orang sekitar mempercayai saya menjadi salah satu pendengar kisah hidup mereka, tentu ini sebuah kebanggaan tersendiri. Dapat dipercaya. Apalagi sama si dia, yang diam diam dikagumi selama ini, yah curhat lagi, oke oke, mari kembali ke topik. Singkat cerita, Saya juga memiliki seorang teman akrab yang juga sedang menempuh pendidikan  Psikologi di lain universitas, lalu seperti pada kebanyakan kasus, kami saling bertukar pikiran. 

Locuf of Control
Dia menanyakan mengenai teori Locus Of Control. Teori ini pertama kali digaungkan oleh Julian B. Rotter (1954) dalam Psikologi Kepribadian. Inti dari teori tersebut ialah bagaimana kamu menyikapi tantangan dan permasalahan yang ada dalam hidupmu sendiri, karena Pak Rotter ini orangnya suka to the point dan lebih ke kognitif gitu yha, dia memberikan opsi hitam atau putih. Pertama yang punya kontrol penuh terhadap dirimu sendiri ialah dirimu sendiri (internal locus of control) atau karena orang lain dan lingkunganmu (eksternal locus of control). yha, sesederhana itu. 

Lalu?
Otak saya mulai bisa diajak berpikir, sebenarnya kualitas hidup itu siapa sih yang menentukan, apa saja faktornya, dan bagaimana mencapai kehidupan seperti yang dibayangkan, dan wah, locus of control ini sangat cocok sama kualitas hidup seseorang loh, dan karena saya adalah mahasiswa psikologi peminatan klinis, maka subyek akan saya berikan kepada pasien penyakit kronis, biar makin meyakinkan-lah anak klinisnya hahaha dan jadilah sebuah judul dengan variabel-variabel tersebut. Meskipun belum melakukan penelitian sendiri mengenai korelasi dua variabel yang saya angkat tersebut, namun semakin kesini, saya semakin yakin bahwa mereka ada dua hal yang saling berkaitan entah mana yang nantinya menjadi sebab atau akibat. Mungkin saya termasuk manusia yang mencintai logika dan mempercayai intuisi, karena dua hal ini sangat amat berperan penting dalam pengambilan keputusan dan penyimpulan sesuatu, dan disinilah saya merasa perlu menjabarkan latar belakang keyakinan tersebut.

Usia dua puluhan anak milenial memang dikatakan lebih mudah terserang stress. Menurut American Psychology Assossiason (APA) hal ini terjadi karena kita terlalu sering menyelesaikan masalah dengan mesin pencari, apa-apa serba cepat dan praktis, dan hal ini yang menyebabkan kita lupa bahwa hidup ini adalah sebuah proses. Tidak bisa cepat dan praktis. Hal ini tidak berlaku buat kalian, saya yang mahasiswa psikologi aja masih susah menerapkan apa yang sudah didapatkan di kelas dan tentu juga moody-an. Sering sedih dan overthinking kalau sedang sendiri, dan paling semangat kalau interaksi dengan orang lain. Dan kembali berterima kasihlah saya -yang lagi-lagi- setelah diskus dengan salah satu senior yang juga kuliah psikologi dan sedang berwisata kuliah exchange, di Aceh mengatakan bahwa ada unfinished bussiness dalam diri saya. Teori yang dikembangkan oleh Frederick Perls (1951) lewat bukunya yg berjudul Gestalt Therapy: Excitement and Growth in the Human Personality.

Unfinished Bussiness?

Baik, akan saya membuka bukunya, supaya tidak salah menulis dan menyebarkan informasi~
Jadi urusan yang tidak selesai ini adalah perasaan-perasaan yang tidak terungkapkan seperti dendam, kemarahan, kebencian, sakit hati, kecemasan, kedudukan, rasa berdosa, rasa diabaikan. Dan karena tidak diungkapkan, perasaan-perasaan itu stay here, deep in ur deepest heart dan selalu kita bawa kemana-mana dengan cara menghambat hubungan dengan orang lain dan pastinya diri sendiri (Corey, 2005). 

Polster dan Polster (1973) juga menyatakan bahwa arah-arah yang tak selesai itu mencari penyelesaian dan apabila arah-arah tersebut memperoleh cukup kekuatan, maka individu disulitkan oleh pikiran tak berkesudahan, tingkah laku kompulsif, kehati-hatian, energi yang menekan, dan banyak perilaku mengalahkan diri. 

Akibatnya? Oh tentu saja banyak.
Kalau urusan tidak selesai ini membentuk pusat keberadaan manusia, maka semangat pemikiran seseorang itu menjadi terhambat, dengan memaklumi sikap kurang bertanggung jawab atas dirinya. Idealnya, orang yang efektif adalah orang yang punya kebebasan terlibat secara spontan dengan apa saja yang diminatinya sampai minat itu terpuasakan. Dan orang yang berada dalam proses itu akan menjadi lebih fleksibel dan terbuka. ndak berputar dan fokus pada dirinya sendiri, ia lebih bisa berpikir jernih dan tidak overthingking pada hal-hal irasional yang justeru membuat dirinya sendiri terpuruk.

Jadi, Apa ya yang membuat kita mengalami hambatan dalam menyelesaikan unfinished bussiness?

Rasa sesal dan dendam terhadap masa lalu ((yang paling sering dan yang terburuk)).

The First Thing that I need to Realize Untuk melewati serangakaian acara tidak berakhir dari tahun-ke-tahun dengan unfinished bussiness ialah berdamai dengan diri sendiri, dan menyadari bahwa yang menentukan dan bertanggung jawab penuh dengan dirinya sendiri. Ya. Siapa coba? kalau bukan saya sendiri.
Yang menentukan saya mau sedih berlarut
yang menentukan saya mau cari alesan terus buat dimaklumi 
yang menentukan saya mau cari pembenaran atas kesalahan-kesalahan yang selama ini sudah terjadi
yang menentukan saya mau jadi lebih baik dengan lebih berhati-hati
yang menentukan saya mau lebih baik ya juga semua terserah saya
wong ini ya hidup-hidup saya
siapa yang mau bertanggung jawab atas diri saya kalau bukan saya yang menyadarinya

mungkin awalnya sakit dan susah (untuk menyadari semuanya), tapi memang ada ya awal yang mudah?

The Next is
Menerima. Bagaimana kita mau menerima kalau belum kenal dengan diri sendiri?
Terima semua perasaan sakit yang pernah kamu alami, terima semua proses yang menjadikanmu seperti sekarang, rasakan sesedih-sedihnya, sebahagia-bahagianya, rangkul semua emosi itu. Konon, katanya ((dosen favorit aku di kelas)) Pribadi yang sehat adalah pribadi yang mampu merasakan berbagai macam jenis emosi dan menerima semua itu. Tenang, setiap orang memiliki kelemahan dan kelebihannya, kita semua sama. Jangan merasa yang paling buruk, paling tertinggal, atau paling-paling yang lain. Toh, setiap orang pasti punya untold story that make they stronger. Kenali diri lebih baik lagi, buat tabel SWOT Analysis (strenght, weakness, opportunity, dan thread) maksimalkan yang menurutmu sebagai kelebihanmu dan tidak perlu menjadi orang lain. we are just need to be the best version of ourself right? :)

Kadang manusia-manusia itu suka lupa, kalau tiap dari kita punya perjalanan yang berbeda, karena kalau sama jadi bebek dong ((kata bapak aku sih)) 

The little thing we need to practice
Lalu jangan pelit-pelit juga bersikap baik untuk diri sendiri. Ini juga susah banget ya (kalau belum terbiasa) secara kita hidup di budaya sungkanan yang harus mementingkan perasaan orang lain dibandingkan diri sendiri, yang selalu  dituntut baik di depan orang lain, ya giliran di cadepan diri sendiri suka sekali nyalahin, dan jahat. Jangan ya, kasian dia (baca: dirimu) satu-satunya yang mau kamu tinggali bertahun-tahun lo, mari bersahabat dengannya.

The last but not the least
Ketika kita sudah mengenal, menerima dan memiliki kontrol penuh terhadap diri sendiri. semoga saja tidak ada alasan untuk menunda pekerjaan lagi, semoga tidak ada alasan untuk mengeluh dan mengasihani diri sendiri, semoga tidak ada alasan untuk menyalahkan dan merasa bersalah pada diri sendiri. Karena kita tahu apa potensi yang ada didalam diri kita masih terpendam, dan perlu dibangunkan memecah kecemasan yang terlalu sering menjadi penghambat untuk berbuat lebih dari yang dibayangkan terhadap diri sendiri. 

Kalau bukan kita yang percaya dan mau merubah diri kita, siapa lagi?
toh, pada akhirnya dan pada awalnya kita selalu sendiri. sejak dalam kandungan sampai di saat ajal nanti. jadi pendukung terbaik dirimu adalah dirimu sendiri. sama halnya dengan tulisan ini, tulisan yang aku tujukkan buat diriku sendiri dalam rangka memerangi kecemasan tak berarti, jangan khawatir Si, kamu bisa. sama seperti orang lainnya. selama kamu mau dan berusaha. 

Terima kasih teman-teman, sekali lagi, yang sudah mau capai-capai membaca self-talk versi tulisan milliku, semoga kita bisa saling menyelamatkan diri masing-masing. Maaf aku belum bisa membantu apapun, karena sebelum membantu orang lain aku harus menolong diriku sendiri dulu dong ya~
Doakan dua tahun kedepan aku bisa membantu teman-teman di tempat yang lebih profesional ya :)


Salam Hangat, 

sisi
1:47 AM
29 Oktober 2018


Welcome Party adik-adik Beswan 34

Nation Building September 2018

Study Observasi SMPN 4 Waru, 2011

Hiya, ini apa ya~ launching webnya senior~ setahun lalu ini, Desember 2017

Saya dulu pernah jadi dancer waktu SD, SEKIAN.

saya juga pernah jadi anak choir dong, waktu Nation Building di Semarang kemarin September 2018

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #intrapersonal #life #selftalk

Are You Okay?


"Beberapa orang memandangmu sepele, meremehkanmu, merendahkanmu, kurang menghargaimu, dan kurang-kurang lainnya. Tapi, Beberapa orang yang lain juga percaya kamu, mengakui kelebihanmu, mengerti hatimu, dan akan selalu mendukungmu. Percayalah Allah SWT sudah mengatur semuanya, beberapa orang dihadirkan untuk membangun kita menjadi lebih kuat, beberapa orang datang untuk membantu kita bangkit, dan beberapa orang menetap dalam kehidupan untuk menjadi bagian dari diri kita"
Perasaanku terhadap diriku
Bagaimana caranya agar aku selalu menyukai diriku sendiri sebanyak aku menyukai orang yang aku sukai?
Bagaimana caranya agar aku dapat menjadi sepenuhnya aku versi dewasa seperti yang aku bayangkan ketika masih anak-anak?Bagaimana caranya aku bisa bersyukur dapat terlahir sebagai aku?

Intimacy VS Isolated
Akhir-akhir ini, aku sedang memasuki tahap perkembangan dewasa awal, tahap dimana perasaan intimacy semakin dibutuhkan, namun perasaan terisolasi juga sering datang. Ternyata benar yang dikatakan Erik Erikson dalam teori Perkembangan Psikoseksual, bahwa di rentang usia 20-30 an, manusia cenderung ingin mendapatkan perasaan hangat yang lebih banyak dari biasanya, bukan hanya perasaan cinta dan kasih sayang dari internal keluarga, tapi juga cinta kasih dari ruang lingkup sosial yang lebih luas, perasaan cinta dari ruang lingkup persahabatan; yang "lebih akrab", "lebih nyaman", "lebih dekat", dan lebih-lebih lainnya. Namun, untuk mencapai hubungan tersebut, tentu tidak semudah ketika masa kecil, dimana letak geografis rumah yang berdekatan mampu menjadikan hubungan lebih akrab, atau pertemuan yang intens membuat kita otomatis merasakan kedekatan atau hal-hal lain yang dulunya sering kita anggap sebagai alasan terjalinnya sebuah persahabatan, lebih dari itu -setidaknya, aku berharap lebih dari itu- berharap hadirnya seorang teman yang bisa mengerti, mendengar, mengingatkan dan menghibur disaat kita sedang down, mengetahui perubahan-perubahan suasana hati bahkan saat aku sedang berusaha menyembunyikannya. Sempat juga datang masa  dimana aku ingin pergi ke tempat yang tidak ada seorang pun mengenalku. Lalu, aku memulai semua yang baru disana. Entahlah, semakin dewasa, aku rasa menjalin kedekatan dengan seseorang semakin banyak standart operation procedurenya, sampai pada akhirnya, kalau bukan diri sendiri yang mampu mengatasi berbagai goncangan, terpaan, dan badai dalam diri ini. siapa lagi? 

"Apa tujuan hidupmu?,"
Pertanyaan ini dilontarkan oleh Sintang, salah satu teman komunitasku beberapa hari lalu ketika kami sedang berkumpul. Aku menjawab sekenanya, bahwa aku ingin lebih bersyukur, dengan melihat, belajar dan mencoba menjadi bagian dari orang-orang kurang beruntung di pedalaman, aku merasa, aku bisa lebih banyak bersyukur dengan melakukan itu. Kecenderungan membanding-bandingkan diriku dengan orang lain -entah mengapa- semakin lama, semakin besar. Semakin luas lingkup sosialku justeru -di satu titik- menjadikanku lebih minder (kurang percaya diri). Lalu, tiba giliran salah seorang yang lain, menjawab pertanyaan tersebut. Perempuan berbadan semampai, berambut sebahu, dengan celana hitam dan baju bergaris horizontal mengatakan pendapatnya mengenai apa tujuan hidup terbesarnya, singkat, padat, jelas, "Belajar dan Bahagia,"

Belajar dan Bahagia
Perempuan yang dulunya ingin menjadi seorang polwan namun berakhir dengan duduk di bangku S1 Jurusan Psikologi UNAIR ini memang memiliki Self concept yang beda dan tentunya jauh lebih baik dari milikku sendiri. Sejauh ini, aku sering bertemu orang-orang yang sepaham denganku apalagi di usia yang masih dua puluhan . Jujur, aku juga sudah mengaguminya sejak kali pertama kami bertemu, Ia selalu mengusahakan datang ditengah kesibukannya, janjian sesuai jadwal yang ditentukan, dan ada banyak hal-hal lain yang sudah aku ambil pelajaran dari berteman dengan sosok dengan nama depan yang sama, -untung nama panggilan kami berbeda- Desy Putri Pertiwi, biasa panggilan Tiwi, Tiwi berkata hal yang lucu juga waktu itu, "apa cuma aku ya yang punya pikiran berbeda? aku nggak pernah si bandingin diriku sama orang lain, karena aku tau juga meskipun dia punya keahlian ini-itu, belum tentu dia memiliki keahlian yang aku atau kamu punya," kurang lebih begitu. Batinku cuma bilang, woah self awareness (kesadaran diri) nya udah mateng banget ya Tiwi ini, Keren. 

Conscious mind VS Unconscious mind
Istilah diatas sering kali dibahas dalam kelas "apapun" di jurusan Psikologi. Conscious mind adalah alam sadar yang kita miliki, seperti kemampuan membaca, kemampuan menghitung, dan kemampuan-kemampuan lain yang bisa kita pelajari selama kita mau belajar. dan Unconscious mind adalah kebalikannya, disini tempat tersimpannya memori -biasanya- sedih akan masuk ke alam ini, karena ya namanya juga sedih, kita pasti berusaha tidak mengingatnya, dan meskipun kita tidak ingin mengingatnya, ia masih tersimpan rapih dalam otak kita. Iya, "mereka" bersembunyi disini, hehe.

Teori-teori yang aku pelajari semua masuk ke Conscious mindku, lalu caraku mengambil keputusan, caraku berpikir dan hal-hal refleks lainnya datang dari unconscious mind. Maka jangan heran ya kalau ada anak Psikologi yang kurang "psikologi" (me as example) atau banyak anak yang tidak mempelajari psikologi  justeru lebih baik problem solving atau emotional intellegence nya. Semua ini bisa dipelajari tanpa harus mengenyam pendidikan S1 Psikologi kok, dan bahkan secara tidak sadar kita semua telah mempelajarinya sejak dari hari pertama lahir dimuka bumi.

Ini juga sudah tercantum di surat Ar-Rahman dan diulang berkali-kali "saking pentingnya"


 "Maka, nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan?"
Bahwa mindset membandingkan diri sendiri dengan orang lain adalah hal yang salah, dan tidak baik. Bahwa setiap orang memiliki ceritanya sendiri, memiliki perjalanannya sendiri, dan semua akan manis pada waktunya, selama kita berhenti "membandingkan". Allah sudah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya makhluk (dilengkapi otak buat berpikir, mata untuk melihat, dan hati untuk merasakan)
Tapi lagi-lagi, teori sekedar teori, bacaan sekedar dibaca, inilah representasi sadar tapi tidak menyadari, dan ketika sedang dilanda kalut, otak sudah tidak mau diajak kompromi atau berpikir lagi, maunya cuma terhanyut sendiri dalam kesedihan tak berujung dan anehnya kita sendiri juga yang menjadi penyebab kesedihan itu.
Aneh tapi nyata.
Manusia.
Sepertinya mempelajari ilmu tentang perilaku manusia (Psikologi) dalam kurung waktu 4 tahun di bangku universitas-pun tidak akan cukup untuk memahami manusia, orang kadang aku aja masih gatau tentang diri sendiri, boro-boro mau memahami tentang manusia lain.

Diri Ideal VS Diri Nyata
Dalam teori Psikologi Kepribadian Eksistensialisme milik Carl Rogers juga dijelaskan mengenai dua hal ini,

Diri Ideal ialah gambaran diri yang ingin kita capai, dan diri Nyata ialah bagaimana kita melihat diri sendiri saat itu juga. lalu, Bagaimana aku menilai diriku di mataku? Bagaimana kamu menilai diri kamu dimata masing-masing kamu? Kalau aku pribadi, aku sering berubah-ubah dalam menilai diriku, disatu titik pernah merasa begitu mengenal baik diri dan bersyukur, disatu titik juga pernah merasa, aku bukanlah sesuatu yang berarti. standart aja. Menurutku, karena aku orang yang juga cenderung ekstrovert dan menjadikanku begitu terpengaruh dengan penilaian orang lain, atau kadang juga merasa marah - marah sendiri dengan diri kalau sering tidak sesuai ekspetasi, apakah kamu juga pernah merasakan hal yang aku rasakan?

Mungkin kamu merasakan apa yang aku rasa atau kamu tidak merasakan yang aku rasakan. Tidak apa, manusia memang unik, dan tidak sama. Dan kembali lagi pada tujuan awal menulis di blog pribadiku ini ialah untuk intopeksi dan berbagi, barangkali ada diantara kamu yang dengan senang hati membaca curhatanku ini setidaknya bisa mendapat penguatan, dan dukungan dari tulisanku ini. Keep Calm, u're not alone.

Diri Nyata ini merupakan apa yang secara objektif ada dalam diri, seperti contoh, rambut hitam, pipi tembem, kulit cokelat, aku suka makan es grim, dan hal-hal lain yang memang merupakan bagian dari diri kita, dan diamini oleh orang-orang sekitar kita.

Kesenjangan antara Diri Nyata dan Diri Ideal ini adalah penyebab kita merasa cemas, khawatir, atau kalau bahasa teorinya Carl Rogers adalah Incongruen, keadaan diamana perasaan tidak menyukai diri sendiri karena pengalaman yang didapatkan tidak mampu membuat kita aktualisasi diri, dan hal inipun sering aku lewati, ketika apa yang aku bayangkan mengenai diriku -yang ingin juga bisa setara dengan orang-orang dilingkunganku- ingin aktif, atraktif, solutif, imajinatif, inspiratif dan tif tif lainnya, setelah di lapangan, nyatanya nol besar. Apa yang aku ekspetasikan mengenai diriku sama sekali tidak sesuai, dan kesenjangan itu terjadi. Menjadikan orang-orang lain sebagai parameterku, menginginkan menjadi seperti si dia, si itu, si ini, dan si - si lainnya. 

Sampai akhirnya, otak bisa diajak bersahabat lagi, dan yang aku inginkan adalah menjadi si Sisi. Bukan Si lainnya. Sampai pada akhirnya, mengerti apa yang dimaksud dengan istilah "bercermin" dimana ketika kita bercermin, kita tidak akan melihat orang lain selain diri sendiri. Sama seperti dalam kehidupan, sudah seharusnya kita tidak membandingkan diri dengan yang lain. Karena setiap orang pasti memiliki porsi mereka masing-masing, tinggal bagaimana kita terus belajar dan bahagia menjadi diri sendiri. Terus berusaha yang terbaik dan menjadi lebih baik dari diri sebelumnya, yang pastinya terus bersyukur masih diberi banyak limpahan rezeki (entah berupa materi, teman sejati, lingkungan yang supportif, dan masih banyak lagi) bahkan ketika aku masih sering kurang pandai mengucap kata Alhamdulilah di sela-sela fajar dini hari atau senja ketika adzan maghrib mengudara menentramkan hati.

Atau bahkan sekedar mengucap terimakasih pada kamu yang masih mau membaca curhatan ini sampai selesai. sekali lagi, Terimakasih :)

Surat Cinta Untukmu
Tenanglah, kamu tidak sendiri, aku juga merasakan hal yang sama denganmu, tapi sekali lagi, kita harus percaya proses, percaya Allah tidak tidur, terus lakukan hal yang kamu sukai selama itu positif, menulislah, melukislah, menyanyilah, menarilah, cobalah melakukan semua dengan hatimu, fokus! Aku yakin karyamu nanti pasti disambut banyak orang baik, sampai suatu saat kamu menyadari bahwa alam sedang berkonspirasi menyambut hangat kehadiranmu dimuka bumi [cc]


Referensi
https://www.verywellmind.com/the-conscious-and-unconscious-mind-2795946
http://psikologi.net/struktur-kepribadian-menurut-carl-rogers/
http://www.psikologiku.com/intimacy-vs-isolation-keintiman-vs-isolasi/
https://nadjaneruda.wordpress.com/2015/03/21/teori-kepribadian-sehat-menurut-carl-rogers/

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #life #selftalk #traveling #volunteer

Aku Jatuh Hati

Tiang Bendera tegak berdiri bersama Bendera Merah Putih Indonesia di SDN Tondomulo 3, Desa Tondomulo, Kecamatan Kedungadem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Indonesia
Liburan semester empat-ku memang terbilang panjang, sekitar dua bulan dua minggu. Dan beberapa hal sudah aku lakukan untuk mengisi kekosongan hariku -hari bukan hati loh yah heheh-. Bisa dibilang lebih sering diluar rumah juga, nggak  melulu dirumah nontonin Oppa-Oppa. Sebuah liburan yang terbilang lumayan produktif lah -dibandingkan yang dulu-dulu maksudnya- entah jalan-jalan karena ngetest intelegensi bersama beberapa lembaga psikologi, jalan-jalan di gedung prodi buat bantu akreditasi fakultas tipis-tipis, sampai menghabiskan waktu tiga hari di Bojonegoro bersama orang-orang yang akan aku ceritakan dibawah ini, untuk cerita selengkapnya. silahkan dibaca sampai habis. selamat membaca, semoga terhibur :)



12.00 WIB
Jum’at 25 Agustus 2017
Hari Baik!
Hari jumat saat itu jauh lebih spesial dari hari jumat biasanya, meski memang hari jumat sudah menjadi hari spesial bagi sebagian orang (Red orang muslim) selain karena hari jumat dianggap sebagai hari baik, hari jumat juga menjadi hari dimana orang-orang berbondong-bondong melaksanakan ibadah sholat jum’at.
Hari jumat 25 agustus kemarin, aku berangkat ke Desa Tundomula, Dusun Bunten, Kecamatan Kedungadem di Bojonegoro. Dalam rangka apa kesana? Dalam rangka kemaslahatan umat manusia. hehe. Iya, yang pasti bukan dalam rangka travelling biasa, karena sudah pasti tidak diberi restu dari orang tua seperti yang sudah aku ceritakan di beberapa curhatan cerita di Blogku sebelumnya.
Jadi Aku mengikuti acara rutinan sebuah komunitas 1000 Guru Surabaya. Kenapa ada surabaya nya? Iya karena dibagi domisili-domisili. Singkat cerita 1000guru dibuat oleh Jemi Ngadiono, seseorang yang memiliki hobi travelling dan fotografi, awalnya founder ingin berkontribusi lebih ketika jalan-jalan di destinasi travelling dengan mengajar anak-anak sekitar. Ia merealisasikan dengan membuat sebuah akun di sosial media dengan memberitakan keadaan realita pendidikan di pedalaman pelosok negeri, namun kini berkembang dengan melakukan aksi sosial nyata dengan turun langsung membantu pendidikan anak-anak pedalaman negeri. Dimulai dengan tiga orang teman hingga akhirnya sekarang menjadi sebuah komunitas dengan jumlah total 35 region. Surabaya salah satunya, yang sudah berdiri sejak tiga tahun silam. (selengkapnya bisa cek di https://seribuguru.org)
Meeting Point
Indonesia memang tidak terlepas dari kata molor. Sesuai dugaanku, mungkin kita baru berangkat pukul 14.00 WIB, dan memang kita tidak bisa berangkat sesuai jadwal karena ada beberapa kendala yang salah duanya dari Tim dan Volunteer, jadi sama-sama faktor penyebab telat sih pada dasarnya. Hehehe
Kak Lambert ­–kenapa namanya aku garis miring in, karena namanya bule banget wkwk- yang jadi salah seorang volunteer medis masih ada tugas negara di rumah sakit tempatnya jadi co-as. Selain itu, dari tim seribu guru sendiri juga masih ada beberapa barang logistik yang belum dikirm bapak gosend. Alhasil kita baru meluncur sekitar pukul 16.00 WIB, mundur 4 jam dari yang dijadwalkan.
Tapi perjalanan juga tidak terlalu terasa –bagiku– karena sesungguhnya aku selalu menikmati sebuah perjalanan dan betah mengalaminya juga. Di Truk TNI temen-temen tim dan volunteer TnT15 saling mendekatkan diri dengan bermain sebuah permainan –yang sumpah aku baru pertama kali denger, entah aku terlampau kudet apa gimana ya-  tapi aku memang baru belajar permainan-permainan itu sama mereka.
Jadi ada beberapa permainan logika macam tes TPA buat masuk Universitas gitu, jadi pertanyaan dan jawabannya ada logika tersendiri dan tidak dijawab secara harfiah. Misal nih ya, permainan Bumi Itu Bulat. Apabila ada angka yang ada lingkarannya itu merupakan jumlah hasil pertambahannya. 10+1 jadi ya hasilnya 1. Bulatnya yang diitung. Ada ‘Around The World’, ‘Tepuk nyamuk’, ‘Observasi Lingkungan’, ‘Sastra Matematika’, ‘Dunia Digital’, apa lagi yah, saking banyaknya sampai bingung. Dan intinya waktu pulang ada beberapa permainan yang masih menyisakan sebuah misteri –oke aku mau searching setelah tulisan ini kelar-
Tapi sungguh, waktu mereka semua tertidur di dalam mobil –truk TNI sih lebih tepatnya- aku masih betah ngobrol sama kak Almira yang anak Psikologi Ubaya (mau lulus dan kita doakan bersama-sama supaya segera naik ke pelaminan juga) dan Kak Rani (mahasiswa yang satu jurusan sama Soe Hoe Gie Cuma bedanya dia kuliah di UNAIR, penyuka puisi-puisi karya Sapardi, juga musakalisasi puisi-nya Ira, mau lulus juga, doakan ya) entah kenapa batraiku ga abis-abis. Mungkin hormon oksitosin, serotonin sama adrenalin teralalu tinggi.
Sepanjang perjalanan semua terasa lancar – lancar aja. Sampai tibalah kita di tempat kepala dusun Bunten, dan ini merupakan akses terakhir sebelum kita memulai memasuki another side of the world, di dramatisir biar seru! Hahaha. Dan jam sudah menunjukkan pukul 23.00, dan kita masih istirahat agak lama karena –yang aku juga kurang tahu kenapa- sepertinya menunggu kepala dusunnya.
Yasudah daripada nganggur. Duduklah aku dengan kakak-kakak volunteer lainnya, menatap bintang-bintang yang sangat nampak 3D kerlap kerlipnya, itu terjadi karena sedikitnya polusi udara disini. Kita sharing-sharing soal sistem pendidikan di masing-masing instansi atau pengalam tempat kerja kakak-kakak yang sudah menjadi pengara berlisensi resmi alias Guru dengan gelar S.Pd. Selama kurang lebih setengah jam istirahat, kita bisa lanjut perjalanan.
Selamat datang di wahana terheboh 2017
 Ditemani dentuman suara mesin khas truk – truk TNI, tumbuhan-tumbuhan liar yang melambai-lambai minta bersalaman lewat jendela dan salju-salju yang putih yang sayangnya salju kali ini bukan dari langit melainkan dari tanah dan bebatuan kapur yang menyatu dan beterbangan di antara kita, akibat gesekan kuat dari ban truk dan tanah dan lampu putih remang-remang yang menyilaukan mata. Ini adalah perjalanan paling seru selama 20 tahun hidupku, ya mungkin memang karena aku belum pernah travelling kemana-mana juga ya. hehe Jadi agak norak sih emang.
Jadi kami (aku dan temen-temen 1000guru lainnya lah pastinya) berada di tengah-tengah hutan selama kurang lebih selama tiga jam.
Dikoyak, digoncang, dilempar, diombang-ambingkan oleh alam, di tengah malam sabtu yang bertabur bintang (sayang ga bisa lihat bintangnya soalnya truknya ga ada jendela kebuka kayak di mobil-mobil ala film hollywood itu sih :’)
Di kondisi seperti ini (bisa dibayangkan sendiri kan ya, gimana serunya naik wahana semacam ini selama tiga jam di tengah hutan pula) manusia memang memiliki berbagai cara untuk merespon stimulus yang diterimanya. Ada salah seorang teman saya, dia volunteer dari Poltekes (politeknik kesehatan), Tiwi Namanya. Dia adalah perempuan paling tangguh selama perjalanan 7 jam terakhir. Kenapa paling tangguh? Dia sanggup tidur dengan pulas diatas bangku besinya dengan kondisi terguncang seperti itu. Bisa dibayangkan, bagaimana sistem tubuhnya menjaganya agar tidak terganggu oleh distraksi apapun yang diberikan oleh lingkungan kepadanya. Hehehehe. Ka Tiwi saya salut dengan kamu! Wkwkw
Sementara saya dan salah seorang Volunteer cantik asal Universitas Ciputra, kak Aida namanya, sibuk memantau apa yang sedang terjadi didepan, lewat jendela kecil dibalik kursi pengemudi. Karena dia jurusan arsitektur interior, yang pasti punya kecerdasan spasial yang bagus, dan akhirnya sikap wartawanku muncul, “Da kira-kira ini berapa meter ya lebar jalanannya, kok kayaknya truk nya maksa press banget lewat jalanannya?”,”ini mungkin sekitar 3 meter, 2,5 meter lah paling kecil,”.
“Jadi bener deh, jalanannya sempit banget, keren dah bapak TNI nya yang nyupir bisa lewat jalan sekecil ini,” batinku. Saking serunya jalanan dengan polisi tidur alami dari bebatuan kapur -yang tidak sempat ku hitung berapa karena saking banyak goncangan yang diciptakannya- mampu menggeser beberapa barang-barang didalam truk, untungnya ga sampe nge-geser otak gitu ya. Tempat duduk ditengah-tengah juga sudah ngga karuan bentuknya dikarena tergeserkan oleh guncangan-guncangan hidup –bukan hidup sih, guncangan karena batu kapur tadi maksudnya- dan manusia-manusia berbehel sepertiku juga terkena imbasnya. Jadi permukaan dalam mulutku dengan na’asnya harus beradu dengan besi-besi asing yang menempel di gigiku. oleh-olehnya adalah sariawan. Nice. Setelah perjalanan penuh intrik ditengah hutan malam-malam. Akhirnya kami sampai juga, tapi belum sampai lokasi.
12.35 WIB     
Sabtu,  26 Agustus 2017
Penantian di bawah MilkyWay Bojonegoro
“Akhirnya aku keluar juga dari wahana truk TNI yang super seru itu,” kataku lega dalam hati. Iya, kami sudah –hampir- tiba di lokasi sekolah. Tapi harus jalan 1000langkah anlene dahulu. Yang membuat perjalanan ini semakin indah adalah, kita bisa melihat banyak sekali bintang dilangit dan dengan sangat jelas. Pemandangan yang jarang ada di Surabaya. Saat aku tanya perkiraan jarak untuk berjalan, Kak Rani bilang kalau kami harus jalan sekitar 2 Km. Tidak seberapa jauh juga, kalkulasi dalam otakku saat itu. Dan dengan semangat aku menjadi orang pertama yang mengikuti mas-mas nya yang memandu dibarengi Kak Rani. Mungkin terlampau, entah semangat atau pingin cepet-cepet istirahat. aku jatuh terpeleset ketika melewati tanah bercampur serbuk kapur. Itupun dua kali. Aku mencoba menutupi rasa maluku dengan bilang ke Kak Rani kalau aku memang sudah sering terpeleset begini semenjak kecil, jadi emang udah biasa –tapi emang asli dari dulu sering banget kepeleset, jatuh dan sejenisnya sih, mungkin karena sifat ceroboh dan nggak sabaranku–
Dengan tetap percaya diri (PD), aku melangkah maju tegap melanjutkan rangkaian pengalaman baru yang selalu kunanti – nanti sejak kecil –menjelajahi tempat baru dan belajar darinya-.
Sejak kecil emang sudah punya banyak ekpetasi besar di kehidupan masa depanku. Dasar sisi si tukang ngayal, hehehe. Salah satu kutipan dari novel favoritku, Paper Town, juga pernah membahas masalah ini, ”Membayangkan memang tak sempurna. Namun membayangkan menjadi orang lain, atau dunia menjadi sesuatu yang lain, adalah satu-satunya cara untuk memahami,” (Paper towns, pg.344). jadi aku semakin hobi berangan-angan deh ya, selama masih gratis, dan itu juga jadi penyemangat tersendiri J
Dan yey jam 01.00 WIB aku dan Kak Rani orang pertama yang sampai di rumah pak kepala desa. Eheheh. Makan, cuci tangan, cuci kaki, dan cuci wajah, adalah prosesi sakral sebelum tidur yang mempengaruhi kualitas tidur seseorang. Dan semua sudah aku lakukan sebelum tidur. Alhasil nyenyaklah tidur singkatku di malam pertama di dalam ruang kelas SDN Tundomulo.
04.30 WIB
Pagi Hari yang kelewat Cerah
Alarm mulai bersautan dibalik tas satu ke tas lainnya dan empunya ternyata masih pada terlelap nyaman diatas tikar, dibalik jaket masing-masing. Termasuk aku, yang sudah dibangunkan alarm selama kurang lebih setengah jam yang akhirnya sadar juga kalau sudah saatnya hidup kembali.
Tau lirik lagu anak-anak “bangun tidur kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi?”
Oke, kali ini lagu itu tidak sesuai realita. Ya, meskipun dirumah juga aku ga langsung mandi sih. Tapi intinya, disana air memang agak susah, jam air bisa keluar dari kran cuma sembilan jam, dari jam 7 sampai jam 4 sore. Itupun alirannya kecil. Sempet mikir juga, padahal di gunung tapi kok susah air ya. Terus tersadar lagi, ohiya sih ini kan gunung kapur ya bukan gunung biasya.
Pada pukul enam pagi sebagian besar dari kami sudah ada di dalam kelas buat besih-bersih diri dan pindah basecame, dari kelas ke ruang guru.
Sebelum itu pastinya, kita sudah isi energi dulu lah ya. Beda sama kemarin, hari ini makan kita langsung pakai daun pisang, udah kerasa pedesaannya banget kan. Mungkin selain hemat piring cucian, juga meminimalisir makanan sisa, soalnya kalau ga habis bisa di geser gitu ya, terus dimakan sama kakak-kakak yang cowok.
Pagi itu ada yang seru juga selain selembar daun pisang, yaitu Adik Tya –salah satu murid SD Tundomulo- yang awalnya ngaku kelas tiga sekolah dasar, padahal ya masih kelas satu. Dasar anak-anak selalu pingin ditambah-tambahin. Hehe
Jadi ceritanya dia datangnya sebelum jam bel berbunyi dan ikut makan bareng teman-teman Segur (red 1000 guru), iya biasa aja ya padahal cuma makan bareng. Nah, bukan disitu serunya. Jadi menu makan kami disini memang back to nature banget. Banyak sayur-sayuran baru yang aku coba disini, dan semuanya enak. Sungguh, ini bukan pencitraan. Ok, kembali ke Tya, jadi pas lagi makan, dia makan sama Kak Almira. Si Tya ini ga seberapa suka lauk pauk daging. Tidak seperti kebanyakan anak-anak kecil yang susah makan sayur, justeru dia suka makan timun, ditambah sambal sebagai penyedap rasa, meski di akhir harus ditutup dengan cerita kepedesan juga sih, hehehe. Lucunya lagi dia bilang timun dengan sebutan kriuk kriuk yang biasanya kita anggap itu sebagai kerupuk. Bagi Tya itu maksudnya minta timun.
Ternyata Indonesia belum Merdeka
Hari ini rundown dimulai pukul delapan dan diawali dengan apel pagi yang dipimpin langsung oleh bapak kepala sekolah SDN Tondomulo 3. Ia menertibkan barisan para murid dengan bahasa ngalor dan ngidul (red, Kanan dan kiri). Pantas saja ketika kakak-kakak menginstruksikan arah dengan bahasa kanan kiri, pada kebingungan semua.
Lalu acara dilanjut dengan cara mencuci tangan yang benar. Yang dipandu oleh ibu - ibu dokter cantik Kak Ega dan Kak Ani di halaman sekolah kala itu. Adik-adik semangat mengikutinya. Dan masih berlanjut dengan agenda sikat gigi pagi. Dan Bu Dokter Gigi  Ummu kali ini yang memberi intruksi. Setelah semua acara di pagi hari yang cerah ini selesai -kira-kira sampai jam sepuluh siang- barulah volunteer yang telah dibagi menjadi tim-tim mulai melaksanakan tugasnya.
Aku satu tim dengan Kak Ana. Sekilas cerita mengenai Kak Ana ya, ia sudah menjadi guru di SMP Al-Falah Tropodo selama 14 tahun. sosoknya yang keibuan namun penuh rasa semangat sempat membuatku tidak menyangka usianya kini sudah menginjak tiga puluh delapan tahun, ia juga sudah memiliki satu orang anak yang sekarang duduk dibangku kelas tiga smp. Aku merasa sangat beruntung menjadi partnernya Kak Anna, selain ia orang yang sudah bisa menguasai lingkungan, pembawaan ngemong nya juga dapet.
Mungkin sekitar jam setengah sepuluh pagi kami baru memasuki sebuah ruang kelas dengan tulisan “SMP PGRI Tondomulo”. Sebuah kelas sederhana dengan dinding yang terbuat dari gedeg (bambu yang di anyam) berwarna hijau tosca, didalamnya hanya berisikan 6 bangku dan 6 pasang kursi. Dengan satu buah jendela tanpa kelambu, Cahaya-cahaya siang Bojonegoro berdesakan ingin masuk ke dalam ruang kelas kaca buram jendela dan celah dinding dinding gedeg.
Jujur, sejak kecil aku jarang sekali travelling –mungkin bisa dibilang tidak pernah- kalaupun iya, aku selalu cuma sekedar pergi ke tempat-tempat wisata mainstream bersama keluarga. Dan ini adalah pengalam pertamaku mengajar di sekolah pedalaman begini. Di tempat yang biasanya Cuma aku lihat lewat layar kaca.
Ternyata sekolah macam laksar pelangi itu ada di tanah jawa, pikirku.
Dulu ketika menjadi guru anak berkebutuhan khusus juga rata-rata dari keluarga berada. Ya, mungkin benar, pendidikan yang tidak merata masih menjadi PR besar negara ini. Indonesia memang terlalu besar untuk diurus atau terlalu banyak yang kurang peduli dengan lingkungannya? Entahlah. Sejauh ini aku mungkin masih terlalu dini kalau aku yang menyimpulkan semuanya.
Masih banyak hal yang belum aku ketahui, bahkan tentang diriku sendiri. Apalagi tentang Indonesia, sebuah negara yang sebegini besarnya.
Materi yang akan diberikan kepada adik-adik bertemakan ‘keanekaragaman alam’ dan ‘Kemerdekaan Indonesia’. Memang #TnT15 kali ini mengusung tema kemerdekaan karena masih berada di bulan agustus.
Untuk tema keanekaragaman hayati dipilih karena Kabupaten Bojonegoro yang terkenal akan hasil minyak buminya yang berlimpah. Tapi kenyataan memang kadang tidak adil, meski kabupaten ini kaya hasil minyaknya, buktinya anak-anak di Desa Tondomulo masih belum bisa mendapat pendidikan yang layak.
Proses belajar dimulai ketika Kak Ana menyapa mereka dengan ceria. “Assalamualaikum adek-adek,” sapanya. Setelah menyapa Kak Ana dan aku memperkenalkan diri dan bertanya nama mereka. Oh iya. Bukan cuma nama tapi juga cita-cita mereka. Kami mengajar 4 orang murid yang hebat dengan cita-cita dua guru dan dua lainnya bercita-cita menjadi Polwan (polisi wanita).
Perkenalkan Murid-Murid Kami yang Hebat
Murid pertama bernama, Anis. Dia gadis dengan tubuh yang proporsional, kulit kuning langsat dengan seragam dan kerudung coklat, yang membuatnya telihat seamkin manis dan sedap dipandang. Perempuan yang lahir dari keluarga petani ini memiliki cita-cita menjadi seorang polwan. Dia termasuk murid yang sedikit pemalu.
Murid kedua kami memperkenalkan diri sebagai Novi. Kulit sawo matang, gigi putih dan senyum ikhlas terulas dari bibirnya, cerah menyemangati kami kala itu. Dia adalah murid yang terlihat paling mengikuti tren kekinian. Selain menjadi satu-satunya murid yang sudah mempunyai handphone. Novi sendiri juga sempat menggodaku dengan memanggil Mbak Prili, sepertinya dia mengikuti serial ‘Boy’ di televisi. Tak hanya itu, aku sering juga memperingatinya untuk fokus pada materi dan meletakkan hpnya. Sama seperti Anis, Novi juga lahir dari pasangan seorang petani di Desa Tondomulo dengan cita – cita menjadi seorang polwan.
Murid ketiga kami adalah laki-laki satu-satunya di kelas delapan. Aris namanya. Mungkin karena laki-laki satu-satunya, dia menjadi murid yang paling pendiam. Tingginya yang masih kalah dengan teman-teman perempuan seusianya, menandakan dia belum memasuki masa pubertas. Rumah Aris tidak terlalu jauh dari sekolah, cukup berjalan sekitar 10 menit di jalan setapak di atas sekolah. Selain itu, ia juga dari keluarga petani dan tinggal bersama orangtua dan neneknya, cita-cita Aris berbeda dengan dua teman perempuan lainnya, ia ingin menjadi seorang guru.
Murid terakhir ini merupakan murid perempuan dengan kulit sawo matang dan tinggi badan kira-kira 150cm. Dan memiliki nama panjang yang paling pendek, Pera. Karena Saat aku tanya siapa nama panjangnya, ”Cuma Pera, kak,” jawabnya. Ia terlihat sangat berwibawa dan sopan. Saat ditanya nama saja, ia menyebutkan nama dengan diakhiri seulas senyuman manis dengan tidak memperlihatkan giginya. Ia juga memiliki seorang adik yang  masih SD, dan sekolah di SDN Tondomulo 3 juga. Pera bercita-cita menjadi seorang guru. Dan sama seperti anak-anak lainnya, orangtua Pera bekerja sebagai petani.
Setelah perkenalan kami di dalam ruang kelas, aku dan Mbak Ana segera  mengajak mereka keluar kelas. Karena tidak kondusif kalau satu ruang ada dua jenjang pendidikan. Iya. Kelas delapan memang biasanya berbagi ruang kelas dengan teman-teman kelas sembilan.
Kak Nanda, salah satu tim yang juga sebagai ketua panitia dengan sedikit terburu-buru menyiapkan tikar sederhana untuk sarana pembelajaran kelas kami di depan ruang kelas tadi, oiya papan tulis dan kapur juga diambilnya yang entah dari mana.
Dan pembelajaran dimulai dari materi milik Kak Ana. Ia menyampaikan materi keanekaragaman alam indonesia dengan memberikan beberapa foto hewan-hewan yang ada di Indonesia. Sebelumnya, Kak Ana juga memberi beberapa pertanyaan untuk memancing keaktifan mereka. Ada banyak hal diluar perkiraanku. Ternyata masih banyak hal yang belum mereka pelajari. Ibukota propinsi jawa timur misalnya, ketika ditanyai oleh Kak Ana mereka tidak bisa menjawab. Ketika menunjukkan pulau-pulau di Indonesia pun, mereka juga tidak ada yang tahu. Akhirnya kelas dimulai dengan mengenalkan pulau-pulau di Indonesia dahulu lalu dilanjutkan dengan mengenalkan hewan-hewan yang menjadi khas masing-masing daerah. Lagi-lagi hal ini terjadi diluar ekpetasiku, ternyata hewan-hewan juga banyak yang belum mereka kenali. Orang utan, burung cenderawasih, harimau sumatera dan beberapa hewan dan peta Indonesia yang dibawa kak Ana lewat foto itu membuat mereka akhirnya mengenali beberapa kehidupan diluar desa mereka.
Mungkin teori time flies when u enjoy it itu benar. Tidak terasa kakak-kakak panitia mengingatkan waktu kurang 45 menit lagi sebelum jam istirahat.
Akhirnya terjadilah perpindahan materi keanekaragaman alam indonesia dengan materiku, Kemerdekaan Indonesia. Karena waktu untuk membuat materi ini cukup lama (harus menempel dan mencocokan dulu) maka mulailah saya dengan segala kertas-kertas yang ada di tas mengajar khusus.
 Aku memulainya dengan pertanyaan pertama. Apasih proklamasi itu?. Mata mereka saling bertemu, tapi tidak ada yang berani menatap mataku. Mereka hanya menunduk. Lalu aku sadar, mereka baru mendengar kata proklamasi untuk pertama kalinya.
Aku dengan keterbatasan ilmu dan pengalaman mulai cemas dan kewalahan.
Aku memang sengaja mengambil materi ‘Sejarah Proklamasi Kemerderkaan Indonesia’ karena sebelumnya aku melihat kurikulum anak tingkat SMP kelas delapan sudah belajar sampai mana. Dan iya, itu adalah kurikulum yang ditetapkan pemerintah untuk anak-anak SMP dengan fasilitas sekolah serba lengkap. Bagaimana bisa aku menyamakan kurikulum yang aku cari di internet dengan kenyataan langsung di desa pedalaman seperti SMP PGRI Tondomulo.
 Aku memang kurang pertimbangan, harusnya kan sudah tahu kalau pendidikan di kota dan didesa tidak bisa disamakan. Lagi-lagi, kurikulum dari pemerintah ini hanya sekedar formalitas bagi pendidikan-pendidikan di daerah yang serba terbatas.
Pertanyaan yang paling dasar seperti kapan hari kemerdekaan Indonesia saja mereka tidak ada yang bisa menjawab. Sungguh, itu semua benar. Indonesiaku nyatanya masih belum merdeka, setidak-tidaknya di mata mereka.
Lihat saja, anak-anak disini tidak tahu apa itu proklamasi, siapa presiden pertama Republik Indonesia, dan ada apa di tanggal 17 Agustus 1945.
Senangnya jadi partner Kak Ana, ia yang selalu bertindak yang dengan sigap ketika tau kecemasanku waktu itu. Entah membantu intermeso ngajak mereka ngobrol bahasa jawa, sampai tiba-tiba mengeluarkan jajanan buat reward mereka.
Sempat agak pesimis, YaAllah sepertinya terlalu jauh materi ini buat mereka. Tapi mau ga mau materi ini tetap berlanjut. Maka mulailah aku bercerita kronologis proklamasi kemerdekaan Indonesia. Lalu tugas mereka mengurutkan dan menempelkannya rentetat kronologisnya di kertas manila. Sempat kebingungan juga waktu mencocokkan antara tulisan dan gambar, jadi kak Ana dengan sangat-sangat perhatiannya membantu mereka menemukan potongan-potongan cerita.
Aku meminta mereka membaca dengan keras agar semua bisa mendengar ceritanya. Meski awalnya mereka terlihat kurang semangat, tapi setelah diberi reward oreo dan permen milkita setelah selesai membaca bagiannya, mereka langsung berebut menjadi seorang pembaca cerita. Hehehehe.
Tapi terlepas dari semua itu, mereka memang memiliki semangat belajar yang tinggi. Terbukti dari usaha mereka buat membaca satu demi satu kalimat yang tertulis diatas kertas dan dengan bahasa yang –mungkin begitu- asing ditelinga mereka –karena bahasanya wikipedia sekali-.
Sebagian masih membaca dengan terbata-bata dan membaca dengan pelan.
Ohiya, aku mau cerita mengenai Pera, perempuan yang paling tinggi itu. Dia sangat jenius, hampir setiap diberi pertanyaan olehku atau oleh Kak Ana dia adalah orang pertama yang menjawab. Dia juga selalu yang ter-semangat ketika diminta membacac cerita meski belum ada rewardnya ketika di awal-awal itu.  
Sesi terakhir dalam proses belajar ini adalah heart to heart. Sesi ini semacam sesi wawancara dan observasi ya kalau di kuliahku. hehe. Ya semacam PDKTnya gitu. Kita bertanya-tanya mengenai cita-cita mereka, kenapa mereka memilih cita-cita itu, dan memotivasi mereka supaya semangat belajar terus.
 Banyak hal yang aku dapat disini. Salah satunya, aku jadi tahu ternyata rata-rata dari mereka adalah keluarga petani yang setiap harinya harus menempuh jarak beberapa meter dengan berjalan kaki di bukit-bukit kapur dengan berbagai medan, belum lagi kalau musim hujan. Aktifitas mereka sehari-hari di rumah selain bermain tentunya membantu orangtua, Aris salah satunya. Tugasnya dirumah adalah mencari kayu.
 Akses air disanapun sangat susah, dan sudah dipastikan tugas menimba air merupakan kegiatan sehari-hari anak-anak di Desa ini.
Banyak hal yang aku pelajari dari tempat ini, desa ini, murid-murid disini dan masyarakatnya juga.
Setelah sesi belajar mengajar sudah selesai, lanjutlah sesi minum susu bersama dan menempelkan bintang harapan (bufalo berbentuk bintang yang sudah diberi nama dan cita-cita).
Semua anak berkumpul di kelas yang sudah diberi tempat untuk menempel bintang mereka masing-masing. Riuh keceriaan terdengar dari segala penjuru ruang dan waktu. Aku yang tidak menjadi anak-anak saja bisa merasakan euforia mereka.
Betapa bahagianya melihat senyuman senyuman terjejer rapi di depan kelas. Mereka  diminta maju kedepan, memberi salam, memperkenalkan diri, dan memprokalmirkan cita-cita mereka. Diselingi canda tawa dari kakak-kakak volunteer dan tim yang meneriaki kata ‘Aamiin’ setiap kali mereka selesai mengatakan cita-cita mereka. Sungguh pemandangan terindah yang pernah aku selama duapuluh tahun terakhir.
Untungnya pemandangan indahku ini tidak segera berakhir, karena pada pukul dua siang nanti mereka akan kembali untuk mengikuti lomba-lomba Agustusan yang sudah disiapkan kakak-kakak. Hehehe.
Sewaktu mereka pulang kerumah masing-masing. Aku, dan beberapa kakak-kakak mengantarkan sembako ke rumah beberapa siswa yang salah satunya adalah muridku sendiri, Aris. Jadi, sewaktu itu Aris yang langsung menuntun kami menuju rumahnya. Saat sampai aku cuma bisa bertemu dengan neneknya, sepertinya orangtua Aris masih ada di sawah.
Baby Shark ala Seribu Guru Surabaya
Adik-adik ini terlewat semangat. Mereka sudah ada di sekolah setengah jam sebelum acara dimulai. Dan perlombaan bisa dimulai ketika semua murid sudah berkumpul di halaman sekolah. Aku lupa ada berapa lomba, sepertinya tiga. Lomba pertama memindahkan karet dengan sedotan, lomba kedua lomba menggiring bola dengan kayu yang diikatkan ke pinggang lima anak (ya bisa dibayangin kan yha), terus yang paling seru adalah lomba terakhir, lomba rebutan kursi sambil nyanyi, hehehe.
Disini ada kisah mencengangkan, kisah seorang anak SD yang menyanyi Indonesia Raya diiringi tangan dengan gerakan baby shark, usut punya usut ternyata dia habis diajari ngedance sambil menyanyi lagu baby shark yang sedang viral itu sama kakak-kakak Segur. Sampai kebawa gitu pas nyanyi lagu lainnya ya. Sungguh, ekspresi wajah polosnya sambil menjentikan ibu jari dan telunjuk ala-ala baby shark, wajah konsentrasinya buat fokus ke kursi, ditambah semangat menyanyi lagu Indonesia Raya-nya sungguh memesona semua mata.
Pertandingan Paling Kompetitif Sepanjang Masa
Jam sudah menunjukkan pukul 15:30 WIB. Beberapa warga desa mulai berdatangan untuk memeriksa-kan kesehatan mereka di fasilitas kesehatan gratis yang menjadi agenda terakhir Segur Surabaya. Anak-anak mulai berlarian kesana-kemari, sibuk dengan permainan mereka sendiri. Sebagian ada yang pulang, sebagian lagi ada yang memilih menetap.
Lagi-lagi aku dibuat terpukau oleh mereka. Melihat beberapa anak Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang sedang asik bermain bola, akhirnya aku dan Kak Aida memilih bergabung bersama mereka. Aku satu tim sama Kak Aida dan melawan mereka adek-adek PAUD ku yang unyu. Ya jelaslah, menang terus aku sama Kak Aida. Hehe. Namun semua berubah saat berdatangan beberapa anak dari tingkat SD yang menantang aku dan Kak Aida, padahal Kak Almira sudah bergabung dengan tim perempuan tangguh kami.
Tapi skill dan usia emang tidak bisa membohongi, lalu entah bagaimana ceritanya kakak-kakak seribu guru yang pada jago-jago bermain bola -yang awalnya cuma bagian tim penggembira dan dokumentasi- menjadi bagian dari tim ‘mereka’. Dan terjadilah, permainan bola yang awalnya cuma buat happy happy menggelabui anak-anak PAUD, berubah menjadi kompetisi besar bak sedang jadi anggota timnas yang membawa nama baik Negara Indonesia.
Yang jelas aku, Kak Almira dan Kak Aida mengaku kalah. Daripada badan pada njarem semua karena ngga pernah olahraga, yakan?
Hari semakin sore, tim medis sudah mulai menyalakan senter dan penerangan tambahan lainnya buat proses check up warga desa yang masih panjang. Karena –sepertinya- lampunya belum bisa dinyalakan.
Malam Minggu bersama Mereka
Hari semakin sore dan segala rangkaian kegiatan hari ini diakhiri dengan baik.
Menjadi malam minggu terbaik bahkan.
Kenapa?
Pertama karena malam minggunya nggak dirumah,
kedua karena malam minggunya berfaedah,
ketiga karena bersama orang-orang tercinta.
Malam minggu kala itu, diagendakan acara heart to heart, tapi bukan heart to heartnya adek-adek yah. Ini heart to heartnya sesama tim dan volunteer #TnT15. Atau yang tertulis di jadwal adalah sharing session.
Ada beberapa hal yang aku rasa bukan aku saja yang merasakan hal itu, yang ternyata pengajar yang lain juga begitu. Salah satunya, masalah transfer materi ke adek-adek.
 Karena diawal sudah aku cerita, bahwa aku merasa mereka kurang dapat memberikan apa yang mau sampaikan. Yang ternyata terkendala oleh ‘bahasa’. Sebagai mahasiswi yang belajar ilmu psikologi dan termasuk rajin belajar juga -gila pede banget ini hehe- ternyata belajar di buku sama di terjun lapangan itu proses belajar yang sangat beda jauh.
Saat di Sharing session, malam minggu bersama Seribu Guru, semua mengatakan ada beberapa hal diluar dugaan mereka. Seperti kasus adik yang bernama Yanto. Jadi, dia ini ternyata baru bisa menulis namanya saja, padahal sudah kelas empat. Ada cerita lain lagi dari kelas dua SD, aku lupa namanya siapa, tapi Si Adek ini di pegang sama Kak Siana dan Kak Lucy. Sejak awal dia memang sudah terlihat berbeda dan guru-guru sudah menjelaskan kepada kami bahwa dia adalah murid dengan kebutuhan khusus. Katanya, karena terlalu banyak mengonsumsi obat, yang aku sendiri juga kurang tau obat semacam apa, apa vitamin, obat batuk, obat tidur atau apa. Yang jelas Si Adek ini jadi agak dalam berkomunikasi.
Bicara soal komunikasi. Salah satu tantangan proses belajar dan mengajar hari ini adalah komunikasi. Hal ini sudah dijelaskan oleh Mbak Ana , mengenai bagaimana caranya memberikan informasi menggunakan bahasa mereka, bahasa yang sesuai tingkat pendidikan mereka.
Dan iya, Jujur, aku sebagai mahasiswi yang sedang belajar ilmu psikologi di bangku kuliah, merasa selama ini apa yang aku pelajari di dalam kelas cuma sebatas ‘tahu’, sebenarnya aku belum ‘mengerti’ apapun. Memang benar kata ayahku, belajar itu tidak hanya sebatas dua dimensi, harus tiga dimensi. Dan dengan turun langsung ke masalah adalah  proses pembelajaran terbaik. Bukan sekedar teori dari textbook.
Walaupun aku sudah lulus matakuliah Psikologi Pendidikan, Psikologi Lintas Budaya, Psikologi Kepribadian, Dan Psikologi Perkembangan, lantas aku bisa menghadapi semua yang ada di hadapanku saat itu.
Bahkan untuk menyederhanakan bahasa agar bisa dimengerti adik-adik saja, aku belum bisa. Bahasa jawa halus apalagi, padahal tinggal di jawa selama duapuluh tahun.
Sungguh semua ini menyadarkanku betapa pentingnya bahasa, kepedulian, dan rasa ingin tahu untuk selalu diasah. Dunia memang begitu, ia tidak akan ada habisnya untuk dipelajari, dan tempat belajar yang real itu bukan diatas kertas tapi di lapangan. Langsung, live.
Kemana saja ilmu pengetahuan yang aku pelajari selama 12 tahun terakhir, eh 14 sih, ditambah dua tahun kuliah:’)
Banyak hal yang tersesali salah satubya karena dulu tidak pernah sungguh-sungguh mempelajari bahasa jawa. Ternyata bahasa menjadi hal yang sangat penting buat menyampaikan informasi -iyalah si, plis deh ya- tapi dulu aku ngga sampai sejauh itu pemikirannya.
Padahal ini juga sudah pernah dibahas di kelas Psikologi Lintas Budaya, kalau kita mau memberi informasi cara pertama ya lewat bahasa. Dan komunikasiku sama adek-adek, aku rasa kurang, karena kurang bonding. Kenapa? Karena aku masih menggunakan bahasa indonesia yang aku biasa pakai sehari-hari. Dan itu membuat gep antara aku dengan mereka, jadi –mungkin- mereka merasa berbeda denganku. Mungkin kalau aku pakai bahasa jawa seperti kepala sekolahnya tadi –waktu apel pagi-  materi yang aku kasih bisa jadi lebih lebih ngena gitu.
Meskipun banyak kekurangan yang aku sadari di hari Sabtu itu, aku juga dapat banyak ilmu baru. Jadi belajar banyak hal baru. Jadi lebih mengerti duniaku yang baru.
Opini Anak Indonesia Tentang Negaranya
Indonesia yang katanya sudah merdeka 72 tahun ini, masih punya banyak PR. Bahkan, kata temen-temen juga, mereka –warga desa- baru tahu kalau bendera indonesia itu Merah-Putih.
Berkaca dari seragam sekolah yang kemeja atasnya putih dan bawahannya merah. Mereka mengira bendera indonesia ini putih merah.
Ini masih di tanah jawa padahal. Dan disini, listrik dan air menjadi hal yang langka, untungnya pemerintah sudah menyumbang listrik dengan tenaga surya, jadi bisa dibilang lumayan lah. Untuk air, masih kurang karena baru bisa diakses pada waktu tujuh pagi sampai empat sore saja.
Untuk pendidikan juga sudah lumayan, meski guru-guru disini terpaksa mengarang borang agar memenuhi standart pendidikan pemerintah. Setidak-tidaknya para murid sudah mau berangkat ke sekolah dibanding dulu, dimana guru masih harus menjemput ke rumah para murid.
Ternyata selama Indonesia belum merdeka sepenuhnya. Dari segi pendidikan sudah terlihat jelas. Pendidikan layak memang hanya untuk warga kota. Warga di Desa Tundomulo seperti ini hanya bisa mengupayakan sebisa mereka, agar anak-anak tetap bisa semangat berangkat sekolah. Agar anak-anak sadar juga betapa pentingnya pendidikan untuk mereka. Dan dari semua sisi ‘begitu’, tentunya Indonesia juga masih punya banyak sisi positif. Terbukti dengan semakin banyak komunitas – komunitas peduli sesama yang dibangun langsung oleh anak-anak generasi milenial, seperti Seribu Guru ini. Ternyata masih banyak yang mau peduli terhadap generasi-generasi selanjutnya di negara Indonesia.
Tuhan memang maha adil, kita semua hidup diciptakan untuk saling mengambil pengalaman satu sama lain, saling mempelajari satu sama lain, dan saling berguna bagi satu sama lain.
Dari semua cerita yang sudah aku ceritakan, ada beberapa hal yang sangat menyentuh aku pribadi, sebagai orang yang terlahir di tengah-tengah kota, fasilitas lengkap, dunia serasa sedekat nadi, dan akses informasi yang begitu cepatnya, yaitu mereka masih bisa bersyukur dengan segala keterbatasan yang mereka miliki.
Bahkan adik-adik didikku -yang aku rasa, aku tidak optimal memberi materi pada mereka- menuliskan perasaan berterima kasihnya karena sudah diajari dan diberi ilmu bermanfaat, sudah diajak bermain, dan mendoakan supaya aku sehat selalu.
Senang sekali rasanya, ternyata proses belajar yang kami sediakan untuk adik-adik tadi dianggap bermain, yang artinya dia menikmatinya, seperti sedang bermain, dan memang seharusnya proses belajar yang baik itu ketika sedang belajar tapi terasa seperti bermain. Ini jelas bukan kataku loh, hehehe. Kata teori Psikologi yang aku lupa materi apa juga katanya bapak fisika ter-hitz sepanjang masa, Einstein.
Minggu, 27 Agustus 2017
Demi Masa, Demi Waktu
Dan sampailah kita dipenghujung serangkaian cerita indah #TnT15. Hari itu acaranya sungguh Cuma menghabiskan waktu bersama.
Bersama angin, bersama awan, bersama mentari pagi dan dinginnya cuaca pagi, bersama dia -eh bersama mereka maksudnya-, sampai bersama gemericik air yang semakin menipis.
Alhasil selama tiga hari, aku cuma sempat mandi sekali, untung dalam islam itu ada sholat lima waktu yang bisa membuat wajah tetap cerah bersinar. Kami mulai  berpamitan dengan ibu kepala desa, yang selama tiga terakhir sudah menyiapkan makanan yang begitu enak untuk kami santap, bener sambelnya enak cuma pedes banget -karena aku emang ga suka pedes sih-, dengan nasi jagungnya yang gurih, kerupuk khas yang tiada duanya, dan yang paling aku suka dengan makanan disini adalah kita makan langsung dari daun pisang.
Selain itu juga makanannya selalu pakai sayur, sangat sehat memang hidup dalam desa.
Berpamitan dengan jajaran penting di Desa Tundomulo dan adik-adikku yang sampai mengejar garnisun (Red Truk TNI) kami selama beberapa meter. Pahadal debu pasir itu begitu banyak seperti membentuk sebuah kerajaan. Mengepul di udara dan dibawah terik matahari.
Untuk mencapai tempat travelling kita harus melewati dua kecamatan lagi, ditambah ada kendala didalam hutan yang menyebabkan kita harus piknik ‘sebentar’ didalam hutan. Dalam perjalanan ada sebuah permainan paling bagus untuk kill the time dan mengakrabkan kita. Werewolf. Kalian harus coba, saat perjalanan, di dalam truk TNI, bersama-sama main ini. Dijamin nggak menyesal.
Sampai di lokasi travelling. Anginya memang begitu banyak. Sesuai nama nya, Negeri Atas Angin. Beberapa foto kebersamaan berhasil ditangkap layar kameranya Kak Mas’ud, Kak Fajar, Kak Yadi, Kak Widha, dan Kak Ima, mereka adalah orang-orang berjasa selama kegiatan kemarin. Karena tanpa mereka gada yang dokumentasiin kita woy. hehehe. Ya mungkin dokumentasi foto selfie-selfie ala perempuan yang sangat banyak tapi yang di upload cuma satu. hehe
Ohiya, memang bener deh hari minggu ini waktunya dihabiskan buat bersama terus. Acara kesasar masih berlangsung, jadi kita sudah mulai turun dari lokasi wisata saat adzan maghrib berkumandang. Karena kelelahan, jelas kan? Semua orang terlelap di kursinya masing-masing. Dan ketika bangun sampailah kita di Caruban, Madiun. Lah, kok bisa sampai sini, batinku. Dan setelah melakukan wawancara dengan beberapa jajaran penting. Didapatkanlah hasil kita mampir makan dulu disini karena ternyata salah jalan. Hehehehe.
Yasudah memang agendanya hari ini menghabiskan waktu bersama toh. Sampailah kita di depan KFC A. Yani, meeting point hari jumat kemarin pada pukul 02:00 WIB dini hari. Perempuan memang gaboleh pulang malam-malam, jadi langsung dini hari aja. Hehehe. Cerita indah selama tiga hari itu ahkhirnya aku lanjutkan di mimpi ku yang singkat, karena harus bangun lagi jam lima pagi buat melaksanakan ibadah pagi.
Sampai bertemu di petualangan selanjutnya ya! Terimakasih buat keceriaanya yang mengalahkan segala perasaan lelahnya.



Salam rindu,
Kakak Sisi yang kelewat bahagia selama tiga hari itu.




Epilog by cc
Bertemu dengan orang-orang satu passion memang menyenangkan, bertemu dengan kalian salah satunya. Sering-sering ketemu ya, jangan lupa main WereWolf pas reuni TnT nanti.

Lokasi Travelling, Negeri Atas Angin, yang anginnya kenceng bener

Menunggu keberangkatan, TnT15 yang memang sebagian besar perempuan ini sedang asik berselfie

Minum susu Frisian Flag dulu, biar makin semangat

Piknik singkat di tengah hutan

okey, kita selfie dulu sebelum sampai di Truk TNI. Otw dari Sekolah ke lokasi parkir Truk TNI

Kakak-Kakak dibalik layar TnT15

SELFIE di lokasi travelling

dari kiri : Kak Dwi anak UPN yang masih semester tiga tapi udah aktif ikut acara beginian, Kak Ega, Dokter asal Solo yang suka ikut acara TnT di berbagai region, Kak Lucy Mahasiswa ITS semester 5 yang juga suka menulis

Bu Dokter Ani yang cantik sekali

selfie dulu sebelum makan


halo adek-adek ku

ini waktu materi sejarah proklamasi kemerdekaan

dari kiri: Bu dokter gigi Ummu, Kak Debby yang sudah jadi Guru, Kak Ana yang gaul, dan sisi



itu yang belakang kak Lambert, terus samping kanannya kak Riski mahasiswa Umsida semester 3, yang kacamataan depan kak Nida, seorang guru





jalan menuju sekolah


ini enak sekali





Ruang kelas SMP PGRI Tondomulo

prosesi menempel bintang harapan

persiapan lomba buat adek-adek

matahari terbenam di depan sekolah SDN Tondomulo 3, sabtu 26 agustus 2017

beberapa saat setelah selesai perlombaan


Kak Almira dengan rival main sepak bola, anak PAUD



komplek sekolahan yang terdiri dari PAUD, SDN Tondomulo 3, dan SMP PGRI Tondomulo

Kelas untuk PAUD


NEGERI ATAS ANGIN

Matahari terbenam di lokasi travelling


piknik tipis-tips di tengah hutan


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

Diberdayakan oleh Blogger.