Tampilkan postingan dengan label #life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #life. Tampilkan semua postingan

In #life #opinion

Awal & Akhir, berlawan namun beriringan.

Awal dan Akhir. 

Dua kalimat bertolak belakang tapi saling berkaitan. Tanpa ada awal, tidak akan ada akhir, begitupun sebaliknya, akhir dari sesuatu adalah awal yang baru. 

mungkin, hal ini bisa di sebut keseimbangan, seperti badai dan pelangi, hujan dan panas, sedih dan senang, tanpa ada hal yang berlainan, kita tidak bisa menikmati hal lainnya secara nyata. 

Ketika kita merasa sedih, tentunya, hal-hal membahagiakan kecil akan lebih bisa disyukuri. Hari yang melelahkan, diganti dengan sapaan hangat teman kantor yang menanyakan harimu. Sambutan hangat dari keluarga, atau malah sebaliknya. Hari yang memusingkan di rumah, disambut tawa ceria suasana kantor.  


Banyak yang aku harapkan bisa aku kerjakan sesuai ekspetasi, selesaikan, ataupun taklukkan. Tapi pada akhirnya, menyadari sebelum dirasa mampu oleh orang lain bukanlah kegagalan. Kadang, ada waktunya kamu untuk berhenti mencoba, dan kembali memutar kembali semua hal yang diperjuangkan selama ini. Pekerjaan dan dedikasi adalah salah satunya. 

Sejak kuliah aku berprinsip menyelesaikan dengan sebaik-baiknya hal yang sudah kumulai. Menyelesaikan dengan sempurna masa jabatan di organisasi, meski terasa melelahkan tanpa adanya mentor kanan-kiri. Melakukan yang terbaik dalam hal yang sedang di tekuni, mulai dari tugas akhir kuliah, pekerjaan part-time dengan dosen, sampai pekerjaan pertama seusai kuliah dengan sedikit dramanya. Semua selalu kuusahakan diakhiri dengan baik dan ditutup semanis saat ia dibuka.

Tidak terkecuali pekerjaanku saat ini. Tidak sedikit aku merefleksikan diri dan merenungi setiap kali mendapat teguran kecil maupun keras, beberapa waktu aku merasa benar-benar tidak bisa diharapkan, meskipun sudah mengulik dengan mendetail. Ada waktu dimana, akhirnya hati merasa cukup tenang, ketika di peringati atau hal-hal kecil lainnya. Tapi selepas kejadian pada suatu hari di akhir bulan Januari, tahun 2023. Akhirnya aku mengerti, ada kalanya kita berhenti mencoba, berhenti mendebat, berhenti menjelaskan. Kadang memang ada orang-orang tidak mau mendengar penjelasan karena ia hanya ingin melampiaskan. 

Hari-hari sebelumnya, sudah cukup melelahkan, aku berusaha untuk tetap bisa stabil ditengah tekanan yang memang akan selalu ada. Hari itu cukup membuatku akhirnya tidak bisa menahan lagi semuanya, dan harus kembali memikirkan masalah "selesai" setelah 5 bulan berhasil kembali merasa lebih lega. 

akhirnya, pada akhir bulan 2023 ini, aku yakin, aku harus selesai dengan lingkungan tidak sesuai ini. Aku sudah berhenti mencoba dan berusaha. Pada akhirnya, ada hal-hal yang memang tidak bisa selalu di upayakan. Mengambil langkah mundur, untuk bisa berlari lebih jauh di tempat yang lainnya.

Karena akhir adalah permulaan lainnya yang baru.

cheer up! :)  

Aku berterima kasih atas semua pelajaran, kenangan, dan pengalaman selama bekerja di sana, tidak ada yang tidak aku syukuri. Teman yang baik, tempat belajar yang kompleks dan suka-duka yang menyertai. 

Masa belajarku sudah harusnya berakhir sebelum semakin tidak baik. 

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #life #opinion #selftalk

Sebulan Setelah Hari Pernikahan.


Sebulan, lebih tiga hari, aku melangsungkan hari itu. Hari dimana beberapa perasaan terjadi bersamaan. Senang, Haru, Tidak sabar dinanti, Gugup. Hari dimana aku akan membutuhkan ridhonya atas segala pertimbangan dalam pengambilan keputusan-keputusan. Hari dimana kami menjalani ibadah terpanjang dimulai. Hari pernikahanku dengan pria berkacamata, sedikit berjanggut dan berkumis asal bumi sunda. 

***

Aku bertemu dengannya di tempat yang sejak kecil selalu ku idam-idamkan menjadi tempat tinggal masa depan yang juga menjadi tempat rantauan pertamaku setelah lulus kuliah. 

Kalau diingat-ingat lagi, jujur, pertama kali bertemu, sebenarnya tidak terlalu berkesan. Sikapnya yang cukup terbuka, membuat perisai sinyal siagaku menyala. Sampai akhirnya aku menyadari, dia memang cukup pandai membuka pembicaraan yang menyenangkan. Bukan karena sedang tebar pesona. Tapi, memang sedang bersikap ramah dan sopan kepada semuanya. Mungkin awalnya aku terlalu mawas diri, hingga merasa dia sedang mencari perhatian ya.

Sebelum bertemu dengannya, aku cukup mudah beralih perhatian satu ke lainnya, terutama ketika bertemu orang yang memang seru diajak berbicara hal-hal yang aku senangi atau aku ingin tahu lebih. Anehnya, orang ini bisa membuatku selalu fokus pada satu titik, yang mana itu adalah dia. Entah karena daya tariknya yang mengingatkanku pada paket komplit, selalu mampu membuatku tersenyum saat didekatnya, karena selera humor kami sama. Intinya, orang ini memang tidak bisa diabaikan dengan mudah. 

Hal-hal diantara kami terjadi begitu saja. Kami bahkan sebenarnya tidak banyak berkata-kata, selain saat pulang di mesin checklog dan bertegur sapa di siang hari saat mau makan siang. Dan saat itu aku merasa nyaman dengan diriku sendiri. Tapi saat didekatnya aku juga tidak merasa keberatan. Aku nyaman bersamanya. Dia membuatku merasa seperti dirumah, saat aku bahkan sedang jauh dari rumah.

Dia memperhatikan hal-hal kecil yang aku hindari dan aku sukai. Mendengarkan cerita dengan seksama, dan mampu memberi respon yang aku butuhkan. Tidak terlalu mengekang dan bisa memberikan afirmasi sesuai porsinya. Tidak terlihat merayu atau persuasif, dan tetap objektif. 

***

Konsep pernikahan yang kami harapkan memang simple-intimate. Awalnya. Dan akhirnya berakhir sederhana yang cukup ramai lancar, seperti jalan tol. Hahaha. 

Semua kecemasan yang aku bayangkan ternyata tidak terjadi seburuk yang di kepala. Acara pernikahan kecil-kecilan kami berjalan on-track. Dan hari itu menjadi hari paling membahagiakan selama 25 tahun berjalanku. Siapa yang menyangka, Sisi yang merencanakan segalanya dalam kehidupan termasuk target menikah di umur 26, menikah setahun lebih awal. Dan keputusan ini terjadi karena kalau bukan dia, karena siapa lagi. Hidup memang lucu, penuh perubahan-perubahan yang tidak kita sadari, seiring bertemu dengan orang-orang yang memberikan dampak pada diri kita.

Cita-cita yang dahulunya mau aku usahakan sendiri, ternyata sama Allah dikasih teman yang akan selalu mendampingi. Hal-hal yang membuatku kembali berani bermimpi dan mengusahakannya. Ada dia menyertai. 

Hal-hal yang dulu aku anggap masalah besar dalam kepala, sekarang menjadi hal yang dengan cukup percaya diri aku yakini bisa tangani. Hal-hal yang dahulu tak terbanyangkan bisa menjadi penguat, ternyata memang menguatkan, menenangkan, dan memberi banyak harapan, karena sekarang kami menjadi satu kesatuan yang diamini olehNya dalam ikatan suci. 

Percaya, kalau orangnya sudah tepat. Kedepannya akan saling menguatkan. 



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #intrapersonal #life

Ketidakpastian Adalah Kepastian.

Bermula dari hari menuju kelulusan tahun lalu di bulan September. Banyak ketidakpastian yang saya rasakan. Harus kemana setelah lulus, apa pilihan karir yang sesuai dengan kepribadian, bagaimana dan dari mana harus memulai merangkai apa yang ingin saya dapatkan, apakah saya harus idealis atau realistis, dan masih banyak pertanyaan yang muncul di benak seorang calon sarjana psikologi, bahkan seorang yang sudah belajar ilmu psikologi masih gamang dengan apa yang ingin dipilih dan dilakukan oleh dirinya sendiri.

“Pendidikan formal benar-benar cuma sebagai jembatan tak sampai setengah jalan menuju apa yang saya inginkan”, itu yang terbesit saat pada benak saya waktu itu. Saya kira perjalanan setelah studi S1 akan lebih jelas, dan tergambar. Nyatanya tidak, justeru semakin banyak dan berkali-kali lipat ketidak pastian yang saya rasakan. Sewaktu kuliah mungkin ketidak pastian itu berwujud nyata dan tampak, kapan dosen pembimbing bisa dihubungi dan memberi waktu untuk saya berkonsultasi, kapan surat izin saya bisa masuk ke rumah sakit untuk penelitian, atau kapan saya bisa disidang dan kapan orang tua bisa merasakan feedback investasi pendidikan yang mereka berikan untuk saya.

Sewaktu  duduk di ruang kelas, ujian hanya diberlakukan persemester atau tengah semester. Setelah lulus yang seperti orang naif anggap ingin terbebas dari jeratan ujian nyatanya justeru berkebalikan. Setiap hari adalah hari ujian. Ujian bertahan hidup mandiri entah secara emosional, finansial, spiritual dan hal lainnya yang lebih holistik. Kecarut marutan polemik eksternal, yang mungkin mutlak tidak dapat kita rubah tanpa adanya kekuasaan dan modal finansial, sampai yang paling penting, kegelisahan yang ada dalam diri setiap individu masing-masing.

Sekarang bahkan negara sedang hampir mengalami resesi, apabila ibu Sri Mulyani gagal menyelematkan semester ini dari minus daya beli masyarakat yang menurun akibat pandemi covid. Banyak rencana yang dilakukan agar Indonesia tetap bisa bertahan dan tidak resesi, sama halnya banyak rakyat korban pemecatan sepihak, pelaku bisnis rumahan dan rakyat yang mengandalkan upah harian yang berusaha sekuat mereka untuk bertahan hidup. Semua ketidak pastian ini adalah hal yang pasti. Tidak ada yang tahu seperti apa kedepannya.

                Tapi hebatnya manusia didesain oleh yang maha kuasa memiliki organ penting yang bernama otak. Dalam psikologi, otak manusia ini juga selalu menjadi topik utama dalam setiap pembahasannya, mulai dari kepribadian, kognitif, perkembangan, sampai abnormalitas. Manusia didesain mampu beradaptasi. Orang yang adaptif dengan perubahan dan ketidakpastian adalah orang yang mampu bertahan.

                Berkat kemampuan adapatasi ini, mereka menemukan ide yang menggerakkan, menemukan cara, menemukan jalan, dan menemukan harapan. Tanpa harapan, kita semua tidak akan bertahan. “Sesungguhnya Allah maha mendengar” adalah mantra untuk tetap bertahan pada ketidakpastian yang saya selalu ingat belakangan.  

                Harapan bisa datang dari hal yang sederhana. Dari orang terdekat yang selalu ada, aktivitas yang kita sukai, lagu dan film favorit, cuaca yang bersahabat, buku yang mengajak kita berkelana, sampai orang yang kita temui dipersimpangan jalan tetap semangat mencari sekeping pundi-pundi lembaran berwarna warni, alat barter yang biasa kita sebut, uang.

                Merangkai apa yang ingin dan akan dilakukan di saat ini dan kedepan memang menjadi bahan pembicaraan yang tidak akan pernah ada selesainya. Setiap hari adalah hari belajar. Belajar mengenali diri sendiri, mengenali orang sekeliling, bahkan sampai alam. Hari ini semua tampak baik-baik, sapa yang mengira setelah terdampak covid di penjuru bumi, saudara kita di Masamba, Sulawesi Selatan harus ditimpa lagi yang lebih dari alam mereka, Banjir Bandang pada 13 Juli lalu. Makin-makin saya lebih bingung, sebenernya apa yang selama ini saya khawatirkan? Apa yang kurang? Bahkan sepertinya ngga pantes-lah, buat mengeluh, selama masih diberi kesehatan, tempat tinggal, teman-teman yang selalu ada, dan sekumpulan hal-hal lain yang saya sukai.

                Ketika ketidakpastian yang melanda dalam dirimu, aku harap kamu segera menyadarinya, bahwa tidak hanya kamu yang merasa seperti itu. Temukan apa yang membuatmu mempunyai harapan baru. Salah satu caranya bisa dengan kembali menguak hal yang membuat perasaanmu nyaman. Bertemu orang-orang yang mengingatkanmu untuk tetap berjuang, dan kembali bergerak kemana kamu ingin pergi. Mulailah. [cc]

“Siapapun kamu, apapun bisa kamu lakukan, atau kamu harapkan, wujudkan, impikan, dan mulailah. Keberanian punya kejeniusan, kekuatan dan keajaiban.” – Johan Wolfgang Van Goethte, Novelis Jerman, abad ke-19.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #life #selftalk

THE FAULT IN OUR STARS

The first thing I've learned about living in this Stars (re: earth) was from my momma and papa.

My Momma said that you must have a dream to stay alive in here.

so, I write my dreams in my thought, first. then try to write it down on a paper when I started learn alphabet.
My Papa said that you must be grateful for what you already have, some people not as lucky as I am.

So, I always try to remember it in my memory. But, sorry not to say sorry, my brain has a lack skills when it comes to memory. Hahaha. So here I am. Be a person with million dreams but actually and really most of the time I've in my life, I spent on murmur, disapointed, feelin' bad about myself and of course always never feel enough, literarry about anything that happen in my life. oh, how sucks u r Si. can u just stop being so selfish and arrogant, said her to me, one day.

and, I just reply with a hate smile.
but now, she become more mature to love herself and learn about The Right Thing in Her Own Stars

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #life

Another Day of Spring

Bola biru seharga seratus enam puluh lima ribu rupiah itu aku ambil dari atas meja kerja kamar
Berada di sudut, dibawah kipas angin, dengan debu-debu yang menemaninya
Dengan hati-hati, kupeluknya
-
Hari itu hari Sabtu, tanggal 31 Maret 2018.
"Kapan terakhir kali aku melihatnya," tanyaku dalam benak
Berapa tahun yang lalu ya?
Sampai akhirnya aku tersadar
Waktu yang selama ini kuanggap tak sebentar itu
Ternyata sesingkat aku menghabiskan eskrim kesukaanku
Ternyata secepat aku berlari menuju sepeda motor kakakku
Ternyata seringkas aku membersihkan kotak bekal makan siangku
-
Aku membersihkannya dengan salah satu molekul kimia
Yang sudah tak asing
H2O sebutannya
Mulai terlihat jelas nama-nama
Sering aku lihat di saluran favoritku
Atau di buku-buku bacaan wajib kuliahku
Rusia, Irlandia, Belanda, Yordania, Saudi Arabia, Afrika, Korea, Malaysia, Indonesia, Australia, dan berakhir di Amerika
Spring and it's beauty
Mungkin karena aku belum pernah melihat bunga-bunga bermekaran secara serempak di satu musim yang membuatku selalu excited dan have high expectation. They said everything starts from your hopes and dreams. So I once dream about it.
To see them with my own eyes. Aamiin.

From Japan to Holland
Cita-cita saya ke Jepang beberapa tahun terakhir tiba-tiba berpindah ke Belanda seketika, saat melihat dibukanya program KKN Internasional UIN Surabaya tahun 2018 ini. Ah sejujurnya, di awal saya pun ndak berani 'nyoba' karena persyaratannya (yang memang rasanya saya-pun tidak memenuhi kualifikasi) tetapi pada akhirnya, diberanikan saja mencoba. Setiap ragu dan gundah, selalu saja ada orang-orang baik dibalik layar yang terus menyemangati. Keinginan mencoba ini diperkuat oleh Deri, laki-laki yang sekelas dengan saya di jurusan Psikologi sejak semester pertama, actually saya mau berterima kasih sama doi yang dengan baik hati bertanya "Kamu nggak daftar ta, Si?" yang akhirnya membuat saya mengunjungi International Office UIN Surabaya di hari akhir pendaftaran, eh ternyata pendaftarannya diperpanjang. Setelah dapat restu dari orang tua, semangat saya semakin kuat. Orang Tua memang selalu menjadi Motivasi terbesar, Best support system tercanggih, dan penawar obat kegelisahan termanjur.

Apalah Saya Tanpa Mereka.

Kali itu saya benar-benar merasa Allah membuka jalan untuk mencobanya. And yes! there is an art of tryin'

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #intrapersonal #life #selftalk

Are You Okay?


"Beberapa orang memandangmu sepele, meremehkanmu, merendahkanmu, kurang menghargaimu, dan kurang-kurang lainnya. Tapi, Beberapa orang yang lain juga percaya kamu, mengakui kelebihanmu, mengerti hatimu, dan akan selalu mendukungmu. Percayalah Allah SWT sudah mengatur semuanya, beberapa orang dihadirkan untuk membangun kita menjadi lebih kuat, beberapa orang datang untuk membantu kita bangkit, dan beberapa orang menetap dalam kehidupan untuk menjadi bagian dari diri kita"
Perasaanku terhadap diriku
Bagaimana caranya agar aku selalu menyukai diriku sendiri sebanyak aku menyukai orang yang aku sukai?
Bagaimana caranya agar aku dapat menjadi sepenuhnya aku versi dewasa seperti yang aku bayangkan ketika masih anak-anak?Bagaimana caranya aku bisa bersyukur dapat terlahir sebagai aku?

Intimacy VS Isolated
Akhir-akhir ini, aku sedang memasuki tahap perkembangan dewasa awal, tahap dimana perasaan intimacy semakin dibutuhkan, namun perasaan terisolasi juga sering datang. Ternyata benar yang dikatakan Erik Erikson dalam teori Perkembangan Psikoseksual, bahwa di rentang usia 20-30 an, manusia cenderung ingin mendapatkan perasaan hangat yang lebih banyak dari biasanya, bukan hanya perasaan cinta dan kasih sayang dari internal keluarga, tapi juga cinta kasih dari ruang lingkup sosial yang lebih luas, perasaan cinta dari ruang lingkup persahabatan; yang "lebih akrab", "lebih nyaman", "lebih dekat", dan lebih-lebih lainnya. Namun, untuk mencapai hubungan tersebut, tentu tidak semudah ketika masa kecil, dimana letak geografis rumah yang berdekatan mampu menjadikan hubungan lebih akrab, atau pertemuan yang intens membuat kita otomatis merasakan kedekatan atau hal-hal lain yang dulunya sering kita anggap sebagai alasan terjalinnya sebuah persahabatan, lebih dari itu -setidaknya, aku berharap lebih dari itu- berharap hadirnya seorang teman yang bisa mengerti, mendengar, mengingatkan dan menghibur disaat kita sedang down, mengetahui perubahan-perubahan suasana hati bahkan saat aku sedang berusaha menyembunyikannya. Sempat juga datang masa  dimana aku ingin pergi ke tempat yang tidak ada seorang pun mengenalku. Lalu, aku memulai semua yang baru disana. Entahlah, semakin dewasa, aku rasa menjalin kedekatan dengan seseorang semakin banyak standart operation procedurenya, sampai pada akhirnya, kalau bukan diri sendiri yang mampu mengatasi berbagai goncangan, terpaan, dan badai dalam diri ini. siapa lagi? 

"Apa tujuan hidupmu?,"
Pertanyaan ini dilontarkan oleh Sintang, salah satu teman komunitasku beberapa hari lalu ketika kami sedang berkumpul. Aku menjawab sekenanya, bahwa aku ingin lebih bersyukur, dengan melihat, belajar dan mencoba menjadi bagian dari orang-orang kurang beruntung di pedalaman, aku merasa, aku bisa lebih banyak bersyukur dengan melakukan itu. Kecenderungan membanding-bandingkan diriku dengan orang lain -entah mengapa- semakin lama, semakin besar. Semakin luas lingkup sosialku justeru -di satu titik- menjadikanku lebih minder (kurang percaya diri). Lalu, tiba giliran salah seorang yang lain, menjawab pertanyaan tersebut. Perempuan berbadan semampai, berambut sebahu, dengan celana hitam dan baju bergaris horizontal mengatakan pendapatnya mengenai apa tujuan hidup terbesarnya, singkat, padat, jelas, "Belajar dan Bahagia,"

Belajar dan Bahagia
Perempuan yang dulunya ingin menjadi seorang polwan namun berakhir dengan duduk di bangku S1 Jurusan Psikologi UNAIR ini memang memiliki Self concept yang beda dan tentunya jauh lebih baik dari milikku sendiri. Sejauh ini, aku sering bertemu orang-orang yang sepaham denganku apalagi di usia yang masih dua puluhan . Jujur, aku juga sudah mengaguminya sejak kali pertama kami bertemu, Ia selalu mengusahakan datang ditengah kesibukannya, janjian sesuai jadwal yang ditentukan, dan ada banyak hal-hal lain yang sudah aku ambil pelajaran dari berteman dengan sosok dengan nama depan yang sama, -untung nama panggilan kami berbeda- Desy Putri Pertiwi, biasa panggilan Tiwi, Tiwi berkata hal yang lucu juga waktu itu, "apa cuma aku ya yang punya pikiran berbeda? aku nggak pernah si bandingin diriku sama orang lain, karena aku tau juga meskipun dia punya keahlian ini-itu, belum tentu dia memiliki keahlian yang aku atau kamu punya," kurang lebih begitu. Batinku cuma bilang, woah self awareness (kesadaran diri) nya udah mateng banget ya Tiwi ini, Keren. 

Conscious mind VS Unconscious mind
Istilah diatas sering kali dibahas dalam kelas "apapun" di jurusan Psikologi. Conscious mind adalah alam sadar yang kita miliki, seperti kemampuan membaca, kemampuan menghitung, dan kemampuan-kemampuan lain yang bisa kita pelajari selama kita mau belajar. dan Unconscious mind adalah kebalikannya, disini tempat tersimpannya memori -biasanya- sedih akan masuk ke alam ini, karena ya namanya juga sedih, kita pasti berusaha tidak mengingatnya, dan meskipun kita tidak ingin mengingatnya, ia masih tersimpan rapih dalam otak kita. Iya, "mereka" bersembunyi disini, hehe.

Teori-teori yang aku pelajari semua masuk ke Conscious mindku, lalu caraku mengambil keputusan, caraku berpikir dan hal-hal refleks lainnya datang dari unconscious mind. Maka jangan heran ya kalau ada anak Psikologi yang kurang "psikologi" (me as example) atau banyak anak yang tidak mempelajari psikologi  justeru lebih baik problem solving atau emotional intellegence nya. Semua ini bisa dipelajari tanpa harus mengenyam pendidikan S1 Psikologi kok, dan bahkan secara tidak sadar kita semua telah mempelajarinya sejak dari hari pertama lahir dimuka bumi.

Ini juga sudah tercantum di surat Ar-Rahman dan diulang berkali-kali "saking pentingnya"


 "Maka, nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan?"
Bahwa mindset membandingkan diri sendiri dengan orang lain adalah hal yang salah, dan tidak baik. Bahwa setiap orang memiliki ceritanya sendiri, memiliki perjalanannya sendiri, dan semua akan manis pada waktunya, selama kita berhenti "membandingkan". Allah sudah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya makhluk (dilengkapi otak buat berpikir, mata untuk melihat, dan hati untuk merasakan)
Tapi lagi-lagi, teori sekedar teori, bacaan sekedar dibaca, inilah representasi sadar tapi tidak menyadari, dan ketika sedang dilanda kalut, otak sudah tidak mau diajak kompromi atau berpikir lagi, maunya cuma terhanyut sendiri dalam kesedihan tak berujung dan anehnya kita sendiri juga yang menjadi penyebab kesedihan itu.
Aneh tapi nyata.
Manusia.
Sepertinya mempelajari ilmu tentang perilaku manusia (Psikologi) dalam kurung waktu 4 tahun di bangku universitas-pun tidak akan cukup untuk memahami manusia, orang kadang aku aja masih gatau tentang diri sendiri, boro-boro mau memahami tentang manusia lain.

Diri Ideal VS Diri Nyata
Dalam teori Psikologi Kepribadian Eksistensialisme milik Carl Rogers juga dijelaskan mengenai dua hal ini,

Diri Ideal ialah gambaran diri yang ingin kita capai, dan diri Nyata ialah bagaimana kita melihat diri sendiri saat itu juga. lalu, Bagaimana aku menilai diriku di mataku? Bagaimana kamu menilai diri kamu dimata masing-masing kamu? Kalau aku pribadi, aku sering berubah-ubah dalam menilai diriku, disatu titik pernah merasa begitu mengenal baik diri dan bersyukur, disatu titik juga pernah merasa, aku bukanlah sesuatu yang berarti. standart aja. Menurutku, karena aku orang yang juga cenderung ekstrovert dan menjadikanku begitu terpengaruh dengan penilaian orang lain, atau kadang juga merasa marah - marah sendiri dengan diri kalau sering tidak sesuai ekspetasi, apakah kamu juga pernah merasakan hal yang aku rasakan?

Mungkin kamu merasakan apa yang aku rasa atau kamu tidak merasakan yang aku rasakan. Tidak apa, manusia memang unik, dan tidak sama. Dan kembali lagi pada tujuan awal menulis di blog pribadiku ini ialah untuk intopeksi dan berbagi, barangkali ada diantara kamu yang dengan senang hati membaca curhatanku ini setidaknya bisa mendapat penguatan, dan dukungan dari tulisanku ini. Keep Calm, u're not alone.

Diri Nyata ini merupakan apa yang secara objektif ada dalam diri, seperti contoh, rambut hitam, pipi tembem, kulit cokelat, aku suka makan es grim, dan hal-hal lain yang memang merupakan bagian dari diri kita, dan diamini oleh orang-orang sekitar kita.

Kesenjangan antara Diri Nyata dan Diri Ideal ini adalah penyebab kita merasa cemas, khawatir, atau kalau bahasa teorinya Carl Rogers adalah Incongruen, keadaan diamana perasaan tidak menyukai diri sendiri karena pengalaman yang didapatkan tidak mampu membuat kita aktualisasi diri, dan hal inipun sering aku lewati, ketika apa yang aku bayangkan mengenai diriku -yang ingin juga bisa setara dengan orang-orang dilingkunganku- ingin aktif, atraktif, solutif, imajinatif, inspiratif dan tif tif lainnya, setelah di lapangan, nyatanya nol besar. Apa yang aku ekspetasikan mengenai diriku sama sekali tidak sesuai, dan kesenjangan itu terjadi. Menjadikan orang-orang lain sebagai parameterku, menginginkan menjadi seperti si dia, si itu, si ini, dan si - si lainnya. 

Sampai akhirnya, otak bisa diajak bersahabat lagi, dan yang aku inginkan adalah menjadi si Sisi. Bukan Si lainnya. Sampai pada akhirnya, mengerti apa yang dimaksud dengan istilah "bercermin" dimana ketika kita bercermin, kita tidak akan melihat orang lain selain diri sendiri. Sama seperti dalam kehidupan, sudah seharusnya kita tidak membandingkan diri dengan yang lain. Karena setiap orang pasti memiliki porsi mereka masing-masing, tinggal bagaimana kita terus belajar dan bahagia menjadi diri sendiri. Terus berusaha yang terbaik dan menjadi lebih baik dari diri sebelumnya, yang pastinya terus bersyukur masih diberi banyak limpahan rezeki (entah berupa materi, teman sejati, lingkungan yang supportif, dan masih banyak lagi) bahkan ketika aku masih sering kurang pandai mengucap kata Alhamdulilah di sela-sela fajar dini hari atau senja ketika adzan maghrib mengudara menentramkan hati.

Atau bahkan sekedar mengucap terimakasih pada kamu yang masih mau membaca curhatan ini sampai selesai. sekali lagi, Terimakasih :)

Surat Cinta Untukmu
Tenanglah, kamu tidak sendiri, aku juga merasakan hal yang sama denganmu, tapi sekali lagi, kita harus percaya proses, percaya Allah tidak tidur, terus lakukan hal yang kamu sukai selama itu positif, menulislah, melukislah, menyanyilah, menarilah, cobalah melakukan semua dengan hatimu, fokus! Aku yakin karyamu nanti pasti disambut banyak orang baik, sampai suatu saat kamu menyadari bahwa alam sedang berkonspirasi menyambut hangat kehadiranmu dimuka bumi [cc]


Referensi
https://www.verywellmind.com/the-conscious-and-unconscious-mind-2795946
http://psikologi.net/struktur-kepribadian-menurut-carl-rogers/
http://www.psikologiku.com/intimacy-vs-isolation-keintiman-vs-isolasi/
https://nadjaneruda.wordpress.com/2015/03/21/teori-kepribadian-sehat-menurut-carl-rogers/

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

Diberdayakan oleh Blogger.