In #resensi

Naruse Jun, Melanie Klein, dan Posttraumatic Stress Disorder

Bunga-bunga kembali bermekaran, seperti januari lalu. Jalanan masih sama, berisik, tapi tetap menarik untuk dinikmati. Daun-daun jatuh dari pohonnya, terhempas kendaraan-kendaraan tinggi dan menyisakan rerontokan yang cantik berhamburan, menepis kaca helm.

Hari berjalan seperti biasa. Bangun di waktu yang dini, mempersiapkan apa-apa yang dibutuhkan untuk bertahan hidup. Makanan dan Doa. Ia sibuk di dalam dapur sederhana bernuansa coklat putih untuk memasak sayur mayur. Dan Kamu, mempersiapkan tabungan untuk hari penetapan. Apa sebenarnya yang dicari?
***
Hari Minggu itu, perempuan dengan banyak imaji kembali membuka laptop biru, menatap layar monitor dan memutar Film berjudul "Anthem of the Heart", sambil berdecak dalam hatinya yang sedang kalut tak karuan, ia mengatakan,"baiklah, mari kita mulai perjalanan ini,"
***
Film yang dirilis pada 19 September 2015 oleh Studio Ghibli dengan durasi kurang lebih dua jam itu menceritakan mengenai perjalanan hidup seorang gadis kecil yang ceria, suka bercerita, dan berimajinasi, Naruse Jun, yang mendadak kehilangan segala keceriaan dan suara nungilnya akibat beberapa peristiwa traumatis dan berdampak dalam masa remajanya.
***
Jun, gadis manis -meski hanya animasi yah, tapi bener wajahnya manis- berlarian dan bersorak-sorai mendatangi sang Ibu, menceritakan hal yang magis baginya. Ia baru saja mendatangi sebuah istana. Istana itu adalah tempat ia akan menemukan pangerannya suatu saat kelak. Tapi, hari itu, ia melihat ayahnya keluar dari sana, bersama seorang perempuan yang tidak pernah ia temui.

 "Ibu, hari ini aku melihat Ayah, keluar dari istana, Ia seperti seorang pangeran dan sedang bersama seorang puteri, tetapi bukan Ibu, kalau begitu, berarti Ibu jadi Ibu Penyihirnya saja ya, eh tapi, penyihir yang baik," celotehnya tanpa spasi.

"Kamu ini ya selalu mengatakan semuanya, bukannya sudah Ibu bilang, lebih baik kamu makan ini saja dan diam," balas Ibunya dengan segudang tanda tanya sembari mengunyah makanan yang disodorkan ibunya, yang juga sedang disiapkan untuk bekal si Ayah.

Selang beberapa hari dari kejadian tersebut, sang Ayah mengemas dan memesan truk untuk memindahkan barang-barangnya. Naruse menghampirinya dan bertanya, apa yang sedang terjadi, apakah ayah dan ibu bertengkar, tidak bisakah ia membantu mereka berbaikan.

Ayahnya hanya tersenyum dan berkata,

"Kamu ini ya, memang tidak bisa diam, selalu berbicara, kamu tahu, kamu yang menyebabkan semua ini terjadi," lalu berlalu pergi meninggalkan rumah itu.

Jun menangis hanya ditemani angin bukit dan anak tangga tak bertepi, apa yang ia lakukan, sampai membuat semuanya menjadi seperti ini. Ia sendiri juga tidak ingin hal tersebut terjadi. "PLUK" tetiba ada suara telur menggelinding disebelahnya dan menjadi seorang pangeran. Pangeran yang mengatakan semua ini terjadi karena kata-kata yang keluar dari bibirnya. Dan terhitung hari itu, pangeran mengunci mulut Jun, sehingga Jun tidak bisa berbicara kembali.

Selang beberapa tahun, Naruse Jun akhirnya mengeluarkan kata pertamanya semenjak kutukan pangeran itu.
"Tidak," katanya, yang lebih mirip dengan berteriak gagap dibandingkan berbicara.

Hal ini terjadi ketika ia ditunjuk oleh guru kelas sebagai komite yang mengurus kegiatan penggalangan dana. Cerita baru akhirnya dimulai, Naruse Jun bersama teman-temanya melewati, mengumpulkan kepingan-kepingan diri dan bersemai. Memberikan sebuah pertunjukkan, menciptakan karya sastra berupa drama musikal. Pembuatan musik, lirik dan alur cerita, semua dilakukan bersama.

Tokoh dalam cerita ini juga banyak didukung oleh ketiga teman Naruse Jun lainnya yang juga bertugas sebagai komite penggalangan dana.

Tokoh pertama ada Sakagami Takumi, tokoh laki-laki yang mampu memainkan dan membuat musik, memiliki kisah sama seperti Naruse, broken home. Pria ini yang membuat Naruse Jun jatuh hati, karena ia merasa menemukan pangerannya.

Tokoh Kedua, Nitou Natsuki, perempuan tak bercelah, sempurna, yang baik hati, dan menjadi teman perempuan pertama yang dimiliki oleh Jun

Tokoh Ketiga, Daiki Tasaki, seorang pria tsundere -karakter yang cuek-cuek tapi perhatian eaaa- yang tangannya sedang dalam masa pemulihan, namun masih harus mengurus club football di sekolahnya sebagai seorang senior.

Dinamika persahabatan, ketertarikan, keluarga, dan pendidikan sangat digambarkan dalam film ini. Menurut saya, film ini tidak bukan film teenager romance, namun lebih pada masalah psikologis, khususnya masalah Posttraumatic Stress Disorder pada anak-anak. 
***
Apa itu Posttraumatic Stress Disorder?
Salah satu gangguan psikologis yang dimasukkan sebagai diagnosis dalam DSM-III, mencakup respons ekstrem terhadap suatu stressor berat, termasuk meningkatnya kecemasan, penghindaran stimuli yang diasosiasikan dengan trauma, dan tumpulnya respons emosionali. Gangguan klinis pada anak-anak yang mengalami PTSD menurut DSM, bisa berupa gangguan tidur dengan mimpi buruk, bisa juga perubahan perilaku seperti anak yang semula periang menjadi pendiam dan menarik diri, beberapa juga kehilangan keterampilan perkembangan yang sudah dikuasai, seperti berbicara atau menggunakan toilet (Davidson, 2004).

Personalities, apa itu?
Dalam film ini saya hanya akan berfokus pada karakter Naruse Jun, yang mana merupakan karakter yang mengalami psikopatologis. Menurut teori Melanie Klein (1946) kepribadian terbentuk pada empat sampai enam bulan pertama. Bayi membawa predisposisi untuk mengurangi pengalaman kecemasan yang dihasilkan oleh dorongan insting hidup dan mati.

Posisi
Bayi secara konstan terlibat dalam konflik mendasar antara insting hidup dan mati, antara baik dan buruk, cinta dan benci, serta mencipta dan merusak. Dalam posisi ini dibagi kembali menjadi paranoid-schizoid dan posisi depresif. Singkatnya, dalam teori Melanie Klein ini, anak-anak biasanya mengembangkan white and black thingking atau splitting, dimana hanya bisa menilai sesuatu sangat baik dan sangat buruk. Naruse Jun, merasa kedua orang tuanya adalah figur yang sangat baik, penyayang, dan tidak akan pernah salah. Dan orang tua-nya berpisah karena perkataannya yang menyakiti orang-orang. Sejak saat itulah, Naruse merasa semua yang akan dikatakannya akan menyakiti orang lain, ia tidak bisa berbicara dan mengalami gangguan psikosomatis (seperti perutnya nyeri dan kram ketika berusaha berbicara).

Disini juga, Naruse Jun menempatkan diri dalam posisi Paranoid-Schizoid, sebuah posisi perasaan ambivalen, seperti yang ditegaskan Ogden (1990) yang menyatakan, mereka mungkin menjadikan diri mereka sebagai objek yang pasif kerimbang sebagai subjek aktif. tanpa disadari ini menyebabkan perasaan paranoid yang tidak disadari terhadap orang lain, yang kemudian melihat orang tersebut yang sempurna sementara memandang dirinya kosong dan tidak bermakna.
***
Di hari ia mengatakan tidak di depan kelas kala itu, perutnya sangat sakit, ia hanya bisa berlari, menjauhi ruang kelas. Beberapa waktu selang kejadian, ia menemui guru di ruang klub musik dan melihat Takumi Sakagami sedang bernyanyi lagu mengenai telur -yang ia ciptakan sendiri- dan merasa hatinya sedang ditelisik oleh Sakagami, perlahan, telur yang dulu rapat dan mengunci bibirnya itu, retak.

Naruse Jun menjadi lebih membuka diri sebab merasa memiliki seseorang yang bisa mengertinya.  Takumi menjadi sosok yang sempurna dimatanya. Ia baik, perhatian, mengerti dirinya. Ia mulai menceritakan mengapa ia mengalami gangguan bicara tersebut lewat sebuah pesan teks. Lalu Takumi, yang juga pernah mendengarnya -secara tidak sengaja- menyanyikan lagu telur yang ia buat.

Takumi kemudian menyela,
"hey, kenapa kita harus bicara lewat teks, padahal bersebelahan?"
"perutku sakit setiap kali aku berbicara."
"bagaimana kalau kamu menyanyi, sewaktu itu kamu bisa bernyanyi kan?"

Naruse Jun, pulang dengan langkah tergesa, mendadak perutnya kembali sakit, namun kali ini karena nerves sih. ahahahahaha. Dasar yha orang jatu cynta.

Long short story.
Mereka membuat sebuah drama musikal bedasarkan naskah yang ditulis oleh Naruse Jun. Ia akan menyampaikan apa yang ingin ia katakan kepada Ibu -utamanya- lewat sebuah nyanyian. Dengan melodi yang dibuat oleh Takumi Sakagami.

Perasaan Naruse terpecah belah, saat mengetahui ternyata selama ini Takumi tidak memiliki perasaan lebih, ia hanya teman. Takumi baik, karena mengerti Naruse juga orang yang baik dan layak mendapatkan teman. Ia kemudian menolak menyanyi di acara penggalangan dana. Suasana menjadi chaos, Takumi pergi mencarinya. Sepeda itu sepi, hanya angin yang mengikuti alur kayuhan Takumi. Ia berhenti di sebuah bangunan kosong. Istana masa kecil Naruse. Dan tentu, ia menemukannya disana. Takumi mendekatinya, Naruse mengusirnya sembari menangis, tetapi Takumi terus mencoba mengatakan, bahwa semua orang menantinya.

"Sekarang Bahkan ketika aku bernyanyi perutku akan sakit, Ini semua karena kamu! Ketika aku berkata-kata, ini akan menyakitimu, kamu akan membenciku" katanya.

Takumi terus meminta Naruse berbicara, "Katakan apapun yang ingin kamu sampaikan, aku tidak akan tersakiti olehnya, Naruse".

Iya mengatakan semuanya, semua yang ia rasakan pada Takumi.

"Kamu Jahat sekali! Takumi. Sangat jahat, brengsek, palsu, untuk apa terlihat baik dan perhatian kepadaku. Nitou juga begitu, mengapa dia sok-sok an menjadi temanku. Mengapa membuatku berada di posisi ini. kalian semua jahat!", 

Takumi hanya tersenyum, "apakah ada lagi, ungkapkan semuanya, aku tidak akan tersakiti oleh kata-katamu,"
"kamu tidak tersakiti oleh kata-kataku?"


"tentu tidak, ayo, kamu hanya mengatakan apa yang kamu rasakan, aku mengerti perasaanmu, tidak apa-apa, Naruse. Kamu hanya menjadi dirimu, dan tidak ada yang salah dari itu,"

Naruse diam sejenak, dan masih duduk termenung, sedikit menyadarkan dirinya lalu berucap, "Sakagami Takumi, Sakagami Takumi, Sakagami Takumi. Aku menyukaimu,". 

Takumi tersenyum, dan berkata "Terima kasih ya, tapi aku menyukai perempuan lain,"
"Iya aku tau,"

Naruse menyelesaikan bagiannya dengan baik. Baik selama di Istana kecilnya itu bersama Sakagami Takumi maupun ketika kembali ke panggung dan menyanyikan bagiannya.

Akhirnya, Naruse menyadari, selama ini telur dan pangeran yang mengutuknya supaya tidak bisa berbicara tidak ada. Selama ini hanyalah dia yang membuat semua itu, dan khayalan-khayalan lainnya. Ia mengalami splitting thinking dan menciptakan karakter itu sebagai bentuk mekanisme pertahanan diri 'Identifikasi Proyektif' dimana proses mengurangi kecemasan dengan memisahkan bagian diri mereka yang tidak diterimanya. Hasil pemisahan ini kemudia diproyeksikan menjadi objek lain, dan objek lain itu berupa telur yang menjadi seorang pangeran dan mengunci bibirnya (Klein, 1946).

Hal-hal yang bisa dipelajari dari film ini utamanya adalah Self Acceptance. Bahwa tidak semua yang dikatakan orang lain itu memang benar, bahwa tidak selamanya, mereka yang kita anggap baik, akan selalu baik dan apa-apa yang kita anggap buruk, akan menjadi hal yang buruk untuk kita. Kehidupan ini penuh berbagai warna, tidak hanya hitam dan putih.
Manusia tetaplah manusia, yang juga bisa salah. Ibu Naruse, yang diproyeksikan oleh Naruse sebagai ibu yang sempurna dan baik, juga tidak selalu dapat menjadi Ibu yang baik. Bahwa Naruse harus menyadari, apa-apa yang membuat Ayah dan Ibunya dahulu berpisah adalah kata-katanya itu salah. Itu bukan kesalahan Naruse Jun. Nilai moral lain dalam cerita animasi ini juga menekankan pada pentingnya komunikasi yang tepat dan efektif dalam kehidupan kita.

Satu perkataan judging dari orang yang kita sayang dapat begitu menyakitkan. Dan tentunya dapat membuat pengalaman traumatis tersendiri. Let's spread good word and love more.

"Don't tell people to disappear like it's nothing! Words can hurt people! You can't ever take them back! Even if you regret it, you can never take them back!" (Naruse Jun, 2015)

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #resensi

Kisah Pemuda dan Penyu Merah


Beberapa waktu lalu, aku menuntaskan film-film yang selama ini menumpuk di dalam otak. Memang sebagai orang yang mencintai dunia fiksi, suka menghayal, dan mengagumi betapa indahnya ciptaan sang Maha Kasih, menonton film merupakan pelarian terbaik dari segala macam keresahan. Nama folder film dalam laptop lenovo biru berusia 6 tahunku saja, ku beri headline, "Belajar dari Cerita Fiksi".

Ayahku yang selalu mengatakan untuk berhenti berkhayal terus-menerus -karena menurut beliau, nonton filmku keterlaluan seringnya sehingga melupakan tugas-tugas duniawi lain- memang bisa dibilang akut, hehe. Selama liburan aku bisa berjam-jam duduk di depan laptop hanya untuk menonton drama korea, atau film-film berbagai genre atau video youtube dan dokumenter lainnya. Secinta itu memang dengan aktivitas (yang katanya) mengkhayal. Tapi, semenjak aku menjadi mahasiswa -yang membuat intensitas berkhayalku sedikit berkurang, karena harus menjalani kehidupan nyata- itu, semakin menyadari juga, bahwa menonton film bukan 'hanya' perkara menghibur diri. Di dalamnya aku menemui banyak dimensi. Aku berkenalan dengan mimpi-mimpi, harapan, motivasi, sudut pandang lain dan nilai kehidupan bagi tokoh. Bagiku, aktivitas ini sama dengan kamu yang (mungkin juga) mencintai aktivitas membaca buku, kita terinspirasi, tau, dan lebih kaya dari mereka. Bedanya, aku ini makhluk auditori, yang lebih menyukai sesuatu yang ada suaranya, hehe. Dan sampai detik kesepersekian ini pun, ketika belajar, membaca buku, membersihkan barang-barang ataupun melakukan aktivitas menulis, seperti sekarang (wajib hukumnya) diiringi alunan musik.

Dalam tulisan kali ini, aku akan bercerita mengenai sebuah film yang sedikit berbeda dari yang banyak aku tonton. Animasi garapan Ghibli Studio dengan naskah hasil kolaborasi dengan sineas film pendek asal Belanda, Michael Dudok de Wit, ini berhasil mengubah sudut pandangku mengenai cara komunikasi. Nyata-nya komunikasi non verbal tidak kalah kaya.

"The Red Turtle", sebuah film yang menekankan visual storytelling tanpa komunikasi verbal, suasana dilukiskan lewat cantiknya alunan alam, semacam dentuman deburan ombak, suara kicau burung, dan sesekali teriak keputusasaan manusia yang memekak lantang "aaaakk,", animasi film garapan Ghibli, seperti biasa, selalu mengagumkan, bak melihat lukisan media cat air yang bergerak-gerak dan didampingi dengan lanskap alam detil, tentu menjadi daya tarik visual yang eyegasm.

Kisah dimulai ketika seorang Pemuda yang terdampar disuatu pulau tak berpenghuni (manusia), bersusah payah menyelamatkan diri dengan keluar dari pulau berpopulasi kepiting, burung, penyu, dan hamparan pohon bambu, tersebut. Dalam percobaan pertama yang penuh gairah, ia merencanakan pamit dengan membuat sebuah kayak dari rakitan pohon bambu, namun berakhir gagal, hal itu terulang, bahkan sampai percobaan ketiga, dengan arsitektur kayak yang lebih kuat dan profesional, berhiaskan layar besar dari dedaunan. Short story, ia menyadari, karena eksistensi seekor penyu berwarna merah, ia (selalu) gagal hengkang dari pulau kecil itu. Berenang dengan susah payah ke tepian pantai, dan bertatap muka lagi dengan penyu tersebut, tentu membuatnya, spontan, membalik tempurungnya. Karena Ghibli selalu memberi jahitan fantasi, penyu itupun kini menjadi seorang wanita yang menemani si Pemuda sepanjang film berlangsung. Pemuda yang awalnya ingin segera pergi dari pulau, mendadak memiliki rumah dan menjalani kehidupan seperti selayaknya manusia berbahagia. memiliki seorang anak dan hidup dengan nyaman. Sampai pada saban hari terjadi beberapa peristiwa pada mayoritas takdir insan, ada bencana alam, ada perpisahan, dan ada kematian. Dinamika kehidupan.

Film ini mengajarkan bagaimana cara kita melakukan apa yang kita inginkan, memulai dari apa yang ada, dan untuk mencintai apa yang telah dimiliki, di waktu yang tepat. Dalam kesunyian, ia mampu merepresentasikan pesan besar. Dari perasaan keterpurukan akan ada harapan, dari ketiadaan ada keberadaan, dan dari kehampaan terbesit kehangatan. Hidup tidak akan pernah sepenuhnya hitam atau putih, akan ada abu-abu, jingga, merah, ungu, kuning, hijau, biru, nila, dan warna-warna lainnya. Maka, nikmati selagi masih ada, sayangi sewaktu dibutuhkan, dan hadapi dikala menyerang. Mari tetap bisa menatap kehidupan dari berbagai perspektif. Jangan terlalu cepat menyimpulkan, mungkin semua itu belum berakhir

Tetap penuh harap, penuh asa, dan keyakinan. Kelak, semua keresahanmu akan dijawab, di waktu yang tepat. -cc

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #selftalk

let's just enjoy this.

Sudah seminggu aku menjadi orang tanpa status yang jelas. Jujur, aku kesal menanti hasil check plagiarism proposal yang tidak kunjung keluar, aku kesal sudah tidak aktif dalam beberapa kegiatan kampus yang dulu selalu menemani, aku kesal tidak bisa bertemu orang-orang dan berbicara hal-hal tidak jelas. aku kesal merasa sendiri, bahkan orang yang ada didekat pun semua, sedang sibuk dengan perjalanan hidup mereka masing-masing.

kegiatanku selalu saja seputar bangun, mengurus si Milo dan Ciko, terkadang membantu ayah menjaga Arkan, dan -pastinya- membersihkan rumah. ehe. Beberapa kali menengok ke media sosial, aku semakin merasa tertekan melihat manusia-manusia yang sedang berlari mengejar apapun yang mereka cari. 

sering, aku ingat, kapan ya terakhir kali aku merasa se-santai-ini, sepertinya memang sudah sangat lama. Tapi, ke'ngangguran' ini ternyata berbuah manis juga. aku bisa mendekor ulang kamarku, aku bisa menjadi anak yang selalu hadir saat dipanggil ibu, ayahku, aku juga menjadi sering berkunjung ke youtube, buat sekedar melihat apa yang menarik disana. mulai dari video receh klarifikasi putus dari sepasang kekasih 'yang katanya couple goals' sampai video-video DIY buat hal-hal yang selama ini aku kira cuma bisa dibeli. ehe. 

ya, let's just relax and enjoy this, Si. 
perasaan kamu dulu sangat ingin menjalani hidup setenang sekarang, sempat kan dulu? saat lagi kacau-kacaunya. mungkin Allah memberikanmu waktu untuk istirahat sejenak demi menyusun kepingan dirimu untuk masa depan. 

kalau di kegiatan, selalu ada jeda ishoma kan? eheh. Ya mungkin ini ishoma mu:)
Dan kembali melihat apa-apa saja yang aku sukai. 
Mungkin bisa kembali diasah:)
Ya, thats for today. 
Just Relax, everythings gonna be okay. 
okay? :)


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In FailurePorto

Listening to the soul of South Korea and Write it Down.

Hai, teman-teman, beberapa waktu lalu, saya belajar menulis esai untuk mengikuti seleksi pertukaran mahasiswa muslim ke Korea Selatan. IFSEE 2019, dan alhamdulilah lolos di babak esai tapi belum lolos di tahap akhir, cuma sekedar berbagi, barangkali teman-teman memiliki mimpi yang sama dengan saya. semangat terus belajar dan mencobanya. suatu saat nanti mimpi pasti akan terjawab~
jangan berhenti dan terus lakukan yang terbaik ya.
***
The very first thing I get to know South Korea was because its drama, back then I was 8 years old, and after time goes by, I’m more addicted to Hallyu Wave, they were my teenager’s happiness. My interest in South Korea got deeper and finally branched out into other entertainment such as reality shows, talk shows and films. Because of that, I learned a lot about the culture and character of the people of South Korea.

Besides that, my another hobby is writing, and I feel so much enthusiasm to write down my idea on the paper. But, other hand, I do love public speaking, and yes, lately, I feel more comfortable when it comes to being a listener or observers.

Pram, one of my favorite writers, once said that write was a longlife job. Because of that, I want to introduce my religion, islam, with two different ways. Write and listen.

There are two project I want to do to make islam more acceptable and sosialice in South Korea. The first project is I want to write a book who tells about the origin of Islam in South Korea, how the true Muslim figure is, The story of Korean Muslim influencers on how to become Muslims in their own country.


The second project call “I’m Here”. an catarsis (in psychology theory or how to tell about your feelings) aplication that grab an moslem’s community called Korean Muslim Federan to colaborate with. I want to make this aplication with the intention of to listen the korean people who suffer with mental illness such as depressed or etc, and tell them, that they’r not alone. It’s no need to be desperate by themselves. And because of the negative stigma, these people often afraid or just embarassed to get the right treatment for their mental health. So with this application, I hope can be their space to tell someone about their condition without feel intimidate or feeling alone by chatting with the admin of application.


The phenomenon of death from suicide because of depressed in South Korea til now have the 4th places what causes people death, and always increase every year. And because of that reason, I want to make this applications that can help them to release their stress by tell to somoene else. Besides having a chat feature, this application also has an upadate status feature which can be read by other account users, the advantage of this application is that everyone can use a pseudonym, and only the server and user have account data, even the admin will answer while in session Chat will also not get user data if it is not permitted, so we can be sure this application is guaranteed confidentiality. Besides having a chat feature, this application also has an upadate status feature which can be read by other account users, the advantage of this application is that everyone can use a pseudonym, and only the server and user have account data, even the admin will answer while in session Chat will also not get user data if it is not permitted, so we can be sure this application is guaranteed confidentiality With these two projects, I hope the image of islam in South Korea’s people will getting better,

that we are the religious that spread love and care each other and of course can bring the good impact to reduce the death rate from suicide, which is always increase every year in this country. 

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #poem

2.1.2019

inside out.
is being unhappy one of part to being happy.
then, i feel really sad.
like, yes!
can I just feel hurt, feel sad, fel bad, and feel sick of this life?
can I just be one of those people
who cried out loud
who mad
who upset
who feel those kind of feeling
and I m really sad, right now.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #life #selftalk

THE FAULT IN OUR STARS

The first thing I've learned about living in this Stars (re: earth) was from my momma and papa.

My Momma said that you must have a dream to stay alive in here.

so, I write my dreams in my thought, first. then try to write it down on a paper when I started learn alphabet.
My Papa said that you must be grateful for what you already have, some people not as lucky as I am.

So, I always try to remember it in my memory. But, sorry not to say sorry, my brain has a lack skills when it comes to memory. Hahaha. So here I am. Be a person with million dreams but actually and really most of the time I've in my life, I spent on murmur, disapointed, feelin' bad about myself and of course always never feel enough, literarry about anything that happen in my life. oh, how sucks u r Si. can u just stop being so selfish and arrogant, said her to me, one day.

and, I just reply with a hate smile.
but now, she become more mature to love herself and learn about The Right Thing in Her Own Stars

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #selftalk

Jangan Takut Gelap.


Halo, Sisi. Bagaimana kabarmu hari ini? 

Aku tahu, mungkin hari ini kamu sudah merasakan berbagai perasaan yang beragam. Tidak hanya hari ini, belakangan, memang, banyak sekali yang terjadi dan hal-hal berubah secepat emosimu yang meloncat-loncat, secepat kereta api shinkansen yang kamu lihat di televisi sambil terkagum-kagum, secepat teman-teman sepermainanmu yang perlahan mulai merencanakan kehidupan mereka di usia peralihan menuju target-target perkembangan selanjutnya, dan secepat kamu berlari ketika masih anak-anak, memperebutkan juara perlombaan tujuh belasan itu.

Iya, aku sangat mengenalmu, kita sudah bersama selama 21 tahun lewat 9 bulan. Hahaha. Mana mungkin aku tidak mengenalmu? ya, meskipun kadang aku sendiri susah memahamimu. Tapi jangan kuatir, aku akan berusaha lebih keras untuk mengenalmu, dan akan berusaha sebaik mungkin untuk bersahabat denganmu. 

Di tanggal dua puluh lima Desember tahun dua ribu delapan belas, tepat pukul satu pagi lewat empat menit, diantara heningnya malam dengan alunan lagu dari Tasya Kamila. Aku hanya mau mengucapkan padamu, terima kasih sudah bertahan sejauh ini, terima kasih sudah mengemban amanah dan tanggung jawab dengan sungguh-sungguh, terima kasih sudah ada di saat senang dan sedih, terima kasih atas segala kebaikan dan senyum ceria yang selalu kamu berikan kepada orang-orang, terima kasih sudah selalu berprasangka baik pada siapapun, terima kasih karena sudah mencintai ayah ibumu setulus-tulusnya, terima kasih sudah mencoba memahami orang dengan segala pemikiran mereka, terima kasih sudah belajar mengerti dan mendengarkan, terima kasih sudah menangis ketika merasa sedih dan putus asa, terima kasih sudah mencoba dan terus mencoba, terima kasih sudah berusaha bangkit ketika terpuruk, terima kasih telah kembali mempercayai mimpi-mimpi, terima kasih karena mau belajar mengenal dirimu lebih baik, terima kasih sudah kembali, sekali lagi, aku mau mengucapkan terima kasih kepada mu, Si, I do luv yu.

Hal-hal yang selama ini membebanimu, lepaskan.
Hal-hal yang selama ini mengecewakanmu, relakan. 
Hal-hal yang selama ini meresahkanmu, hilangkan.
Hal-hal yang selama ini menekanmu, renggangkan.
Hal-hal yang selama ini membuatmu sedih, ikhlaskan.

Sebenarnya, Apa atau bahkan Siapa yang membuat hatimu begini?
Benar itu orang lain?
Bukan judgjement terhadap dirimu sendiri, dari dirimu sendiri, dan oleh dirimu sendiri?
Apa benar, selama mereka tidak mencintaimu?

atau sebenarnya, 
Kamu yang tidak bisa mencintai dirimu sendiri, menerima dirimu sendiri, memahami dirimu sendiri dan mencoba berdamai dengan semua itu?

Sisi, apakah kamu tahu?
Bahwa
Kamu selama ini selalu menyemangati teman-temanmu saat sedih, selama ini telah menerima mereka apa adanya, selama ini telah berprasangka baik pada mereka, selama ini selalu bisa membuat mereka kembali percaya dan yakin atas dirinya, selama ini selalu mendengarkan peluh mereka, selama ini selalu menyukai mereka, selama ini selalu meminta maaf, lalu baikan dengan mereka, selama ini selalu mengucapkan tolong saat butuh dibantu, dan selama ini selalu mengucap terima kasih ketika merasa bersyukur memiliki mereka. Kamu bisa melakukan semua itu untuk mereka.

Tapi, apa pernah kamu melakukannya untukku? 
Tempat yang kamu tinggali, satu-satunya orang yang selalu ada di sisimu full dua puluh empat jam nonstop, seseorang yang paling pertama mengerti arti senyum mengembang itu, seseorang yang paling pertama memahami air mata di pipi itu, seseorang yang selalu dan akan selalu menjadi pendukung setiamu. Kadang kamu masih suka lupa, YAH HHHH! (yauda gapapa namanya manusia pasti ya ada lupa-lupanya dikit) tapi aku gapapa kok, kamu lupain. ehehe. ya, tapi, tolonglah, mau sampai kapan kamu lupa?

Sisi, jangan lupa sayang aku juga ya. 
Terima aku. 
Maafkan kesalahan-kesalahan yang aku lakukan. 
Ucapkan terima kasih saat aku melakukan sesuatu untukmu. 
Ucapkan maaf apabila melakukan kesalahan.
Ucapkan tolong apabila tidak sanggup melakukannya sendiri.
Ekspresikan perasaan rapuh itu padaku, jangan sok kuat, kamu juga manusia, yang punya batasan.

Kamu juga manusia, yang butuh dibantu.
Kamu juga manusia, yang masih dalam proses.
Kamu juga manusia, sama seperti lainnya.

Dan yang paling penting adalah, aku akan selalu dan selalu menjadi orang yang paling setia buatmu. 
jangan kecewa apabila orang lain tidak seperti hal-hal yang kamu harapkan, sekali lagi, jangan.

Kamu melakukan itu untukku, bukan untuk mereka. 
Kamu melakukan untuk menjadi Sisi versi lebih baik dari sebelumnya, bukan untuk menyaingi siapapun.
Kamu melakukan itu untuk menjadi salah satu makhluk-Nya yang tidak pernah berhenti belajar.
Maka gantungkanlah itu semua pada dirimu dan untuk yang maha pemberi kebaikan.
karena di akhir hari, hal-hal yang mendamaikan hatimu akan datang dariku atas persetujuan-Nya.


Best Regards,




Deasy Meirendah Chikita, soon S. Psiur number one biggest fans

Read More

Share Tweet Pin It +1

10 Comments

In #selftalk

Best Support System itu Dirimu sendiri

Hai, my second life, lama kita tak bersua, sepertinya terlalu banyak hal yang saya dikerjakan sembari mengutuki menikmati hidup belakangan ini. Terakhir menulis mungkin sekitar 5 bulanan. Sungguh konsisten dan displin adalah hal yang mewah bukan?
Saat ini saya sedang memasuki usia akhir di bangku perkuliahan, memasuki fase krisis  -ah agaknya berlebihan kalau ku bilang krisis- setelah hibernasi menulis, finally, I met me again, in this crowded space between us, in this beautiful creepy place called world, or in this little thing called home, intinya saya merindukan dan menemukan kedaimaian dari menulis lagi. 

Dalam hiruk pikuk organisasi dan bimbingan skripsi, dalam keriwehan dengan segala peran dan tanggung jawab, saya merasa sepertinya dan alangkah baiknya apabila melipir ke tepian. Mencari diri dalam kesunyian diantara keramaian dan berimbaslah kepada topik skripsi "Kualitas Hidup", yha, selain karena banyak sekali jurnal quality of life dewasa ini di ranah internasional (yha, memang syarat buat skripsi itu harus cari 5 jurnal inter dengan rentang waktu max 10 tahun kan, saya ini pen cepet lulus jadi cari yang banyak aja, hehehe) ternyata saya sedang mempertanyakan kualitas hidup sendiri saya (pula) tanpa disadari~

Selain dirundung perasaan sedikit cemas, banyak rindunya dengan kehidupanku, ternyata saya dihadapkan dengan fenomena lagi oleh Allah, bahwa yha u r not alone. Semua di dunia ini bukanlah tentang aku dan aku, self-centered memanglah tidak baik, kawan. Perlahan tapi pasti, orang-orang sekitar mempercayai saya menjadi salah satu pendengar kisah hidup mereka, tentu ini sebuah kebanggaan tersendiri. Dapat dipercaya. Apalagi sama si dia, yang diam diam dikagumi selama ini, yah curhat lagi, oke oke, mari kembali ke topik. Singkat cerita, Saya juga memiliki seorang teman akrab yang juga sedang menempuh pendidikan  Psikologi di lain universitas, lalu seperti pada kebanyakan kasus, kami saling bertukar pikiran. 

Locuf of Control
Dia menanyakan mengenai teori Locus Of Control. Teori ini pertama kali digaungkan oleh Julian B. Rotter (1954) dalam Psikologi Kepribadian. Inti dari teori tersebut ialah bagaimana kamu menyikapi tantangan dan permasalahan yang ada dalam hidupmu sendiri, karena Pak Rotter ini orangnya suka to the point dan lebih ke kognitif gitu yha, dia memberikan opsi hitam atau putih. Pertama yang punya kontrol penuh terhadap dirimu sendiri ialah dirimu sendiri (internal locus of control) atau karena orang lain dan lingkunganmu (eksternal locus of control). yha, sesederhana itu. 

Lalu?
Otak saya mulai bisa diajak berpikir, sebenarnya kualitas hidup itu siapa sih yang menentukan, apa saja faktornya, dan bagaimana mencapai kehidupan seperti yang dibayangkan, dan wah, locus of control ini sangat cocok sama kualitas hidup seseorang loh, dan karena saya adalah mahasiswa psikologi peminatan klinis, maka subyek akan saya berikan kepada pasien penyakit kronis, biar makin meyakinkan-lah anak klinisnya hahaha dan jadilah sebuah judul dengan variabel-variabel tersebut. Meskipun belum melakukan penelitian sendiri mengenai korelasi dua variabel yang saya angkat tersebut, namun semakin kesini, saya semakin yakin bahwa mereka ada dua hal yang saling berkaitan entah mana yang nantinya menjadi sebab atau akibat. Mungkin saya termasuk manusia yang mencintai logika dan mempercayai intuisi, karena dua hal ini sangat amat berperan penting dalam pengambilan keputusan dan penyimpulan sesuatu, dan disinilah saya merasa perlu menjabarkan latar belakang keyakinan tersebut.

Usia dua puluhan anak milenial memang dikatakan lebih mudah terserang stress. Menurut American Psychology Assossiason (APA) hal ini terjadi karena kita terlalu sering menyelesaikan masalah dengan mesin pencari, apa-apa serba cepat dan praktis, dan hal ini yang menyebabkan kita lupa bahwa hidup ini adalah sebuah proses. Tidak bisa cepat dan praktis. Hal ini tidak berlaku buat kalian, saya yang mahasiswa psikologi aja masih susah menerapkan apa yang sudah didapatkan di kelas dan tentu juga moody-an. Sering sedih dan overthinking kalau sedang sendiri, dan paling semangat kalau interaksi dengan orang lain. Dan kembali berterima kasihlah saya -yang lagi-lagi- setelah diskus dengan salah satu senior yang juga kuliah psikologi dan sedang berwisata kuliah exchange, di Aceh mengatakan bahwa ada unfinished bussiness dalam diri saya. Teori yang dikembangkan oleh Frederick Perls (1951) lewat bukunya yg berjudul Gestalt Therapy: Excitement and Growth in the Human Personality.

Unfinished Bussiness?

Baik, akan saya membuka bukunya, supaya tidak salah menulis dan menyebarkan informasi~
Jadi urusan yang tidak selesai ini adalah perasaan-perasaan yang tidak terungkapkan seperti dendam, kemarahan, kebencian, sakit hati, kecemasan, kedudukan, rasa berdosa, rasa diabaikan. Dan karena tidak diungkapkan, perasaan-perasaan itu stay here, deep in ur deepest heart dan selalu kita bawa kemana-mana dengan cara menghambat hubungan dengan orang lain dan pastinya diri sendiri (Corey, 2005). 

Polster dan Polster (1973) juga menyatakan bahwa arah-arah yang tak selesai itu mencari penyelesaian dan apabila arah-arah tersebut memperoleh cukup kekuatan, maka individu disulitkan oleh pikiran tak berkesudahan, tingkah laku kompulsif, kehati-hatian, energi yang menekan, dan banyak perilaku mengalahkan diri. 

Akibatnya? Oh tentu saja banyak.
Kalau urusan tidak selesai ini membentuk pusat keberadaan manusia, maka semangat pemikiran seseorang itu menjadi terhambat, dengan memaklumi sikap kurang bertanggung jawab atas dirinya. Idealnya, orang yang efektif adalah orang yang punya kebebasan terlibat secara spontan dengan apa saja yang diminatinya sampai minat itu terpuasakan. Dan orang yang berada dalam proses itu akan menjadi lebih fleksibel dan terbuka. ndak berputar dan fokus pada dirinya sendiri, ia lebih bisa berpikir jernih dan tidak overthingking pada hal-hal irasional yang justeru membuat dirinya sendiri terpuruk.

Jadi, Apa ya yang membuat kita mengalami hambatan dalam menyelesaikan unfinished bussiness?

Rasa sesal dan dendam terhadap masa lalu ((yang paling sering dan yang terburuk)).

The First Thing that I need to Realize Untuk melewati serangakaian acara tidak berakhir dari tahun-ke-tahun dengan unfinished bussiness ialah berdamai dengan diri sendiri, dan menyadari bahwa yang menentukan dan bertanggung jawab penuh dengan dirinya sendiri. Ya. Siapa coba? kalau bukan saya sendiri.
Yang menentukan saya mau sedih berlarut
yang menentukan saya mau cari alesan terus buat dimaklumi 
yang menentukan saya mau cari pembenaran atas kesalahan-kesalahan yang selama ini sudah terjadi
yang menentukan saya mau jadi lebih baik dengan lebih berhati-hati
yang menentukan saya mau lebih baik ya juga semua terserah saya
wong ini ya hidup-hidup saya
siapa yang mau bertanggung jawab atas diri saya kalau bukan saya yang menyadarinya

mungkin awalnya sakit dan susah (untuk menyadari semuanya), tapi memang ada ya awal yang mudah?

The Next is
Menerima. Bagaimana kita mau menerima kalau belum kenal dengan diri sendiri?
Terima semua perasaan sakit yang pernah kamu alami, terima semua proses yang menjadikanmu seperti sekarang, rasakan sesedih-sedihnya, sebahagia-bahagianya, rangkul semua emosi itu. Konon, katanya ((dosen favorit aku di kelas)) Pribadi yang sehat adalah pribadi yang mampu merasakan berbagai macam jenis emosi dan menerima semua itu. Tenang, setiap orang memiliki kelemahan dan kelebihannya, kita semua sama. Jangan merasa yang paling buruk, paling tertinggal, atau paling-paling yang lain. Toh, setiap orang pasti punya untold story that make they stronger. Kenali diri lebih baik lagi, buat tabel SWOT Analysis (strenght, weakness, opportunity, dan thread) maksimalkan yang menurutmu sebagai kelebihanmu dan tidak perlu menjadi orang lain. we are just need to be the best version of ourself right? :)

Kadang manusia-manusia itu suka lupa, kalau tiap dari kita punya perjalanan yang berbeda, karena kalau sama jadi bebek dong ((kata bapak aku sih)) 

The little thing we need to practice
Lalu jangan pelit-pelit juga bersikap baik untuk diri sendiri. Ini juga susah banget ya (kalau belum terbiasa) secara kita hidup di budaya sungkanan yang harus mementingkan perasaan orang lain dibandingkan diri sendiri, yang selalu  dituntut baik di depan orang lain, ya giliran di cadepan diri sendiri suka sekali nyalahin, dan jahat. Jangan ya, kasian dia (baca: dirimu) satu-satunya yang mau kamu tinggali bertahun-tahun lo, mari bersahabat dengannya.

The last but not the least
Ketika kita sudah mengenal, menerima dan memiliki kontrol penuh terhadap diri sendiri. semoga saja tidak ada alasan untuk menunda pekerjaan lagi, semoga tidak ada alasan untuk mengeluh dan mengasihani diri sendiri, semoga tidak ada alasan untuk menyalahkan dan merasa bersalah pada diri sendiri. Karena kita tahu apa potensi yang ada didalam diri kita masih terpendam, dan perlu dibangunkan memecah kecemasan yang terlalu sering menjadi penghambat untuk berbuat lebih dari yang dibayangkan terhadap diri sendiri. 

Kalau bukan kita yang percaya dan mau merubah diri kita, siapa lagi?
toh, pada akhirnya dan pada awalnya kita selalu sendiri. sejak dalam kandungan sampai di saat ajal nanti. jadi pendukung terbaik dirimu adalah dirimu sendiri. sama halnya dengan tulisan ini, tulisan yang aku tujukkan buat diriku sendiri dalam rangka memerangi kecemasan tak berarti, jangan khawatir Si, kamu bisa. sama seperti orang lainnya. selama kamu mau dan berusaha. 

Terima kasih teman-teman, sekali lagi, yang sudah mau capai-capai membaca self-talk versi tulisan milliku, semoga kita bisa saling menyelamatkan diri masing-masing. Maaf aku belum bisa membantu apapun, karena sebelum membantu orang lain aku harus menolong diriku sendiri dulu dong ya~
Doakan dua tahun kedepan aku bisa membantu teman-teman di tempat yang lebih profesional ya :)


Salam Hangat, 

sisi
1:47 AM
29 Oktober 2018


Welcome Party adik-adik Beswan 34

Nation Building September 2018

Study Observasi SMPN 4 Waru, 2011

Hiya, ini apa ya~ launching webnya senior~ setahun lalu ini, Desember 2017

Saya dulu pernah jadi dancer waktu SD, SEKIAN.

saya juga pernah jadi anak choir dong, waktu Nation Building di Semarang kemarin September 2018

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In

Hai, Ibu


Tulisan ini untukmu, Ibu.
Aku menyayangimu!
21 April 2018

            Banyak orang mengucapkan selamat hari kartini, mengatakan habis gelap terbitlah terang, mulai mengenang jasa-jasa beliau yang memperjuangkan hak-hak pendidikan di eranya, bahkan mengatakan pergerakan emansipasi wanita di Indonesia muncul pertama kali karena beliau.

            Namun menurut saya, kita justeru sering lupa, bahwa ada seseorang yang jauh lebih dekat, yang jauh lebih nyata, yang jauh lebih bisa di observasi, yang jauh lebih mudah di panuti, yang selama ini sudah banyak memberi cahaya-cahaya dalam kehidupan kita, yang biasa disebut dengan panggilan Ibu.

            Mungkin Ibuku bukan lulusan dari strata satu, mungkin juga ibuku bukan orang yang pandai dalam mengatur nada suaranya ketika sedang marah dan jengkel atas kesalahan-kesalahan yang selalu aku ulangi meski sudah diperingati berulang kali.

            Tapi beliaulah orang yang memiliki skills lebih handal dibanding lulusan dokter gigi, beliaulah orang pertama yang selalu percaya padaku, beliaulah yang selalu mengatakan aku bisa menjadi apapun yang aku mau, aku bisa pergi kemanapun yang aku ingin, beliaulah yang selalu paling bersemangat ketika aku mendapat cerita-cerita baru dan selalu menjadi suporter paling heboh di setiap hari-hariku yang sering absurd.

            Tapi, Ibu, aku tau Ibu tulus, Ketika ibu yang mengatakan dengan kesal kalau-kalau tidak mau memasak tapi tetap saja memasak. “Ga enak Nduk, udah kebiasaan masak, gapapa seneng kok Ibu masak, toh Cuma gini masaknya, gampang” katanya dengan nada semangat. Padahal aku tau, Ibu sedang lelah.
Tapi, Ibu, aku tau Ibu tulus, Ketika ibu diam-diam menangis dalam malam sepi ditengah panjatan doa, berharap anak-anakmu kelak menjadi apa yang mereka cita-citakan,
Tapi, Ibu, aku tau Ibu tulus, ketika ibu yang marah dan mengomel sepanjang hari karena aku tidak memberi kabar karena terlalu sibuk dengan kegiatanku


Ibuku memang bukan orang ternama seperti Kartini, yang menjadi tokoh penting dalam sejarah.
Ibuku memang bukan keturunan ningrat yang bisa sekolah dengan mudah seperti Kartini pada jamannya
Dan mungkin banyak warna merah di rapor ibuku sejak sekolah dasar sampai sekolah keperawatan gigi
Iya, beliau sering mengatakannya
Tapi ada hal-hal yang dimiliki ibuku yang selalu aku panuti
Semangatnya
Optimismenya
Pantang menyerahnya
Dan
Terakhir cita-citanya

Beliau memang tidak mengajarkan pendidikan formal seperti yang kartini dan guru-guruku lakukan. Tapi banyak hal yang sudah diajarkan beliau. Banyak kasih, banyak cinta, banyak sayang yang dibalut dalam kata-kata yang keluar dari sanubarinya. Sehat sehat ya Kartini-Ku. Semoga Allah selalu bersama Ibu dan Keluarga Kita.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In

Melogikakan Perasaan


Jauh sebelum aku mengenal kata cinta, kedua orangtuaku sudah menggambarkannya dengan jelas kepadaku

Jauh sebelum aku tau apa itu jatuh cinta, aku sudah cukup jatuh berkali-kali, dan aku jatuh karena orang terdekatku sendiri, saudaraku

Jauh sebelum aku merasa mengerti apa yang dimaksud cinta, aku sudah mengerti bagaimana besar perasaan kompleks lainnya, yang sejujurnya jauh lebih 'menakutkan' dari perasaan candu itu sendiri

Mungkin karena itu, aku selalu berusaha dan berupaya sebisa mungkin melogikakan semua hal yang memang seharusnya bisa dilogikakan

Aku sering tertawa melihat sepasang muda mudi menangis karena pasangan mereka ketika jaman sekolah dulu
Aku sering heran melihat bagaimana seorang bisa menaruh harapan sebesar itu kepada pasangannya, yang belum tentu nantinya jadi suami/istri mereka
Dan, aku sering bertanya-tanya, apakah memang ada riset yang mengatakan kekonsistenan perasaan satu orang dengan orang lainnya?

Sejauh yang sudah aku baca, semua itu hanyalah sebuah pola hormonal yang telah terancang dengan rapi
Rekayasa, cara kerja, imajinasi dari organ paling penting dalam tubuh manusia
Otak
Hormon oksitosin, Norepineprin, Serotonin, dan Dopamind
Menjadi banyak diproduksi ketika 'perasaan' itu hadir

Yang dulunya, makan icecream saja sudah bisa membuat hatiku riang seharian
Berubah menjadi
Serentetan kalimat puitis dari dia, yang bisa membuat tersenyum seharian

Yang dulunya mendapat pujian dari orangtua bisa berbunga-bunga
Menjadi
Mendapat pengakuan dari dia atas kecantikan fisik ataupun psikis yang bisa membuat betah tidak makan apapun selama duabelas jam

Yang dulunya dari ajakan main dengan teman-teman se-genk
Menjadi
Ajakan ke toko buku bersama dia yang tidak pernah henti-hentinya dinanti

Mungkin ini bisa menjadi tulisan pertamaku tentang perasaan romantisme
Mungkin aku mulai berani mengambil resiko
Bahwa keputusan untuk jatuh lebih dalam pada seseorang
Selalu diiringi dengan dinamika-dinamika tidak menyenangkan lainnya
Sedih, Takut, Cemas, Khawatir, Kecewa

Mungkin perasaanku berubah nanti malam, nanti siang, sejam kedepan
Atau
Mungkin kamu yang lebih dulu menyadari dan berubah pikiran

Atau sebenarnya
Kita hanya sama-sama saling menunggu yang lebih tepat untuk datang
Atau justeru
Menunggu yang dulu-dulu untuk kembali
Sebesar-besarnya misteri adalah perasaan itu sendiri bukan?

Tapi
Untuk saat ini
Sudah kuputuskan
Untuk memberi beberapa persen kewarasan logikaku
Dan jatuh dalam pelukmu

Demi Allah sang pembolak-balik hati
Aku tau, apapun dan bagaimanapun kedepan nanti
Selalu ada ruang yang rapi untuk kembali mengenang keputusan pertamaku dalam bidang ini
Sebidang lahan perasaan 51% dan logika 49% [cc]


Rabu, 18 April 2018
12:12 WIB

Read More

Share Tweet Pin It +1

2 Comments

In #life

Another Day of Spring

Bola biru seharga seratus enam puluh lima ribu rupiah itu aku ambil dari atas meja kerja kamar
Berada di sudut, dibawah kipas angin, dengan debu-debu yang menemaninya
Dengan hati-hati, kupeluknya
-
Hari itu hari Sabtu, tanggal 31 Maret 2018.
"Kapan terakhir kali aku melihatnya," tanyaku dalam benak
Berapa tahun yang lalu ya?
Sampai akhirnya aku tersadar
Waktu yang selama ini kuanggap tak sebentar itu
Ternyata sesingkat aku menghabiskan eskrim kesukaanku
Ternyata secepat aku berlari menuju sepeda motor kakakku
Ternyata seringkas aku membersihkan kotak bekal makan siangku
-
Aku membersihkannya dengan salah satu molekul kimia
Yang sudah tak asing
H2O sebutannya
Mulai terlihat jelas nama-nama
Sering aku lihat di saluran favoritku
Atau di buku-buku bacaan wajib kuliahku
Rusia, Irlandia, Belanda, Yordania, Saudi Arabia, Afrika, Korea, Malaysia, Indonesia, Australia, dan berakhir di Amerika
Spring and it's beauty
Mungkin karena aku belum pernah melihat bunga-bunga bermekaran secara serempak di satu musim yang membuatku selalu excited dan have high expectation. They said everything starts from your hopes and dreams. So I once dream about it.
To see them with my own eyes. Aamiin.

From Japan to Holland
Cita-cita saya ke Jepang beberapa tahun terakhir tiba-tiba berpindah ke Belanda seketika, saat melihat dibukanya program KKN Internasional UIN Surabaya tahun 2018 ini. Ah sejujurnya, di awal saya pun ndak berani 'nyoba' karena persyaratannya (yang memang rasanya saya-pun tidak memenuhi kualifikasi) tetapi pada akhirnya, diberanikan saja mencoba. Setiap ragu dan gundah, selalu saja ada orang-orang baik dibalik layar yang terus menyemangati. Keinginan mencoba ini diperkuat oleh Deri, laki-laki yang sekelas dengan saya di jurusan Psikologi sejak semester pertama, actually saya mau berterima kasih sama doi yang dengan baik hati bertanya "Kamu nggak daftar ta, Si?" yang akhirnya membuat saya mengunjungi International Office UIN Surabaya di hari akhir pendaftaran, eh ternyata pendaftarannya diperpanjang. Setelah dapat restu dari orang tua, semangat saya semakin kuat. Orang Tua memang selalu menjadi Motivasi terbesar, Best support system tercanggih, dan penawar obat kegelisahan termanjur.

Apalah Saya Tanpa Mereka.

Kali itu saya benar-benar merasa Allah membuka jalan untuk mencobanya. And yes! there is an art of tryin'

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

Diberdayakan oleh Blogger.