In #selftalk

Macaroni Schotel


semangkuk penuh daging asap, makaroni, sosis, jagun dipermanis dengan keju parut diatasnya, seperti sebuah kehidupan, semua ada bercampur baur dalam satu mangkuk. Penuh,
Ceritanya kemarin, 4 Juli 2017 saudara sepupuku Dek Debby mau lamaran dan kakak sepupuku Mbak Nia diminta tolongi buat Mini Pasta gitu. Aku dengan segala kebosanan di liburan semesteranku yang ke empat ini berusaha menjadi lebih produktif dan (yah udah umur 20 tahun, ya masa gini-gini aja) hehehe. Dengan sadar pingin ikut bantu-bantu untuk masak. Ya memang aku Cuma bantu ngocok telur, atau sekedar masukin adonan ke plastiknya but at least I try. Ohiya ini hal pentingnya, hari itu merupakan hari terakhir make up fasting ku. Dan aku dengan sengaja membatalkannya atas dasar cuma kepingin makan mini pastanya.
                aku mengira rasannya akan sangat teramat enak (lagi – lagi aku terlalu berekpetasi). Ya memang enak sih, but Im Kinda regret it. Kayak nggak worthy sekali aku membatalkan puasaku hanya karena ingin makan jajan ini. Karena ya rasanya ya Cuma begitu-begitu aja (maksudnya sama aja seperti pasta-pasta yang pada umumnya sudah pernah kumakan)
Hal ini mirip dan sering aku alami dalam kehidupanku sih, aku kalah sama ego ku. Id ku bilang pingin makan jajan enak, terus ego ku langsung deh tiba-tiba menambah-nambahi “yaudah makan aja Si, toh ya kurang satu kan, nanti juga ada lamaran adek sepupumu kan ndak enak kalau kamu bilang ‘maaf lagi puasa’ kesannya ndak menghargai nanti, lagian itulo enak,” dan masih banyak lagi pembenaran yang di lakukan si ego supaya aku batalin puasa, di sisi lain super ego ku juga ga mau kalah sih. Dia mencoba menyalahkan tindakan ku, tetapi seperti biasa, egoku yang menang. HAHAHA
Setelah aku pikir-pikir, manusia sering mengalami pengalaman seperti ini. Ketika dua sisi dalam diri mereka saling berdiskusi (self-talk kalau di teori Psikologi). Sering termakan oleh ekpetasi ekpetasi dan iming-iming sendiri yang akhirnya juga di sesali untuk yang kesekian kali.
Seperti pemikiran ku mengenai masa depanku sewaktu kecil. Aku selalu merasa jadi orang dewasa itu menyenangkan, bertemu orang baru, lingkungan baru, setiap hari belajar hal baru, senang-senang  bersama orang-orang, bisa pergi kemanapun yang aku mau, makan apapun yang aku suka. Aku selalu menganggap semua hal menyenangkan terjadi ketika kita sudah remaja.
Setelah dijalani, ternyata semua itu balance. That’s life. Kita nggak bisa Cuma mau senangnya hidup menjadi anak muda, kita juga harus mau struggle nya. Semua yang didapat itu perlu usaha nggak tiba-tiba terjadi di depan mata. Tiba-tiba bisa ke Luar Negeri, tiba-tiba bisa punya banyak teman baik, tiba-tiba bisa disukai sama orang yang selama ini jadi crush kita.
Semua itu butuh usaha. Yup usaha melawan rasa males kita itu loh dan fokus ke tujuan. Hal ini juga aku pelajari dalam film Inside Out. Toh memang kebahagiaan itu ada pasti karena diawali kesedihan. Jadi kita bisa menghargai perasaan itu. Tidak akan terasa hidup manis kan kalau belum pernah merasa pahit, karena kita tidak punya pembanding. Hidup jadi hambar.
Setiap pengalaman yang sudah terlewati itu seperti kepingan-kepingan pelajaran yang membentuk who we are now sekarang, tergantung mau bagaiman kita menyikapi pengalaman itu. Mau diambil hikmahnya atau ya sekedar masuk short term memory terus di lupain gitu aja.
Dan pengalaman yang bisa diambil dari semangkuk penuh daging asap, makaroni, sosis, jagun dipermanis dengan keju parut diatasnya, adalah jangan mau kalah sama keinginan sesaat yang dikorbankan buat tujuan awal kita. Jadi let’s be more focus and consistent with urself. [cc]

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #life

Hidup Itu ...




Oke sekarang aku memasuki usia dewasa awalku. Usia dua puluh tahun. yey akhirnya aku berkepala dua (cie yang udah ga ABG lagi). Tapi apa yang sudah aku dapat ya dalam dua puluh tahun kehidupanku. Kadang aku merasa hidup sebercanda itu.
Oke, aku cerita dulu mengenai kisahku saat ini. Iya, aku berkuliah, dan sekarang sedang menikmati liburan semester empat yang kurang lebih dua bulan setengah (iya, emang lama banget). Sejak kecil hidupku selalu menurut, apa yang dianggap kedua orangtuaku baik, selalu aku lakukan. Sejak kecilpun aku selalu memiliki rencana untuk masa depanku.
Aku ingin sekeren tokoh-tokoh yang aku lihat di film-film. Aku ingin ke Luar Negeri secara gratis, berprestasi dan membuat orangtuaku bangga memiliki anak ‘aku’. Aku versi kecil juga selalu beranggapan bahwa lingkaran pertemanan dan kehidupanku (pasti akan) selalu menjadi lebih baik seiring bertambahnya usiaku. Entah kenapa mindset itu sudah tertanam sejak aku kecil.
Dimulai dari SMP, aku ingin masuk SMPN 1 Sidoarjo (SMP Favorit di Sidoarjo) tetapi aku couldn’t make it. Aku akhirnya masuk SMPN 4 Waru, yang jaraknya tidak terlalu jauh dengan rumah memang. Lalu ketika SMA aku ingin masuk ke SMAN 1 Sidoarjo (bilingual coy) lagi – lagi hal itu belum bisa jadi kenyataan, dan nyatanya aku malah masuk SMA Swasta yang notabenenya (agak kalangan atas) di Sidoarjo Kota dan (memang) Mahal. Sekali lagi aku merasa (bisa dibilang) kurang puas lah sama diriku sendiri.
Apa aku kurang berusaha? Apa aku kurang berdoa? Atau memang ini yang Allah pilihkan untukku dan yang terbaik untukku. Lagi-lagi aku memilih jawaban dari percakapan singkat dengan si otak yang terakhir.
 Aku menyadari hal itu biasanya ketika sudah mendekati waktu perpisahan sekolah. Sebelumnya memasuki akhir tahun sekolah aku selalu menganggap semua hal yang aku inginkan tidak pernah dikabulkan oleh-Nya.
Bukan bermaksud bagaimana-bagaimana. Memang aku sejak kecil merupakan anak yang bisa dibilang ‘butuh usaha lebih’ untuk bisa memahami materi sekolah. Aku tidak mendapat beasiswa dari kantor ayahku sejak kelas satu SD, tetapi baru dapat ketika kelas empat SD. Dimana saat itu saudara-saudaraku yang lainya (Mas Cahya dan Mas Brian) sudah mendapat beasiswa dari kelas satu SD.
Aku juga sudah mengambil kelas tambahan diluar jam sekolah sejak kelas empat SD dan memang nilaiku sangat terbantu dengan itu. Bahasa Inggrisku sewaktu SD itupun bener-bener nihil. Sampai pada suatu ketika aku memiliki sahabat kecil namanya Titah, dan ibunya seorang tutor Bahasa Inggris. Aku les di Ibu dia. Dan aku merasa belajar Bahasa Inggris sangat amat menyenangkan, mudah dan seru! Nilai-nilaiku juga naik lumayan dari C ke B+.
Aku selalu belajar lebih banyak dan lebih bersemangat belajar dengan (orang lain) dibanding saudara-saudaraku . Karena aku senang ketika di puji oleh orangtua ku atau orang disekitarku ketika mendapat nilai yang bagus (bahasa Psikologinya sih dapat pengakuan dari oranglain, dan feedbackk positive memang mempengaruhi motivasi seseorang).
Begitu pula ketika SMP, aku termasuk anak yang selalu masuk 10 besar. Nilai tryout UASBN ku ketika itu pun juga mendapat skor yang lebih tinggi dibanding temanku yang lain dalam mata pelajaran bahasa inggris. Tapi aku tidak bisa masuk ke SMA yang aku pilih. Aku juga sudah ikut les khusus SMA Unggulan. Kadang sering berpikir apakah ambisiku terlalu berlebihan ya, apakah aku sebodoh itu, sudah ikut bimbel masuk ke sekolah pilihan masih aja ndak bisa.
Ketika SMA juga begitu, diantara saudaraku aku yang paling rajin masuk les dan tidak pernah bolos. Selalu aktif di kelas maupun tempat les. Semua yang tidak aku mengerti selalu langsung aku tanyakan kepada guru lesku.
Tapi entah kenapa aku masih sering merasa salah dan dianggap yang paling tidak bisa apa-apa ketika itu kembali pada ilmu kehidupan. Aku sering salah bila diminta tolongi orangtua, sering marah-marah dan seenaknya sendiri, sering dianggep nyebelin sama saudara yang lain atau sering juga (dulu waktu SD-SMPan lah) ditakuti oleh teman-teman mungkin karena sifatku yang spontan dan keras a.k.a marah ngga jelas atau nangis sambil ngomel-ngomel gitu.
Aku juga (sempet) merasa dikhianati oleh yang namanya  “Usaha”. Iya. usahaku sebanyak ini ternyata senilai dengan usaha dia (masku yang memang sangat santai). Masku yang namanya Cahya. Dia logikanya main banget. Usaha les SBMPTN ku yang rajinnya ya bisa dibilang (rajin) ternyata sama dengan dia yang masuk les hanya untuk menggugurkan absensi aja (telatan banget, dan juga jarang diskusi sama mentornya) kami sama-sama masuk di Universitas yang sama. UIN Sunan Ampel Surabaya. IAIN nama jadulnya.
Mas Cahya yang melihat kesungguhanku buat masuk ke ITS jurusan Biologi, yang waktu itu juga pass gradenya termasuk biasa saja (30%) tidak terlalu tinggi.
“masuk masuk dek kamu ke ITS, Pass Grade nya segini aja kok, iya,” itu katanya.
Tapi kenyataannya.
Heheh. Ya walaupun sekarang aku juga sangat bersyukur sekali diterima di Universitas negeri dengan UKT yang bisa dibilang ramah lingkungan, dengan jurusan yang memang selalu aku ingin pelajari, Psikologi, heheh.
Banyak hal positive sebenernya yang kita dapat dari mengubah cara berpikir. Aku mulai menikmati proses ku. Bahkan aku merasa kalau semisal dulu aku keterima ITS mungkin aku ndak bisa seperti sekarang, ndak bisa kenal dia, ndak bisa ketemu dosen sekeren beliau, dan ndak bisa punya mindset seperti yang aku miliki dan aku yakini hasil dari semua materi kuliahku.
Aku mulai mengerti hidup itu bukan soal menyesali goal yang tidak sesuai, tapi tentang melakukan yang terbaik untuk meraih mimpi dan menyadari ternyata hal itu tidak cukup baik untuk kita, jadi Allah pingin memberi lebih dari apa yang kita pernah bayangkan.
Sama seperti Kuliah. Kuliah itu bukan perkara bagaimana dosennya, lingkungannya, nama kampusnya, tapi bagaimana kamu bisa mengandalkan segala kemampuan kita untuk sampai di goal yang di harapkan.
Apa goal kalian kuliah?
Bisa ke Luar Negeri? Ya tinggal sering-sering browsing EO yang adain kan?
Bisa dapat ilmu? Ilmu nggak cuman di bangku kelas kan, bisa diskusi dengan teman, aktif organisasi yang positif, atau mau langsung terjun ke dunia kerja biar sekalian preaktek
Bisa dapat relasi yang banyak? Ya tinggal ikut acara volunteer di Surabaya dengan segenap jajaran komunitas – komunitas keren yang ada didalamnya.
So everything is up to you. You choose, you decided, you want to be what u like.
Self-management ku lumayan meningkat semejak kuliah ini, aku dididik mandiri di kuliah ini. Tidak ada yang bisa aku andalkan selain diriku. Banyak teman-teman yang membantu aku dalam proses pendewasaan. Teman yang semaunya sendiri, sering tidak hadir kerja kelompok, diajak diskusi jawabannya mesti “bingung”, sampai teman yang mirip aku, teman yang saling mengingatkan sampai teman yang menginspirasiku ditengah-tengah banyaknya orang di lingkungannya yang tidak kooperatif.
Aku belajar banyak hal dari setiap orang yang aku temui. And I loved it so much!
That’s life. Life is about how u want to be. Surrounding urself with positive vibes and friends, and how u choose what kind of life u want to live.  [cc]

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #life

Happy 15th YearsOld

sejak kecil aku adalah anak yang ceria, ekpresif, dan spontan (banget). Kalau mau ngomong ya ngomong aja, tanpa ada perencaan sebelumnya, tanpa memikirkan apa akibatnya nanti dan bagaimana perasaan lawan bicaraku. Sampai tiba disuatu waktu, aku menyadari itu. Menyadari selama ini yang aku lakukan kepada orang-orang disekitarku tidak seperti apa yang aku harapkan orang lain memperlakukanku.
Mungkin bagi sebagian orang umur tujuh belas tahun adalah umur istimewa mereka. Tapi tidak menurutku. Umur lima belas tahun adalah umur pertama yang paling aku anggap spesial. Titik balik pertama dalam hidupku terjadi ketika aku duduk dibangku kelas sembilan atau kelas tiga Sekolah Menengah Pertama.
Aku.
Dengan segala kekuranganku.
Suka marah, mudah menangis, paling tidak bisa dengan orang yang tidak sependapat denganku, paling suka menang, dan sering (sekali) menganggap orang lain itu tidak lebih baik dari aku.
Memang aku (di masanya) semenyebalkan itu. Yang mengherankan adalah aku dengan semua perilaku annoyingku masih memiliki teman-teman yang tetap sabar dengan sifat-sifatku, tetap ada disisiku ketika aku sedang down, dan mau terus menyemangatiku.
Ratna Fitria Isnaini adalah salah seorang dari banyak temanku yang membantuku selama masa-masa remaja awalku yang penuh kekacauan. Semakin mudah marah ketika tidak bisa mengerjakan tugas sekolah, sering menangis ketika keadaan yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang aku rencanakan. Hal-hal sekecil itu selalu membuatku sensitif kala itu.
Di usiaku yang ke -15 tahun. aku bertekad ingin merubah sikap semauku sendiri itu. Aku mulai menyadari betapa melelahkannya bertemu seorang yang mirip denganku. Dan betapa teramat (sangat) sabar sekali selama tiga tahun terakhir teman-temanku menyikapiku. Aku mau berhenti dikenang Jelek
oleh teman-temanku. Aku tidak mau ketika reuni aku menyesali apa-apa saja yang telah kulakukan di kala itu. Aku mau menjadi seperti Mbak Pit (panggilan akrab Ratna) yang bisa membuat teman lainnya merasa nyaman dan lebih baik.
“Aku sudah besar, aku harus berubah. Mau sampai kapan aku begini terus,” ini yang selalu muncul dikepala ku saat tahun akhir 2011 sampai sekitar 2012 dan usiaku tinggal beberapa bulan lagi sudah genap 15 tahun.
Aku belajar mengendalikan apa yang aku ingin ekspresikan, meskipun sepertinya belum ada perbedaan yang secara signifikan dalam diriku yang kurasa. Tetapi setiap aku ingin mudah marah atau mengekspresikan perasaan negatifku. Aku selalu teringat dengan perkataanku di dalam otaku tadi, “aku sudah besar, aku harus berubah,”.
Meski tidak langsung, aku merasa jauh lebih bahagia dan senang. Ternyata enak ya jadi orang sabar dan dikenal baik oleh orang lain. Itu yang aku rasakan pertama kali.
Feedback pertama yang aku terima datang dari tetanggaku, namanya Bu Sarman. Beliau merupakan salah seorang yang sudah senior di perumahanku (sudah lama tinggal di Pepelegi maksudnya wkwk). Sudah mengenalku Sejak aku kecil, dan mengerti watakku juga. Meski tidak mengatakan langsung padaku bahwa ada yang berbeda dari biasanya. Bu sarman mengatakan hal tersebut ke Ibuku.
“wah, sekarang sudah pinter Deasy, Bu. Sudah ndak marah-marahan lagi ya, sudah sering nyapa juga,” itu yang dikatakan Mama kepadaku. Entah apa yang aku rasakan ketika itu, yang jelas aku puas pada diriku untuk pertama kalinya. Aku bangga menjadi diriku sendiri. Seperti ini ya rasanya dikenal baik dan berubah menjadi lebih baik kata orang, rasanya sangat menyenangkan dibanding dikenal jelek dan dianggap anak yang (agak) bandel karena aku dulu memang sering membantah perkataan kedua orangtuaku. 

Semua terasa begitu lebih berkesan. Aku merasa menghargai diriku sendiri karena tidak menjelek-jelekkan nama baikku sendiri. Aku merasa so many good thing will come along to my life. Dan aku sangat menanti-nanti hal itu. Tapi tidak sedikit hal-hal sedih juga sering melintasi pikiran. Mungkin ini ada salah satu faktor aku ingin berubah, iya. Perasaan akan berpisah. Berpisah dengan orang-orang baik yang selalu menemaniku selama tiga tahun terakhir.
Menurutku, Akhir sekolah memang merupakan saat-saat yang menyedihkan sekaligus mendebarkan.
Menyedihkan karena pasti akan ada perasaan berbeda ketika pindah ke lingkungan baru, teman baru, guru baru, suasana baru. Tidak melihat guru yang selama ini selalu mengajar di depan kelas, tidak mendengar suara tertawa teman dikelas, tidak bersepeda ke sekolah lagi.
Mendebarkan karena aku memang selalu menyukai hal-hal baru, aku selalu menantinya, mengantisipasi, dan menikmati pekerjaan dan hal-hal baru yang akan terjadi.  
Aku ingin menjadi baik (setidaknya lebih baik) karena aku takut, aku cemas nanti jangan-jangan tidak akan ada orang sebaik teman-teman lamaku yang akan menerima ku apabila aku tidak berkembang. Mungkin aku akan dikucilkan apabila seperti ini terus, bahkan mungkin aku akan dibenci karena sifat semauku sendiri yang begitu besar. Aku takut semakin aku besar kemampuan menghilangkan perasaan tersebut semakin susah. Maka aku ingin berlatih berubah sesegera mungkin.
Aku menyadari hidupku adalah milikku, bukan milik orangtuaku, saudaraku, teman-temanku apalagi guruku. Aku pasti akan hidup dengan diriku sendiri suatu saat nanti. Aku tidak bisa mengandalkan orang lain, aku harus mengandalkan diriku sendiri. At least I have Myself. Aku tidak akan bersama orang yang sama terus dalam kronologi perjalanan hidupku.
Aku pasti harus pindah ke lingkungan sosial baru, harus mengenal orang baru, semakin besar tentunya lingkungan sosialku semakin meluas, dan kalau kalau aku mempertahankan sifatku yang begitu terus aku akan menjadi orang yang tidak diterima dimanapun aku berada. Aku ingin menjadi seperti mereka mereka yang aku kagumi, aku ingin menjadi orang yang berada diposisi protagonis.
Aku ingin menjadi peran protagonis dalam kehidupan orang-orang disekitarku.
Itulah pemikiran seorang Sisi yang berada di Masa Remaja Awal dengan usia nya yang masih 15 tahun. tepat terhitung lima tahun yang lalu dari sekarang. Aku Harus Berubah. Dan akhirnya Allah SWT membantu prosesku itu. [cc]






Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #selftalk

Aktualisasi

Aktualisasi diri?

selama ini setiap manusia selalu melakukan setiap kegiatan ataupun pekerjaan yang disukainya, meskipun  memang tidak semua orang melalkukan sesuatu yang disukainya, kadang kala seseorang juga tetap melalukan pekerjaan yang mungkin sangat tak disukainya. Namum kita selalu mengingkan sebuah awards, entah itu sebuah berupa materi, pujian, pengakuan, penghormatan, ataupun sekedar senyuman. tetapi taukah kalian arti besarnya sebuah aktualisasi diri seseorang. jika saja setiap orang dapat mengaktualisasikan dirinya dengan baik, mungkin semua pekerjaan yang di handle nya dapat terselesaikan dengan baik, tepat waktu, dan pastinya kerjanya juga optimal!

mengapa bisa begitu?
mengapa aktualisasi diri begitu berpengaruh pada kualitas kerja seseorang?
tentu saja, orang yang dapat mengaktualisasikan dirinya dengan baik pasti akan melakukan segala nya dengan perasaan senang hati, suka cita, dan memaksimalkan kinerja nya karena ingin menjadi "the best self of himself" tentunya.
juga tidak mau mengecewakan orang yang sudah mempercayainya dengan penuh.

dampak nya sangat besar, ketika seseorang itu selalu dihargai, dihormati, diakui hasil pekerjaannya ia akan selalu memberika pekerjaan terbaiknya. contoh kecil saja ketika kamu sudah dikenal oleh salah satu dosen mu kalau kinerjamu bagus, tidak pernah telat saat kelas, dan selalu aktif memperhatikan ataupun bertanya di dalam kelas, dan sterotipe itu sudah melekat dalam benak dosen terhadapmu, kamu pastinya tidak ingin mengecewakan beliau bukan?

Yang paling utama dibutuhkan dalam dunia ini untuk dapat mengaktulisasi diri ialah rasa nyaman. ketika pertama orang tersebut sudah dibuat nyaman berada di suatu lingkungan, maka ia akan betah berlama-lama ditempat tersebut, entah hanya sekedar duduk-duduk atau untuk bercakap-cakap dengan orang yang berada disekitarnya. jadi rasa nyaman itu sangat penting

ketika rasa nyaman sudah dirasakan, ia akan lebih mampu mengekspresikan perasaannya, lebih mampu mengomunikasikan apa yang mungkin mengganjal perasaanya, apa-apa yang belum mereka mengerti dan telah mereka mengerti. maka jalinlah hubungan yang sehat antar sesama teman satu visi-misi agar dapat mendapatkan hasil yang optimal. sebuah senyuman bisa mengubah semuanya. so smile, because the worse is yet to come. :) -cc

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #poem

KAMU


bukan dari pesan teks
kalimat-kalimat puitis di atas kertas
kata-kata indah yang terucap
bukan
terlalu picisan
kamu bukan lagi anak-anak
yang biasa dibujuk rayu dengan es-krim
atau yang biasa dibuat berhenti menangis dengan sebatang permen
bukan
cukup dengan kehadiran
yang walaupun singkat
tapi penuh makna
disaat saat yang sakral
dan semua terasa seperti sebuah takdir
cukup dengan perhatian nyata sekecil apapun itu
bahu tuk bersandar
telinga tuk mendengar
bibir tuk tersenyum
semua terasa natural
mengalir seperti air
proses
sebagai saksi bisu

dan
aku suka
kamu suka
tinggal jawaban dari sang maha kuasa
apakah suka juga bila kita bersua bersama?


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #poem

Saat Ini



Mendung ya malam ini
Tidak,
Banyak bintang-bintang dilangit

Panas ya siang ini
Iya,
Tapi lihat cantik bukan langit biru dengan awan putih yang menari-nari

Rindu ya hari ini
Tidak, hanya sendu
Tidak benar, aku memang begitu

Iya, aku sangat rindu
Sampai mau makan saja rasanya
Melawan rasa sebal

Iya, memang aku makan tiap aku sebal
Dan aku sebal karena merindu mu hari ini

Tidak,
aku merindu mu setiap aku sepi

Tidak,
Aku merindu mu setiap menatap langit

Tidak,
Aku merindu mu setiap mengetik,

Ah, sudahlah
Iya, memang aku selalu merindumu
Dan aku sebal karenanya
Karena aku sebal aku makan
Makan membuat pipiku kembung
Badanku pun jadi gembung
sebal, rindu.

Iya aku memang  hanya bisa menulismu
Iya aku memang hanya bisa mendoamu di sela-sela sujudku

Lagu ini!
Kenapa?

Lupakan, semua lagu sedih selalu membuatku teringatmu
Tapi,
Tapi apa,
Tak apa kau melupakanku
Aku memang bukan peran utama dalam hidupmu
Benar kan?
Iya aku tau,
Iya,
memang selama ini cuma kamu,
dan selalu kamu yang aku ingin ceritakan
Cuma kamu yang selalu terlintas di antar sel-sel neuron
Terutama saat malam tiba
Lihat langit,
Lihat Bulan,
Awan,
Matahari pun,                                                    
Semua selalu tentangmu
Sial! Kenapa bayangmu tersebar dimana mana
Seperti brosur sedot wc yang kulihat dimana mana
Lagi dan lagi

Sebal tapi rindu
Rindu tapi linglung                                            
Linglung lalu tulis
Tulis atau ketik
Ketik atau headset
Melodi, playlist, headset kemudian bulir-bulir bening tumpah di pipi

Kamu pria dua dimensi dalam tiap-tiap kata yang kuketik
Kamu pria pena tempatku berkeluh kesah
Kamu pria kertas yang aku buat untuk menjadi heroin dalam duniaku
Yang aku ciptakan dalam angan-anganku                     
Dan selalu ku nanti nanti dalam mimpiku

Apa iya Kamu cuma khayalku?
Tapi kamu nyata,
Tapi apa iya kamu seperti yang aku gambarkan dalam benakku
Aku takut
Semakin mengenalmu, semakin aku tidak mengetahuimu

Ah, masa peduli dengan semuanya
Yang jelas aku masih merindu mu
Dan ingin bertemu
Entah dalam mimpiku
Alam sadarku
Atau alam-alam lain yang tak pernah bisa ditembus dengan aku kamu ataupun semu-semu

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #poem

okay

don't leave me,
stay with me
they said
i said
but, still...we are not in the same line now...
untuk orang yang selalu hadir di ilusi id ku
kamu yang selalu tak lelah berlari - lari di lobus paretal ku
maafkan aku sekali lagi
yang selalu egois
tetap berharap pada seseorang yang tak pernah menatapku
maaf,
aku melankolis lagi
mendengar alunan lagu backsound drama-drama yang ku suka
selalu saja membuatku ingin menulis kenangan sekelebat itu
walau hanya sesebentar iklan ekstrak kulit manggis
namun sangat berarti
sebentar namun berkesan
kamu, yang selalu kuucap dalam doa-doa ku
kamu yang selalu ingin kembali kutatap matanya
kamu yang pertama
dan masih yang pertama
aku harap suatu hari nanti kita bisa bertemu
walau tidak selama ketika aku marathon drama
atau tidak selama aku galau dan baper ke karakter fiksi drama korea favoritku
aku harap suatu saat kita berjumpa
dalam versi terbaik kita
dan aku akan menyapa mu duluan.
okay?



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #poem

Pertemuan yang selalu kunanti.

kepada semua hati yang menyepi demi seseorang
teruntuk kalian yang menyiapkan diri demi si dambaan hati
dan untukku yang selalu dan selalu disini menunggumu
2012,2013,2014,2015.....2016...and still counting.
entah sampai kapan 
sampai kapan?
aku juga masih terus bertanya sampai kapan?
sudah berapa tahun kuhabiskan memandangimu dalam diam
menyapamu dalam mimpi
memelukmu dalam setiap doa-doa
dan mengingatmu di setiap tetesan hujan yang jatuh
yang jelas aku disini menunggu
yang pasti aku disini berusaha memperbaiki
hingga suatu saat nanti ketika tiba saatnya
aku akan datang kepadamu dengan bangga
dengan percaya diri
dan bisa dipastikan kali lain kamu akan memandangku
bukan hanya aku yang memandangmu
pasti.
terima kasih masih dan tetap dihati
masih dan tetap jadi motivasi 
dan selalu berhasil membuatku berkeringat dingin tak karuan
hanya dengan mendengar kabarmu
selalu bisa membuat khayalan khayalan gilaku hidup
dan selalu menjadi yang role mode yang tak pernah mengecewakan
tetaplah seperti itu
sampai tiba saatnya bila kita dipertemukan kembali
dan aku selalu mendambakan pertemuan-pertemuan kita selanjutnya
kelak aku....
aku akan di tempat yang sama 
diam menunggumu
di tempat itu.
sampai bertemu lagi wahai pujaan hati, -cc

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #life

Smamda Sda Senam Aerobik 2014 A3 KL 1

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

Diberdayakan oleh Blogger.