Ceritanya kemarin, 4 Juli 2017 saudara sepupuku Dek Debby mau lamaran dan kakak sepupuku Mbak Nia diminta tolongi buat Mini Pasta gitu. Aku dengan segala kebosanan di liburan semesteranku yang ke empat ini berusaha menjadi lebih produktif dan (yah udah umur 20 tahun, ya masa gini-gini aja) hehehe. Dengan sadar pingin ikut bantu-bantu untuk masak. Ya memang aku Cuma bantu ngocok telur, atau sekedar masukin adonan ke plastiknya but at least I try. Ohiya ini hal pentingnya, hari itu merupakan hari terakhir make up fasting ku. Dan aku dengan sengaja membatalkannya atas dasar cuma kepingin makan mini pastanya.
semangkuk penuh daging asap, makaroni,
sosis, jagun dipermanis dengan keju parut diatasnya, seperti sebuah
kehidupan, semua ada bercampur baur dalam satu mangkuk. Penuh,
aku
mengira rasannya akan sangat teramat enak (lagi – lagi aku terlalu
berekpetasi). Ya memang enak sih, but Im
Kinda regret it. Kayak nggak worthy sekali
aku membatalkan puasaku hanya karena ingin makan jajan ini. Karena ya rasanya
ya Cuma begitu-begitu aja (maksudnya sama aja seperti pasta-pasta yang pada
umumnya sudah pernah kumakan)
Hal ini mirip
dan sering aku alami dalam kehidupanku sih, aku kalah sama ego ku. Id ku bilang
pingin makan jajan enak, terus ego ku
langsung deh tiba-tiba menambah-nambahi “yaudah makan aja Si, toh ya kurang
satu kan, nanti juga ada lamaran adek sepupumu kan ndak enak kalau kamu bilang ‘maaf
lagi puasa’ kesannya ndak menghargai nanti, lagian itulo enak,” dan masih
banyak lagi pembenaran yang di lakukan si ego
supaya aku batalin puasa, di sisi lain super
ego ku juga ga mau kalah sih. Dia
mencoba menyalahkan tindakan ku, tetapi seperti biasa, egoku yang menang. HAHAHA
Setelah aku
pikir-pikir, manusia sering mengalami pengalaman seperti ini. Ketika dua sisi
dalam diri mereka saling berdiskusi (self-talk kalau di teori Psikologi). Sering
termakan oleh ekpetasi ekpetasi dan iming-iming sendiri yang akhirnya juga di
sesali untuk yang kesekian kali.
Seperti pemikiran
ku mengenai masa depanku sewaktu kecil. Aku selalu merasa jadi orang dewasa itu
menyenangkan, bertemu orang baru, lingkungan baru, setiap hari belajar hal
baru, senang-senang bersama orang-orang,
bisa pergi kemanapun yang aku mau, makan apapun yang aku suka. Aku selalu
menganggap semua hal menyenangkan terjadi ketika kita sudah remaja.
Setelah dijalani,
ternyata semua itu balance. That’s life. Kita nggak bisa Cuma mau
senangnya hidup menjadi anak muda, kita juga harus mau struggle nya. Semua yang didapat itu perlu usaha nggak tiba-tiba
terjadi di depan mata. Tiba-tiba bisa ke Luar Negeri, tiba-tiba bisa punya
banyak teman baik, tiba-tiba bisa disukai sama orang yang selama ini jadi crush kita.
Semua itu
butuh usaha. Yup usaha melawan rasa males kita itu loh dan fokus ke tujuan. Hal
ini juga aku pelajari dalam film Inside
Out. Toh memang kebahagiaan itu ada pasti karena diawali kesedihan. Jadi kita
bisa menghargai perasaan itu. Tidak akan terasa hidup manis kan kalau belum
pernah merasa pahit, karena kita tidak punya pembanding. Hidup jadi hambar.
Setiap pengalaman
yang sudah terlewati itu seperti kepingan-kepingan pelajaran yang membentuk who we are now sekarang, tergantung mau
bagaiman kita menyikapi pengalaman itu. Mau diambil hikmahnya atau ya sekedar
masuk short term memory terus di
lupain gitu aja.
Dan pengalaman
yang bisa diambil dari semangkuk penuh daging
asap, makaroni, sosis, jagun dipermanis dengan keju parut diatasnya, adalah
jangan mau kalah sama keinginan sesaat yang dikorbankan buat tujuan awal kita. Jadi
let’s be more focus and consistent with
urself. [cc]
Oke sekarang aku memasuki usia dewasa awalku. Usia dua puluh tahun. yey akhirnya aku berkepala dua (cie yang udah ga ABG lagi). Tapi apa yang sudah aku dapat ya dalam dua puluh tahun kehidupanku. Kadang aku merasa hidup sebercanda itu.
Oke, aku cerita dulu mengenai kisahku saat ini. Iya, aku berkuliah, dan sekarang sedang menikmati liburan semester empat yang kurang lebih dua bulan setengah (iya, emang lama banget). Sejak kecil hidupku selalu menurut, apa yang dianggap kedua orangtuaku baik, selalu aku lakukan. Sejak kecilpun aku selalu memiliki rencana untuk masa depanku.
Aku ingin sekeren tokoh-tokoh yang aku lihat di film-film. Aku ingin ke Luar Negeri secara gratis, berprestasi dan membuat orangtuaku bangga memiliki anak ‘aku’. Aku versi kecil juga selalu beranggapan bahwa lingkaran pertemanan dan kehidupanku (pasti akan) selalu menjadi lebih baik seiring bertambahnya usiaku. Entah kenapa mindset itu sudah tertanam sejak aku kecil.
Dimulai dari SMP, aku ingin masuk SMPN 1 Sidoarjo (SMP Favorit di Sidoarjo) tetapi aku couldn’t make it. Aku akhirnya masuk SMPN 4 Waru, yang jaraknya tidak terlalu jauh dengan rumah memang. Lalu ketika SMA aku ingin masuk ke SMAN 1 Sidoarjo (bilingual coy) lagi – lagi hal itu belum bisa jadi kenyataan, dan nyatanya aku malah masuk SMA Swasta yang notabenenya (agak kalangan atas) di Sidoarjo Kota dan (memang) Mahal. Sekali lagi aku merasa (bisa dibilang) kurang puas lah sama diriku sendiri.
Apa aku kurang berusaha? Apa aku kurang berdoa? Atau memang ini yang Allah pilihkan untukku dan yang terbaik untukku. Lagi-lagi aku memilih jawaban dari percakapan singkat dengan si otak yang terakhir.
Aku menyadari hal itu biasanya ketika sudah mendekati waktu perpisahan sekolah. Sebelumnya memasuki akhir tahun sekolah aku selalu menganggap semua hal yang aku inginkan tidak pernah dikabulkan oleh-Nya.
Bukan bermaksud bagaimana-bagaimana. Memang aku sejak kecil merupakan anak yang bisa dibilang ‘butuh usaha lebih’ untuk bisa memahami materi sekolah. Aku tidak mendapat beasiswa dari kantor ayahku sejak kelas satu SD, tetapi baru dapat ketika kelas empat SD. Dimana saat itu saudara-saudaraku yang lainya (Mas Cahya dan Mas Brian) sudah mendapat beasiswa dari kelas satu SD.
Aku juga sudah mengambil kelas tambahan diluar jam sekolah sejak kelas empat SD dan memang nilaiku sangat terbantu dengan itu. Bahasa Inggrisku sewaktu SD itupun bener-bener nihil. Sampai pada suatu ketika aku memiliki sahabat kecil namanya Titah, dan ibunya seorang tutor Bahasa Inggris. Aku les di Ibu dia. Dan aku merasa belajar Bahasa Inggris sangat amat menyenangkan, mudah dan seru! Nilai-nilaiku juga naik lumayan dari C ke B+.
Aku selalu belajar lebih banyak dan lebih bersemangat belajar dengan (orang lain) dibanding saudara-saudaraku . Karena aku senang ketika di puji oleh orangtua ku atau orang disekitarku ketika mendapat nilai yang bagus (bahasa Psikologinya sih dapat pengakuan dari oranglain, dan feedbackk positive memang mempengaruhi motivasi seseorang).
Begitu pula ketika SMP, aku termasuk anak yang selalu masuk 10 besar. Nilai tryout UASBN ku ketika itu pun juga mendapat skor yang lebih tinggi dibanding temanku yang lain dalam mata pelajaran bahasa inggris. Tapi aku tidak bisa masuk ke SMA yang aku pilih. Aku juga sudah ikut les khusus SMA Unggulan. Kadang sering berpikir apakah ambisiku terlalu berlebihan ya, apakah aku sebodoh itu, sudah ikut bimbel masuk ke sekolah pilihan masih aja ndak bisa.
Ketika SMA juga begitu, diantara saudaraku aku yang paling rajin masuk les dan tidak pernah bolos. Selalu aktif di kelas maupun tempat les. Semua yang tidak aku mengerti selalu langsung aku tanyakan kepada guru lesku.
Tapi entah kenapa aku masih sering merasa salah dan dianggap yang paling tidak bisa apa-apa ketika itu kembali pada ilmu kehidupan. Aku sering salah bila diminta tolongi orangtua, sering marah-marah dan seenaknya sendiri, sering dianggep nyebelin sama saudara yang lain atau sering juga (dulu waktu SD-SMPan lah) ditakuti oleh teman-teman mungkin karena sifatku yang spontan dan keras a.k.a marah ngga jelas atau nangis sambil ngomel-ngomel gitu.
Aku juga (sempet) merasa dikhianati oleh yang namanya “Usaha”. Iya. usahaku sebanyak ini ternyata senilai dengan usaha dia (masku yang memang sangat santai). Masku yang namanya Cahya. Dia logikanya main banget. Usaha les SBMPTN ku yang rajinnya ya bisa dibilang (rajin) ternyata sama dengan dia yang masuk les hanya untuk menggugurkan absensi aja (telatan banget, dan juga jarang diskusi sama mentornya) kami sama-sama masuk di Universitas yang sama. UIN Sunan Ampel Surabaya. IAIN nama jadulnya.
Mas Cahya yang melihat kesungguhanku buat masuk ke ITS jurusan Biologi, yang waktu itu juga pass gradenya termasuk biasa saja (30%) tidak terlalu tinggi.
“masuk masuk dek kamu ke ITS, Pass Grade nya segini aja kok, iya,” itu katanya.
Tapi kenyataannya.
Heheh. Ya walaupun sekarang aku juga sangat bersyukur sekali diterima di Universitas negeri dengan UKT yang bisa dibilang ramah lingkungan, dengan jurusan yang memang selalu aku ingin pelajari, Psikologi, heheh.
Banyak hal positive sebenernya yang kita dapat dari mengubah cara berpikir. Aku mulai menikmati proses ku. Bahkan aku merasa kalau semisal dulu aku keterima ITS mungkin aku ndak bisa seperti sekarang, ndak bisa kenal dia, ndak bisa ketemu dosen sekeren beliau, dan ndak bisa punya mindset seperti yang aku miliki dan aku yakini hasil dari semua materi kuliahku.
Aku mulai mengerti hidup itu bukan soal menyesali goal yang tidak sesuai, tapi tentang melakukan yang terbaik untuk meraih mimpi dan menyadari ternyata hal itu tidak cukup baik untuk kita, jadi Allah pingin memberi lebih dari apa yang kita pernah bayangkan.
Sama seperti Kuliah. Kuliah itu bukan perkara bagaimana dosennya, lingkungannya, nama kampusnya, tapi bagaimana kamu bisa mengandalkan segala kemampuan kita untuk sampai di goal yang di harapkan.
Apa goal kalian kuliah?
Bisa ke Luar Negeri? Ya tinggal sering-sering browsing EO yang adain kan?
Bisa dapat ilmu? Ilmu nggak cuman di bangku kelas kan, bisa diskusi dengan teman, aktif organisasi yang positif, atau mau langsung terjun ke dunia kerja biar sekalian preaktek
Bisa dapat relasi yang banyak? Ya tinggal ikut acara volunteer di Surabaya dengan segenap jajaran komunitas – komunitas keren yang ada didalamnya.
So everything is up to you. You choose, you decided, you want to be what u like.
Self-management ku lumayan meningkat semejak kuliah ini, aku dididik mandiri di kuliah ini. Tidak ada yang bisa aku andalkan selain diriku. Banyak teman-teman yang membantu aku dalam proses pendewasaan. Teman yang semaunya sendiri, sering tidak hadir kerja kelompok, diajak diskusi jawabannya mesti “bingung”, sampai teman yang mirip aku, teman yang saling mengingatkan sampai teman yang menginspirasiku ditengah-tengah banyaknya orang di lingkungannya yang tidak kooperatif.
Aku belajar banyak hal dari setiap orang yang aku temui. And I loved it so much!
That’s life. Life is about how u want to be. Surrounding urself with positive vibes and friends, and how u choose what kind of life u want to live. [cc]
sejak kecil aku adalah anak yang ceria, ekpresif, dan spontan (banget). Kalau mau ngomong ya ngomong aja, tanpa ada perencaan sebelumnya, tanpa memikirkan apa akibatnya nanti dan bagaimana perasaan lawan bicaraku. Sampai tiba disuatu waktu, aku menyadari itu. Menyadari selama ini yang aku lakukan kepada orang-orang disekitarku tidak seperti apa yang aku harapkan orang lain memperlakukanku.
Mungkin bagi sebagian orang umur tujuh belas tahun adalah umur istimewa mereka. Tapi tidak menurutku. Umur lima belas tahun adalah umur pertama yang paling aku anggap spesial. Titik balik
pertama dalam hidupku terjadi ketika aku duduk dibangku kelas sembilan atau
kelas tiga Sekolah Menengah Pertama.
Aku.
Dengan segala
kekuranganku.
Suka marah,
mudah menangis, paling tidak bisa dengan orang yang tidak sependapat denganku,
paling suka menang, dan sering (sekali) menganggap orang lain itu tidak lebih
baik dari aku.
Memang aku (di
masanya) semenyebalkan itu. Yang mengherankan adalah aku dengan semua perilaku annoyingku
masih memiliki teman-teman yang tetap sabar dengan sifat-sifatku, tetap ada
disisiku ketika aku sedang down, dan
mau terus menyemangatiku.
Ratna Fitria
Isnaini adalah salah seorang dari banyak temanku yang membantuku selama
masa-masa remaja awalku yang penuh kekacauan. Semakin mudah marah ketika tidak
bisa mengerjakan tugas sekolah, sering menangis ketika keadaan yang terjadi
tidak sesuai dengan apa yang aku rencanakan. Hal-hal sekecil itu selalu
membuatku sensitif kala itu.
Di usiaku yang
ke -15 tahun. aku bertekad ingin merubah sikap semauku sendiri itu. Aku mulai menyadari betapa melelahkannya
bertemu seorang yang mirip denganku. Dan betapa teramat (sangat) sabar sekali
selama tiga tahun terakhir teman-temanku menyikapiku. Aku mau berhenti dikenang Jelek
oleh teman-temanku. Aku tidak mau ketika reuni aku menyesali apa-apa saja
yang telah kulakukan di kala itu. Aku mau menjadi seperti Mbak Pit (panggilan
akrab Ratna) yang bisa membuat teman lainnya merasa nyaman dan lebih baik.
“Aku sudah
besar, aku harus berubah. Mau sampai kapan aku begini terus,” ini yang selalu
muncul dikepala ku saat tahun akhir 2011 sampai sekitar 2012 dan usiaku tinggal
beberapa bulan lagi sudah genap 15 tahun.
Aku belajar
mengendalikan apa yang aku ingin ekspresikan, meskipun sepertinya belum ada
perbedaan yang secara signifikan dalam diriku yang kurasa. Tetapi setiap aku
ingin mudah marah atau mengekspresikan perasaan negatifku. Aku selalu teringat
dengan perkataanku di dalam otaku tadi, “aku sudah besar, aku harus berubah,”.
Meski tidak
langsung, aku merasa jauh lebih bahagia dan senang. Ternyata enak ya jadi orang sabar dan dikenal
baik oleh orang lain. Itu yang aku rasakan pertama kali.
Feedback
pertama yang aku terima datang dari tetanggaku, namanya Bu Sarman. Beliau
merupakan salah seorang yang sudah senior di perumahanku (sudah lama tinggal di
Pepelegi maksudnya wkwk). Sudah mengenalku Sejak aku kecil, dan mengerti
watakku juga. Meski tidak mengatakan langsung padaku bahwa ada yang berbeda
dari biasanya. Bu sarman mengatakan hal tersebut ke Ibuku.
“wah, sekarang
sudah pinter Deasy, Bu. Sudah ndak
marah-marahan lagi ya, sudah sering nyapa juga,” itu yang dikatakan Mama
kepadaku. Entah apa yang aku rasakan ketika itu, yang jelas aku puas pada
diriku untuk pertama kalinya. Aku bangga menjadi diriku sendiri. Seperti ini ya
rasanya dikenal baik dan berubah menjadi lebih baik kata orang, rasanya sangat
menyenangkan dibanding dikenal jelek dan dianggap anak yang (agak) bandel karena aku dulu memang sering
membantah perkataan kedua orangtuaku.
Semua terasa
begitu lebih berkesan. Aku merasa menghargai diriku sendiri karena tidak
menjelek-jelekkan nama baikku sendiri. Aku merasa so many good thing will come along to my life. Dan aku sangat
menanti-nanti hal itu. Tapi tidak sedikit hal-hal sedih juga sering melintasi
pikiran. Mungkin ini ada salah satu faktor aku ingin berubah, iya. Perasaan
akan berpisah. Berpisah dengan orang-orang baik yang selalu menemaniku selama
tiga tahun terakhir.
Menurutku, Akhir
sekolah memang merupakan saat-saat yang menyedihkan sekaligus mendebarkan.
Menyedihkan
karena pasti akan ada perasaan berbeda ketika pindah ke lingkungan baru, teman
baru, guru baru, suasana baru. Tidak melihat guru yang selama ini selalu
mengajar di depan kelas, tidak mendengar suara tertawa teman dikelas, tidak
bersepeda ke sekolah lagi.
Mendebarkan
karena aku memang selalu menyukai hal-hal baru, aku selalu menantinya,
mengantisipasi, dan menikmati pekerjaan dan hal-hal baru yang akan terjadi.
Aku ingin
menjadi baik (setidaknya lebih baik) karena aku takut, aku cemas nanti
jangan-jangan tidak akan ada orang sebaik teman-teman lamaku yang akan menerima
ku apabila aku tidak berkembang. Mungkin aku akan dikucilkan apabila seperti
ini terus, bahkan mungkin aku akan dibenci karena sifat semauku sendiri yang
begitu besar. Aku takut semakin aku besar kemampuan menghilangkan perasaan
tersebut semakin susah. Maka aku ingin berlatih berubah sesegera mungkin.
Aku menyadari
hidupku adalah milikku, bukan milik orangtuaku, saudaraku, teman-temanku
apalagi guruku. Aku pasti akan hidup dengan diriku sendiri suatu saat nanti.
Aku tidak bisa mengandalkan orang lain, aku harus mengandalkan diriku sendiri. At least I have Myself. Aku tidak akan
bersama orang yang sama terus dalam kronologi perjalanan hidupku.
Aku pasti
harus pindah ke lingkungan sosial baru, harus mengenal orang baru, semakin
besar tentunya lingkungan sosialku semakin meluas, dan kalau kalau aku
mempertahankan sifatku yang begitu
terus aku akan menjadi orang yang tidak diterima dimanapun aku berada. Aku
ingin menjadi seperti mereka mereka yang aku kagumi, aku ingin menjadi orang
yang berada diposisi protagonis.
Aku ingin
menjadi peran protagonis dalam
kehidupan orang-orang disekitarku.
Itulah
pemikiran seorang Sisi yang berada di Masa Remaja Awal dengan usia nya yang
masih 15 tahun. tepat terhitung lima tahun yang lalu dari sekarang. Aku Harus
Berubah. Dan akhirnya Allah SWT membantu prosesku itu. [cc]
Aktualisasi diri?
selama ini setiap manusia selalu melakukan setiap kegiatan ataupun pekerjaan yang disukainya, meskipun memang tidak semua orang melalkukan sesuatu yang disukainya, kadang kala seseorang juga tetap melalukan pekerjaan yang mungkin sangat tak disukainya. Namum kita selalu mengingkan sebuah awards, entah itu sebuah berupa materi, pujian, pengakuan, penghormatan, ataupun sekedar senyuman. tetapi taukah kalian arti besarnya sebuah aktualisasi diri seseorang. jika saja setiap orang dapat mengaktualisasikan dirinya dengan baik, mungkin semua pekerjaan yang di handle nya dapat terselesaikan dengan baik, tepat waktu, dan pastinya kerjanya juga optimal!
mengapa bisa begitu?
mengapa aktualisasi diri begitu berpengaruh pada kualitas kerja seseorang?
tentu saja, orang yang dapat mengaktualisasikan dirinya dengan baik pasti akan melakukan segala nya dengan perasaan senang hati, suka cita, dan memaksimalkan kinerja nya karena ingin menjadi "the best self of himself" tentunya.
juga tidak mau mengecewakan orang yang sudah mempercayainya dengan penuh.
dampak nya sangat besar, ketika seseorang itu selalu dihargai, dihormati, diakui hasil pekerjaannya ia akan selalu memberika pekerjaan terbaiknya. contoh kecil saja ketika kamu sudah dikenal oleh salah satu dosen mu kalau kinerjamu bagus, tidak pernah telat saat kelas, dan selalu aktif memperhatikan ataupun bertanya di dalam kelas, dan sterotipe itu sudah melekat dalam benak dosen terhadapmu, kamu pastinya tidak ingin mengecewakan beliau bukan?
Yang paling utama dibutuhkan dalam dunia ini untuk dapat mengaktulisasi diri ialah rasa nyaman. ketika pertama orang tersebut sudah dibuat nyaman berada di suatu lingkungan, maka ia akan betah berlama-lama ditempat tersebut, entah hanya sekedar duduk-duduk atau untuk bercakap-cakap dengan orang yang berada disekitarnya. jadi rasa nyaman itu sangat penting
ketika rasa nyaman sudah dirasakan, ia akan lebih mampu mengekspresikan perasaannya, lebih mampu mengomunikasikan apa yang mungkin mengganjal perasaanya, apa-apa yang belum mereka mengerti dan telah mereka mengerti. maka jalinlah hubungan yang sehat antar sesama teman satu visi-misi agar dapat mendapatkan hasil yang optimal. sebuah senyuman bisa mengubah semuanya. so smile, because the worse is yet to come. :) -cc
selama ini setiap manusia selalu melakukan setiap kegiatan ataupun pekerjaan yang disukainya, meskipun memang tidak semua orang melalkukan sesuatu yang disukainya, kadang kala seseorang juga tetap melalukan pekerjaan yang mungkin sangat tak disukainya. Namum kita selalu mengingkan sebuah awards, entah itu sebuah berupa materi, pujian, pengakuan, penghormatan, ataupun sekedar senyuman. tetapi taukah kalian arti besarnya sebuah aktualisasi diri seseorang. jika saja setiap orang dapat mengaktualisasikan dirinya dengan baik, mungkin semua pekerjaan yang di handle nya dapat terselesaikan dengan baik, tepat waktu, dan pastinya kerjanya juga optimal!
mengapa bisa begitu?
mengapa aktualisasi diri begitu berpengaruh pada kualitas kerja seseorang?
tentu saja, orang yang dapat mengaktualisasikan dirinya dengan baik pasti akan melakukan segala nya dengan perasaan senang hati, suka cita, dan memaksimalkan kinerja nya karena ingin menjadi "the best self of himself" tentunya.
juga tidak mau mengecewakan orang yang sudah mempercayainya dengan penuh.
dampak nya sangat besar, ketika seseorang itu selalu dihargai, dihormati, diakui hasil pekerjaannya ia akan selalu memberika pekerjaan terbaiknya. contoh kecil saja ketika kamu sudah dikenal oleh salah satu dosen mu kalau kinerjamu bagus, tidak pernah telat saat kelas, dan selalu aktif memperhatikan ataupun bertanya di dalam kelas, dan sterotipe itu sudah melekat dalam benak dosen terhadapmu, kamu pastinya tidak ingin mengecewakan beliau bukan?
Yang paling utama dibutuhkan dalam dunia ini untuk dapat mengaktulisasi diri ialah rasa nyaman. ketika pertama orang tersebut sudah dibuat nyaman berada di suatu lingkungan, maka ia akan betah berlama-lama ditempat tersebut, entah hanya sekedar duduk-duduk atau untuk bercakap-cakap dengan orang yang berada disekitarnya. jadi rasa nyaman itu sangat penting
ketika rasa nyaman sudah dirasakan, ia akan lebih mampu mengekspresikan perasaannya, lebih mampu mengomunikasikan apa yang mungkin mengganjal perasaanya, apa-apa yang belum mereka mengerti dan telah mereka mengerti. maka jalinlah hubungan yang sehat antar sesama teman satu visi-misi agar dapat mendapatkan hasil yang optimal. sebuah senyuman bisa mengubah semuanya. so smile, because the worse is yet to come. :) -cc
bukan dari pesan teks
kalimat-kalimat puitis di atas kertas
kata-kata indah yang terucap
bukan
terlalu picisan
kamu bukan lagi anak-anak
yang biasa dibujuk rayu dengan es-krim
atau yang biasa dibuat berhenti menangis dengan sebatang permen
bukan
cukup dengan kehadiran
yang walaupun singkat
tapi penuh makna
disaat saat yang sakral
dan semua terasa seperti sebuah takdir
cukup dengan perhatian nyata sekecil apapun itu
bahu tuk bersandar
telinga tuk mendengar
bibir tuk tersenyum
semua terasa natural
mengalir seperti air
proses
sebagai saksi bisu
dan
aku suka
kamu suka
tinggal jawaban dari sang maha kuasa
apakah suka juga bila kita bersua bersama?
Mendung ya malam
ini
Tidak,
Banyak bintang-bintang
dilangit
Panas ya siang
ini
Iya,
Tapi lihat cantik
bukan langit biru dengan awan putih yang menari-nari
Rindu ya hari ini
Tidak, hanya
sendu
Tidak benar, aku
memang begitu
Iya, aku sangat
rindu
Sampai mau makan
saja rasanya
Melawan rasa
sebal
Iya, memang aku
makan tiap aku sebal
Dan aku sebal
karena merindu mu hari ini
Tidak,
aku merindu mu
setiap aku sepi
Tidak,
Aku merindu mu
setiap menatap langit
Tidak,
Aku merindu mu setiap
mengetik,
Ah, sudahlah
Iya, memang aku
selalu merindumu
Dan aku sebal
karenanya
Karena aku sebal
aku makan
Makan membuat
pipiku kembung
Badanku pun jadi
gembung
sebal, rindu.
Iya aku memang hanya bisa menulismu
Iya aku memang
hanya bisa mendoamu di sela-sela sujudku
Lagu ini!
Kenapa?
Lupakan, semua
lagu sedih selalu membuatku teringatmu
Tapi,
Tapi apa,
Tak apa kau
melupakanku
Aku memang bukan peran
utama dalam hidupmu
Benar kan?
Iya aku tau,
Iya,
memang selama ini
cuma kamu,
dan selalu kamu
yang aku ingin ceritakan
Cuma kamu yang
selalu terlintas di antar sel-sel neuron
Terutama saat
malam tiba
Lihat langit,
Lihat Bulan,
Awan,
Matahari pun,
Semua selalu
tentangmu
Sial! Kenapa bayangmu
tersebar dimana mana
Seperti brosur
sedot wc yang kulihat dimana mana
Lagi dan lagi
Sebal tapi rindu
Rindu tapi linglung
Linglung lalu
tulis
Tulis atau ketik
Ketik atau
headset
Melodi, playlist,
headset kemudian bulir-bulir bening tumpah di pipi
Kamu pria dua
dimensi dalam tiap-tiap kata yang kuketik
Kamu pria pena
tempatku berkeluh kesah
Kamu pria kertas
yang aku buat untuk menjadi heroin dalam duniaku
Yang aku ciptakan dalam angan-anganku
Dan selalu ku
nanti nanti dalam mimpiku
Apa iya Kamu cuma
khayalku?
Tapi kamu nyata,
Tapi apa iya kamu
seperti yang aku gambarkan dalam benakku
Aku takut
Semakin mengenalmu,
semakin aku tidak mengetahuimu
Ah, masa peduli
dengan semuanya
Yang jelas aku
masih merindu mu
Dan ingin bertemu
Entah dalam
mimpiku
Alam sadarku
Atau alam-alam
lain yang tak pernah bisa ditembus dengan aku kamu ataupun semu-semu
don't leave me,
stay with me
they said
i said
but, still...we are not in the same line now...
untuk orang yang selalu hadir di ilusi id ku
kamu yang selalu tak lelah berlari - lari di lobus paretal ku
maafkan aku sekali lagi
yang selalu egois
tetap berharap pada seseorang yang tak pernah menatapku
maaf,
aku melankolis lagi
mendengar alunan lagu backsound drama-drama yang ku suka
selalu saja membuatku ingin menulis kenangan sekelebat itu
walau hanya sesebentar iklan ekstrak kulit manggis
namun sangat berarti
sebentar namun berkesan
kamu, yang selalu kuucap dalam doa-doa ku
kamu yang selalu ingin kembali kutatap matanya
kamu yang pertama
dan masih yang pertama
aku harap suatu hari nanti kita bisa bertemu
walau tidak selama ketika aku marathon drama
atau tidak selama aku galau dan baper ke karakter fiksi drama korea favoritku
aku harap suatu saat kita berjumpa
dalam versi terbaik kita
dan aku akan menyapa mu duluan.
okay?
stay with me
they said
i said
but, still...we are not in the same line now...
untuk orang yang selalu hadir di ilusi id ku
kamu yang selalu tak lelah berlari - lari di lobus paretal ku
maafkan aku sekali lagi
yang selalu egois
tetap berharap pada seseorang yang tak pernah menatapku
maaf,
aku melankolis lagi
mendengar alunan lagu backsound drama-drama yang ku suka
selalu saja membuatku ingin menulis kenangan sekelebat itu
walau hanya sesebentar iklan ekstrak kulit manggis
namun sangat berarti
sebentar namun berkesan
kamu, yang selalu kuucap dalam doa-doa ku
kamu yang selalu ingin kembali kutatap matanya
kamu yang pertama
dan masih yang pertama
aku harap suatu hari nanti kita bisa bertemu
walau tidak selama ketika aku marathon drama
atau tidak selama aku galau dan baper ke karakter fiksi drama korea favoritku
aku harap suatu saat kita berjumpa
dalam versi terbaik kita
dan aku akan menyapa mu duluan.
okay?
kepada semua hati yang menyepi demi seseorang
teruntuk kalian yang menyiapkan diri demi si dambaan hati
dan untukku yang selalu dan selalu disini menunggumu
2012,2013,2014,2015.....2016...and still counting.
entah sampai kapan
sampai kapan?
aku juga masih terus bertanya sampai kapan?
sudah berapa tahun kuhabiskan memandangimu dalam diam
menyapamu dalam mimpi
memelukmu dalam setiap doa-doa
dan mengingatmu di setiap tetesan hujan yang jatuh
yang jelas aku disini menunggu
yang pasti aku disini berusaha memperbaiki
hingga suatu saat nanti ketika tiba saatnya
aku akan datang kepadamu dengan bangga
dengan percaya diri
dan bisa dipastikan kali lain kamu akan memandangku
bukan hanya aku yang memandangmu
pasti.
terima kasih masih dan tetap dihati
masih dan tetap jadi motivasi
dan selalu berhasil membuatku berkeringat dingin tak karuan
hanya dengan mendengar kabarmu
selalu bisa membuat khayalan khayalan gilaku hidup
dan selalu menjadi yang role mode yang tak pernah mengecewakan
tetaplah seperti itu
sampai tiba saatnya bila kita dipertemukan kembali
dan aku selalu mendambakan pertemuan-pertemuan kita selanjutnya
kelak aku....
aku akan di tempat yang sama
diam menunggumu
di tempat itu.
sampai bertemu lagi wahai pujaan hati, -cc
teruntuk kalian yang menyiapkan diri demi si dambaan hati
dan untukku yang selalu dan selalu disini menunggumu
2012,2013,2014,2015.....2016...and still counting.
entah sampai kapan
sampai kapan?
aku juga masih terus bertanya sampai kapan?
sudah berapa tahun kuhabiskan memandangimu dalam diam
menyapamu dalam mimpi
memelukmu dalam setiap doa-doa
dan mengingatmu di setiap tetesan hujan yang jatuh
yang jelas aku disini menunggu
yang pasti aku disini berusaha memperbaiki
hingga suatu saat nanti ketika tiba saatnya
aku akan datang kepadamu dengan bangga
dengan percaya diri
dan bisa dipastikan kali lain kamu akan memandangku
bukan hanya aku yang memandangmu
pasti.
terima kasih masih dan tetap dihati
masih dan tetap jadi motivasi
dan selalu berhasil membuatku berkeringat dingin tak karuan
hanya dengan mendengar kabarmu
selalu bisa membuat khayalan khayalan gilaku hidup
dan selalu menjadi yang role mode yang tak pernah mengecewakan
tetaplah seperti itu
sampai tiba saatnya bila kita dipertemukan kembali
dan aku selalu mendambakan pertemuan-pertemuan kita selanjutnya
kelak aku....
aku akan di tempat yang sama
diam menunggumu
di tempat itu.
sampai bertemu lagi wahai pujaan hati, -cc
Langganan:
Postingan
(
Atom
)
Diberdayakan oleh Blogger.

