In #resensi

We are all not a Little Women anymore.

“We cannot change anything, unless we accept it.” – Carl Jung

Being a woman isn't a failure no matter what kind of woman you want to be. Whats make you happy, go for it.

Beberapa waktu lalu aku baru saja menonton film Little Women (2019), sebuah film yang diadaptasi dari novel klasik Amerika di tahun 1898. Novel ini ditulis oleh seorang perempuan bernama Louisa May Alcots. Dan setelah menonton film ini aku melakukan banyak riset soal latar belakang penulis karena tertarik dengan cerita yang ternyata juga diadaptasi dari kisah hidupnya sendiri.

Film yang memiliki alur maju mundur ini mungkin awalnya akan sedikit membuat kebingungan audience yang belum pernah menonton adaptasi dari film-film sebelumnya atau sekedar membaca sinopsis cerita, karena film Little Women telah diadaptasi untuk keempat kalinya. Diawali dengan karakter utamanya, Jo March yang memasuki sebuah ruang direksi penerbitan buku di New York, adegan yang menurutku cukup menguras adrenalin, selain karena backsound, latar tempat yang membuat kita serasa diajak kembali ke tahun 80an, tahun peristiwa dimulai dan berusainya perang antara Amerika dengan Spanyol.

Adegan selanjutnya adalah dimana Amy, anak perempuan terakhir dari keempat bersaudara keluarga March yang tengah melanjutkan studi melukisnya ke Eropa bersama bibinya dan bertemu dengan Laurie, sahabat masa kecil keluarga mereka. Sejak awal tokoh yang banyak di sorot dalam keluarga March adalah Jo dan Amy karena sibling rivalry dua saudara ini tergambar jelas.

Tokoh lainnya yang tidak kalah penting dan yang menjadi puncak klimaks dari film ini, Beth, tokoh yang sedari awal kita tahu akan meninggal namun memberi banyak pelajaran. Kalau ditinjau dari seluruh March bersaudara, karakter Beth yang paling pemalu dan tenang. Selain itu keinginannya atas hidup juga tidak se-ambisius dan idealis Jo atau Amy. Bagi Beth, saling memiliki satu sama lain sudah cukup membuatnya bisa mensyukuri keluarganya. Aku pribadi menyukai karakternya yang selalu menjadi dopamine disaat semua saudaranya sedang gaduh gelisah karena kenyataan yang tidak sesuai ekpetasi.

Kali ini aku mau sedikit mengutarakan perasaan kurang puas terhadap penulis script yang hanya memberi bagian karakter anak pertama, Meg tidak sebanyak karakter lainnya. Meg datang di scene pertamanya dalam film ketika dia ingin membeli kain namun tak mampu membayar biaya menjahit karena terlalu mahal untuk memenuhi seluruh kebutuhan keluarga kecilnya. Meg sebagai anak pertama dalam cerita ini digambarkan telah memiliki keluarga sederhana dengan tiga orang anak.

Sejak kecil, mereka berempat selalu melakukan seluruh kegiatan bersama-sama, seperti tipikal cerita klasik, mereka beranjak dewasa dan harus melanjutkan jalan hidup masing-masing. Tokoh utama dalam cerita ini, seperti menjadi bom waktu meledak, ketika ia mulau merasa harus beradaptasi dengan banyak realita dalam hidupnya. Meg menikah, Amy ke Eropa, dan Beth yang akhirnya meninggal, membawanya jatuh ke dalam Quarter Life Crisis.

Unfinished bussiness, ambition untuk menjadi seorang penulis dan merubah dunia, dan impian masa kecilnya lainnya yang Jo rasa belum berhasil ia wujudkan membuatnya susah menerima perubahan signifikan secepat itu. Beberapa pengamat film lain juga mengatakan Jo mengalami Methesiopobhia atau Fear of Change yang artinya Jo memiliki ketakutan irasional akan perubahan yang memang seharusnya terjadi dalam kehidupan. Seperti kematian keluarga dan perceraian. Namun tidak menurutku, Jo tidak sampai mengalami mental illness, dia hanya mengalami Quarter Life Crisis dan mampu merubah stressnya menjadi Eustress, sebuah stress yang di coping dengan baik dan menjadikannya lebih baik, karena dari kecemasan akan banyaknya perubahan dalam hidupnya, ia berhasil menemukan dirinya dan akhirnya berdamai dengan keadaan.


Di masa Louisa May Alcot memang prespektif mengenai kesetaraan gender masih sangat berjangka. Perempuan tidak akan pernah memiliki properti mereka sendiri setelah menikah. Perempuan yang terlalu kuat dianggap membahayakan dan akan merebut kekuasaan laki-laki, bahkan konstruk sosial mengenai perempuan hanya cocok dengan sesatu yang berhubungan dengan hal romantis dan percintaan juga masih tergambar jelas di scene dimana Jo memberikan Novelnya untuk penerbit, dan dengan jelas ia mengatakan bahwa akhir cerita novel Jo harus dengan tokoh utama wanitanya entah meninggal atau menikah. Dan buku ini bahkan sampai tahun 2020 masih tetap menjadi referensi buku cerita berbagai kalangan di institusi pendidikan literasi Amerika, selain di filmkan, menjadi series dan masuk kedalam cerita bersuara di berbagai platform, mereka juga membuat museum yang bertepatan dengan rumah asli keluarga May Alcot, yang juga menjadi lokasi syuting Little Women (2019).

Tetapi yang paling aku suka dari adaptasi film Little Woman versi 2019 ini adalah screen-writer dan produser yang sejak awal menitikberatkan pesan dari film ini lebih kepada proses perkembangan karakter March bersaudara dan proses terbitnya buku Little Women sendiri, dibandingkan ending tokoh Jo akan menikah atau tidak.

Film ini tidak hanya menjelaskan kondisi psikologis, politis, dan sosial pada zaman itu tetapi juga menjelaskan mengenai pentingnya bagi perempuan untuk saling menghargai dan mendukung satu sama lain dalam hal kebahagiaan seperti apa yang mereka pilih.

Ada perempuan seperti Meg, ia ingin menjalani hari-hari penuh syukur bersama orang yang dicintainya.

Ada perempuan seperti Beth, menurutnya hidup cukup dengan saling memiliki satu sama lain dalam komunitas terkecil, yaitu keluarganya.

Ada perempuan seperti Amy, sejak kecil sudah menyadari bahwa ia adalah perempuan di era dimana konstruk sosial mengharuskan berbagai tuntutan yang kadang tidak dapat ia pilih sendiri selain mengikuti dan melakukan sebaik yang ia bisa.

Lalu ada juga perempuan seperti Jo. Perempuan berkemauan kuat, ambisius, dominan, yang bisa merubah hal-hal yang bagi sebagian orang dizamannya tidak mungkin dilakukan, tapi ia bisa. Jo membuktikan, perempuan layak memiliki dan memperjuangkan apa yang dianggapnya benar. Kesetaraan pendidikan, hak, dan akses untuk mencapainya.

Tidak ada yang salah dari menjadi seorang perempuan seperti apa yang kita pilih. Yang salah adalah ketika perempuan satu dengan lainnya tidak saling mendukung dan malah menyalahkan. Bukankah harusnya kita sesama perempuan saling menguatkan?

 

Dan ini beberapa quotes yang aku sukai dari tiap karakter dalam film Little Women.

 “I’m just a woman. And as a woman, I have no way to make money, not enough to earn a living and support my family. Even if I had my own money, which I don’t, it would belong to my husband the minute we were married. If we had children they would belong to him, not me. They would be his property. So don’t sit there and tell me that marriage isn’t an economic proposition, because it is.” — Amy March



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In FailurePorto

Tidak Ada yang Salah kok, Tergantung Kamu Manusia atau Kucing ...

Sebelum tulisan soal Indonesia, my first failure opinion forMojok.co was this

Berhubung dulu aku adalah pegiat literasi (yang abangan dan mood-moodan), suka bertanya dan mengikuti isu-isu dunia perkuliahan, aku menuliskan ini untuk dimuat di media tersebut dengan harapan bisa dapat uang saku tambahan 200.000an, sekalian biar keren namanya ada di Mojok.co gitu. Rupanya setelah aku baca lagi, emang isinya apaan yaRabb sebenernya cuma muter-muter doang, tapi aku mengapresiasi keberanian dan kepercayaan diri yang membuatku mampu melangkah jauh. Rindu juga sama kepolosanku dulu. Karena kepolosan ini aku jadi menjalani hari lebih ringan dan ikhlas.

Sometimes, being imperfect and accepted the real thing in ourself is the best feeling I've ever felt. And Once, I want to be like that again, and more and more and more love my own process.  

 

 Kuliah kerja nyata yang selama ini selalu menjadi bahan cerita viral masa perkuliahan –kebanyakan karena kisah percintaanya, yang entah dengan sesama manusia atau bahkan dengan makhluk dunia lain– mendadak tidak hanya viral hanya di masa perkuliahan.  Mungkin akan jadi pengalaman tak terlupakan sepanjang hidup seperti Agni (nama disamarkan), salah satu mahasiswi UGM yang mengalami tindak pelecahan seksual sewaktu menjalankan KKN di Maluku, 2017 silam.

    Banyak respon yang menanggapi kasus pelecehan seksual ini, dari ranah hukum sampai ranah psikologi. Dari yang awalnya bilang ini kesalahan dari kedua pihak, bukan hanya satu pihak saja, sampai seharusnya kasus ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Yha dikira masalah saudara bertengkar rebutan mainan kali ya, diselesaikan dengan dikasi tau, dan saling memaafkan, kelar, buyar.

     Saya pribadi, sebagai seorang perempuan yang juga baru menyelesaikan tugas negara KKN beberapa bulan lalu, merasa bukankah seharusnya kampus tidak tinggal diam mengenai hal se-viral ini. Bukannya ini juga merupakan agenda yang dibuat kampus sebagai syarat menyandang gelar sarjana? Atau bukannya kampus yang selalu juga menggadang gadang ada cinta lokasi sewaktu KKN, memberikan impian – impian indah mengenai pasangan, hangatnya suasana kekeluargaan dan kebersamaan sampai di beberapa kasus mungkin memang banyak mahasiswa yang menjadi korban cinlok KKN, dari jomblo jadi tida jomblo, atau dari yang sudah memiliki jadi memiliki lagi yang baru. Eh. Kalau dari pengalaman pribadi saya sendiri juga, sewaktu pembekalan KKN malah para dosen kkn ini seperti konseling pra-nikah. Bahasnya jodoh, menikah, bagaimana cara menjadi suami yang baik dan istri yang pandai mengatur keluarga. Hadeh, apa aku salah masuk forum ini. Tapi memang benar adanya tuh tulisan di depan ruangan “PEMBEKALAN KKN GEL. II Tahun 2018”. Yasudah saya jadi bingung ini jadi malah bahas kemana-mana.

                Saya juga tidak ingin menyalahkan pihak mana-mana, setiap tindakan memiliki latar belakangnya masing-masing, baik dari pihak kampus yang ingin menyelesaikan dengan cara ‘kekeluargaan’ atau dari pihak penyitas yang merasa tidak diadili. Ini semua murni masalah ranah hukum dan mereka, saya benar-benar tidak ada hak menghakimi siapapun dalam tulisan ini. Kalau kata bapakku jangan mudah terbakar api isu-isu ataupun pemberitaan di media, kamu tidak tahu kisah seutuhnya. Daripada salah berbicara lebih baik diam. Ya saya memang bukan penyitas, pelaku, atau orang-orang yang berada disekitar mereka. Saya hanyalah peng-observasi tidak langsung “kalau bahasa teorinya” dimana hanya bisa tau lewat media-media yang difasilitiasi. Disini saya Cuma agak heran dan kesal sama netizen-netizen yang masih ngotot kalau ketika laki-laki bernafsu dan menyerang perempuan secara “seksual” adalah hal yang wajar. Dan dengan mudahnya bilang “ya kan namanya juga manusia, pasti bersahwat, pasti ya pernah khilaf”.

                Ya memang wajar bersahwat tapi apa harus merugikan orang lain? Apa yang membedakan sama hewan dong kalau gitu. Berarti teori pak freud itu yang bilang manusia adalah hewan yang memiliki akal, salah?.

Atau, Jadi bener teori milik Darwin kalau kita emang benar-benar keturunan kera, homo sapiens dkk itu? Hmmmmmmmmmm, sehingga benar dan wajar sekali adanya apabila manusia sedang bersahwat akan menyerang siapapun yang bisa diserang, ibarat perumpamaan, kucing kalau diberi ikan asin ya pasti paling engga dicium-cium? Benar begitu? Baiqlah kalau kalian menganut teori itu, aku juga tidak bisa menyalahkan. Toh setiap orang punya pemikiran dan kepercayaannya sendiri. Dalam ilmu psikologi-pun kita dituntut untuk memahami setiap orang dan tidak mudah menjudjge. Tapi, saya tentunya lebih suka sama kamu daripada dia manusia-manusia yang memanusiakan diri mereka sendiri. Kalau mereka tidak memanusiakan diri mereka sendiri bagaiamana mau memanusiakan manusia lainnya yaaa hmmmmmm. Jadi apakah kalian manusia, kucing, homo sapiens atau malah malaikat tak bersayap? Karena bisa membawaku terbang tanpa harus naik pesawat dulu, uwuwuwuwuwuw. Apaansi yarabb, sii~

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In FailurePorto

Kesalahan 'Orang Indonesia' yang Akan Terus Diulang

    Dalam rangka masih memperingati hari kemerdekaan Indonesia yang ke-75, aku kembali mengulik tulisan lama yang gagal terbit di media Jogja yang lumayan bergensi itu. Setelah aku baca lagi memang tulisan ini kurang deep buat media yang sering mengkritisi dengan pedas tapi ngga blak-blakan dan malah jatuhnya cenderung humoris itu. Aku tau, tidak semua orang Indonesia seperti yang akan aku tulis di bawah ini, sebenernya tulisan ini masih sangat subjektif sesuai dengan preferensi ku terhadap orang disekitar yang aku lihat. apalagi sekarang sudah 2020, dan tulisan ini di ketik 27 Desember tahun 2018. Jadi tulisan ini di muat ulang untuk menjadi kumpulan portofolio kegagalan-kegagalanku supaya lebih semangat lagi kedepannya. Dan nggak harus melulu keberhasilan juga yang diceritain, kegagalan ditulis bagus juga buat jadi pembelajaran, bahwa ngga ada sesuatu yang instan di dunia ini. Buat kalian juga semangat ya, terus lakuin hal yang membuat kalian merasa berarti. If we can change the world, of course we can change ourself to be better each day~           

Happy Independence day, Indonesia! 

 

Hai, kembali lagi bersama saya Sisi, dalam acara.... eh maap ini bukan stasiun TV yha. Oh, ini Mojok.co yang punya semboyan sedikit nakal banyak akal itu, bhaiq, maka dari itu saya ingin membuat opini nyeleneh ini. Artikel ini sepenuhnya pendapat pribadi saya yang belum teruji validitasnya dengan SPSS karena belum pernah ada manusia-manusia akademisi yang berniat melakukannya. Yha mungkin setelah membaca tulisan ini, kalian mahasiswa psikologi, atau mahasiswa sosiologi yang meneleti mengenai karakter bisa, dan monggo diadakan penelitiaanya.

            Oke, dari pada baca tulisan saya yang makin ngalor ngidul ini, mari saya coba menjelaskan isi pemikiran ini, mengenai apa saja sih kesalahan-kesalahan orang indonesia yang akan terus diulang yang nantinya, eh ga nanti ding, tapi sekarang dong. 

1.      Datang terlambat

            Iya, entah kenapa. Terlambat seakan telah mendarah daging dalam tubuh mayoritas manusia indonesia sekali lagi meski tidak selalu Yha saya cuma ambil gambaran besar dari yang sering saya lihat, saya sendiri contohnya yang acapkali beralasan klasik, semacam merutuki jalanan macet, yha tolong kalau kamu ga mau macet dan pen buru sampai, berangkatnya kemarin dong kaka, atau orang dengan tipe yang menyalahkan cuaca yang sedang syahdu syhadunya karena nangis terus sih langitnya, atau jenis-jenis manusia play victim dalam lingkup keluarganya dan keluarga yang terkadang juga tidak bersalah bahkan mungkin tidak tahu apapun dijadikan sasaran alasan dengan berkata semacam, maaf tadi masih di suruh mama jaga ponakan, masih di suruh mbak ngepel rumah, kuras kamar mandi, masih diminta ayah menyelamatkan bumi dan seisinya. Saya yakin kalian menemukan beragam alasan yang lebih variatif, bisa komen lah nanti kawan~

2.      Buang sampah rokok di jalan

            Merokok mungkin memang masuk bagian dari kebudayaan nenek moyang yang diturunkan secara langsung dari generasi ke generasi, di wariskan dari keluarga satu ke keluarga berikutnya, dan bahkan sampai di buatkan museum rokok  oleh brand terkenal rokok dan menjadi tempat hits tuk berselfie ria para millenials yang gila like dan komen #relationshipgoals itu, namun ya mbok ya jangan buang-buang seenaknya juga toh. Tidak jarang dan sangat sering ini apa bedanya oon  saya menjumpai para lelaki yang mengendarai motor tercintanya itu, entah sendiri atau bersama kekasihnya, yang selepas ngudut membuang putung rokok itu dimana-mana seolah hal itu bukanlah masalah besar, padahal kan yha besar. Bayangin aja kalau belum habis betul, terus ada truk tangki pertamina yang mau kirim bensin ke pom-pom, lalu meledak karena terkena percikan putung rokok tersebut, dan menyulut api sehingga membuat kebaranh hmm. Mana, imajinasi saya ini sangat tinggi. Sering kali bayangin aja, kena api kebakarannya ketika menggendarai motor di belakang truk tangki pertamina itu. Haduu, apa iya saya harus mengalami kaya di film-film Final Destination~ Jangan sampailah juga ya, Suminah.

3.      Masuk Bus Surabaya Tanpa Bawa Botol

            Mungkin ada warga non-Surabaya yang belum tahu atau malah warga Surabaya sendiri yang belum tahu (wah tapi parah si kalau ini sampe ada yha~) di kota yang di pimpin Bu Risma ini ada yang namanya “Bus Surabaya”, sebuah sarana transportasi umum untuk masyarakat yang biaya naiknya di bayar menggunakan botol plastik, namun seperti yang sudah saya tulis di judul, kadang masih aja ada manusia-manusia yang dengan lugunya naik ke dalam bis tanpa membawa botol, parahnya lagi setelah ia naik, masih bisa pura-pura tidak tahu dan bertanya dengan polos “loh, mbak ini masih bisa kan naik tanpa botol? Yah saya dulu bisa masihan, sekarang harus pakai botol ya? Tapi saya ga bawa ni mba jadi gimana? Apa saya harus turun di pemberhentian selanjutnya?” dengan pertanyaan bertubi-tubi membuat si embak sampe eneq jawabnya dan akhirnya mempersilahkan orang ini duduk, diam, menikmati kesunyian Surabaya dalam ke hingar bingarannya. Karena memang di dalam bis itu suasanaya sunyi, nyaman, dan menenangkan, kayak waktu melihat senyum manismu itulah yha~

4.      Makan Pedas Terus Minum Es

            Hal ini sering dialami oleh pecinta pedas amatiran, belajaran, yang ingin tampak lebih keren di mata teman-temannya karena mencoba dengan agak sedikit memaksakan untuk menyukai pedas, padahal aslinya kagak kuat. Huft. Dengan, ya itu, habis makan makanan yang pedas, mereka malah minum es, makan kepedesan dikit, minum lagi, sampai-sampai kenyang karena minum bukan karena makan. Padahal kan sudah di kasi tau Sistaaaah, kalau makan pedas dikasi minum es itu malah semakin berasa pedasnya~ ya tapi namanya orang ga kuat tetep ngeyel dengan sistem yang membuat perut mereka jadi agak seperti bumil tiga bulan akibat terlalu kenyang.

5.      Foto Selfie di Depan Cermin Toilet Umum

            Ini biasanya favoritoz bagi para kaum hawa. Yha. Foto depan cermin. Cerminnya bukan sembarang cermin karena cerminnya adalah cermin yang ada di toilet umum yang mana toilet umum digunakan banyak orang dan yah orang-orang melihat mereka, sementara mereka berfoto atau menanti mereka selesai melaksanakan sesi sakral tersebut untuk sekedar bercermin. Yha mon maap ya mbak-mbak kami misi bentar boleh, mau benerin kudung nihh~

            Ya begitula potret keunikan, kesalahan masyarakat yang sering saya temui di ibu pertiwi, kalau kamu paling sering melakukan yang nomer berapa? Saya siy, jelas nomer 1, supaya menjadi nomor satu dihantinya, eaaa~



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #resensi

Menjadi Resilience dari Filosofi Teras.

Nobody's going to do your life for you. You've to do it yourself. Whether you're rich or poor, out of money or ranking it in beneficiary of ridicolous fortune or terrible injustice, and you've to do it no matter what is hard or nonsense no matter what unjust, sad, sucky things have been fallen you. Self-pity is a dead-end road. You make the choice to drive down it. It's up to you to decide to stay parked there or to turn around and drive out." - unknown

Tulisan ini pertama kali aku baca di salah satu akun instagram yang aku juga sekarang lupa apa namanya. Tetapi yang jelas dia sudah nangkring di depan mejaku sejak bulan Mei lalu. Beberapa kali dalam sehari memang ku baca, kadang bisa memberi power kadang ya sekedar pajangan aja. Kadang membuat self-awareness meningkat, kadang juga dia cuma jadi hal yang aku anggap formalitas.

Sampai hari ini akhirnya niatan untuk menyelesaikan apa yang ingin aku tulis sejak setahun lalu, menulis review buku "Filosofi Teras". Sebuah buku yang aku anggap menjadi obat tersendiri saat aku merasa gamang pada tahun lalu, seusai revisian skripsi dan tentunya bingung arah mana yang harus aku kejar, kompas mana yang paling cocok, atau sorotan lampu mana yang menunjukkan ke arah yang tepat. Kalau aku menilai dari semua buku self-impovement yang aku baca dia memasuki nilai 8/10.

Pertama, yang membuat buku ini punya nilai tinggi menurutku, mungkin karena aku kurang banyak baca buku sejenis ini, wkwkw. Rekomin dong, buat temen-temen yang suka baca buku self-improvement yang menurut kalian buku yang seru dan worth it dan bisa nambah sudut pandang dan prespektif baru, hehehe.

Enggak, beneran buku ini bagus kok, oke aku mulai serius nulis reviewnya ya. 

  • Bahasa Penulisan

Entah mengapa, aku suka jenis buku yang bahasa penulisannya seperti bercerita, dan buku ini seperti itu. Karena menurut aku, ketika suatu buku didalamnya tidak hanya memuat teori, tetapi juga kisah hidup penulis, dan latar belakang mengapa sebuah karya buku ini ditelurkan akan membuat pembaca dan penulis memiliki ikatan emosional tersendiri. Rasanya seperti menulis dan bercerita dengan sahabat pena yang belum pernah kita temui. Bahasa yang digunakan juga tidak terlalu formal, tapi juga tidak terlalu lebay. Pas, legit, dan renyah.

  • Bedasarkan Riset dan Wawancara

Penyataan/kesimpulan teori tanpa data riset dan wawancara sama persis seperti janji manis gebetanmu tapi ngga ada realisasinya. Alias, ngomong doang, hehehe. Makanya penting banget sebuah kesimpulan yang diawali dari adanya proses analisis dan fenomena yang terjadi diiringi data hasil riset dan wawancara dari ahlinya. Sebuah teori nggak akan disebut sains kalau belum ada bukti risetnya kan, palingan ya jadi pseudosains.

  • Integrasi dari banyak ilmu 

Awalnya, sewaktu baca judulnya, berat banget nih. Belajar Filosofi, seberat novel Dunia Sophie ngga ya ini. Mumet ngga ya. Dan pikiran-pikiran soal belajar filsafat yang rumit itu berkelebat di kepalaku yang suka hal-hal yang simple dan lucu ini. Tapi waktu baca review di Google dari orang-orang, sepertinya ini layak di coba sebelum di takutin. Selama baca, aku ngga merasa bosen sama sekali. Cara penulis mengaitkan pengalaman pribadinya, fenomena yang terjadi, hasil riset dan wawancara, dan ilmu-ilmu lain yang saling berkaitan sangat mudah di lahap bulat-bulat sama otak. Aku pernah baca quotes juga, sepandai-pandainya orang, adalah ia yang pandai memahamkan orang lain dengan cara yang paling sederhana. Henry Manampiring memang bapak anak satu yang jenius~

  • I do (still) judgje book by its cover

Sebagai makhluk visual, hal menarik lainnya yang aku suka dari buku ini adalah covernya yang berwarna kuning dan tosca. Dalam Ilmu Psikologi warna ini melambangkan warna yang optimis, ceria, dan semangat. Selain itu, gambar ilustrasi tampilan seorang pria tua yunani dengan gulungan kertas di hadapan dua pemuda berbaju modern sambil menyeruput es boba dan menyuguhkan kepada bapak tua minuman kekinian itu menyiratkan bahwa dua insan dalam Quarter Life Crisis ini diberi arahan oleh bapak pemilik teori Filosofi Teras tersebut.

Buku ini bagus buat temen-temen yang mau mendalami teori Well-being dan Resilience di Psikologi, sedang mengalami Quarter Life Crisis, atau sekedar mencari bahan bacaan bagus untuk asupan gizi ke pola pikir baru. Paling enak baca buku ini juga di perjalanan menuju sesuatu. Supaya lebih tabah, sabar, dan bahagia menikmati setiap proses masing-masing dari kita. 


Have a good day! [cc]

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #intrapersonal #life

Ketidakpastian Adalah Kepastian.

Bermula dari hari menuju kelulusan tahun lalu di bulan September. Banyak ketidakpastian yang saya rasakan. Harus kemana setelah lulus, apa pilihan karir yang sesuai dengan kepribadian, bagaimana dan dari mana harus memulai merangkai apa yang ingin saya dapatkan, apakah saya harus idealis atau realistis, dan masih banyak pertanyaan yang muncul di benak seorang calon sarjana psikologi, bahkan seorang yang sudah belajar ilmu psikologi masih gamang dengan apa yang ingin dipilih dan dilakukan oleh dirinya sendiri.

“Pendidikan formal benar-benar cuma sebagai jembatan tak sampai setengah jalan menuju apa yang saya inginkan”, itu yang terbesit saat pada benak saya waktu itu. Saya kira perjalanan setelah studi S1 akan lebih jelas, dan tergambar. Nyatanya tidak, justeru semakin banyak dan berkali-kali lipat ketidak pastian yang saya rasakan. Sewaktu kuliah mungkin ketidak pastian itu berwujud nyata dan tampak, kapan dosen pembimbing bisa dihubungi dan memberi waktu untuk saya berkonsultasi, kapan surat izin saya bisa masuk ke rumah sakit untuk penelitian, atau kapan saya bisa disidang dan kapan orang tua bisa merasakan feedback investasi pendidikan yang mereka berikan untuk saya.

Sewaktu  duduk di ruang kelas, ujian hanya diberlakukan persemester atau tengah semester. Setelah lulus yang seperti orang naif anggap ingin terbebas dari jeratan ujian nyatanya justeru berkebalikan. Setiap hari adalah hari ujian. Ujian bertahan hidup mandiri entah secara emosional, finansial, spiritual dan hal lainnya yang lebih holistik. Kecarut marutan polemik eksternal, yang mungkin mutlak tidak dapat kita rubah tanpa adanya kekuasaan dan modal finansial, sampai yang paling penting, kegelisahan yang ada dalam diri setiap individu masing-masing.

Sekarang bahkan negara sedang hampir mengalami resesi, apabila ibu Sri Mulyani gagal menyelematkan semester ini dari minus daya beli masyarakat yang menurun akibat pandemi covid. Banyak rencana yang dilakukan agar Indonesia tetap bisa bertahan dan tidak resesi, sama halnya banyak rakyat korban pemecatan sepihak, pelaku bisnis rumahan dan rakyat yang mengandalkan upah harian yang berusaha sekuat mereka untuk bertahan hidup. Semua ketidak pastian ini adalah hal yang pasti. Tidak ada yang tahu seperti apa kedepannya.

                Tapi hebatnya manusia didesain oleh yang maha kuasa memiliki organ penting yang bernama otak. Dalam psikologi, otak manusia ini juga selalu menjadi topik utama dalam setiap pembahasannya, mulai dari kepribadian, kognitif, perkembangan, sampai abnormalitas. Manusia didesain mampu beradaptasi. Orang yang adaptif dengan perubahan dan ketidakpastian adalah orang yang mampu bertahan.

                Berkat kemampuan adapatasi ini, mereka menemukan ide yang menggerakkan, menemukan cara, menemukan jalan, dan menemukan harapan. Tanpa harapan, kita semua tidak akan bertahan. “Sesungguhnya Allah maha mendengar” adalah mantra untuk tetap bertahan pada ketidakpastian yang saya selalu ingat belakangan.  

                Harapan bisa datang dari hal yang sederhana. Dari orang terdekat yang selalu ada, aktivitas yang kita sukai, lagu dan film favorit, cuaca yang bersahabat, buku yang mengajak kita berkelana, sampai orang yang kita temui dipersimpangan jalan tetap semangat mencari sekeping pundi-pundi lembaran berwarna warni, alat barter yang biasa kita sebut, uang.

                Merangkai apa yang ingin dan akan dilakukan di saat ini dan kedepan memang menjadi bahan pembicaraan yang tidak akan pernah ada selesainya. Setiap hari adalah hari belajar. Belajar mengenali diri sendiri, mengenali orang sekeliling, bahkan sampai alam. Hari ini semua tampak baik-baik, sapa yang mengira setelah terdampak covid di penjuru bumi, saudara kita di Masamba, Sulawesi Selatan harus ditimpa lagi yang lebih dari alam mereka, Banjir Bandang pada 13 Juli lalu. Makin-makin saya lebih bingung, sebenernya apa yang selama ini saya khawatirkan? Apa yang kurang? Bahkan sepertinya ngga pantes-lah, buat mengeluh, selama masih diberi kesehatan, tempat tinggal, teman-teman yang selalu ada, dan sekumpulan hal-hal lain yang saya sukai.

                Ketika ketidakpastian yang melanda dalam dirimu, aku harap kamu segera menyadarinya, bahwa tidak hanya kamu yang merasa seperti itu. Temukan apa yang membuatmu mempunyai harapan baru. Salah satu caranya bisa dengan kembali menguak hal yang membuat perasaanmu nyaman. Bertemu orang-orang yang mengingatkanmu untuk tetap berjuang, dan kembali bergerak kemana kamu ingin pergi. Mulailah. [cc]

“Siapapun kamu, apapun bisa kamu lakukan, atau kamu harapkan, wujudkan, impikan, dan mulailah. Keberanian punya kejeniusan, kekuatan dan keajaiban.” – Johan Wolfgang Van Goethte, Novelis Jerman, abad ke-19.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In

Memori Bulan Mei


Minggu, 31 Mei 2020

Kepada 
Teman-teman
Dimanapun kamu berada

Halo, lama tidak bersua, kapan terakhir kali kita tertawa bersama seperti sedia kala? terakhir kali  saling berbagi cerita lika liku drama masa dewasa muda. Kemarin bukankah baru saja kita masih berlari di gang jalanan rumah, bertukar isi binder adinata, MP3 nada dering lewat infra merah, lalu dengan bangga sekali karena baru saja membuat akun sosial media, menggunggah kenangan bahagia sambil menulis kata-kata bijaksana di berandanya.

Terakhir yang terekam jelas dalam memori, kita masih mengenakan seragam putih merah, menikmati cireng di depan kantin bercat ungu muda, lalu bukankah baru beberapa jam lalu, kamu sibuk membuka buku tulis hijau itu untuk mencatat materi kursus matematika di rumah ibu wali kelas, lalu aku yang bersepeda berkecepatan kencang, ingin segera pulang hanya untuk menyaksikan  drama korea, atau aku yang setiap harinya berangkat dengan bison menuju Sekolah Menengah Atas di tengah kota. Oh bukan-bukan, beberapa menit lalu, aku masih sibuk mengolah data-data hasil wawancara observasi untuk skripsi psikologi, bukan?

Oh iya, maaf, belakangan ini aku cuma bisa mengerti kabarmu dari story atau ketikan "apa yang anda rasakan saat ini" dalam media daring. Kamu sehatkan? Memang banyak yang berubah belakang, entah karena isu beragam di dunia atau kisah lain yang mungkin tak sempat kamu katakan. Aku harap kamu selalu berbahagia dan menjalani saat ini dengan hati lapang. Tak terasa, kita telah sama-sama beranjak dewasa, jauh terburu seharusnya. Tak apa dalam hidup kita tidak sedang berlomba. Cukup selalu berusaha sampai waktu yang tidak dapat dipastikan, kelak suatu saat nanti, kita kembali bersua sembari tertawa mengingat hal-hal jenaka dan sederhana yang berhasil membuat kita semua merasa seperti sedang 'di rumah'. 

Mei, bulan ini tentu riuh, sepi, bermakna, dan juga hampa. Pembelajaran yang tak kunjung usai dipelajari, tentang cerita manusia melintasi dinamika cerita dalam skenario drama nyata. Nyala dan membara atau redup dan gelap, entah riang ataupun malah muram dan mungkin sebagian semangat dan bagian lainnya menyayat. Apapun itu, aku tau kita mampu. Tentu, dalam penghujung hari, minggu, bulan atau tahun nantinya, bolehkan ku menitip beberapa bait kenangan dan rasa rindu akan memori masa lalu.

Kepada teman yang entah sekedar mampir atau yang sampai saat ini masih setia mengiringi di tengah-tengah hari ramai.Ternyata kita sama-sama beranjak menjadi dewasa. Berkawan dengan pertemuan dan perpisahan, dan selalu di setiap kata akhir, apakah benar-benar akhirnya? atau mungkin terangkai pada kata demi kata menjadi kalimat yang tersusun rapi berjajar membentuk kalimat baru yang akhirnya ini semua hanyalah permulaan. Selamat jalan mungkin sebenarnya bukanlah kata perpisahan, tetapi kalimat yang bermakna selamat datang di lembaranmu yang baru. 

atas bulan-bulan Mei yang telah terhenti tepat hari ini. Sampai bertemu di Mei berikutnya, berikutnya, dan seterusnya.


Salam Hangat,


Deasy Mei.



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In

Merayakan 22 Tahun Seorang Gadis Biasa



Pada suatu hari di pinggiran hiruk pikuk kota terbesarkedua di Indonesia, hiduplah seorang gadis biasa, memiliki beberapa saudara yang jauh lebih tua darinya, fisiknya juga sehat dan normal, dan tentunya seperti pada umum. Rambut panjang yang dikuncir kuda setiap pagi sebelum berangkat ke taman bermain, matanya tidak terlalu belok ataupun sipit, tubuhnya kurus kecil, giginya sedikit maju karena ia suka memasukkan jari ke mulut ketika tidur yang menurut teori perkembangan hal ini biasa digunakan anak-anak untuk merasa lebih aman dan mengurangi kecemasan dan ia berkulit sawo matang. Kegemarannya adalah bermain, menari, bercerita dan bersepeda, ia tidak terlalu pandai, ia tidak seperti kebanyakan anak seusianya, dalam hal belajar dia membutuhkan waktu lebih lama dan berulang ulang.

Aku masih mengingat ketika di tempat pendidikan al-quran (TPQ) ia harus mengikuti intensif selama beberapa bulan untuk bisa naik ke level Quran di usianya yang sudah memasuki 10 tahunan, sedang mayoritas teman-temannya sudah berada di level tersebut sejak kelas 2 atau tiga. Atau, aku juga masih mengingatnya ketika di taman kanak-kanak, semua teman perempuannya dalam grup marchine band memegang alat musik marching bell atau menjadi mayoret, tetapi ia memegang alat musik drum, kata guru TK, Ia tidak bisa mengikuti ketika diajari bermain marching bell. Atau ketika ia mengigit seorang tetangga di sebelah rumah nenek yang tidak mau turun dari tiang yang juga ia ingin naiki. Atau ketika ia menangis dan sedih karena tidak memiliki teman di sekitar rumah, dan merengek ke orangtuanya untuk membuatkannya seorang adik.
“Ma, aku mau adik, gimana caranya?”
“Itu dibuat dengan cara dijahit, hehehe,”

Gadis kecil itu benar-benar aneh. Aku juga masih mengingat sewaktu SD ia pernah melawan dan berdebat dengan teman laki-lakinya, atau mengirimi surat penuh amarah kepada salah seorang temannya yang mengira ia masih cacar dan bisa menularinya. Di usia SMPnya ia juga pernah berdebat hebat dengan teman laki-lakinya yang sangat menyebalkan menurutnya. Ia sangat membenci laki-laki di saat-saat itu. Tapi anehnya dia juga bisa tergila-gila dengan laki-laki virutal koriyah. Tapi ia lumayan belajar dengan rajin di masa SMPnya, hal itu karena ia memiliki sahabat yang pandai dan baik, jadi sering mengajarinya matematika. Entahlah, sejak SD musuh terbesar gadis itu memang ada di Matematika. Lalu di masa itu juga ia mulai mengenali dunia psikologi berkat salah satu guru TIK yang dengan baik hatinya memberi simulasi tes-tes untuk lebih mengenal diri sendiri sewaktu jam pelajaran. Ia juga memiliki sosok guru yang diteladani, wali kelasnya selama 3 tahun, Ibu Sri Wahyuni. Di akhir-akhir masa sekolah menengah akhirnya, ia belajar ‘lumayan’ serius karena berambisi masuk ke SMA di tengah kota, tentunya dengan persaingan yang lumayan atau bisa dibilang setengah-setengah, ia akhirnya harus masuk ke salah satu sekolah swasta di Sidoarjo, yang untungnya tetap di tengah kota.

Seperti yang sudah aku sampaikan diatas, ia masih gadis biasa, tidak terlalu pandai di kelas, hanya cukup berambisi untuk menjadi agak tidak biasa-biasa, ia mulai tertarik aktif di organisasi, mulai mengerti kegiatan apa yang disukainya, dunia jurnalistik, ia belajar beretorika, juga menjadi penyiar radio yang ‘medok’, but its ok, at least at the end of the day, she realized that and of course okay with that. Di masa remaja yang telah teracuni oleh hall(y)u wave, tentunya ia memiliki gebetan yang berakhir menyedihkan karena di notice tapi diabaikan, HAHAHA, tapi sekali lagi ia masih tidak apa-apa dan menjalani masa remajanya dengan penuh drama dan kebahagiaan bersama teman-temannya. Masa remaja tidak perlu melulu soal cinta bukaaannn???? Hahaha. Hanyalah perempuan-perempuan sok ok ok aja yang bilang begini, sejujur-jujurnya, tentu ia resah, di saat semua temannya pernah disukai seorang paling tidak, mengapa ia tidak? Apa yang salah dari ia. Tapi yasudah gapapa, ia mengalihkannya dengan hafalan tabel periodik, belajar bahasa inggris, jualan pin, ngerjain besar gaya apabila dua motor bertabrakan, dan tentu saja duduk lesehan sewaktu pelajaran tersebut supaya tidak mengantuk, karena kalau duduk di bangku dengan volume suara Bu Guru Uchi tercinta akan tertidur huvt, oiya jangan lupa Ia juga semangat 45!!!111!1 menghafal nama nama ilmiah hewan dan tumbuhan, sejenis oriza satyva. Benar benar masa remaja yang biasa saja bukan? Tapi Ia sangat bersyukur mengalami semua itu. Ia sadar hal-hal sederhana akan menjadi kenangan berharga suatu saat kelak.

Masa agak serius akhirnya pun tiba, Ia harus mulai memikirkan masa depan dan memutuskan untuk menekuni dunia biologi dan psikologi, alasannya sebenarnya cukup abstrak, hanya karena ia mencintai mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan fisik maupun psikis manusia. Sungguh alasan anak muda yang lucu. Namun. Disanah gadis itu, sedang berjuang menyelesaikan tugas akhirnya. Perempuan biasa itu kini sudah berusia dua puluh dua tahun, ia mulai mengkhawatirkan beberapa hal yang dulunya bahkan tidak ada dalam benaknya, ia ingin menjadi anak yang baik bagi orangtuanya, ingin bisa balas budi dan menjadi heroik, dan hal-hal biasa lainnya, yaitu, hidup mandiri dan tidak menyusahkan mereka.

Hal hal biasa yang ingin diluar biasakan itu berubah menjadi, apa salahnya menjadi biasa saja? Bukankah dari hal hal yang biasa kita lakukan, akan membawa kita kepada sesuatu?
Apa salahnya? Toh ia yang memang sejak awal penuh kesederhanaan, apa salahnya berhenti terlalu berharap banyak pada diri sendiri, cukup lakukan hal yang harus dilakukan, sisanya biarkan semesta.
Ia memang hanya perempuan biasa yang ingin menjadi lebih baik dari dirinya kemarin bukan lebih baik dari siapapun


1 Syawal 1440H
Selamat merayakan hari kemenangan, kamu.
Tanpa harus menang dari siapapun, yang paling penting adalah kamu harus menang dari hawa nafsumu, yak~

Read More

Share Tweet Pin It +1

3 Comments

In #catatanmahasiswasemesterakhir

Belajar Menjadi Rang Kantoran~


Sidoarjo.
Kamis, 28 Maret 2019

“Bumi berputar begitu kencang belakangan. Sewaktu-waktu begitu meyakinkan, sewaktu-waktu begitu mengecewakan. Apakah begini rasanya hidup dalam pusaran waktu tak tentu.“

Jum’at, 8 Februari 2019
Hari pertama magang, aku dalam keadaan penuh tanya. Kepalaku tidak berhenti berbicara. “Seumur-umur, tidak pernah otakku seberisik ini,” keluhku dalam pilu. Tapi, Allah terlalu sayang sama Sisi. Di hari pertama, banyak energi baik dan harapan datang lewat seorang perempuan. Ratri. Ia menemani prosesku menuju ke tahap-tahap yang lebih susah.   

RATRI
Hai, Ratri. Izinkan aku menuliskan tentang kamu dalam laman pribadiku.
Mengenalnya kali pertama karena terlibat dalam satu organisasi pers mahasiswa fakultas. Di awal semester, ia juga menjadi tim HUMAS kampus kami. Selain aktif dalam dunia peliputan, ia juga penyanyi di paduan suara kampus. Di tahun-tahun berikut, waktunya lebih banyak dihabiskan di organisasi lingkup surabaya dan dewan eksekutif mahasiswa fakultas. Kami sebenarnya tidak begitu dekat, hanya beberapa kali temu dan saling menyapa.
Tapi, mendadak kami satu tempat magang, banyak hal yang dibagi, dengan segala perbedaan, kami tetap bisa satu frekuensi. Ratri dengan keteraturannya, dan aku, sebaliknya. Ratri dengan segala kepedulian terhadap hal-hal kecil yang sering aku remehkan sebelumnya. Ratri dengan segala kemandiriaannya, dikala aku, selalu hidup dalam perhatian dan dukungan penuh dari berbagai penjuru. Tapi, perbedaan ini yang membuat kami perlahan saling mendekat.
Ia semacam mentorku selama proses internship, yang mengajariku soal administrasi marketing, administrasi perusahaan kementerian sampai swasta, soal perusahaan, soal dinamika, soal ritme, bahkan sampai soal kehidupan. Ya, selengkap itu aku mempelajari kenyataan hidup 8 minggu terakhir. Aku masih ingat kata-katanya padaku yang masih banyak naifnya ini, 

“Dunia itu kejam Sisi, kamu harus tahu itu, mungkin saat ini kamu belum benar-benar merasakannya, tapi nanti, suatu saat, kamu harus lebih hati-hati,”
.

***
Sebenarnya aku ingin menulis pengalaman konyolku ketika proses belajar di sana. Karena, aku rasa dunia menjadi terlalu serius, aku ingin mengenang diriku yang 'agak ehe gimana ya ceritanya' itu supaya menjadi evaluasi diriku dan mungkin bisa sedikit menghibur teman-teman yang sempatkan waktu untuk membaca tulisan random aku ini.
hehehe. 
Jangan banyak ketawa ya setelah baca beberapa hal dibawah ini.

1   TRAGEDI MENGANGKAT TELEPON
Jadi, tugas selama magang di perusahaan selain menjadi admin marketing yang melakukan proses persiapan data untuk lelang -dengan cara input data-, aku juga melakukan tele-survey, pengiriman surat penawaran pelatihan, pendataan undangan, regulasi administrasi umum, sampai memberi makan ikan.

Hari itu, Ratri sedang berada di lantai dua karena melakukan tugas sebagai ibu personalia, dan aku sedang melakukan sesuatu dengan laptop. Tiba-tiba ada telepon berdering dengan kencangnya, membuat kepala pusing, huft. Aku bahkan tidak sempat menyakan nama bapak penelepon. Aku hanya mendapat info, bahwa, tadi yang telepon adalah LAN (Lembaga Administrasi Negara) salah satu kota yang meminta tim marketing untuk melakukan pembuktian data dengan ke kantor mereka. Sungguh, mereka tidak berbicara dengan tanda baca, cuepet pol. Aku kewalahan dan ketakutan -eh, emang lihat setan ya kok takut Si, ya intinya nerves, karena ini juga kali pertama nerima telpon dari luar kantor dan langsung berhubungan dengan proyek penting perusahaan-. Disitu letak kesalahanku. Tidak menanyakan nama penelepon dan tidak menyambungkan telepon ke tim marketing. Ini tentu membuat miss communication. Aku memang sudah memberi nomor telepon Ratri untuk dihubungi kembali, tapi sampai beberapa jam kedepan, tidak ada info lebih lanjut. Aku merasa payah. Angkat telepon gini aja ga becus, dasar! Dan tentu merutuki diri sendiri, tapi aku harus mencari solusi, dan iya, aku menelpon kembali ke pihak LAN, akhirnya berhasil sampai ke bapak-bapak yang menelpon pertama tadi, dan langsung menghubungkannya dengan tim marketing. Selepas itu, aku menangis bersyukur (ini nangis beneran woy, hmm, nangis yang kaya lega gituuuu), masih dibantu dan diselamatin Allah, gimana coba kalau karena aku menggagalkan proyek perusahaan hanya karena kebodohanku, pikirku waktu itu. Tapi aku sudah memaafkan diriku kok, mehehe santay. Dan akhirnya membuat SOP mengangkat teleponku sendiri:3 Respon Ratri? Wah, dia ngaakak melihat tingkahku gini, katanya lucu, mehehe.......

aku hanya menimpalinya, “Ya soalnya ini bukan perusahaanmu Rat, coba bayangkan kalau kamu jadi Bos, punya pegawai seperti aku, pasti kamu juga pen nabok,” huhuh sambil melo-melo gituuuu:333

      MEMBELI JAJAN SAAT ADA BU BOS
Ini ceritanya agak lucu-lucu bego sih ya... mehehehe. Jadi begini, sewaktu itu di kantor sedang ada tugas input data, dan aku kan suka ngantukan gitu kalau kerja duduk diem mantengin layar laptop sambil pindah data, lalu aku pergi ke kantin kejujuran, di lantai dua, untuk membeli jajanan tentunya. Cara membayarnya cukup mudah,  yaitu dengan masuk ke ruangan si pemilik dagangan, tepat di samping jajannya dijajakan gitu. Aku dengan lugunya masuk, dan membayarnya kepada Mbak Mel, nama beliau. Dan ya, selesai membeli, aku tentunya turun kan yha... keesokan harinya aku kembali ke ruangan tersebut, karena ada suatu kepentingan. Dan Mbak Melisa, Mbak Dita –yang juga satu ruangan– bertanya kepadaku,

“hey Si, kamu kemarin kok berani banget masih tetep beli jajan meskipun ada Ibu Pimpinan,”
”loh ketahuan ta mbak?”
”lah ya gimana sih, yaiyadong, kan kemarin di dalam ruangan ini juga,”
”ha? Gimana sih mbak, aku bingung, gimana gimana? Kemarin bukannya itu Bu Ruli ya? Yang duduk disitu?”
”heh!1!!11!, bukan toh, itu kemarin Ibu Pimpinan, yaopo rek Sisi,”
”......”

Tentu aku speechless dengan diriku sendiri, sebegitu ga sadarnya yah!1!!!!1 Baka!1!!!!111 :’
Sedih, dan merasa bodoh disaat bersamaan. Banget. Huhuhu.

RAPAT BULANAN
Yaps, sekitar dua bulanan aku magang di perusahaan itu, tentu aku juga dua kali mengikuti rapat bulanan yang soooooo makes me confused, dan andalanku ketika bingung adalah mencoba tetap terjaga. Entah mengapa, aku sangat mengantuk ketika mereka membahas hal-hal yang susah aku mengerti. Aku hanya bisa mendengarkan dan mencoba memahami apa-apa yang mereka sampaikan. Aku merasa sangat oon sekali gitu, ga nyambung-nyambung ketika mereka bahas sirkulasi proyek dkk, eiiitss tapi aku selalu "terlihat" semangat dan berusaha mengikuti alur. Aku rasa itu sangat membantuku memahami pelan-pelan, dan semakin lama tentu aku juga semakin memahami alurnya, meski kadang masih ngantukan. Hey emang kapan kamu ngga ngantuk sih Siiii~
wkwkw, teman-teman jangan ngantukan kaya aku yhaaa. ingat itu, pesan moral darikuu.....

MEMBERI MAKAN IKAN
Dari semua kegiatan magang, yang paling aku suka adalah bagian ini. wuwuwuw. Ketika Bapak dan Ibu Bos sedang berlibur bersama keluarga mereka, aku menawarkan diri kepada Pak Sat, salah satu supir perusahaan untuk membantu mengerjakan bagian perawatan ikan, dengan memberi makan mereka. Huhuhuh. Itu benar-benar menyenangkan. sepertinya pekerjaan merawat itu hal yang kecil bukan? tapi apakah kalian tahu, perawatan itu penting sekali. Dan tugas Ratri sebagai personalia di perusahaan itu juga adalah dengan merawat. Merawat fasilitas, merawat sarana dan prasana, merawat data-data pegawai, merawat hewan dan tumbuhan yang ada di perusahaan, tapi tidak secara langsung siih, Ratri menjadi koordinatornya begitu dan bagian follup-follup. hehehe

Huh, hmhmhm. Tetapi merawat itu bukan hal yang main-main loh ya, apalagi merawat perasaan kamu ke aku yang labil gini, makasi ya, eh kok curhat. hahaha. Baik mungkin cukup sekian dan wasalam.

eii tapi kalian merasa clickbait nanti yaa, hahaha. Belum kok, belum selesai.
Aku akan memberi Punch Paragraph

Jadi Punch Paragraph itu apa?
Itu semacam konklusyen atau kesimpulan dari tulisan yang aku bikin, apa yang bisa aku ambil dari pelajaran belajar menjadi seorang pegawai kantoran..

Hal Baru yang Aku Pelajari karena Magang adalaaaaaahhhh~
  • Mengenal Kementerian yang ada di Indonesia
Tugas pertama yang aku terima ketika internship adalah menyiapkan amplop surat penawaran jasa perusahaan kami kepada seluruh kementerian yang ada di Indonesia, Totalnya ada 1395 surat dengan rincian 123 Direktorat Jenderal, 581 Direktorat, 62 Deputi, 288 Asisten Deputi, 22 Inspektur Jenderal, 82 Inspektur, 41 Badan (sesuai nama kementerian), 158 Pusat (sesuai nama kementerian), dan 38 Kepala Pusat (sesuai nama kementrian). 

Hal yang aku tanyakan kepada Ratri saat itu adalah, "Wah Rat, Menteri kita banyak yah, itu kerjaannya ngapain aja, kok bisa banyak gitu, wahh ternyata negara kita ini bukan main kompleksnya ya, dah macam kepribadian manusya aja, komplikated. hehehe" 

Ohiya dan aku juga suka sekali sama nama-namanya kementrian kita, lucu-lucu tauk. hehehe. Ih akunya emang dasar yang kurang apdet apa ya, cuma tau Kemenrisetdikti, Kemenag, Kemenpora, Kemenkeu, Kemenkes, Kemkominfo, sama Kementriannya Bu Susi. Disini aku belajar lebih aware sama organisasi dalam ruang lingkup yang lebih besar, yaitu negara. Dan tentu pengetahuan ini sangat penting, setidaknya menjadi dasar untuk aku sedikit tau mengenai dunia jurusan Administrasi Negara.
  • Mengerti fungsi akreditasi

Karena perusahaan tempat aku magang merupakan perusahaan pelayanan jasa konsultasi akreditasi, survey kepuasan pelanggan dan semacamnya, jadi semakin mengerti fungsi adanya akreditasi sebuah instansi itu untuk apa. hahahaha. Ya tentunya untuk mengawasi lembaga tersebut telah menjalankan organisasi/instansinya sesuai standart operasional prosedur. Semisal contoh, UIN Sunan Ampel Surabaya baru-baru ini mendapat akreditasi A, waaa selamat ya, nah itu artinya Universitas kita telah menjalankan administrasi, pelayanan, dan memiliki fasilitas yang sangat baik untuk menjadi fasilitator media pendidikan bagi para mahasiswa didalamnya dan layak diakui apabila meluluskan para sarjananya, kalau mereka mendapat nilai IPK sekian-sekian itu dengan proses panjang dan dapat dipertanggungjawabkan. Begitu teman-teman.
  • Kenal sama Mba RIA SW
Karena internship ini juga, Ratrri mengenalkan aku sama foodvlogger kesukaan dia yang inspiring banget! Aku belajar banyak dari Mba Ria SW ya meski kita cuma bertemu di dunia maya, tapi aku senang sekali bisa dapat banyak insight dan positive vibes dari dia. Seperti, hal-hal yang dilakukan sepenuh hati dan konsisten selama itu buat kebaikan diri dan oranglain pasti akan menjadi baik juga. Mba Ria juga selalu mengajarkan para viewersnya untuk berusaha keras dengan apa yang dimimpikannya dan bersyukur atas apa yang sudah dimiliki saat ini, dan yang paling penting dia mengajarkanku untuk terus belajar dan tumbuh dengan cara 'love ourself at first place then u can love others'. Aku benar-benar seperti mendapat terapi dari dia. Makasi ya Mba Ia~
  • Semakin mengenal diriku sendiri
Hal yang aku syukuri karena proses magang ini adalah, aku menjadi semakin sadar mana tempat yang memang membuatku nyaman dan bisa terus belajar dan berkembang, dan mana tempat yang kurang sesuai dengan karakteristikku yang mana makin membuatku pesimis. Jujur, aku merasa dunia kantoran -at least dalam tempat magangku- benar-benar beda dengan dunia perkuliahanku saat ini. Sewaktu menjadi admin marketing banyak hal baru yang belum aku biasa jumpai, dan membuat aku banyak takut. Aku juga sempat sangat minder belajar kerja kantoran, karena selain berbeda dengan bidang kuliahku, aku juga memang kurang nyaman bekerja di bidang clerical.

Memang mungkin, bekerja kadang nggak bisa relevan sama bidang yang kamu pelajari di kampus. Tetapi lagi-lagi hidup ini adalah pilihan bukan? Dan saat ini fokusku memang di tugas akhir, bukan bekerja, aku belajar keluar dari comfort-zoneku dan mencoba mencari pengalaman baru di bidang lain. Syukurnya, kontrakku tidak diperpanjang, sehingga aku bisa selesai internship sesuai jadwal. 

Kemudian aku  juga  = lebih nyaman bekerja dengan bertemu orang-orang, sedangkan disana, pekerjaanku lebih banyak di depan laptop. Aku semakin merasa tempatku memang bukanlah disini. 

Modal utama dalam bekerja adalah proaktif, peduli, displin, semangat, kerja keras dan menyelesaikan jobdesk kalian dengan baik, oiya satu lagi, nggak boleh baperan. Kita ngga boleh sedih berlarut-larut ketika salah dan diingatkan atasan, tetapi terima dan perbaiki. Jan melo-meloan lagi ya Siii, Ayo semangat!1!! salah dalam bekerja adalah wajar, tapi ya jan di ulang-ulang yhaa, hehehe, intinya mau belajar dan terus memperbaiki diri, supaya kinerjanya optimal.

Buat teman-teman yang sudah membaca tulisan ini sampai selesai, aku ingin menyampaikan sesuatu untuk diriku sendiri maupun kamu, kalau sesungguhnya yang cemas dan khawatir akan masa depan what will look like tidak hanya aku, atau kamu, tapi sebagian besar seperti itu. Aku juga sempat sedih ketika banyak hal di magang kadang tidak berjalan dengan baik. Ketika hanya aku yang tidak ditawari perpanjangan kontrak kerja oleh perusahaan tempatku magang, ketika skripsi yang sudah aku garap sejak Bulan Oktober dan saat ini masih menuju Bab 4, aku sempat malu dan menyalahkan diriku. Tapi, untuk apa aku menyesali semua itu?

Aku harusnya bersyukur sudah berhasil keluar comfort-zone  dan menyadari jalan orang itu tentu berbeda-beda, Begitu juga kalian, aku tau kalian semua sudah berusaha keras. Mari kita melihat sebentar kebawah dan tidak selalu membandingkan diri dengan yang lebih-lebih.

Bagaimana kalau aku dan kamu sekarang sama-sama belajar mensyukuri apa yang sudah dimiliki saat ini. Tidak sedikit orang yang diam-diam juga mengharapkan ada di posisi kamu loh. :)

Tulisan ini sepenuhnya tanggung jawab si empunya a.k.a saya, apabila kamu memiliki pandangan atau opini berbeda, aku akan sangat senang saling bertukar isi pikiran dengan kamu via apapun, bisa di kolom komentar, email, whatsaap atau medsos lainnya:)

#CATATANSISI
si Mahasiswi Semester Akhir


Read More

Share Tweet Pin It +1

1 Comments

In

Lihatlah Lebih Dekat

Entah mengapa, kadang aku merasa ketakutan akan hal-hal irasional
Takut Mencintamu
Takut bergantung padamu
Takut menikmati perasaanku untukmu selama ini
Kenapa aku hidup dalam ketakutan?
Untuk apa aku hidup dalam ketakutan?

Hal-hal yang seharusnya dapat aku syukuri saat ini
Justeru berbanding terbalik dengan keadaanya.

Aku mengkhawatirkan sesuatu yang sewajarnya dinikmati oleh kebanyakan manusia
Khawatir jatuh terlalu dalam
Kehilangan kepercayaan
Kecewa
Dan
Merelakan manusia menjadi manusia
Apa yang salah denganku?
Pasti ada hal yang tidak beres.

Kamu berceritra soal apa saja keresahanmu
Kusimak baik-baik
Kamu benar-benar telah melalui banyak hal
Kataku dalam hati,
Tentunya tanpa aku ingin kamu menyadarinya
Aku memang tel ah memiliki segala-galanya yang tidak bisa dibeli dengan materi
Coba lihat lebih dekat
Apa yang kurang dari dirimu Si?
Bersyukurlah!

Terima Kasih, sudah selalu ada di sisiku.
Bahkan terkadang, kamu harus memperlambat langkahmu untuk sekedar mengiringiku.
Semoga semesta selalu mendukung kita ya.




Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #selftalk

Akan tiba saatnya.

Akan ada saat dimana kamu menyadari, tidak ada yang pernah menyelamatkanmu dari gerumulan dirimu, dari dalamnya lautan pikiranmu, dari kecemasan kecemasan tak beralasan, kecuali dirimu. Maka selamatkanlah dirimu. Kamu yang harusnya paling bertanggung jawab atas dirimu. Berhentilah mengasihani dirimu sendiri Si:)
Dan mari lihat sisi opportunity, bukan masalah-masalahnya:)
Biasanya, lagu apa yang kamu dengarkan saat ingin berbicara dengan dirimu sendiri?
Kalau aku, suka instrumental di tengah malam sepi yang senyap. Suara air jatuh, atau duduk berjam-jam diatas sajadah sambil memeluk doa-doa.


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #selftalk

Menjadi Aku, Menjadi Kamu, Menjadi Kita.

Tulisan kali ini aku buat untuk memperingati bulan kelahiran Lembaga Pers Mahasiswa di fakultasku, tempat belajarku selama kurang lebih tiga tahun penuh. Aku ingin bercerita sedikit soal pengalaman berhargaku itu. Sekaligus mengenang hal-hal yang sudah aku lewati selama ini.

Menjadi Anak Pers.
Awal mula bergabung dengan Unit Kegiatan Khusus (UKK) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) sebab ingin kembali menggeluti dunia jurnalistik yang sempat aku cicipi di bangku sekolah menengah atas. Rasanya tentu begitu mengasyikan, bisa jalan sekaligus melakukan proses liputan sampai menulis sebuah artikel -meski dulu di SMA hanya menulis majalah yang terbit enam bulan sekali- kemudian dilanjutkan dengan menjadi penyiar radio setiap Hari Rabu dan Kamis. Sempat mengikuti sebuah kompetisi jurnalistik di salah satu universitas milik Kota Surabaya. Ketika itu, rasa meluap yang tertuang dalam pikiran, karena menemukan apa yang ingin dilakukan dalam kehidupanku kedepannya. Aku begitu bersemangat, sampai rasanya jantung mau lepas. 

Baik, mari kembali ke masa awal memilih masuk UKK Pers Mahasiswa. Di waktu yang telah ditentukan, sama, seperti aku versi remaja. Sebelum dan sampai pada akhir masa euforia, aku yang memahami apa-apa yang perbedaan jurnalistik dengan Lembaga Pers Mahasiswa, agaknya mendapat beberapa titik yang menjadi stressor tersendiri, ditengah-tengah padatnya jadwal pengerjaan tugas jurusan psikologi, mulai mencoba beradaptasi dengan kesibukan-kesibukan yang sama-sama minta diprioritaskan. Setiap seminggu sekali, buletin kami harus siap cetak -meski pada kenyataannya selalu saja ada waktu telat cetak-, kami juga dituntut untuk lebih peka terhadap kebijakan, isu yang sedang hangat, sampai hal-hal apa saja yang menarik dan dekat diantara kami. Jadwal untuk rapat tema selama dua minggu sekali juga sempat mendadak menjadi seminggu sekali karena adanya peleburan tim. Awal-awal menjadi maganger adalah saat-saat terberat menurutku. Di waktu itu, bahkan ayah ibuku beberapa kali memarahi karena sering pulang malam, ditambah afirmasi dari kakak-kakakku yang temakan strerotype perempuan tidak pantas pulang malam, padahal itu proses belajar dan mengembangkan diri, pikirku ketika itu. 

Menulis, wawancara, observasi, membuat outline, mentranskrip hasil wawancara, memotret, memilih foto yang sesuai angel, adalah hal yang umum di kamus baru seorang Sisi. Aku lebih sering berdiskusi, bertanya, dan tentunya mencari isu-isu baru untuk rapat tema selanjutnya. Aku tentu pernah mengeluh, bahkan kalau mau dibilang sering, ya bisa juga, hehe. Beberapa kali menulis di rubrik berita, dua kali menjadi pemred dan di beberapa kegiatan menjadi koordinator, meski juga ada waktu habis karena mencibir, disisi lain, aku terbiasa dan semakin menikmati itu. Aku suka ketika harus melakukan wawancara, menggebu ketika mengejar-ngejar narasumber, antusias ketika menuliskan dan merangkai kata-kata, yang juga dibarengi dengan tanda merah dan kuning di teks yang disetorkan kepada senior. Itu tandanya tulisan yang aku buat harus ditinjau ulang. Tapi tentu saja, bisa itu karena terbiasa bukan?
Pelan-pelan warna warni di layar monitor laptop semakin berkurang dan tulisanku bisa diterbitkan lebih cepat. Bahasa menjadi lebih luwes, angel berita lebih tepat, foto juga makin ciamik, kata senior, meski jujur, aku juga tau, itu masih jauh dari kata ideal dalam penulisan berita atau rubrik lainnya, tetapi, aku tetap senang karena itu artinya ada kemajuan sedikit demi sedikit. Aku bersyukur, sering mendapat coretan dari senior benar-benar membuat banyak perubahan dalam tulisan maupun cara berpikirku. Tak lupa, aku juga mau berterima kasih kepada teman-teman lainnya yang memberiku ruang lebih luas untukku belajar menulis dan berpikir. 

Membaca.
Di tahun kedua memasuki dunia ini, kegiatan turun lapangan jauh lebih sedikit, saat itu aku banyak mencoba kegiatan-kegiatan diluar kampus dan mengikuti pelatihan kepenulisan yang ada di Kota Pahlawan. Ingin mencoba sesuatu yang lebih baik, yang bisa membuatku belajar dan berkembang lebih banyak, gumamku. Selain mencoba hal baru, aku juga mulai menyukai aktivitas baru, yaitu membaca buku -selain yang ditugaskan oleh dosen loh ya, hehehe-. Buku pertama yang katanya harus dibaca para aktivis ialah milik Pram, dengan judul Bumi Manusia, aku mendapat rekomendasi itu dari salah seorang senior yang juga sama-sama menggeluti dunia ini. Jujur, aku sebenarnya bukan tipikal orang yang cepat dalam menganalisis tulisan, otakku perlu lebih banyak waktu dan ruang yang tenang untuk dapat menyerap dengan baik. Tapi, tentu, aktivitas membaca adalah hal yang harus aku coba biasakan, di masa-masa kuliah, masa merdeka-merdekanya mempelajari apapun yang mau kita pelajari, konon katanya. Aku menemukan ketenangan ketika itu dan menikmati waktu bersama buku-buku yang bisu, namun berisik begitu aku membacanya. Aku mencoba membaca novel sci-fi, macam Deception karya Dan Brown, juga novel soal rasisme, To Kill a Mockingbird karya Harper Lee. Hal-hal berbau kultur, manusia, dan teknologi begitu menggiurkan. Lagi-lagi aku mendapat banyak rekomendasi buku bagus juga karena lingkup pertemananku di dunia pers. Salah seorang teman yang juga anggota pers mahasiswa tingkat fakultas itu begitu pandai dan cinta buku. Tak jarang kami diskusi soal buku sampai hal-hal receh yang membuat tertawa.

Meningat-ingat masa kuliah, jadi rindu duduk di kelas, mendengarkan dosen menyampaikan pesan-pesan motivasi kehidupan, alih-alih membahas mata kuliah, kadang juga nyeleneh ke konseling pendidikan anak usia dini, konseling pra-nikah, hadeehhh kenapa lagi ini dosen-dosen psikologi doyan banget bahas masalah keluarga dan kehidupan. Eh tapi kadang lupa, psikologi memang membahas mengenai kehidupan dan, iya, semua itu bersinggungan dengan kehidupan. 

Pemimpin atau Pemimpi?
Banyak sekali hal-hal yang terjadi di tahun ini, dan tentunya banyak juga hal yang aku pelajari sebagai individu yang mendapatkan peran baru. Pemimpin. Jujur, di ruang lingkup terkecilku, keluarga, aku adalah anak terakhir yang sama dengan kebanyakan anak terakhir pada umumnya. Ceroboh atau kurang hati-hati, menerima banyak sekali perhatian, mudah cemas dan tentu saja masih sangat membutuhkan bantuan dalam pengambilan keputusan, oiya jangan lupa, ciri penting anak terakhir dalam teori kepribadian milik Adler, ambisi yang tidak realistis. hehehe. iya, aku seorang pemimpi ulung. Dalam fase ini, aku mengalami perasaan inferior berkepanjangan.Banyak hal yang kurang optimal karena perasaan inferiorku yang lebih dikedepankan dibandingkan diri realistisku.
Semakin dijalani, tentu banyak juga konflik yang terjadi, tetapi disitulah seninya. Bagaimana memanajemen konflik, tetap bertahan dan menyelesaikannya dengan rapi. Kata orang tua, jangan membenci masalah, kita tumbuh bersamanya, kita harus menghadapinya. Masalah dalam organisasi ini tidak tanggung-tanggung, mulai dari miss komunikasi dengan internal sendiri, dengan eksternal organisasi, sampai juga berurusan dengan pihak birokrasi. Tentu seorang pemimpin bukanlah siapa-siapa apalagi apa-apa tanpa timnya. Aku merasa sangat terbantu dengan adanya teman-teman pengurus yang selalu sigap dan tanggap dengan hal-hal genting. Selain support system dari para pengurus, bayi-bayi magangers juga tidak mau kalah semangat, mereka suportif dan memiliki semangat tinggi untuk belajar. mereka pun menjadi salah satu alasan aku tidak mau kalah semangat. Hari-hari itu memang pantas untuk dirindukan.

Aku dan Waktu yang Tak Berhenti Berubah.
Banyak hal yang berubah sejak keputusanku telah bulat untuk bergabung dan bertahan dalam organisasi ini. Terima kasih banyak kepada Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Alam Tara yang membuat mataku lebih menyala, hatiku lebih perasa, dan jiwaku lebih mengerti hal-hal yang dulunya kurang aku fahami. Memiliki pengalaman belajar bersama kalian adalah hal yang akan selalu aku kenang. Berkat organisasi ini aku juga tumbuh dan berkembang.

Menyadari, bahwa mungkin di dunia ini ada kalanya orang-orang terdekat mempertanyakan mimpi-mimpi, memandang sebelah mata, bahkan melarang untuk melakukannya lagi dan lagi. Tapi sekali lagi, ini adalah hidup diri masing-masing, selama itu baik , positiv dan membuat kita untuk tumbuh, terus lakukan. Tutup telinga, terus melangkah, jangan ragu, kita sudah cukup dewasa untuk dapat membuat keputusan yang benar dan sesuai apa yang diinginkan. Aku tahu, setiap saat tentu ada keraguan, ketidakpastian, lelah, kehilangan arah, dan perasaan ingin menyerah. Semua itu pasti wajar dan terlampau normal. Aku mengalaminya pun di titik waktu saat ini. Kadang merutuki keputusanku, dan merasa rendah diri, apakah yang aku perjuangkan saat ini sudah tepat dan benar?
Apakah aku berada di jalur yang sesuai dengan apa yang aku cita-citakan?
Apakah apa yang aku bela mati-matian ini akan membawaku kepada suatu yang baik nantinya?

Tentu, jangan khawatir, semua sudah diatur, tepat pada saatnya.
Tugas kita hanya terus percaya, bermimpi, dan tentu saja berdoa.
Aku menyadari, hal-hal baik yang terjadi kepadaku bukan karena sebanyak apa usaha yang sudah kulakukan,
Atau
Sebesar apa pengorbanan yang sudah diberikan,
Aku menyadari banyak orang baik diluar sana yang telah berjuang dan berusaha lebih keras dibandingkan yang telah aku kerjakan

Aku tau, segala sesuatu ini juga bergantung pada seyakin apa tuhan akan memberikannya kepada kita suatu saat nanti.
Dan tentu aku percaya, semua yang telah aku lewati selama masa kuliahku yang terhitung hampir genap empat tahun ini, akan membawa kepada mimpi-mimpiku selanjutnya.
Selamat bermimpi dan jangan lupa mengusahakannya.
Tenang kamu tidak sendiri.
Kita semua sama, sama-sama melewati hal-hal yang tidak pasti, sama-sama sedang mewujudkan apa-apa yang sekarang terlihat tidak mungkin, sama-sama berada dalam angan yang sama. Semangad ya untuk aku dan tentunya untuk kamu yang sudah rela memberikan waktu, energi dan kouta untuk membaca ini sampai selesai.


Salam Hangat,

-cc



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

Diberdayakan oleh Blogger.