In #intrapersonal #life #selftalk #tementemen

Tulisan nggak penting tapi penting sih


Manusia memang lucu, sebenarnya perasaan yang ditampakkannya bukan perasaannya. Sebenarnya ia tidak pernah bermaksud menyakiti, tapi terkadang cara penyampaiannya terlihat seperti menyayat hati.
Manusia memang unik, niat hati orangtua ingin menasehati tapi si anak malah merasa tersakiti
Niat hati si anak Cuma ingin didengar tapi lagi-lagi orangtua menggunakan cara yang membuat si anak merasa sedang dianggap susah diajari.
Aku nggak tahu entah apa emang aku dasaranya seperti ini, atau orangtuaku yang cara penyampaiannya seperti itu. Setiap kali berdebat mengenai perizinan -bepergian terutama-, aku selalu merasa dilarang. Iya, aku tahu terkadang atau mungkin memang selalu ya -hahaha aku intinya gatau ini emang sudah watakku atau gimana ya aku selalu merasa pingin aja pergi kemanapun- aku mau dan ingin cari pengalaman baru atau aku memang hobi jalan-jalan dan ngobrol sama orang hehehe.
Jadi ceritanya sejak kecil aku selalu ingin bisa kemanapun dengan direstui orangtua tentunya karena dalam islam diajarkan begitu, tapi memang terlampau agak ketat syarat yang diberikan orangtua ku, pertama harus dengan dosen/guru atau apapun itu yang jelas harus ada penanggung jawabnya. Kedua dilarang bermalam kecuali ada proposalnya - ya ndak proposal juga sih- yang pasti acara yang jelas ada manfaatnya, ketiga apa lagi ya, oiya orangtua selalu berpesan kalau jangan dilupain sholatnya, karena kalau dalam kondisi bahagia gitu kan manusia sering lupa diri ya hehehe.
Di usiaku yang sudah menginjak kepala dua ini pastinya aku ingin mencoba lebih banyak hal baru dalam hidupku. ya, jelas. Aku pingin bisa kesana kemari semauku sendiri. Dan setiap berdebat dengan orangtuaku selalu diakhiri dengan –aku yang- menangis, aku juga gatau kenapa.
Aku sudah kuliah di jurusan psikologi sekarang, dan aku iya mengerti alasan-alasan orangtuaku memberlakukan peraturan seketat itu, atas dasar apa, dan iya, aku sudah paham apa yang dikhawatirkan orangtuaku. Tapi lagi-lagi, aku juga tidak mengerti kenapa sifatku satu ini sudah diubah. Mungkin karena sudah menjadi watakku yang ekspresif dan  berfikir dengan spontan yah.
Seperti yang aku ceritakan diatas mengenai diriku yang mudah menangis. Aku mungkin butuh waktu buat mencerna semua yang dikatakan oranglain kepadaku.
Sama halnya seperti kasusku yang terbaru ini, aku hampir jadi kerumah salah satu sahabatku di bangku kuliah ini, namanya Ay, dan niatnya mau pergi dengan si Ummu yang tinggal di madura. Awalnya sih, orangtuaku bilang nggak papa berangkat aja. Akhirnya rencana bisa dilanjutkan batinku.
Aku mencari nama “UmmekQ” dalam list kontak WhatsApp-ku untuk menjalankan misi kami. Dan memang selalu begini, ketika aku sangka semuanya akan berjalan mulus, justeru disitulah letak ketidak beresannya.
Ummu tidak diberi izin pergi ke rumah Ay. Bukan, bukan ini letak ketidakberesannya.
Tapi mulai disini.
Oke, aku memutuskan untuk menghubungi Sukron salah seorang teman kami yang tinggal didekat rumah Ay. Dan, iya karena sudah memastikan Ay sudah ada dirumah pada hari senin tanggal 10 Juli itu, aku bersikukuh akan tetap berangkat naik kereta api meskipun sendiri. Dan, pastinya waktu itu aku berpamitan dengan orangtua ku. Tiba-tiba orangtua ku tidak memberi izin dengan alasan aku sendirian, tidak ada teman yang menemani. Oh fine. Pikirku, ada sukron yang nanti akan menemani kok. Ibu ku sudah to the point kalau tidak setuju dengan rencanaku ini. Tapi ayahku. Ayahku ini sebenarnyalah yang paling tidak setuju, tapi ia selalu berputar-putar dahulu. Menyangkut pautkan berbagai macam hal. Aku sudah faham aku nggak diizinkan so why you can tell it on point? Dan terus berkata-kata berbagai macam teori yang sudah sangat aku pahami sendiri.
It hurts me.
Kadang kita ini Cuma ingin didengar. Sesusah itu ya mendengarkan? Aku tau aku memang salah masih menyangkal dan sering berdebat dengan orangtuaku padahal aku sudah berulang kali mengatakan ingin berubah. Ingin menjadi anak yang berbakti. Menjadi anak yang selalu mengerti dan menjadi anak yang bisa selalu menyenangkan hati. Juga sudah merasa menjadi anak yang bukan seperti dulu lagi. Nyatanya masih begini. Sepertinya dalam lima tahun terakhir aku masih belum banyak berubah. Entahlah. Sering self-talk tapi memang self-talk itu butuh ruang sendiri. Tidak bisa sambil mendengarkan celotehan dari orang selain didalam kepala kita sendiri.
Manusia memang egois. Mereka mendengar bukan untuk mengerti, mereka mendengar untuk membalas. Akhirnya setelah bergejolak dalam diri sambil mendengar sang ayah yang selalu saja menasehati padahal aku ya sudah mengerti (aku Cuma butuh waktu buat self-talk sebentar, aku tidak sepandai itu memang dalam mengatur emosi padahal sudah belajar ilmu psikologi)
Ternyata benar peribahasa itu. Lidah tak bertulang. Memang mengatakan jauh lebih gampang daripada mempraktekan. Aku memang butuh waktu untuk mencerna, jadi bisa tolong tinggalkan aku sendiri untuk berpikir sejenak. Butuh waktu sekitar sejam untuk mencerna semua yang sudah aku perdebatkan dengan ayahku. Dan aku menyesal. Seperti biasanya. Aku menyesal untuk selalu mengatakan apa yang ada di fikiranku tanpa memikirkannya dulu ketika sedang cemas.
Iya. Memang Aku cemas. Aku takut mengecewakan Ay di ulangtahun nya yang ke-20 tahun ini. Aku belum pernah bisa memberikan apa-apa ke dia. Setidaknya dengan aku silaturahmi dan bertemu dengan keluarganya, aku bisa menghargai persahabatan kita di kuliah ini.
Tapi dimana-mana seorang sahabat pasti bisa mengerti kondisi ini. Dan orangtua memang harus diatas segalanya. Seperti yang dibilang oleh Bu Khotim, salah seorang dosen mata kuliah Psikologi Pendidikanku yang selalu berpesan bahwa berbakti pada kedua orangtua itu hukumnya wajib, dan patuh hanyalah sebagian kecil dari berbakti.
Untuk Ay, sahabatku yang sempat tidak akrab disemester tiga karena tragedi waktu itu heheh. Kamu tau kan aku selalu ingat kamu, maafin aku belum bisa beri apa-apa buat kamu, tapi setidaknya aku pingin beri dampak postif buat Ay, ada ndak ay? Hehehe. Kalau ndak ada setidaknya aku bisa buat kamu ketawa kan :p
 Terimakasih untuk segala momen baik sampai momen paling mengejutkan –kamu sampai tercengang ndak bisa teriak, dan aku sampai nangis di kantor polisi di umurku yang ke-19 tahun- sumpah aku merasa Ilfeel dengan diriku sendiri Ay kalau ingat-ingat hahaha. Sebagai teman, kalau Sisi ada salah atau nyebelin kamu harus apa ay? Apa ngediemin? Bukan salah, yang bener harus kamu sampaikan atau setidaknya ungkapkan dengan bahasa tubuh. Mungkin dulu sewaktu kita sempat ndak dekat di semester tiga itu sama seperti teori diatas wkwkwkw.
Kita sama-sama butuh waktu untuk saling mengenali perasaan kita masing-masing. Untuk saling mengerti diri sendiri dulu, sampai akhirnya pada semester empat hadirlah satu anak madura ini yang bisa buat –aku dan kamu- akrab lagi. Wkwkw.
Dan iya, menerut aku bener juga teori itu. Kalau memang jodoh pasti akan bersama wkwkw. meski ada peseteruan dulu diantara kita. Bukankah itu yang membuat kita bisa saling mengenal satu sama lain ya Ay. Mulai sekarang kalau ada masalah itu di hadapi bukan dihindari. Jadi harus saling memberi kritik dan menyadari. Jangan menyimpulkan sendiri. Harus saling jalin komunikasi ya rek.
 Terimakasih Ummu, kamu sudah menjadi orang yang mempersatukan kita kembali, sudah menjadi pelengkap Ayu yang sungkanan ( dulu semoga bisa ngamuk ke kita deh dia, kek pas ngamuk ke adeknya di Video Psikodiag itulo Mek xp ) sisi yang sok manis padahal ya sering defensif rasionalitas (Red, batin) wkwkw.
 Makasi kamu sudah menjadi orang yang apa adanya dan akhirnya menyadarkanku kalau sebenernya temen yang tulus ada disamping kita yang bener-bener temen kita itu mereka yang mau menerima kita apa adanya (nggak judgemental) tapi juga tidak membiarkan kita seperti ‘itu’ terus. Tapi sebaliknya, jadi saling mengingatkan dan menjadi lebih baik bersama yah.
Terimakasih loh. Sudah mau mengerti aku dan menjadi salah satu orang yang mengisi cerita masa mudaku. Ayo semangat tahun depan kita lulus oyyy! Solihah Ku, semangat! :)
[cc]


Related Articles

2 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.