In #life #workshop

Generasi Milenial Punya Cerita

beberapa anak muda sedang mengambil foto seusai workshop Scholarship STUDEC yang diadakan di Hotel Sheraton Surabaya Selasa lalu (25/7)
Generasi Milenial (n) :  Generastion next, Net Gen, dan Echo Boomers yang lahir sekitar tahun 1977 hingga 1997. Ungkapan Generasi Y mulai dipakai pada editorial koran besar Amerika Serikat yang dipopulerkan William dan Neil penulis buku. Waktu generasi ini lahir, tekologi komunikasi tengah gencar dikembangkan. (Tribunnews.com)

Selasa siang kala itu, memang sedang panas-panasnya. Jam dua lebih lima menit aku berangkat lagi setelah beberapa menit singgah sebentar dirumah untuk menaruh titipan belanjaan dari kakak pertama tercinta. Dengan kecepatan diatas 50 km/jam aku sudah tiba di Hotel Sheraton dalam waktu 35 menit. Memang hotelnya ini -yang aku juga kurang tahu memiliki bintang berapa-, dan iya, ini adalah hotel terbaik kedua yang aku kunjungi. ketika mau memasuki Lobby, aku disuguhi mesin semacam pelacak gitu (mirip kayak di bandara gitu lo, eheh). Dengan segala kecanggihan era modern Gen Y atau yang biasa disebut generasi milenial cara entry ke Event nya jelas pakai bukti email yang sudah dikirimkan ketika pendafataran online. Dan juga karena kebodohanku seperti biasanya (aku belum Screenshot emailnya dan perdana thre* disana itu kagak ada sinyal) yang menyita waktu beberapa menit buat minta theatering dari si Eva (untung ajak dia, kalau ga gitu masa iya aku harus keluar Hotel gitu cari sinyal).

Event STUDEC International ini semacam salah satu dari banyak Event yang disuguhkan untuk kami -para Generasi Milenial- yang bercita-cita melanjutkan studi ke luar negeri. Meskipun di event ini pilihan Universitasnya belum selengkap Event EHEF atau LPDP tetapi dia punya nilai lebih. Yang jelas Lebih bagus tempatnya karena di Hotel hehehe dan juga ada sesi workshopnya (biasanya cuma expo campus gitu aja).

Pas sudah masuk ke Aulanya, hal pertama yang terlintas adalah, "Eh sumpah ini penuh banget, aku duduk dimana coba," , terus, "Ya Allah kalau tau sebegininya seharusnya aku datang lebih awal, kan enak duduk depan lihat si Speakernya dari deket gitu,", dan pikiran ter-absurd yaitu, "Aku pernah kesini, sumpah. Ini tempatnya persis sama yang ada di mimpiku, cuma bedanya ini penuh di mimpiku kan aku duduk disitu terus ada meja bundernya gitu. How can this Happen?,"

Sambil membatin dalam hati kalau di teori Kognitif sebuah mimpi di  Ilmu Psikologi memang bisa sih mimpi itu dari kumpulan memori acak atau bedasarkan objek-objek yang pernah dilihat ataupun didengar. Nah ini, aku baru pertama kali kesini, tapi kok bisa masuk ke mimpiku, darimana datengnya coba gambaran sebuah tempat padahal belum pernah didatengin. Yah intinya kesan pertamaku mulai dari event sampai tempatnya buat aku heran dan takjub.

Setelah beberapa ketertakjubanku terhadap hal-hal remeh di awal, sekarang adalah saatnya takjub dengan orang-orang di dalamnya mulai dari yang jaga di meja registrasi, speaker yang lagi presentasi di depan panggung sampai antusiasme para pengunjungnya rebutan cari tempat yang pewe. Sesuai dengan informasi dari sumber pemberitaan online; Kumparan, Indonesia akan  menjadi negara dengan bonus demografi pada tahun 2020-2030. Bonus demografi adalah jumlah usia angkatan kerja dengan usia 15-64 tahun mencapai 70 persen. Dan ini terbukti dengan ramenya acara ini. 

Salah satu dari dua speaker ini (yang aku nggak tahu namanya karena telat hiks) menyapaikan kiat-kiat apa saja untuk mendapatkan beasiswa kuliah ke-luar negeri. Yang mungkin sedikit banyak dari kita sudah mengetahuinya. Attitude, Academic, Social Skill, Organization, Volunteer Activity, Natural Ability, Community Involvement, Passion, Idea Collaboration (delegates program).

Mungkin aku cuma bisa sharing garis besarnya aja karena belum pernah menerima beasiswa juga ya, jadi kalau mau garis panjang kali tinggi kali lebarnya mungkin bisa minta doanya supaya saya segera mendapatkan beasiswa. Aamiin (doa baik bakal ke diri masing-masing kok heheh btw makasi sudah ikut mengamini doa saya).

Aku cuma ingin berbagi satu tagline  dari Mbak Speaker yang paling berkesan, ini dia kata-katanya, "Cari beasiswa buat kuliah sekarang enak lho, jaman dulu informasi seperti ini merupakan informasi yang tidak tersebar luas dan cuma diperuntukkan orang-orang pilihan," kurang lebih begitu. Memang kelebihan dari Generasi Milenial ini mudahnya mengakses informasi dengan segala kecanggihan teknologi yang ada. Nggak ngebayangin  bagaimana susahnya buat sekedar mencari informasi mengenai beasiswa waktu masih jaman-jamannya Pak Habibie dulu. Mungkin kalau nggak kaya sekali atau Cerdas sekali sangat susah diberi informasi begitu ya.

Dibuktikan dengan hasil riset yang dirilis oleh Pew Researh Center misalnya secara gamblang menjelaskan keunikan generasi millennial dibanding generasi-generasi sebelumnya adalah soal penggunaan teknologi dan budaya pop/musik. Kehidupan generasi millennial tidak bisa dilepaskan dari teknologi terutama internet, entertainment/hiburan sudah menjadi kebutuhan pokok bagi generasi ini. (http://alvara-strategic.com)

Dan iya, aku merasa beruntung lahir sebagai generasi Milenial, dimana kita bisa menemukan berbagai macam informasi dengan satu kali "KLIK", bisa merasakan mudahnya transaksi jual beli, jasa penjemputan online, pemilihan program olahraga, hiburan berbagai genre bahkan sampai berita ter-update hanya dengan sebuah benda kotak sebesar telapak tangan yang bisa dibawa kemanapun aku mau.

Dengan berbagai prediksi mutakhir dari para ahli mengenai generasi kita ini yang sudah diramalkan sejak beberapa tahun silam bahwa akan datang generasi Y dimana sebuah generasi yang selain merasakan beberapa pekerjaan yang masih bisa dibilang manual tetapi juga sudah mulai dikenalka npesawat-pesawat pemermudah pekerjaan manusia. Hidupnya memang tergolong bisa dibilang malas namun karena hal itu yang membuat mereka menciptakan berbagai banyak inovasi alat, aplikasi dan semua yang serba mempermudah pekerjaan kita. 

kata salah seorang dosen psikologi Klinisku, Bu Zaki Zamani, bahkan karena banyaknya pilihan aktivitas yang disediakan di era ini terkadang kita susah memilih dan memprioritaskan daftar aktivitas tersebut. "kita hidup seperti diburu waktu, semuanya serba tergesa-gesa, dikejar deadline," kata perempuan yang masih berusia 30 awal itu. 

setelah dipikir-pikir bener juga sih kata dosenku satu ini, kalau ga pandai memilih apa yang baik buat diri sendiri ini secara ga langsung sudah menyita invetasi waktu kita sebagai pemuda yang katanya agent of change dan pingin produktif ini ga sih? 

kadang suka miki gitu akhir-akhir ini, sebenernya aku sudah memanfaatkan fasilitas yang sebegini banyaknya dengan bener ga ya, dan agak sadar juga ternyata selama ini pakai internet connection cuma buat cari hiburan (kecuali kalau pas lagi kuliah, pasti cari jurnal dan segala macam referensi dari si mbah google). 

sering juga merasa akhir-akhir ini gitu, aku ini lagi buang-buang waktu ga sih aku. begini ini. dan sepertinya kadang aktivitas mencari hiburan yang berlebihan ini juga bisa membuat otakku yang sudah *ga fokus aka agak lama gitu kalau diajak mikir* menjadi semakin kurang terasah dan mengakibatkan makin parah wkwk. Ternyata bener juga kata mbak Gitasav (tau kan pasti, dia ? perempuan viral lulusan Jerman yang menginspirasi sekali itu) kalau semisal liburan kadang membuat produktivitas menurun seperti sepeda motor matic yang udah lama ngga kepake gitu, dia agak susah pasti kan ya di nyalainnya. hehehe.

jadi ya memang bener di era serba "klik" ini tergantung bagaimana user menyikapinya, kalau bener pasti sudah mencari sebuah pencarian informasi termudah dan efektif yang kita perlukan tapi kalau sampai sebaliknya, mungkin hasilnya beginin ya macam aku yang kadang suka campur cuhat sama informasi, suka campur ilmu sama kebaperan atau suka campur hal-hal fakta yang bener-bener lagi booming dengan komentar-komentar receh hasil lamunanku gitu. but, yep. tetap saya ingin menjadi semacam orang-orang yang menginspirasi gitu. biar bermakna masa muda di era milenial ini dong ya wkwkw.

atas segala ketidak jelasan isi artikel ini saya ingin berterimakasih kepada Mark Zuckerberg karena sudah membuat FaceBook sehingga manusia di belahan bumi manapun bisa saling bertukar ide dan pikiran secara bebas , Gerard Adams yang sudah mencipta apliakasi pembuat startup , David Karp yang sudah membuat Tumblr., Brian Chesky dengan temuan Airbnb nya, Brian Acton dan Jan  Koum yang menghadirkan WhatsApp ke muka bumi dan orang-orang berpengaruh lainnya di zaman serba "touch" ini.

Semoga para Generasi Milenial Indonesia (termasuk saya) bisa segera berkontribusi entah dalam hal apa, yang jelas sepertinya merugi benar kalau generasi milenial dengan segala kemudahannya masih mengeluhkan hal-hal sepele yang sebenernya sudah nggak pantes buat dikeluhkan karena saking terfasilitasinya kehidupan di era serba ada ini.

terlepas dari segala fenomena-fenomena negatif akibat perkembangan pesat teknologi di atas tanah dimana kaki kita berpijak saat ini, semua bedasarkan hasil proses berpikir yang sangat rumit dan sempurna masing-masing user yang sudah diberikan Allah S.W.T dan biasanya kita sebut dengan otak.Jadi bagaimana kita memanfaatkan teknologi yang ada, hanya dimanfaatkan untuk sekedar hiburan semata atau mau dibuat self-improvement? 

Kalau bisa keduanya mengapa tidak, ya nggak? [cc] 






Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.