In

Seandainya

 SEANDAINYA
Aku pernah berpikir bagaimana seandainya Allah menciptakan manusia sama persis. Mulai dari strata sosialnya, tingkat pendidikannya, keturunannya, fisiknya sampai psikisnya. Pasti tidak ada yang menarik dari diri masing-masing orang, tidak ada yang spesial, tidak ada yang unik, yang terpenting kita tidak bisa saling memahami, mengenali, mengerti dan belajar satu sama lain. Betapa bersyukurnya aku, tinggal di negara dengan tingkat keberagaman yang tinggi, kesenjangan sosial dimana-mana dan pendidikan yang masih belum merata dan dari situ aku bisa belajar banyak hal. Sama seperti ketika aku mempelajari hal-hal baru di tahun 2018 ini dari mereka; teman-teman 1000 Guru Surabaya, adik-adik di SDN 3 Rejoagung, warga Dusun Tol-Tol, sampai para penambang belerang di Kawah Ijen.


Januari
Bulan pertama di tahun 2018 yang penuh cerita, mulai dari cerita di kampus tercinta, kemudian berpindah ke Jogja, kota sarat akan turis dan beragam hal yang membuat banyak orang ingin kembali menetap, sampai kisah di sebuah daerah yang disebut tapal kuda di jawa timur.

Daerah Tapal Kuda
Aku belum pernah ke tempat ini sebelumnya, kalau dihitung-hitungpun masih banyak wilayah di jawa timur yang belum pernah aku hampiri, selain karena aku tidak memiliki saudara di berbagai daerah di jawa timur, aku juga belum mendapat alasan mengapa harus pergi ke daerah ini. Sebuah daerah tapal kuda, yang sejuk dan hangat disaat yang bersamaan. Biar aku berikan deskripsi mengenai tempat ini terlebih dahulu, daerah bersebelah di timur dengan Kabupaten Banyuwangi, bersebelahan utara dengan Kabupaten Situbondo, bersebelahan selatan dengan Kabupaten Jember dan bersebalahn barat dengan Kabupaten Probolinggo ini disebut daerah tapal kuda karena lokasinya di peta mirip dengan bentuk tapal kuda, selain itu daerah ini juga tidak memiliki wilayah yang bersinggungan dengan laut secara langsung juga. Meskipun tidak memilki pantai, daerah ini memiliki berjuta kekayaan alam mulai dari dataran tingginya yang penuh dengan kebuh kopi, sampai kawah dengan belerang dan kawah yang penuh dengan sapi-sapi.
            Sebuah daerah yang mampu membuatku jatuh hati pada minuman kesukaan mayoritas manusia di muka bumi, Kopi. Pastinya pecinta kopi tau daerah ini dari hint yang sudah aku ceritakan sebelumnya.
Yap, aku sedang membicarakan Kabupaten Bondowoso. Kalau dihitung dari surabaya jarak antara Kabupater ini ke surabaya sekitar 192,5 km, memang lumayan jauh, tapi akan tidak terasa jauh kalau perjalanan ini dinikmati, bukan?

Menuju ke Bondowoso dan melampauinya
Akhirnya, aku mendapat alasan dan tujuan untuk bisa ke daerah ini. Lagi-lagi travelling berfaedahku di fasilitasi oleh komunitas yang baru-baru ini mengajarkanku banyak hal, Seribu Guru Surabaya. Kali ini TIM Angkatan ke-tiga Seribu Guru Surabaya mengadakan Travelling and Teaching ke-18 SDN 3 REJOAGUNG, Sebuah Sekolah Dasar yang berada di balik perkebunan kopi itu hanya berisikan 11 murid saja. Desa yang hanya memiliki satu sekolah dasar dan satu PAUD (Pendidikan anak usia dini) ini berisikan 60 Kepala Keluarga saja, tidak heran muridnya pun tidak banyak. Akses menuju desa yang harus berjam-jam masuk kedalam hutan-hutan mungkin juga menjadi alasan tak banyak warga yang berminat tinggal disini. Dengan dua puluh dua anggota dari Tim dan tidak ada volunteer dari luar karena TnT18 memang dikhususkan untuk anggota tim yang baru, kami berangkat jam sebelas malam.
***
Dihari itu, aku harus berangkat beberapa jam sebelumnya menuju rumah Cory, salah satu partner mengajarku di TnT kali ini, meskipun sempat merasa gundah gulana karena harus menunggu Cory kurang lebih sejaman di Togamas Diponegoro untuk dijemput dan menuju kerumahnya di daerah Banyuurip, akhirnya, penantianku selesai jua, setelah melihat dia dengan motor maticnya menghampiriku yang baru saja memelas meminta daya untuk charge handphone yang sudah 0% itu. Kami sampai dirumahnya pukul tiga lewat beberapa menit, tapi kami tidak langsung menggarapnya karena masih menanti Kak Estka, sang pencerah kami wkwk, iya kita nunggu karena emang Kak Estka sudah mau sampai tapi masih belibet cari alamat. Setelah melewati badai dan rintangan (apaan sih Si, wkwk) akhirnya kami bertiga dipertemukan di depan gang rumah Cory, dengan barang bawaan yang cukup banyak dari GoCar Kak Estka.. Pengerjaan singkat tapi bermakna kami ditemani eskrim puter yang dibelika Cory di depan rumahnya, suara orang jual tahu bulet dadakan, derap langkah anak-anak yang berlarian membeli semacam sempol di depan rumah Cory, sampai guyuran air hujan di senja kala itu, dibarengi dengan datangnya Si Sintang, salah satu pengajar kelas 4-5 juga yang baru pulang dari KKNnya beberapa hari lalu. Sebenarnya ada satu lagi partner  pengajar kelas 4-5 dari tulangan sidoarjo, biasa dipanggil dengan sebutan yang dipakai orang-orang Indonesia sebelum berfoto “Cis”, tapi karena dia rumahnya jauh dan masih ada kegiatan juga, kita harus LDRan. Sungguh persiapan mengajar yang tergenah, wkw, karena dulu sewaktu TnT pertamaku di Bojonegoro, aku tidak ada kegiatan buat media bareng begini sih. hehehe. Benar-benar beberapa jam yang berfaedah dan membahagiakan. Aku ndak kapok kok main kerumah kamu Cory, meskipun "agak" jauh :") mehehe
***
Setelah media dan segala printilannya telah dirampungkan, aku, Sintang, Cory, dan Kak Estka menuju meeting point di KFC A. Yani. Dan yah, ternyata kami agak molor, bebarapa hal harus dituntaskan untuk kelancaran kegiatan TnT 18 ini, salah satunya tas donasi yang barang satu masih tertinggal di rumah kak fajar. Jam menunjukkan pukul sebelas malam, suara trruk dibunyikan semakin terdengar, pertanda semua telah siap dan let's go to the jungle, coffee jungle lah ya at least. Hujan menemani kami selama perjalanan, dan aku tidak mendapati sesuatu yang berkesan, tentunya karena tidak ada yang bisa dilihat selain kain hijau jisang, dan lampu-lampu kota di malam hari yang kian malam kian maram. Waktu sudah menunjukkan pukul empat pagi, cahaya mentari masih belum menyinari, yang kudengar hanya adzan-adzan yang saling bersautan bak burung kenari di tengan hutan, merdu dan menenangkan. Katanya, katanya jam empat kami akan sampai dirumah Pak Kasun (Kepala Dusun), tapi sekarang yang aku lihat adalah sebuah masjid dipinggiran jalan raya. Mana perkebunan kopinya? Batinku yang masih setengah mengantuk. Daripada banyak bertanya aku lebih memilih segera sholat agar segera sampai di tujuan juga
Kelokan jalan menuju Dusun Tol-Tol, Kecamatan Sumberwirngin mulai terasa ketika kami melanjutkan perjalanan setelah dari masjid. Angin sejuk merayap kulit perlahan, sinar mentari juga mulai mengintipi kami supaya terus bersemangat menyonsong pagi yang cerah. Berhentilah Jisang itu tepat ditengah-tengah sebuha hutan behiaskan pohon-pohon kopi di kanan dan kiri, di depan juga sudah ada jalan ber-paving. Aroma tanah sehabis hujan, jalan yang agak bergelombang ditambah langit subuh memang selalu menjadi suasana favoritku dalam setiap kegiatan TnT. Akhirnya kami turun dari jisang, mengambili barang-barang dan mulai berjalan beriringan menuju rumah Pak Lus, nama Pak Kasun Tol-Tol itu.

1000 Langkah Menuju “Mereka”
Perjalanan dilanjutkan dengan melangkah lebih jauh, mungkin tidak sampai 1000 atau mungkin juga lebih, sesungguhnya angka seribu Cuma perumpaan, hehehe. Beberapa dari kami ada yang berjalan, dan beberapa yang membawa barang logistik naik motor tracking, motor bebek, dan motor matic hasil modivikasi para bapak-bapak asli sini, yang jelas bukan motor CB nya Dilan1990. Aku memutuskan untuk terus berjalan, menikmati suasana dan tentunya berolahraga, selama kurang lebih 45 menit. Selama perjalanan kali itu, aku lebih banyak konsentrasi dan mengurangi berbicara, pertama karena sewaktu itu cahaya mentari sudah berada diatas kami, sehingga memang agak kerasa berkeringatnya, meskipun begitu hawa sejuk masih menghampiri dan lagi aroma yang aku juga belum pernah mengidentifikasinya -prediksiku sih aroma kopi- membuat suasana hati makin baik. Jam tujuh kurang lima belas menit, aku sudah bisa melihat rumah warga di pelupuk mata, kuburan di sebelah kiri jalan, beberapa anjing yang bebas berkeliaran, anak-anak kecil dengan seragam pramuka mereka didepan batu besar bertuliskan “SDN Rejoagung 3 Bondowoso”. Jam tujuh lebih sepersekian menit, Aku dan teman-teman sudah sampai di rumah bercat putih dengan pintu cokelat, disambut hangat dengan colokan handphone, aroma kopi khas Bondowoso, senyuman merekah para warga dusun.

Sarapan Pagi
Kami sudah sepakat bahwa tidak boleh ada yang mandi, dikarenakan waktu yang Cuma mengizinkan kami semua membersihkan wajah dan berganti PDL -meskipun masih ada yang mandi sih yang kloter sepeda motor, wkwk dasar curang- karena kami sudah telat ketika datang ke rumah Pak Lus, maka Kak Mas'ud PJ TnT18 waktu itu sudah berkoordinasi pada pihak berwajib -berasa polisi padahal sama pihak sekolah maksudnya wkwk- kalau proses mengajar adik-adik akan diundur sampai jam sembilan pagi. Pagi yang harum, seharum aroma kopi khas di beranda rumah, parfum bunga lily milikku, dan masakan prasmanan yang disediakan oleh penduduk sekitar menyambut kami. Ah, sungguh, itu adalah sarapan paling enak yang pernah aku makan, melebihi sarapan di hotel bintang lima yang aku datangi seminggu lalunya. Bondowoso ini memang terkenal penduduknya asli Suku Madura, dan katanya memang perempuan-perempuan asli Madura mampu mencipatakan sebuah mahakarya berupa masakan yang enak. Lalu, untuk menu Sarapan pagi kedua terbaikku di hari itu adalah nyanyian sambutan langsung dari kesebelasan murid kami di SDN Rejoagung 3 Bondowoso. It's really for the first time i heard that song. Adik-adik ini dengan semangatnya menyanyikan sebuah lagu sambutan untuk kami, para pengajar seribu guru surabaya, yang kandungan lagunya menyatakan selamat datang, semoga senang bertemu dengan mereka. lucu sekali bukan, dengan wajah-wajah menggemaskan dan polos bernyanyi lantang diriingi musik dari tepukan tangan. Setelah sarapan pagi yang ditambah sedikit pembukaan dari para stakeholder SDN Rejoagung 3 Bondowoso di ruang guru itu, akhirnya pada pukul sepuluh lewat lima menit, kami bisa memasuki ruang kelas.
dok.1000gurusby

Kelas Empat dan Lima
Seperti yang aku ceritakan di awal, aku mengajar di kelas empat dan lima SD, dan dikelas ini jumlah total muridnya ada lima siswa, sama dengan jumlah pegajarnya. Berasa les private, hehehe. Tiga berasal dari kelas empat dan dua lagi berasal dari kelas lima. Dari kelas empat ada Fredi, Siva, Amel, lalu kelas limanya ada dua perempuan bermata belo, satu berkulit langsat dan satu berkulit kulit sawo matang, dan rambut panjang bernama Isa dan Ursila. Kelas kami dimulai dengan tangan dilipat diatas meja oleh kelima murid itu, tetapi tidak seperti TnT sebelum-sebelumnya yang selalu ice breaking dahulu dan pembukaan mengenai materi setelah upacara di lapangan sekolah, hari itu kami sangat telat dan akhirnya jadi begini, langsung masuk dan memberi materi di kelas. Sempat agak canggung di awal, karena bingung memulai seperti bagaimana, tetapi berakhir dengan sempurna, berjalan sesuai rencana. Dimulai dari materi pertama mempelajari mengenai berbagai macam penyakit gizi dan penyebabnya, sampai main ular tangga yang berisikan challenge, review materi, dan candaan. Sejujurnya, aku juga lebih menyukai kelas dengan sedikit murid, selain karena aku merasa belum mampu menguasai kelas yang terlalu luas dan banyak, aku merasa dengan sedikit murid, kita dapat lebih intens dalam berinteraksi dengan mereka.
Isa salah satu siswi dari kelas lima yang paling aktif, lalu dibarengi dengan Siva, Amel dan Ursila, disini Fredi yang satu-satunya laki-laki masih sedikit pemalu, sejak awal ia juga yang paling irit bertanya atau membaca, ketika membacapun, selalu dibantu oleh temannya yang lain. Sepertinya Fredi masih belum lancar dalam membaca, selain itu ketika diajak berkomunikasi dengan bahasa indonesia ia juga kurang responsif, sepertinya ia juga tidak terbiasa berbahasa indonesia, karena setiap berbicara dengan teman-temanya yang lain, ia selalu menggunakan Bahasa Madura, and it’s such a happy day. Setelah sesi teaching selesai, selanjutnya ada sesi heart to heart. Sesi favorit kebanyak pengajar.
Kak Cis lagi ngajarin apa sih? (Dok. 1000gurusby)

lagi belajar sama adik-adik (dok. 1000gurusby)
Menjadi Seorang Polisi
Disini aku dipilih oleh si Amel untuk cerita-cerita. Perempuan dengan senyum manis, kulit sawo matang, rambut di kuncir kuda, dan badan yang tidak terlalu berisi itu bercerita bahwa ia tinggal di sebuah rumah dengan kedua orangtua dan seorang adik. Ayahnya seorang yang pekerja di kebun, dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Meski tinggal dengan seorang adik, ternyata Amel juga memiliki seorang kakak yang sedang tinggal di salah satu pondok di Bondowoso.
"Aku ingin menjadi Polisi, Mbak," ucap Amel ketika aku bertanya apakah cita-citanya.
Lalu aku bertanya lagi kepadanya Mengapa ia ia ingin menjadi Polisi, lalu ia menjawab, "Iya, aku mau menangkap penjahat, Mbak,". Ketika aku bertanya lagi kepadanya, memang ada penjahat ya di sekitar sini, atau penjahat yang mengambil hasil kebun ayah kamu, atau pernah kemalingan, atau yang lainnya, tetapi Si Amel kebingungan menjawab pertanyaanku, sepertinya aku masih belum bisa menjalin rapport dengannya, atau dia kurang nyaman berbahasa Indonesia, aku juga kurang tau, mungkin ini adalah PRku bagaimana cara mampu mendekati adik-adik dan menjadi hubungan yang lebih terbuka, semoga Amel menjadi seorang Polisi yang bisa bermanfaat, dan tentunya aku berharap dia bersungguh-sungguh dalam mewujudkan cita-citanya. Semangat terus ya Amel dalam meraih cita-citamu, sekolah yang rajin dan bisa menjadi anak yang membanggakan kedua orangtua dan berguna bagi bangsa. Aamiin. Mbak disini cuma bisa membantumu memberikan gambaran sekilas mengenai kehidupan di dunia yang lebih luas, membantu memberikan semangat yang sesungguhnya semangat itu juga mbak dapat dari kamu dan rasa bersyukurmu itu. Semangat buat kita yah!
Agenda terakhir setelah heart to heart, adalah penemepelan buah harapan dan pembagian donasi, lalu dilanjut memberikan sembako untuk beberapa murid yang sudah ditentukan, dan aku bersama Kak Estka, Sintang, dan Kak Fajar mengantarkan Fredi. Salah satu muridku di kelas empat.
Kak Sintang sedang sesi Heart to Heart sama Isa (dok.1000gurusby)

Ursila mau menempel buah di pohon harapan, semoga cita-citamu tercapai ya dek cantiks (dok.1000gurusby)
Bahasa
Dengan langkah kecilnya, kami pergi mengikuti kemana Fredi berjalan, lalu kami tiba-tiba sudah sampai di sebuah rumah bercat putih itu dan disambut seorang nenek berusia sekitar 70-80 tahun. Setelah memberikan sembako dan berfoto bersama, kami bergegas pamit pada si nenek, tapi nenek itu berkata dalam dialek madura yang tidak aku –atau yang alinnya- mengerti seakan mempersilahkan untuk bertamu sebentar. Disini ada adegan lucu, ketika Kak Estka bersikeras pamit dengan Bahasa Indonesianya, tetapi si nenek juga tetap menjawab dengan bahasa madura. Jadi komunikasi yang benar-benar unik. heheh-  It's was Fun. Namun, lagi-lagi bahasa daerah memang perlu dipelajar. Sepertinya ini bisa dijadikan masukan untuk pertanyaan TnT selanjutnya, mengenai kefasihan berbahasa daerah sesuai dengan lokasi Teaching nanti.

Secangkir Kopi
Saat itu jam sudah menunjukkan pukul dua siang dan aku baru sadar, kalau sedari tadi belum sholat Dhuhur hari itu, akhirnya kami ingin sholat berjamaah di masjid dekat rumah Pak Kasun, tapi airnya mati. Beberapa rombongan cowok sudah meminta air ke rumah penduduk. Dan bersamaan dengan itu aku melihat Isa sedang bermain-main, reflek aku memanggilnya, dan ia dengan senang hati menghampiriku, "Eh, Isa, Mbak boleh minta airnya, ta?," kataku kepadanya, ia mengganguk mantap dan menyuruhku mengikuti menuju ke rumahnya. Setelah mengikuti Isa beberapa langkah, akhirnya kami sampai juga. Saat memasuki kamar mandinya, bak mandi yang ada didalamnya lumayan dalam, sekitar 150cm dengan panjang dan lebar yang lebih besar daripada bak mandi rumahku. Meskipun air disini Cuma menyala di jam-jam tertentu, syukurnya air yang ditampung masih banyak, jadi kami tidak takut menghabiskan atau kehabisan.
Sesaat Setelah sholat, aku sudah ingin pamit kepada Si Ibu, dan rencana kami gagal karena Si Ibu memaksa kami untuk meminum kopi dahulu, karena sungkan dan menghargai juga akhirnya kami mengalah dan menikmati secangkir kopi khas Bondowoso yang memang enak itu. Meski, seujujurnya aku kurang menyukai kopi, tapi di tempat ini, aku suka sekali kopinya. Selain karena rasanya yang sedikit kecut, agak pahit, dan manis-manis gitu bersamaan, aroma wanginya sangat harum.

Study Tour Kebun Kopi
Hari sudah sore, tepat pukul 16:00 itu, Pak Lus mengajak kami untuk melihat perkebunan kopi miliknya di dekat sini, tapi kamu pasti tahu kan dekatnya warga lokal dengan orang-orang seperti kita itu beda hehehe, namun dengan semangat juang tiada tara dan rasa ingin tahuku tentang biji kopi yang terkenal itu sedang onfire, akhirnya jalan kaki selama setengah jam ku jabanin. Sepanjang jalanan menuju kebun kopi aku bertemu pohon, bertemu daun, bertemu dahan, dan bertemu tanah, wkwkw. sebenarnya di sepanjang perjalanan kanan-kiripun sudah banyak pohon kopi, tapi ndak tau tanah siapa, sedang punya Pak Lus masih di sebelah sana-sana-sana-sananya lagi.
Akhirnya, aku sampai di kebun kopi nya si bapak. Dengan riang aku langsung berlarian seperti orang yang ga pernah lihat pohon –yang sejujurnya, aku memang tidak pernah melihat biji kopi dengan mata kepalaku sendiri– Sementara beberapa mbak-mbak sedang melaksanakan sesi foto untuk instagram dan dokumentasi pribadi, aku sedang mengamati biji-biji berwarna merah yang menggemaskan itu bersama Mbak Yasinta, lalu beralih ke Pak Lus dan Kak Mas'ud yang sedang mengadakan seminar singkat mengenai kopi,
"Ya, saya punya tujuh kebun di sini, dan ini salah satunya," kira-kira itu yang dikatakan oleh Pak Lus ketika aku bertanya ada berapa kebun kopi yang dimilikinya saat ini. Bahkan tidak tanggung tanggung, satu kebun kopinya bisa mencapai 1-1,5 Hektar yang sekali panen satu kebun bisa mencapai ratusan kilogram, untuk masalah harga perkilonya variatif karena ada dua jenis kopi yang ditanam di kebun ini, Arabika dan Robusta. Buat pecinta kopi pasti paham perbedaannya, sedangkan aku Cuma bisa manggut-manggut ketika diberi informasi itu. Pangsa pasar kopi Bondowoso ini juga luas, tapi Bandung selalu menjadi konsumen setia. Setelah puas melihat-lihat dan berfoto-foto, akhirnya matahari mulai turun pertanda kita juga harus segera kembali.
otw kebun kopi gaes

ini biji kopi (pilihan) eh ko jadi promo wkwk
Pak Lus dan Kak Mas'ud setelah seminar mengenai kopi (dok.1000gurusby)

foto ala-ala Dilan dan Milea tuh yang di depan (dok. 1000gurusby)
Maghrib dan Mengaji
Senja mulai menampakkan eloknya, suara lantunan adzan maghrib dari muadzin juga menggema dengan merdu, pertanda sudah menjelang malam. Saat itu kami berbondong-bondong pergi ke masjid yang sama dengan masjid yang kami datangi siang tadi, bedanya kali ini kami agak telat dan tidak bisa ikut berjamaah. Setelah menunaikan ibadah sholat maghrib berjamaah sendiri, aku baru tersadar, ternyata adik-adik yang sudah selesai sholat diawal tadi masih duduk didepan shaf kami, padahal bisa saja mereka keluar lewat pintu sebelah, tetapi mengapa mereka malah menanti sampai selesai?
            Dengan lampu yang remang-remang, perlahan mereka membuka tirai pemisah shaf laki-laki dan perempuan itu, membuka meja lipat dan mengeluarkan Al-Qur’an mereka. Ternyata ada agneda mengaji bersama setelah sholat maghrib berjamaah. Subhanallah. kadang suka malu sendiri kalau lihat mereka yang masih muda-muda punya semangat tinggi belajar agama, dengan fasilitas yang serba seadanya saja, mereka masih bisa berterimakasih dan berbudi. Di malam yang panjang ini selain belajar tentang arti berterimakasih dari adik-adik di Dusun Tol-Tol, Sumberwringin, Bondowoso ini. Aku juga belajar psikologi. Eh ngapain ya kok Psikologi, jadi silahkan dilanjut membacanya ya ehehe

Kuliah Malam di Tol-Tol
Agenda malam kegiatan TnT Seribu Guru Surabaya adalah sharing session, sebuah sesi untuk saling bertukar pendapat dan pengalaman selama mengajar tadi yang tentunya selalu berhasil membuat kita menjadi lebih dekat. Aku lupa bagaimana awalnya dimulai kuliah malam yang berlangsung setelah acara sharing session itu. Yang jelas, saat itu kami memang sedang sharing mengenai masalah therapy dan Bang Jek salah satu mahasiswa psikologi semester akhir itu bisa hypnosis dan ingin mempraktekkannya.  Diiringi dengan beberapa mahasiswa dan alumnus psikologi lainnya, seperti Kak Opi, Tiwi, Cory, Mas Audit, dan aku sendiri, malam itu jelas aku merasa sedang diskusi di kuliah malam sama mereka.
***
Di malam yang syahdu itu, sekitar pukul sebelas malam Bang Jek secara sukarela ingin memberikan terapi (re: hypnosis) pada Kak Estka – sebenarnya – tapi  karena ia ndak mau, akhirnya jadi Kak Upegh yang jadi korbannya wkwk ((dih jahat amat sih, korban)) Sewaktu Kak Upegh ini berada di antara alam sadar dan bawah sadarnya –gelombang otak teta- dan ketika diberik stimulus-stimulus, disitulah Mas Audit dan Bang Jek memberi kuliah malam -tengah malam lebih tepatnya- pada aku. Kak Upegh ini di hypnosis yang sebenarnya di tanyai mengenai hal-hal yang standart aja sih, tidak ada yang spesifik, mungkin yang spesifik ketika diberi intruksi Seribu Guru Surabaya, Kak Upegh diminta mengatakan Jaya. heheh. Tapi itupun tidak berlangsung lama karena Kak Upegh tertidur selang beberapa menit setelah tragedi Jaya. Kata Mas Audit, ter-hypnosis memang melelahkan, karena secara teori otak seperti setengah tidur setengah sadar tapi tetap harus beraktivitas seperti keadaan sadar. Akhirnya diskusi tengah malam, misi pemasangan masker peremajaan wajah ke muka Bang Jek plus bilasnya telah berhasil.
***
3:00 AM
Rencana awal, seharusnya malam itu kami berangkat ke Kawah Ijen –dan berakhir main hypnosis-hypnosis an dan kuliah malam – sekitar pukul sepuluh malam, supaya dapat pemandangan Blue Fire, tapi langitnya sedang sedih, ia menangis terus membuat rencana ditunda sampai jam tiga pagi. Saat jam menunjukkan pukul tiga pagi, kami segera bersiap melanjutkan perjalanan travelling.
The Road to Kawah Ijen
Saat itu Pukul tiga dini hari, masih gelap gulita, hanya berhiaskan cahaya dari lampu senter di tangan maupun kepala tanpa bintang di atas langit, sepertinya memang cuaca sedang mendung-mendungnya, dibalut dinginnya udara sekitar menjadi suasana perjalanan kaki kami menuju Jisang. Sesekali lantunan lagu nasional, lagu anak-anak, sampai lagu pop tahun 90an mengudara menemani sepinya hutan kopi. Tapi, nilai positif dari Berjalan kaki di tengah hutan di saat gelap ini menurutku jauh lebih cepat sampai dibandingkan dalam keadaan terang, selain membuatku jauh lebih fokus ke tujuan -karena tidak terlihat suatu apapun
Dan ya, tiba-tiba aku melihat semburat cahaya dari lampu depan Jisang, pertanda kami sudah sampai. Cepat-cepat aku memilih duduk di dekat jendela agar bisa lihat pemandangan. Tak tahunya langit masih sedih, ia kembali menangis ketika jisang mulai berderu melaju
Langit mulai menampakkan mataharinya, mengganti warna kelabu menjadi jingga merah merona. Suara adzan juga bergema ketika kami melewati salah satu masjid di pinggir jalan raya. Ah, ternyata kami sudah hampir sampai di Kawah Ijen. Sesaaat kemudian, pukul delapan pagi, tanggal dua puluh delapan januari dua ribu delapan belas itu, aku menginjakkan kaki di bumi pendakian Kawah Ijen. Tak sabar merasakan pengalaman mendaki untuk pertama kalinya.
foto full team dulu sama kentang kfc nya rekruitmen 2018 - 1000 guru sby (dari kiri; Sintang, Cis, Tiwi, Sisi, Kak Audit)

foto dulu gais, sebelum mendaki, eheheh (dok.1000gurusby)


Kak Opi semangat banget nih, waktu perjalana mendaki
Good Sides about Hiking
Banyak orang yang bilang mendaki itu pengalaman untuk lebih mengenal diri, teman seperjalanan, dan alam sekitar. Dan, memang itu yang selalu ingin aku dapatkan dari proses perjalanan mendaki. Meskipun kali ini aku tidak mendaki seperti pendaki pada umumnya –lengkap dengan tas carrier besar yang berat itu– pengalaman pendakian ke Kawah Ijen ini memberikanku banyak pelajaran.
***
 Perjalanan mendaki Kawah Ijen dengan tingkat kecuraman yang lumayan besar, meski jalanannya pun sudah bisa dibilang aman karena sudah dikelola oleh pemerintah sehingga kita tidak perlu napak tilas ini memakan waktu keberangkatan dua jam. Persis.
Karena rata-rata dan mayoritas dalam pendakian ini adalah perempuan, maka kaum lelaki dibagi menjadi dua garda, garda depan dan garda belakang. Mas Iqbal, Bang Jek, Sintang, dan Kak Fajar menjadi garda depan, lalu Kak Estka, Kak Mas'ud dan Bang Je menjadi Guardian di belakang. Diawal perjalanan, kami masih bisa berjalanan beriringan, tapi entah mengapa semakin lama, semakin berpencar dan berpisah-pisah, aku pernah ikut barisan depan sama Kak Al, Tiwi, Cis, dan lainnya, tapi di setengah perjalanan aku lebih sering ikut sama Kak Opi, Kak Bela, Kak Estka dan lainnya di belakang. Menurutku, mendaki itu sama seperti motivasi, ia harus semakin tinggi ketika semakin mencapai tujuan. Kadang aku juga memotivasi diri dengan sebentar lagi sampai setengah -karena katanya kalau sudah ada pohon kembar aertinya sudah setengah perjalanan- dan aku sering sekali bercanda sama kakak yang lain dan bilang, "wah itu pohon kembarnya," padahal itu cuma pohon dipinggiran hutan.
Diperjalanan ada banyak sekali hal yang bisa dilihat selain pohon dan kabut -oiya ini kabutnya sudah lumayan banyak- ada banyak penambang belerang yang naik turun membawa hasil tambang mereka. ada tukang juga yang sedang membuat bangunan -yang sepertinya rumah- ada juga bapak-bapak go-cak alias go becak, disini ternyata menyediakan jasa angkut orang sampai ke kawah juga, cuma 200rebu, sekali berangkat, cuma. cuma. :)))
Mungkin menurut kita harga sekian itu mahal, tapi kalau ada Papaku disini, ia pasti akan berkata,
"emang kamu mau disuruh dorong orang seberat berkilo-kilo gram, di jalan curam gini, sampai ke kawah, dan dibayar cuma 200ribu?,"
 Lalu aku berpikir, kalau sesungguhnya itu juga hal yang sebanding. Dengan perlengkapan keselamatan seadanya, alat angkut seadanya, dan kondisi yang juga ‘seadanya’ seadanya dingin, curam, kadang kala hujan rintik, kabut, dan lain sebagainya, Aku pastinya nggak akan mau. Sedang ketika aku mendoakan si bapak Go-Cak supaya dimudahkan jalan segala kesusahannya, akupun akhirnya bertemu dengan pohon kembar keramat itu. Sebuah pohon yang menandakan bahwa kita telah berada setengah perjalanan. Setelah dilihat-lihat pohon ini juga mirip dengan pohon latar dari Korea-korea gitu, inginku berfoto ala-ala tapi apadaya, rasanya sudah pingin sampai kawah aja sejak awal, foto-foto ya seadanya dan seperlunya.
Beberapa meter setelah fenomena pohon ala-ala itu, didepanku sudah ada sebuah tiang bendera lengkap dengan bendera Indonesia yang berkibar, beberapa tempat duduk dan tentunya kedai kopi melengkapi panorama yang menajubkan saat itu.
Beberapa gambar berhasil aku abadikan di handphone Lenovo A6000 yang RAM nya Cuma se-giga. Dan dari semua momen yang paling bagus masuk frame kameraku adalah, momen salah seorang warga asli Kawah Ijen. Beliau mungkin berusia sekitar 40 tahunan, dengan wajah serius, menggunakan kaos oblong, topi, dan celan berwarna kelabu, si Bapak seolah menatap jauh kedalam kabut-kabut yang semakin berkeliaran di pelupuk pegunungan. Aku ingin berbicara sebentar dengan beliau, bertanya-tanya mungkin sedikit kisah tentang kawah ini, atau tentang para pengunjung yang sering kesini, ya sekedar ingin bertutur kata saja dengan warga asli, namun sayang. Belum kesampaian. Waktu tidak memberiku ruang lebih, meminta untuk segera melanjutkan perjalanan sebelum hari menjadi semakin gelap oleh kabut-kabut.
Bapak Go-Cak, semangat ya Pak!
ini kondisi saat mendaki

 
Keep Goin'
Terus berjalan adalah satu-satunya hal yang harus dilakukan saat ini –meski ditengah lautan kabut, dengan jarak pandang hanya lima meter, ditemani rintik hujan dan angin yang berhembus cukup hujan–. Aku sengaja berjalan lebih cepat dibandingkan sebelumnya, selain ngeri jalan di tempat berkabut terlalu lama, aku termotivasi oleh perkataan Mas Iqbal dan Sintang yang bilang kalau tanjakannya kurang satu, lalu akan sampai tujuan, begitu seterusnya sampai entah tanjakan keberapa. Meskipun dalam beberapa hal aku merasa sedang di permainkan motivasi, tapi pemandangan kabut di bawah jurang itu memang benar-benar cantik, rasanya aku sedang berjalan diatas awan. Sempat terlintas pikiran kalau kalau dakinya sewaktu subuh - subuh, pasti pemandangannya lebih tidak terdeskripsi kan.
Beberapa langkah kedepan tiba-tiba aku mulai heran. Jalanan sudah mulai ada yang berbeda, aku melihat pagar-pagar bersimbol kawah, banyak muda mudi yang terdengar suaranya –meski tidak terlihat orangnya- sudah tidak ada tanjakan, semakin banyak orang disekitarku. Dan, alhamdulilah, aku sudah sampai di Kawah Ijen ternyata. Tetapi ada satu hal yang masih belum berubah, kabut. Meskipun sudah sampai, aku tidak bisa melihat suatu apapun, termasuk Kawah Ijen yang habis aku browsing beberapa hari sebelumnya. Agak sedih sebenarnya, aku tidak bisa melihat Kawah Ijen sebagaimana yang terpotret di google. Tapi, resiko mendaki di terlalu siang ya begini hehehe, at least cita-citaku buat mendaki di usia 20 tahun terlaksana~
masih otw

ulat yang aku temui di pohon nih
pos peristirahatan setelah dua pohon kembar
Take the Lesson
Pemandangan kawah ala-ala Instagramers tidak bisa aku dapat di Kawah Ijen kali ini, tapi aku justeru dapat yang lain, yang jauh lebih berharga, seberharga Si Moci dan Ciko, atau si Arkan, dan hal-hal lain yang aku sukai.
Jalanan berpasir itu aku lewati dengan terus melihat kaki-kaki, selain melihat kedepan tidak ada suatu apapun untuk dilihat, aku takut tersandung lalu terjatuh –seperti biasa-, tetapi akhirnya aku mengurungkan niat awalku untuk fokus berjalan itu dan menemukan sesuatu yang menarik lainnya.
Aku bisa melihat banyak sekali gerobak dorong dengan isi benda besar berwarna kuning cerah, ada juga yang dipingkul dengan dua bambu di sisi kanan kiri dengan kayu panjang ditengah sebagai penghbung, ada juga yang mengangkatnya dengan tangan telanjang. Setelah menyakinkan diri dan mengetahui kalau mereka adalah para pekerja tambang beleran, sebuah pekerjaan yang dilakukan dengan cara mengambil belerang murni di dekat kawah –turun mendekati kawah– setelah itu mengangkut mereka, membuat berukuran lebih kecil, mungkin supaya lebih mudah dibawa, atau supaya muat banyak dalam rotan yang dipunyai. Mereka, para penambang ini juga menggunakan peralatan dan alat keselamatan seadanya. Kaos oblong, celana panjang, sepatu –meskipun yang menggunakan sandal juga ada- dan yang paling penting lagi, tanpa masker, ditengah-tengah bau belerang yang sangat tajam

Belerang Pak Suhartono
Warna-warna kuning cerah yang sedari tadi menghiasi sepanjang menuju kawah ijen ini akhirnya bisa aku sentuh. Perasaan pertama ketika menyentuhnya adalah, senang. pertama karena aku sudah sangat penasaran sejak kali pertama melihatnya, tekstur yang keras seperti batu pada umumnya namun ia sedikit berkerikil, ditambah bau belerang yang selalu khas, membuat perasaanku yakin untuk melakukan sesi tanya jawab langsung dari narasumber terpercaya. Kepada narasumber yang telah bekerja sebagai penambang belerang selama tujuh tahun. kepada sosok yang memiliki jiwa syukur tak henti-henti, dan kepada narasumber yang bisa selalu berterima kasih dengan keadaan yang serba seadanya. Pak Suharthono.
 Kaos berwana hijau bertuliskan "we love bumbu Bali" itu membalut tubuh Pak Tono, dengan baju tambahan berwarna putih, topi gelap dan sepatu boots hitam, meskipun kurus, beliau sanggup memikul hasil tambang belerang sampai 20 kg pulang pergi dalam sehari. Saat aku berbincang dengan pria berusia 35 tahun tersebut, aku sempat tersentuh dengan semangatnya, bagaimana tidak, ia sanggup menghidupi keluarga kecilnya dengan penghasilan dari menambang ini, yang tiap harinya tidak menentu. Selain kesehatan, dan kekuatan fisik, cuaca menjadi faktor lain, bisa tidaknya Pak Tono berangkat untuk bekerja.  Dengan jadwal kerja yang tidak tentu, pasti berdampak pada upah yang tidak menentu pula, ia tetap bersyukur atas pekerjaan yang mampu memberinya kehidupan itu. Kehidupan yang menurutnya sudah cukup itu, kehidupan yang selama ini sering dilihat orang lain dengan pengertian ‘susah payah’.
"Ya, kalau sehari gini dapatnya bisa sampai 200 ribu mbak," ucapnya sambil memukul belerang yang baru diambil. Belerang yang mungkin berukuran 3x4 itu memang harus dipukul-pukul sampai menjadi kecil, kata si bapak ini berguna untuk memudahkan dibawa kebawah dengan dua bambu yang dibentuk menjadi sebuah tempat penyimpang belerang, dengan kayu sebagai penyambungnya. Aku bertanya kembali, seperti anak yang baru tahu dunia pertambangan, “Kira-kira ini sekali panggul dapat berapa kilo, ya pak?”. Si Bapak berkata bahwa dalam tiga kali turun dan naik bisa mencapai Rp.200.000,- kalau di kalkulasi sekitar 7-8 kilogram sekali panggul, "saya kalau ambil tiga kali dari bawah, kira-kira dapat 200ribu, sehari, mbak, dan ini harganya 1 kg sepuluh ribu,".
Salut sekali mendengar jawaban Bapak, salute dengan rasa syukurnya, salute dengan semangatnya, salut dengan kekuatannya, atau salute dengan perjuangan hidupnya. Bagaimana aku bisa tidak mengagumi beliau. Bahkan dengan segala keterbatasan, ia masih bisa mengucap kata "yah, alhamdulilah, cukup aja mbak untuk sehari-hari,".

Hal lain yang paling membuatku antara salut dan kalut ialah para pekerja tambang ini sama sekali tidak ada yang menggunakan masker. Padahal bau belerang begitu menyengat. Apa karena mereka sudah terbiasa? Pikirku. Tapi tetap saja, itu merupakan hal yang membahayakan dan termasuk tidak menggunakan alat keselamat kerja yang sesuai standart.
“Pak, apa emang nggak pakai masker ya?,”
“oiya, pakai kalau dibawah nanti,”
“. . . .”
Apakah para pekerja disini memang se ‘diabaikan’ itu keselematan kerjanya, ataukah memang sudah semestinya begitu? Entahlah, toh akupun juga belum ada obrolan dengan pihak pengumpul. Mengeani hak-hak; kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan, atau sistem ketenagakerjaan di kawasan kaya Belerang ini. Belerang yang biasa dijadikan campuran kosmetik yang aku pakai, belerang yang biasa dibuat tambahan sabun untuk mengobati penyakit kulit, belerang yang menjadi sumber mata pencaharian mayoritas penduduk lokal..
Air-air kembali mengalir, kali ini lebih sering dan tentunya mengajak temannya sang angin untuk menyelimuti Kawah Ijen. Kabut yang sudah nangkring disini tidak juga mau pergi-pergi malah semakin menjadi-jadi, akhirnya kami harus segera menyelesaikan misi penting di Kawah Ijen ini, Berfoto bersama Kawah  kabut.
Setelah semuanya berakhir, akhirnya misi selesai, kami segera bergegas turun sebelum didatangi makhluk-makhluk menggemaskan lainnya. Awalnya aku mengira mendaki adalah bagian tersulit dari perjalanan panjang travelling Kawah Ijen kali ini, nyatanya menuruninya lebih menyeramkan, rasanya aku selalu mau jatuh tapi ngga jatuh karena ditahan pakai kaki jari dan kuku kaki –lebih tepatnya.
Saat perjalanan pulangpun aku bertemu lagi dengan para penambang yang kali ini menggunakan gerobak dorong, tapi tetap dengan kostum yang sama –kaos, celana kain, dan sepatu ala kadarnya, tanpa masker dan alat keselamatan yang lain, mereka dua orang dengan bawaanya masing-masing, sedang beristirahat dibawah pohon kembar Nami Island KorSel itu.
Saat aku bertanya berapa kilogram junlah belerang yang mereka bawa, aku terkejut, duh lebay sih si wkwkw. tapi bener aku tercengang karena ternyata kalau pakai gerobak ternyata bisa lebih banyak, sekali turun ini aja mereka sudah dapat 30kg yang artinya dapat Rp.300.000,-. Setelah wawancara tipis-tipis itu, akhirnya kami melanjutkan perjalanan dan sampai dibawah tepat pukul satu siang.
sisi dan tiwi -selfie 2
Akhirnya foto di Kawah Kabut (Dok.1000gurusby)
selfie 1
itu warna kuning dibelakang adalah belerangnya, foto ini diambil saat bertemu dengan pemilik gerobak belerang (dok.1000gurusby)
Second Chances
Kesempatan foto ala-ala instagramers ternyata belum berakhir, karena aku masih bisa foto di kawah yang kedua, Kawah Wurung. Sebuah kawah yang lebih mirip padang rumput dengan biaya masuk cuma lima ribu rupiah –sudah lengkap ada fasilitas mushola, kamar mandi, hamparan ladang luas, tempat berteduh, taman bermain, dan sapi-sapi. Semua orang menikmati me-time mereka –selfie tapi yang paling menyenangkan dari Kawah Wurung ini sebenarnya bukan di foto-fotonya, tapi lebih di sapi-sapinya, pengalaman sapi yang mengejar Bang Je saat mau naik ke atas bukit, sampai sapi yang lepas talinya ketika kami akan turun menuju jisang.
 Hewan yang aku anggap lucu ini ternyata bisa ganas juga. meskipun ganas, aku berhasil mendapat foto sama dia loh (apa yang harus kamu banggakan dari befoto dengan sapi si-_-) tapi aku seneng aja, rasanya kaya foto berdua sama dia. eh. heheh. Terlepas dari semua hal yang membahagiakan selama tiga hari itu, kentang kfc full team adalah yang paling menyengkan. Belajar bersama, berjalan berjam-jam bersama, sharing dan nggak tidur-tidur, berhasil menahan ‘perasaan ingin’ muntah selama perjalanan ke Kawah Ijen bersama, tidur ga karuan di jisang bersama, makan bersama, sholat bersama, tertawa bersama.
. Dan ini juga merupakan kesempatan keduaku menjadi pengajar di TnT setelah #TnT15 Bojonegoro tahun kemarin. Semoga kedepannya semakin banyak hal baik yang bisa kita lakukan bersama. Selamat belajar dan berbagi bersama, teman-teman di Tim Angkatan 3 Seribu Guru Surabayaku. Salam lima jari :)

15/2/18
dua sejoli (Sintang dan Kak Mas'ud wkwk)
foto ala turis (dok.1000gurusby)

ini kentang kfc session 2 ehehe
akhirnya foto sama dia
Dilan dan Milea (?) ini diambil sewaktu mau sampai di Kawah Wurung
bunga apa ya, ada yang tahu? aku ambil di sekitaran tanaman liar Kawah Wurung

Related Articles

2 komentar:

  1. Waaaaa suka banget sama tulisannya!!
    Perjuangan ijennya kudu dilanjutkan lain hari sampai tidak bertemu kabut sepertinya ya..

    Itu foto sama sapinya juga keren :3
    Pas aku yg mau foto sama doi sudah marah marah aja sapinya 😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkw iyaa dongg, harus ke kawah ijeen waktu ga berkabut^^

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.