In #selftalk

Jangan Takut Gelap.


Halo, Sisi. Bagaimana kabarmu hari ini? 

Aku tahu, mungkin hari ini kamu sudah merasakan berbagai perasaan yang beragam. Tidak hanya hari ini, belakangan, memang, banyak sekali yang terjadi dan hal-hal berubah secepat emosimu yang meloncat-loncat, secepat kereta api shinkansen yang kamu lihat di televisi sambil terkagum-kagum, secepat teman-teman sepermainanmu yang perlahan mulai merencanakan kehidupan mereka di usia peralihan menuju target-target perkembangan selanjutnya, dan secepat kamu berlari ketika masih anak-anak, memperebutkan juara perlombaan tujuh belasan itu.

Iya, aku sangat mengenalmu, kita sudah bersama selama 21 tahun lewat 9 bulan. Hahaha. Mana mungkin aku tidak mengenalmu? ya, meskipun kadang aku sendiri susah memahamimu. Tapi jangan kuatir, aku akan berusaha lebih keras untuk mengenalmu, dan akan berusaha sebaik mungkin untuk bersahabat denganmu. 

Di tanggal dua puluh lima Desember tahun dua ribu delapan belas, tepat pukul satu pagi lewat empat menit, diantara heningnya malam dengan alunan lagu dari Tasya Kamila. Aku hanya mau mengucapkan padamu, terima kasih sudah bertahan sejauh ini, terima kasih sudah mengemban amanah dan tanggung jawab dengan sungguh-sungguh, terima kasih sudah ada di saat senang dan sedih, terima kasih atas segala kebaikan dan senyum ceria yang selalu kamu berikan kepada orang-orang, terima kasih sudah selalu berprasangka baik pada siapapun, terima kasih karena sudah mencintai ayah ibumu setulus-tulusnya, terima kasih sudah mencoba memahami orang dengan segala pemikiran mereka, terima kasih sudah belajar mengerti dan mendengarkan, terima kasih sudah menangis ketika merasa sedih dan putus asa, terima kasih sudah mencoba dan terus mencoba, terima kasih sudah berusaha bangkit ketika terpuruk, terima kasih telah kembali mempercayai mimpi-mimpi, terima kasih karena mau belajar mengenal dirimu lebih baik, terima kasih sudah kembali, sekali lagi, aku mau mengucapkan terima kasih kepada mu, Si, I do luv yu.

Hal-hal yang selama ini membebanimu, lepaskan.
Hal-hal yang selama ini mengecewakanmu, relakan. 
Hal-hal yang selama ini meresahkanmu, hilangkan.
Hal-hal yang selama ini menekanmu, renggangkan.
Hal-hal yang selama ini membuatmu sedih, ikhlaskan.

Sebenarnya, Apa atau bahkan Siapa yang membuat hatimu begini?
Benar itu orang lain?
Bukan judgjement terhadap dirimu sendiri, dari dirimu sendiri, dan oleh dirimu sendiri?
Apa benar, selama mereka tidak mencintaimu?

atau sebenarnya, 
Kamu yang tidak bisa mencintai dirimu sendiri, menerima dirimu sendiri, memahami dirimu sendiri dan mencoba berdamai dengan semua itu?

Sisi, apakah kamu tahu?
Bahwa
Kamu selama ini selalu menyemangati teman-temanmu saat sedih, selama ini telah menerima mereka apa adanya, selama ini telah berprasangka baik pada mereka, selama ini selalu bisa membuat mereka kembali percaya dan yakin atas dirinya, selama ini selalu mendengarkan peluh mereka, selama ini selalu menyukai mereka, selama ini selalu meminta maaf, lalu baikan dengan mereka, selama ini selalu mengucapkan tolong saat butuh dibantu, dan selama ini selalu mengucap terima kasih ketika merasa bersyukur memiliki mereka. Kamu bisa melakukan semua itu untuk mereka.

Tapi, apa pernah kamu melakukannya untukku? 
Tempat yang kamu tinggali, satu-satunya orang yang selalu ada di sisimu full dua puluh empat jam nonstop, seseorang yang paling pertama mengerti arti senyum mengembang itu, seseorang yang paling pertama memahami air mata di pipi itu, seseorang yang selalu dan akan selalu menjadi pendukung setiamu. Kadang kamu masih suka lupa, YAH HHHH! (yauda gapapa namanya manusia pasti ya ada lupa-lupanya dikit) tapi aku gapapa kok, kamu lupain. ehehe. ya, tapi, tolonglah, mau sampai kapan kamu lupa?

Sisi, jangan lupa sayang aku juga ya. 
Terima aku. 
Maafkan kesalahan-kesalahan yang aku lakukan. 
Ucapkan terima kasih saat aku melakukan sesuatu untukmu. 
Ucapkan maaf apabila melakukan kesalahan.
Ucapkan tolong apabila tidak sanggup melakukannya sendiri.
Ekspresikan perasaan rapuh itu padaku, jangan sok kuat, kamu juga manusia, yang punya batasan.

Kamu juga manusia, yang butuh dibantu.
Kamu juga manusia, yang masih dalam proses.
Kamu juga manusia, sama seperti lainnya.

Dan yang paling penting adalah, aku akan selalu dan selalu menjadi orang yang paling setia buatmu. 
jangan kecewa apabila orang lain tidak seperti hal-hal yang kamu harapkan, sekali lagi, jangan.

Kamu melakukan itu untukku, bukan untuk mereka. 
Kamu melakukan untuk menjadi Sisi versi lebih baik dari sebelumnya, bukan untuk menyaingi siapapun.
Kamu melakukan itu untuk menjadi salah satu makhluk-Nya yang tidak pernah berhenti belajar.
Maka gantungkanlah itu semua pada dirimu dan untuk yang maha pemberi kebaikan.
karena di akhir hari, hal-hal yang mendamaikan hatimu akan datang dariku atas persetujuan-Nya.


Best Regards,




Deasy Meirendah Chikita, soon S. Psiur number one biggest fans

Related Articles

10 komentar:

  1. At leats, i just want to say thats right.

    BalasHapus
  2. Balasan
    1. aakk!!! makasiii banyak sudah membaca curhatanqu kak ratriiiii. it means alot. suksess teruss yaa buat kamuuu

      Hapus
  3. Emang berat untuk berdamai dengan diri sendiri.

    Aku tidak tau ada kalimat yang aku baca dari buku atau dari film.

    Kalimat seperti ini.
    Lebih gampang memperbaiki nagara yang rusak daripada hati yang rusak (berdamai).

    Semangat selalu mengisnpirasi
    Salam perdamaian

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam pers ma dong pak pemred. hahaha:p

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  4. Emang berat untuk berdamai dengan diri sendiri.

    Aku tidak tau ada kalimat yang aku baca dari buku atau dari film.

    Kalimat seperti ini.
    Lebih gampang memperbaiki nagara yang rusak daripada hati yang rusak (berdamai).

    Semangat selalu mengisnpirasi
    Salam perdamaian

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.