In #resensi

Naruse Jun, Melanie Klein, dan Posttraumatic Stress Disorder

Bunga-bunga kembali bermekaran, seperti januari lalu. Jalanan masih sama, berisik, tapi tetap menarik untuk dinikmati. Daun-daun jatuh dari pohonnya, terhempas kendaraan-kendaraan tinggi dan menyisakan rerontokan yang cantik berhamburan, menepis kaca helm.

Hari berjalan seperti biasa. Bangun di waktu yang dini, mempersiapkan apa-apa yang dibutuhkan untuk bertahan hidup. Makanan dan Doa. Ia sibuk di dalam dapur sederhana bernuansa coklat putih untuk memasak sayur mayur. Dan Kamu, mempersiapkan tabungan untuk hari penetapan. Apa sebenarnya yang dicari?
***
Hari Minggu itu, perempuan dengan banyak imaji kembali membuka laptop biru, menatap layar monitor dan memutar Film berjudul "Anthem of the Heart", sambil berdecak dalam hatinya yang sedang kalut tak karuan, ia mengatakan,"baiklah, mari kita mulai perjalanan ini,"
***
Film yang dirilis pada 19 September 2015 oleh Studio Ghibli dengan durasi kurang lebih dua jam itu menceritakan mengenai perjalanan hidup seorang gadis kecil yang ceria, suka bercerita, dan berimajinasi, Naruse Jun, yang mendadak kehilangan segala keceriaan dan suara nungilnya akibat beberapa peristiwa traumatis dan berdampak dalam masa remajanya.
***
Jun, gadis manis -meski hanya animasi yah, tapi bener wajahnya manis- berlarian dan bersorak-sorai mendatangi sang Ibu, menceritakan hal yang magis baginya. Ia baru saja mendatangi sebuah istana. Istana itu adalah tempat ia akan menemukan pangerannya suatu saat kelak. Tapi, hari itu, ia melihat ayahnya keluar dari sana, bersama seorang perempuan yang tidak pernah ia temui.

 "Ibu, hari ini aku melihat Ayah, keluar dari istana, Ia seperti seorang pangeran dan sedang bersama seorang puteri, tetapi bukan Ibu, kalau begitu, berarti Ibu jadi Ibu Penyihirnya saja ya, eh tapi, penyihir yang baik," celotehnya tanpa spasi.

"Kamu ini ya selalu mengatakan semuanya, bukannya sudah Ibu bilang, lebih baik kamu makan ini saja dan diam," balas Ibunya dengan segudang tanda tanya sembari mengunyah makanan yang disodorkan ibunya, yang juga sedang disiapkan untuk bekal si Ayah.

Selang beberapa hari dari kejadian tersebut, sang Ayah mengemas dan memesan truk untuk memindahkan barang-barangnya. Naruse menghampirinya dan bertanya, apa yang sedang terjadi, apakah ayah dan ibu bertengkar, tidak bisakah ia membantu mereka berbaikan.

Ayahnya hanya tersenyum dan berkata,

"Kamu ini ya, memang tidak bisa diam, selalu berbicara, kamu tahu, kamu yang menyebabkan semua ini terjadi," lalu berlalu pergi meninggalkan rumah itu.

Jun menangis hanya ditemani angin bukit dan anak tangga tak bertepi, apa yang ia lakukan, sampai membuat semuanya menjadi seperti ini. Ia sendiri juga tidak ingin hal tersebut terjadi. "PLUK" tetiba ada suara telur menggelinding disebelahnya dan menjadi seorang pangeran. Pangeran yang mengatakan semua ini terjadi karena kata-kata yang keluar dari bibirnya. Dan terhitung hari itu, pangeran mengunci mulut Jun, sehingga Jun tidak bisa berbicara kembali.

Selang beberapa tahun, Naruse Jun akhirnya mengeluarkan kata pertamanya semenjak kutukan pangeran itu.
"Tidak," katanya, yang lebih mirip dengan berteriak gagap dibandingkan berbicara.

Hal ini terjadi ketika ia ditunjuk oleh guru kelas sebagai komite yang mengurus kegiatan penggalangan dana. Cerita baru akhirnya dimulai, Naruse Jun bersama teman-temanya melewati, mengumpulkan kepingan-kepingan diri dan bersemai. Memberikan sebuah pertunjukkan, menciptakan karya sastra berupa drama musikal. Pembuatan musik, lirik dan alur cerita, semua dilakukan bersama.

Tokoh dalam cerita ini juga banyak didukung oleh ketiga teman Naruse Jun lainnya yang juga bertugas sebagai komite penggalangan dana.

Tokoh pertama ada Sakagami Takumi, tokoh laki-laki yang mampu memainkan dan membuat musik, memiliki kisah sama seperti Naruse, broken home. Pria ini yang membuat Naruse Jun jatuh hati, karena ia merasa menemukan pangerannya.

Tokoh Kedua, Nitou Natsuki, perempuan tak bercelah, sempurna, yang baik hati, dan menjadi teman perempuan pertama yang dimiliki oleh Jun

Tokoh Ketiga, Daiki Tasaki, seorang pria tsundere -karakter yang cuek-cuek tapi perhatian eaaa- yang tangannya sedang dalam masa pemulihan, namun masih harus mengurus club football di sekolahnya sebagai seorang senior.

Dinamika persahabatan, ketertarikan, keluarga, dan pendidikan sangat digambarkan dalam film ini. Menurut saya, film ini tidak bukan film teenager romance, namun lebih pada masalah psikologis, khususnya masalah Posttraumatic Stress Disorder pada anak-anak. 
***
Apa itu Posttraumatic Stress Disorder?
Salah satu gangguan psikologis yang dimasukkan sebagai diagnosis dalam DSM-III, mencakup respons ekstrem terhadap suatu stressor berat, termasuk meningkatnya kecemasan, penghindaran stimuli yang diasosiasikan dengan trauma, dan tumpulnya respons emosionali. Gangguan klinis pada anak-anak yang mengalami PTSD menurut DSM, bisa berupa gangguan tidur dengan mimpi buruk, bisa juga perubahan perilaku seperti anak yang semula periang menjadi pendiam dan menarik diri, beberapa juga kehilangan keterampilan perkembangan yang sudah dikuasai, seperti berbicara atau menggunakan toilet (Davidson, 2004).

Personalities, apa itu?
Dalam film ini saya hanya akan berfokus pada karakter Naruse Jun, yang mana merupakan karakter yang mengalami psikopatologis. Menurut teori Melanie Klein (1946) kepribadian terbentuk pada empat sampai enam bulan pertama. Bayi membawa predisposisi untuk mengurangi pengalaman kecemasan yang dihasilkan oleh dorongan insting hidup dan mati.

Posisi
Bayi secara konstan terlibat dalam konflik mendasar antara insting hidup dan mati, antara baik dan buruk, cinta dan benci, serta mencipta dan merusak. Dalam posisi ini dibagi kembali menjadi paranoid-schizoid dan posisi depresif. Singkatnya, dalam teori Melanie Klein ini, anak-anak biasanya mengembangkan white and black thingking atau splitting, dimana hanya bisa menilai sesuatu sangat baik dan sangat buruk. Naruse Jun, merasa kedua orang tuanya adalah figur yang sangat baik, penyayang, dan tidak akan pernah salah. Dan orang tua-nya berpisah karena perkataannya yang menyakiti orang-orang. Sejak saat itulah, Naruse merasa semua yang akan dikatakannya akan menyakiti orang lain, ia tidak bisa berbicara dan mengalami gangguan psikosomatis (seperti perutnya nyeri dan kram ketika berusaha berbicara).

Disini juga, Naruse Jun menempatkan diri dalam posisi Paranoid-Schizoid, sebuah posisi perasaan ambivalen, seperti yang ditegaskan Ogden (1990) yang menyatakan, mereka mungkin menjadikan diri mereka sebagai objek yang pasif kerimbang sebagai subjek aktif. tanpa disadari ini menyebabkan perasaan paranoid yang tidak disadari terhadap orang lain, yang kemudian melihat orang tersebut yang sempurna sementara memandang dirinya kosong dan tidak bermakna.
***
Di hari ia mengatakan tidak di depan kelas kala itu, perutnya sangat sakit, ia hanya bisa berlari, menjauhi ruang kelas. Beberapa waktu selang kejadian, ia menemui guru di ruang klub musik dan melihat Takumi Sakagami sedang bernyanyi lagu mengenai telur -yang ia ciptakan sendiri- dan merasa hatinya sedang ditelisik oleh Sakagami, perlahan, telur yang dulu rapat dan mengunci bibirnya itu, retak.

Naruse Jun menjadi lebih membuka diri sebab merasa memiliki seseorang yang bisa mengertinya.  Takumi menjadi sosok yang sempurna dimatanya. Ia baik, perhatian, mengerti dirinya. Ia mulai menceritakan mengapa ia mengalami gangguan bicara tersebut lewat sebuah pesan teks. Lalu Takumi, yang juga pernah mendengarnya -secara tidak sengaja- menyanyikan lagu telur yang ia buat.

Takumi kemudian menyela,
"hey, kenapa kita harus bicara lewat teks, padahal bersebelahan?"
"perutku sakit setiap kali aku berbicara."
"bagaimana kalau kamu menyanyi, sewaktu itu kamu bisa bernyanyi kan?"

Naruse Jun, pulang dengan langkah tergesa, mendadak perutnya kembali sakit, namun kali ini karena nerves sih. ahahahahaha. Dasar yha orang jatu cynta.

Long short story.
Mereka membuat sebuah drama musikal bedasarkan naskah yang ditulis oleh Naruse Jun. Ia akan menyampaikan apa yang ingin ia katakan kepada Ibu -utamanya- lewat sebuah nyanyian. Dengan melodi yang dibuat oleh Takumi Sakagami.

Perasaan Naruse terpecah belah, saat mengetahui ternyata selama ini Takumi tidak memiliki perasaan lebih, ia hanya teman. Takumi baik, karena mengerti Naruse juga orang yang baik dan layak mendapatkan teman. Ia kemudian menolak menyanyi di acara penggalangan dana. Suasana menjadi chaos, Takumi pergi mencarinya. Sepeda itu sepi, hanya angin yang mengikuti alur kayuhan Takumi. Ia berhenti di sebuah bangunan kosong. Istana masa kecil Naruse. Dan tentu, ia menemukannya disana. Takumi mendekatinya, Naruse mengusirnya sembari menangis, tetapi Takumi terus mencoba mengatakan, bahwa semua orang menantinya.

"Sekarang Bahkan ketika aku bernyanyi perutku akan sakit, Ini semua karena kamu! Ketika aku berkata-kata, ini akan menyakitimu, kamu akan membenciku" katanya.

Takumi terus meminta Naruse berbicara, "Katakan apapun yang ingin kamu sampaikan, aku tidak akan tersakiti olehnya, Naruse".

Iya mengatakan semuanya, semua yang ia rasakan pada Takumi.

"Kamu Jahat sekali! Takumi. Sangat jahat, brengsek, palsu, untuk apa terlihat baik dan perhatian kepadaku. Nitou juga begitu, mengapa dia sok-sok an menjadi temanku. Mengapa membuatku berada di posisi ini. kalian semua jahat!", 

Takumi hanya tersenyum, "apakah ada lagi, ungkapkan semuanya, aku tidak akan tersakiti oleh kata-katamu,"
"kamu tidak tersakiti oleh kata-kataku?"


"tentu tidak, ayo, kamu hanya mengatakan apa yang kamu rasakan, aku mengerti perasaanmu, tidak apa-apa, Naruse. Kamu hanya menjadi dirimu, dan tidak ada yang salah dari itu,"

Naruse diam sejenak, dan masih duduk termenung, sedikit menyadarkan dirinya lalu berucap, "Sakagami Takumi, Sakagami Takumi, Sakagami Takumi. Aku menyukaimu,". 

Takumi tersenyum, dan berkata "Terima kasih ya, tapi aku menyukai perempuan lain,"
"Iya aku tau,"

Naruse menyelesaikan bagiannya dengan baik. Baik selama di Istana kecilnya itu bersama Sakagami Takumi maupun ketika kembali ke panggung dan menyanyikan bagiannya.

Akhirnya, Naruse menyadari, selama ini telur dan pangeran yang mengutuknya supaya tidak bisa berbicara tidak ada. Selama ini hanyalah dia yang membuat semua itu, dan khayalan-khayalan lainnya. Ia mengalami splitting thinking dan menciptakan karakter itu sebagai bentuk mekanisme pertahanan diri 'Identifikasi Proyektif' dimana proses mengurangi kecemasan dengan memisahkan bagian diri mereka yang tidak diterimanya. Hasil pemisahan ini kemudia diproyeksikan menjadi objek lain, dan objek lain itu berupa telur yang menjadi seorang pangeran dan mengunci bibirnya (Klein, 1946).

Hal-hal yang bisa dipelajari dari film ini utamanya adalah Self Acceptance. Bahwa tidak semua yang dikatakan orang lain itu memang benar, bahwa tidak selamanya, mereka yang kita anggap baik, akan selalu baik dan apa-apa yang kita anggap buruk, akan menjadi hal yang buruk untuk kita. Kehidupan ini penuh berbagai warna, tidak hanya hitam dan putih.
Manusia tetaplah manusia, yang juga bisa salah. Ibu Naruse, yang diproyeksikan oleh Naruse sebagai ibu yang sempurna dan baik, juga tidak selalu dapat menjadi Ibu yang baik. Bahwa Naruse harus menyadari, apa-apa yang membuat Ayah dan Ibunya dahulu berpisah adalah kata-katanya itu salah. Itu bukan kesalahan Naruse Jun. Nilai moral lain dalam cerita animasi ini juga menekankan pada pentingnya komunikasi yang tepat dan efektif dalam kehidupan kita.

Satu perkataan judging dari orang yang kita sayang dapat begitu menyakitkan. Dan tentunya dapat membuat pengalaman traumatis tersendiri. Let's spread good word and love more.

"Don't tell people to disappear like it's nothing! Words can hurt people! You can't ever take them back! Even if you regret it, you can never take them back!" (Naruse Jun, 2015)

Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.